Monster Eyes Are My Beautiful Eyes

Monster Eyes Are My Beautiful Eyes
6.Terikat



Hanz menatap keluar jendela,dalam diam ia menikmati pemandangan yang ada dibawah kakinya.Bangunan tiga lantai itu memperlihatkan sekumpulan manusia kecil dibawahnya.Hanz yang fokus dalam pengamatannya,mengabaikan seseorang yang ada dibelakangnya.


Danian yang menatap punggung Hanz dari jauh hanya ikut terdiam,menanti intruksi dari atasannya itu.


"Danian,apakah proses persiapan pemotretan berjalan dengan lancar???"Tanya Hanz berbalik badan menghadap Danian.


"Sedang berjalan,CEO Hanz.Apakah anda ingin melihatnya secara langsung???"Tanya Danian dengan ragu-ragu.


Hanz terdiam kembali,sesekali melirik keluar jendela.Pria tampan ini,tidak pernah meninggalkan ruangannya.Terkecuali jika itu sesuatu yang mendesak dan membutuhkan dirinya secara langsung.


"Karena hari ini cerah dan suasana hatiku sedang baik.Aku ingin melihatnya"Balas Hanz tanpa ragu.


Danian pun terkesima,Hanz yang antisosial kini mendadak meluangkan waktunya untuk melihat proses pemotretan.Dimatanya,Hanz sulit sekali untuk berinteraksi dengan banyak orang,dalam setiap pertemuan Hanz begitu sangat hati-hati.


Namun,hari ini tidak ada badai ataupun hujan.Hanz dengan sukarela untuk terjun langsung kelapangan.Kepribadian yang begitu tertutup dan dingin itu kini terasa berbeda.


"Oh ia,untuk proses pemotretan yang berada diluar kota.Aku ingin dimasukkan kedalam daftar agenda harianku!"Perintah Hanz tiba-tiba.


Lagi-lagi Danian terpana akan perintah itu,dan membalas ucapan Hanz dengan segera.


"Baiklah,CEO Hanz."


"Apakah anda baik-baik saja,Hanz??"tanya Danian penuh selidik,sebab tingkah laku Hanz dimatanya sungguh tidak terduga.


"Aku baik-baik saja.Ada masalah apa??"balas Hanz datar,mengabaikan ekspresi Danian penuh curiga.


"Oh,tidak apa-apa."


Danian yang mendapat respon dingin Hanz tidak ingin bertanya lagi.Dan memutuskan untuk membuang jauh pikiran buruknya terhadap sahabatnya itu.Lalu keduanya pun berjalan menuju keluar gedung.


*******


Ditempat berbeda Vivian yang bertugas dalam pemilihan style pun sibuk memadu padankan pakaian yang akan digunakan nanti.Dengan penuh semangat ia melakukan tugasnya.


Kerjasama antara perusahaan StyLe dan LuX membuatnya harus memenuhi sebuah tanggung jawab.Vivian mencoba melakukan yang terbaik agar hubungan kerjasama itu dapat terus terjalin.


"Nona,pakaian ini diletakkan dimana?"tanya Bryan,salah satu kru perusahaan StyLe yang diutus untuk menemaninya.


"Tolong,letakkan disini saja,Bryan!"Perintah Vivian lembut.


"Baiklah,bos cantik."sahut Bryan mengoda.


Mendengar ucapan Bryan yang suka mengoda dirinya,Vivian dengan refleks memukul Bryan.


"Aawww..."Keluh Bryan meringis.


"Makanya jangan suka jahil."Kesal Vivian.


Melihat tingkah Vivian yang demikian,Bryan pun hanya terkekeh.


"Hehehe...,maaf nona,tapi aku senang jika itu terwujud."


"Hah,kamu ini...tapi doa kan saja itu akan menjadi kenyataan."


"Amin."


Suasana mulai kembali sibuk,para kru melakukan proses pemotretan dengan tugas dan pekerjaan masing-masing.Kemeriahan pun terlihat dilokasi pemotretan.


Mentari yang meninggi tidak menyurutkan semangat mereka untuk memperlambat pekerjaan.Hiruk pikuk menambah semarak suasana taman.


Namun,kemeriahan tersebut sejenak menghening.Ketika sosok yang tidak pernah diharapkan muncul ditengah-tengah keramaian.Sosok yang mungkin sulit untuk dibayangkan.Namun tetap mereka mengagumi sosok tersebut dengan bangga.


Hanz yang dingin dan diikuti oleh Danian menghentikan sejenak kehidupan.Aura yang melekat kini mulai membekukan suasana yang hangat.


"Hei,bukankah itu CEO Hanz??"Oceh seorang staff LuX.


"Ah,benar.Itu adalah CEO HANZ."


"Astaga..Apakah kita sudah melakukan kesalahan??"Ucap seseorang dengan pelan dan terdengar berbisik.


