Monster Eyes Are My Beautiful Eyes

Monster Eyes Are My Beautiful Eyes
38.Pengakuan



Semilir udara di sore hari,Hanz berdiri memandangi langit yang cerah.


Tidak ada beban hanya saja perasaan rindunya kini telah terobati.


Rumah nenek kini terasa hangat lagi.Semuanya kini perlahan-lahan telah terobati.Hanz benar-benar dapat merasakan itu semua,dan kini hatinya terasa hidup kembali.


"Hai,Hanz...",sapa Vero.


Suara khas Vero,membuyarkan lamunan Hanz.Ia sengaja mendatangi pria yang ada dihadapannya ini.Apalagi Hanz sedang seorang diri membuat Vero memiliki sebuah kesempatan.


"Ach,hai Vero...",balas Hanz terkejut.


Hanz mengamati disekitarnya,berharap ada orang lain selain Vero yang datang,namun nihil.


"Apakah aku mengganggu mu?",tanya Vero khawatir karena diwajah Hanz sedikit terlihat tidak mengharapkan kedatangannya.


"Hmm,tidak.Ada apa?",tanya Hanz datar.


Sejenak mereka pun terdiam.


Dengan perasaan ragu,Vero memberanikan diri untuk bertanya walaupun rasa khawatir terus menghantui.


"Hanz,apa kamu bersungguh-sungguh ingin bertunangan dengan Vivian dan menikahinya?",tanyanya gundah.Berharap Hanz menjawab "Tidak".


Namun,pria yang ada disampingnya tidak sekalipun menoleh kearahnya.


Tidak ada balasan,Hanz hanya terdiam tanpa ekspresi sama sekali dan pandangannya lurus kedepan.


Vero menduga jika Hanz masih ragu dengan perasaannya sendiri,dengan keyakinannya sendiri Vero pun mengungkapkan segala yang dihatinya.


"Hanz,aku tahu kamu mengabaikan aku,tapi apa... tidak sedikitpun kamu melihat ketulusanku.Aku sangat mencintai mu dari dulu,Hanz...",lanjut Vero lagi.


Tapi Hanz masih tidak bergeming,hanya terdiam.


"Dan aku tidak mengerti kenapa,wanita itu bisa mempengaruhimu...Dimana kurang ku,Hanz",keluh Vero dengan linangan air mata yang berderai.


Vero yang sudah meluapkan perasaannya itu dengan segera merangkul punggung Hanz yang sigap.


Hanz yang dirangkul pun, tiba-tiba terkejut dengan apa yang dilakukan Vero.Namun Hanz tidak gegabah dengan tenang ia mencoba melepaskan rangkulan Vero.


"Maaf Vero...Kamu tidak memiliki kekurangan sekalipun,hanya saja aku sudah menganggap dirimu sudah seperti adik ku sendiri",balas Hanz lembut saat ia berhasil melepaskan pelukkan Vero.


Dengan pandangan yang begitu tenang,Hanz mencoba menenangkan hati Vero yang sudah tersakiti.


"Wanita cantik seperti mu,pasti akan mendapatkan pria yang lebih baik lagi...",hibur Hanz saat mereka berdua saling berhadapan.


"Tidak.Aku sungguh hanya menginginkan mu,Hanz.Bukan pria mana pun,hanya kamu saja",isak Vero memohon.


Hanz dengan segera merangkul Vero kembali,memeluknya layak seorang kakak yang sedang menghibur adiknya sendiri.Berharap Vero memahami apa yang ia katakan.


Vero dengan luka yang ada,menangis sejadi-jadinya karena Hanz menolaknya lagi.Dan kini harapan itu benar-benar tidak dapat ia miliki.


"Maaf Vero..Vivian memang baru saja aku kenal akan tetapi..,aku sudah jatuh cinta padanya.Jadi,berhentilah berharap padaku.Karena aku bersungguh-sungguh bersama Vivian dan hanya padanya lah aku akan terus mengisi hari-hariku hidup bersamanya".


Vero masih menangis didalam pelukkan Hanz,namun ia tidak menyesalinya.


"Baiklah,aku mengaku kalah Hanz,tapi jangan menyuruhku untuk berhenti mencintaimu walaupun kini kamu bukan milik ku lagi tapi setidaknya jangan membenciku...",pinta Vero.


"Baiklah..",jawab Hanz dingin.


Hanz masih memeluk Vero,agar wanita tersebut benar-benar dapat tenang.Namun tanpa sengaja ia melihat sesosok lain dari kejauhan.