"Semoga saja tidak."Balas yang lain dengan kecemasan.


Manager yang bertanggung jawab dalam sesi pemotretan pun langsung menyambut sang CEO.


"Selamat pagi,CEO.Senang anda bisa berkunjung,"sambutnya.


"Selamat pagi juga,Pak Adam.Apakah semuanya sudah dipersiapkan dengan sempurna??"Tanya Hanz datar tanpa ekspresi.


"Tentu."


"Baguslah..jangan pernah mengecewakan aku."pinta Hanz.


"Baik,CEO."


"Terima kasih dan silahkan lanjutkan kembali pekerjaan kalian!"Perintah Hanz.


Dengan segera manager Adam meminta kembali para kru untuk melanjutkan pekerjaan.Akan tetapi mereka mengakhiri pertemuan singkat itu dengan rasa hormat.


"Selamat pagi,CEO Hanz.Mohon bantuan dan arahannya."Ucap para kru serempak.


Hanz yang disambutpun memperhatikan hanya menggangguk.Lalu Iapun melanjutkan kembali berjalan-jalan disekitar lokasi.


Namun berbeda dengan Vivian,wanita cantik ini sendari tadi sibuk dengan pekerjaannya tanpa menyadari seseorang sedang berdiri tepat dibelakangnya.


Karena ketidaktahuannya itu tanpa tidak sengaja ia menabrak tubuh kekar tubuh tersebut.


"Agch.."desihnya.


Aroma khas semerbak menyeruak didalam tubuh pria itu.Vivian sejenak terhipnotis dan terperangkap didalam pelukan tubuh yang bidang itu.Tangannya yang kokoh,dengan sigapnya ia merangkul tubuh mungil Vivian.


"Maafkan aku."Pinta Vivian menatap sang pria yang ditabraknya itu.Segurat wajah yang tegas itu membuatnya mulai terlena.


Vivian terpesona,lalu tatapan mata mereka saling beradu dibalik kacamata yang dikenakan pria itu.


"Sampai kapan kau terus menempel padaku."Bisiknya.


"Ah maaf.."Vivian mendorong tubuhnya perlahan melepaskan diri dari jeratan yang memikat.Perasaan canggung membuatnya diam tertunduk malu.Ia tidak ingin memberontak,karena mempersulit pekerjaannya.


Hanz menyengir menyunggingkan senyuman mematikannya.Ia pun membiarkan wanita ini lolos dari genggamannya,terpaku akan rasa bersalah dan ketakutannya.Hanz menikmati dekapan yang tidak sengaja itu.Ada perasaan nyaman didalamnya,hanya saja ia menyadari keadaan disekitar,dan sedikit bermainnya ia abaikan.


******


Sesi pemotretan pun dimulai.


Sinar matahari mulai menyilaukan,cuaca yang cerah dengan langit bak lautan yang beradu.


Veronica Alqarin yang menjadi modelpun muncul.Pesonanya yang memikat serta memukau ,tidak kalah bersinar .Kehadirannya ditengah-tengah lokasi pemotretan membuat orang-orang tidak berhenti untuk mengagumi kecantikkannya.


Para staff perusahaan LuX terutama bagi para pria lajang yang mengidolakannya pun mulai menyapa lalu meminta foto maupun tanda tangannya.


Dan dengan ramah serta senyum manisnya itu,Vero pun melayani satu persatu penggemarnya.


Veronica Ialah supermodel yang telah dipilih Hanz menjadi ikon merk perusahaan mereka.Untuk pertama kalinya ia mulai bekerjasama dengan perusahaan LuX.Bukan tanpa alasan ia menyetujui kerjasama itu.


"Hallo,Hanz."Sapa Vero saat dirinya berpapasan dengan sang pemilik perusahaan.


"Senang berjumpa kembali denganmu,Hanz.Agch,bukan.Maksudku Ceo Hanz Alexandro."Goda Vero mengumbar senyum manisnya.


Hanz tersenyum dingin,dengan profesional ia pun menyambut Veronica dengan terbuka.


"Lama tidak bertemu.Terimakasih telah bersedia menjadi model kami,Nona Veronica"balas Hanz.


Tatapan keduannya saling beradu,seberkas kenangan terselip didalam ingatan masing-masing.


Dalam diam Veronica mengumbar tawa kecil miliknya,"Kamu masih tidak berubah Hanz.Tatapan dingin yang selalu membuatku tersentuh.Namun itu yang kusuka darimu..."


Hanz hanya terdiam namun tidak membantah apa yang dikatakan oleh Vero.Dirinya memang selalu bersikap dingin terhadap orang-orang disekitarnya.


Veronica mendekati Hanz lalu dengan santainya mendekap pria yang ada dihadapannya itu.Kerinduannya dengan Hanz mengabaikan sejenak akan sikap buruk pria tersebut.


Orang yang memandang akan peristiwa tersebut sangat terkejut.Mereka berpikir kalau Hanz tidak pernah didekati seperti itu.Namun,Hanz dan Veronica sangatlah serasi,sepasang lelaki tampan dan wanita cantik.


Hanz mengabaikan pelukan itu.Tetap dengan sikapnya yang dingin namun tidak menolak pelukkan dari Vero.Sebagai pria ia tidak ingin memperlakukan wanita yang dihadapan nya ini dengan kasar,walaupun sejujurnya ia sangat tidak menyukainya.


Terdengar suara deheman dari samping,membuat Hanz memiliki kesempatan untuk melepaskan pelukkan Vero.


Vero tidak dapat mengelak dengan sikap penolakkan Hanz.Lalu dipandanginya orang yang telah merusak kesenangannya itu.


Danian yang sendari tadi berdiri disamping Hanz,menyadari jika Hanz membutuhkan bantuannya untuk melepaskan jeratan dari sang angsa betina.


"Ah hai,Danian..."sapa Vero.


Danian hanya membalas dengan senyuman tanpa sapaan.


"Ugh,kenapa sih nyamuk ini selalu ada?!"Batin Vero menggerutu.


"Seekor nyamuk yang selalu merusak kesenangan ku saja."


Hanz yang mendapat pertolongan dari Danianpun,bernafas lega.


"Semoga kerjasama kita berjalan dengan lancar,Nona Vero."Ucap Hanz mengakhiri perjumpaan.


"Hmm ia,Ceo Hanz"balas Vero.


Dengan santainya Hanz meninggalkan Veronica lalu diikuti oleh Danian.


Veronica tetap tersenyum walaupun Hanz mengabaikannya lagi.


Disatu sisi tanpa sengaja Vivian menyaksikan peristiwa tersebut.Dari kejauhan Vivian mengagumi sang Dewi kecantikan itu,melihat dirinya yang terlihat biasa membuatnya menjadi tidak ada bandingnya.Namun ia berusaha tetap bersyukur dengan segala yang maha pencipta berikan.



(Gambar hanya ilustrasi saja yach😊,anggap saja supermodel girlnya🤭)


"Cukup sampai disini,kegiatan kita."Arahan sang koordinator mengakhiri pemotretan.


Dengan lelah para kru staff,satu persatu semuanya meninggalkan tempat pemotretan.Wajah mereka terlukis kebahagiaan karena hasil yang didapat cukup memuaskan.


"Apakah ada yang ingin menemaniku untuk bersantai dan minum-minum."Ucap salah satu kru.


"Boleh-boleh,aku mau ikut"balas yang lainnya.


"Asal kamu yang traktir.."timpal yang lain menggoda.


"Boleh-boleh saja,"jawabnya pasrah.


Dan tawa candapun mengakhiri kesunyian lokasi pemotretan.Dan satu persatu mereka meninggalkan ruangan dan menghilang dari balik pintu.


Keadaan yang tenang memberikan kesempatan untuk Vivian.Dengan leluasanya ia berjalan mengelilingi setiap sudut perusahaan setelah pekerjaannya selesai.Ia belum segera ingin meninggalkan perusahaan tersebut walaupun dirinya ditinggalkan sendirian.


Dicarinya setiap tempat yang dapat ia temui untuk melepaskan lelahnya.


Dan langkahnya yang pelan terhenti karena mendapati tempat tersebut dengan sempurna.


Vivian menikmati pemandangan dibalkon,tepatnya masih diperusahaan LuX.Dari atas ia menikmati pemandangan yang ada disekitar dan terlihat dibawah lokasi tempat pemotretan tadi cukup cantik untuk dipandang.


"Haah..."desah Vivian.


"Hari yang sangat melelahkan."


Secangkir coffe latte yang ia dapat dari kafetarian kantor menemani kesendiriannya disore hari.


Angin semilir menghembuskan nafas kesejukkan,matahari mulai terbenam dibalik pepohonan.Vivian menikmati setiap momen yang ada.


Namun, pandangannya sedikit teralihkan ke pria yang begitu mencurigakan.Gerak-geriknya seperti kucing yang mengendap-ngendap mencari mangsa.Vivian tertegun.


Penampilannya begitu eksentrik dengan topi dan kacamata yang menutupi wajahnya.Seketika pria itu menatap keatas balkon dan memandang Vivian lalu berlari pergi.


"Astaga siapa itu??"Vivian terkejut karena pria itu sempat menatapnya.Vivian berharap bukan penjahat atau perampok yang ia lihat tadi.Karena ia menyadari sekarang kantor telah sepi.


Belum sempat Vivian untuk menduga-duga,tiba-tiba seseorang memegang pundaknya.