"Vivian...",ucapnya lirih.


"Maaf,Vero.Aku harus mengejar Vivian.Dan aku pikir dia akan salah paham melihat kita seperti ini".


Hanz dengan segera meninggalkan Vero tanpa menunggu jawaban dari wanita tersebut,karena dipikirannya pasti Vivian berpikir yang bukan-bukan.Hal tersebut terlihat,karena Vivian berlari begitu saja meninggalkannya.


Seketika Vero tersadar,jika Hanz benar-benar menyukai Vivian.


***********


Dilain sisi,Vivian sedang menikmati pemandangan disekitar.Keadaan taman yang luas membuat Vivian sangat menyukai dan menikmatinya.Namun,langkahnya terhenti saat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat kini terlihat olehnya.


Vivian yang mendapati Hanz dan Vero sedang berpelukkan dari kejauhan,membuatnya sedikit terkejut.Walaupun ia tidak tahu apa yang terjadi tapi pemandangan tersebut membuatnya tidak bisa berpikir dengan jelas.


"Apa yang terjadi??Apakah mereka sedang memiliki hubungan??Tapi...??",batin Vivian gelisah karena sesuatu kini mulai mengganjal dihatinya.Namun,tidak ada jawaban baginya.


Seluruh tubuhnya kini terasa begitu lemas,pijakkan tanah yang ia injak seakan tidak terasa.Dengan langkah gontai Vivian berusaha menangkan hatinya dan berpikir positif,tetapi tetap saja semua terlihat begitu nyata dan sungguh menyiksa.


Vivian dengan perasaan yang tidak menentu pun meninggalkan tempat yang seharusnya tidak ia datangi.


Kkrreeeeessszzz....


Sebuah dahan ranting yang mati tidak sengaja Vivian injak,dan tentu saja mengeluarkan bunyi yang nyaring.


Dengan gugup Vivian menatap kearah Hanz,dan ternyata pria tersebut menyadari keberadaannya.


Karena malu,Vivian pun berlari sekencang-kencangnya agar Hanz tidak melihat kekonyolan yang telah ia buat.


"Apakah Hanz akan memarahi ku karena memergoki mereka berdua",pikir Vivian menerawang menelusuri setiap ruas jalan yang begitu panjang.


"Tapi,jika mereka memiliki hubungan dan aku penyebab hubungan mereka retak..apa yang harus aku lakukan...??",batin Vivian,tanpa disadari air matanya kini mengalir dipipinya yang ranum.


"Bodoh,apa yang aku pikirkan.Hubunganku dengan Hanz hanya sebatas diatas kertas dan itu juga karena dia menolongku".


Vivian ingat jelas ketika Roy menjebaknya dipesta malam itu dan mengatakan dirinya adalah tunangan Hanz,membuatnya sedikit terselamatkan dari rasa malu.


Jadi,Ia tidak mungkin mengusik kehidupan Hanz yang sesungguhnya.Tentu saja ia tidak bisa egois seperti ini,dan dengan cara menghindar dari apa yang dilihatnya tadi adalah sebuah tindakan yang benar yang harus ia lakukan.Walaupun tindakan Hanz yang begitu palsu namun terasa nyata sudah cukup baginya untuk tidak terlalu berharap lebih.


Vivian mengusap air matanya berharap dengan cara seperti itu semua akan kembali baik-baik saja.


Derap langkah kakinya tidak bisa ia hentikan seluruh tenaganya ia kerahkan untuk menjauh dari tempat Hanz berada,walaupun napasnya kian menipis Vivian tidak memperdulikannya.



Tanpa disadari Vivian pun berhenti dan mendapati dirinya kini telah jauh dari tempatnya tadi.


Napas yang tersengal-sengal kini telah ia rasakan.Senja yang begitu berkilau tidak mampu menghibur hatinya yang sedang dilema.


Dalam kesendiriannya ia meluapkan perasaannya.Vivian menangis sejadi-jadinya.


"Apa yang terjadi padaku....",ucapnya frustasi.


"Apa yang terjadi pada hatiku...".


"Kenapa rasanya sakit...".


"Aagggccchhhh....",teriak Vivian.


Hatinya begitu kecewa.


"Aku mencintai mu Hanz...",ucapnya lirih pada dirinya sendiri.


Suara Vivian parau karena serak akan tangisannya.Dirinya begitu tidak berdaya.Dalam keheningan dipadang rumput yang luas,Vivian menangis.