Spontan Vivian menjerit berteriak karena terkejut,


"Agcchh..."jeritnya.


"Ampun,jangan bunuh aku..."Ucap Vivian spontan memohon tanpa menoleh.Dengan mata terpejam ia mengabaikan siapa yang mengejutkan dirinya.


"Hah.Sebegitu inginkah dirimu untuk ku bunuh..?"tanya Hanz dingin melihat ekspresi Vivian seperti itu.


Vivian tiba-tiba menyadari bahwa ia kenal dengan suara khas pria ini.


Degg..


Jantungnya terhenti seketika,diperhatikannya wajah pria tersebut,


"CEO Hanz,maafkan aku."Suara Vivian bergetir karena terkejut.


"Tadi dibawah aku melihat ada orang yang mencurigakan."Tunjuk Vivian.


"Dan aku ber-pi-kir.."Ucapnya terputus saat Hanz menatapnya dengan tidak percaya.


Hanz mengerutkan kening,"Berpikir apa??Bukankah dirimu lah yang layak untuk dicurigai.Sendirian disini ketika semua pegawai ku telah pulang?"tanya Hanz balas menekankan argumen Vivian yang tidak masuk akal.


"Maafkan aku."Ucap Vivian menyadari kesalahannya.


Vivian dengan segera mencoba meninggalkan Hanz,ia tidak ingin mengusik pria yang ada dihadapannya ini terlalu jauh.


"Kamu,apakah dengan mengucapkan kata maaf dapat semudah itu lepas dariku?!"


Hanz memegang pergelangan tangan Vivian lalu menariknya kembali hingga ketepi pembatas balkon.Hanz memblok Vivan, dengan kedua tangan memegang pagar dan merekapun saling berhadapan.


Vivian terkejut dengan sikap Hanz yang begitu kasar terhadap dirinya.Dalam diam ia mencoba mencerna kembali apa yang sedang ia hadapi.


Dan,Tekkkk......


Lampu-lampu mulai menyala menghiasi balkon perusahaan dan malam pun terasa dingin.


Hanz melepaskan kacamata hitam miliknya.Tatapan mata keduanya saling beradu.Samar-samar namun jelas Hanz menguasai tatapan itu.Biru malam yang elegan terpancar dari kedua matanya.


Dengan tatapan dingin itu Vivian tertegun dalam kesunyian.Ia berusaha menenangkan hatinya yang kini terasa kacau.Tubuhnya seakan terkunci,tidak mampu berkutik.Magnet yang kuat membuatnya terhipnotis.


"Bukankah kau ingin ku habisi disini."Ucap Hanz dengan sombong.


Hanz perlahan-lahan mendekatkan wajahnya,hingga tersisa beberapa centimeter dari wajah Vivian.


Spontan Vivian menutup wajahnya dengan kedua tangannya, pasrah.Dibenaknya Hanz adalah vampir,terbukti dari tatapannya yang begitu mengitimidasi dirinya.


"Tuhan,selamatkan aku dari manusia iblis ini."Pinta Vivian dalam hati.


Namun....


Hanz terhenti sejenak memperhatikan tingkah sang wanita yang ada dihadapannya ini.Hanz terkesima dengan wajahnya yang ayu itu.Namun melihat ekspresi Vivian,Hanz tidak dapat menahannya lagi.


"Hahahaha..."Tawanya lepas melepaskan Vivian seketika.Dengan langkah mundur Hanz,memberikan kelonggaran bagi Vivian.Walaupun wanita yang dihadapannya itu masih mematung.


Hanz mencoba menghentikan tawanya namun dengan ekspresi yang dibuat sedikit tenang.Dan menetralkan suaranya yang sedikit serak karena tertawa.Untuk pertama kalinya ia bisa tertawa lepas seperti tadi.


Vivian yang sendari tadi memejamkan mata,perlahan-lahan membukakan matanya dengan sedikit gelisah namun terpana melihat wajah tertawa Hanz.Dengan sedikit bingung ia hanya diam tidak mengerti.


"Besok pagi segeralah keruangan kerja ku!!"Pinta Hanz.


Dan iapun berlalu pergi meninggalkan Vivian yang masih termanggu.Dengan diakhiri sedikit kalimat terakhir yang membuat Vivian semakin tidak berdaya.


"Jangan sampai terlambat apalagi membuat ku menunggu.Kamu benar-benar tidak ingin kuhabisi dan hanya tinggal namakan..?!"Ancam Hanz mengoda.


"Ah,ia."Jawab Vivian linglung.


Dan dengan sedikit daya,Vivian pun menyusul Hanz berlalu pergi.


"Ooh,Tuhan,malangnya nasibku besok pagi😱😭",adunya.


Malam sungguh menyiksa batinnya,tali yang mengikat tangannya semakin sulit ia lepas.