
"EeHhmm".
Terdengar deheman dari seseorang,membuat Hanz dan Vivian dengan segera melepaskan pelukkan.Ada kecanggungan diantara mereka berdua.
"Kakak,apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Roy dengan nafas yang masih memburu.Wajahnya terlihat cemas.
Dipandanginya kakaknya itu dengan seksama,ada kelegaan dihatinya.Jika kakaknya sekarang terlihat baik-baik saja.
Roy membuang nafasnya yang berat dan mengatur kembali oksigen yang baru.Roy tidak menyangka kekhawatirannya membuatnya dengan terburu-buru meninggalkan kamarnya dari lantai bawah menuju lantai atas.Ia khawatir jika terjadi sesuatu dengan kakaknya itu,hatinya gelisah.
Sebelumnya,
Didalam kamarnya yang gelap gulita itu,Roy meraih handphonenya yang tergeletak diatas meja yang tidak jauh dari dirinya.Lalu menyalakan penerang agar ia mudah menuju ketempat kakaknya.Kamar bawah yang ia tempati terbilang cukup jauh dan menempuh beberapa puluh menit hingga sampai kekamar atas.
Roy terkejut mendengar suara pecahan benda yang terjatuh dari lantai atas,semakin gelisahlah hatinya.Pikirannya berkecamuk memikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi.Apalagi dalam suasana gelap ini.
"Sial!!Kemana para pelayan?!Apa yang mereka lakukan hingga listrik cadangan pun belum mereka hidupkan." Runtuk Roy kesal sembari menaiki setiap anak tangga dengan perasaan gundah.
Ttekkk...
Seketika lampu pun menyala dengan terang benderang.
Roy menghentikan langkahnya.Ditempat ia berdiri ia akhirnya menemukan sesosok yang dikhawatirkan.Pemandangan tersebut mengejutkan inderanya.
Didepan matanya sosok yang dicari pun tengah berdiri didepan pintu bersama seorang wanita.Tentu saja itu adalah Hanz dan Vivian.
"Ia,aku baik-baik saja." Balas Hanz singkat ketika Roy bertanya kepadanya.Wajahnya merona namun tidak nampak itu terlihat sedikit berbeda.Hanz yang tidak ingin disalah pahami pun mencoba mengacuhkan kehadiran adiknya.Roy datang disaat yang tidak tepat.
"Syukurlah."Ucap Roy lega mendengar penuturan dari kakaknya sendiri.
Hanz pun mengalihkan pandangannya ke Vivian yang terdiam.Wajah Vivian terlihat bersemu yang membuat Hanz menjadi khawatir.
"Apakah kamu sakit????" Tanya Hanz tiba-tiba.Pertanyaannya itu terlontar begitu saja tanpa memperdulikan target yang dibicarakan.
Vivian yang menjadi target pertanyaan pun menjadi bingung.
"Tidak." Sahutnya.
"Wajahmu memerah." Tunjuk Hanz kesudut pipi Vivian.
Vivian pun menyadari ada kesalapahaman yang dimaksudkan Hanz.Dengan segera ia menutup kedua pipinya agar tidak nampak semakin merona karena malu.
"Hanz menyebalkan.Semua ini karena dirimu.." Batin Vivian menjerit.
"Aku baik-baik saja." Ucap Vivian berusaha mengalihkan pandangannya dari Hanz.Berusaha sebaik mungkin agar pria tersebut tidak membuatnya
semakin tersudut.
Vivian merasakan perasaan malu karena kedapatan dirinya telah dengan berani memeluk pria yang ada dihadapannya itu,Hanz.Debaran jatungnya kini mulai berpacu cepat.Wajah Hanz kini melekat dalam memori singkatnya.Kebersamaan tadi bagaikan drama romansa yang diminati semua orang.Vivian tidak dapat melupakan itu.
"Ohh." Abai Hanz.
Roy yang ada disitu pun hanya tersenyum melihat tingkah Vivian yang begitu kentarannya.Dan dapat menebak bahwa wanita ini sedang dirundung rasa malu yang besar terhadap kakaknya.Bukan Roy namanya jika tidak bisa mencairkan suasana.
"Dia baik-baik saja,kakak Hanz." Sahut Roy.
"Hanya saja pipinya Vivian merah karena- ..."
Belum sempat Roy melanjutkan kata-katanya,Vivian sudah mendekap mulutnya dengan kasar dan menujukkan cengiran tawa yang terpaksa.Vivian dengan sigapnya membatalkan pembicaraan Roy.
Roy yang mendapat serangan yang tidak terduga itupun reflek terbungkam.Tangannya berusaha melepaskan tangan Vivian yang menyentuh bibirnya dan membungkam mulutnya.Setelah berhasil terlepas, Roy menatap Vivian dengan kesal.Keduanya pun beradu pandang saling menyalahkan.
Hanz hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat aksi kedua manusia yang ada dihadapannya.Tanpa memperdulikan tingkah konyol keduanya,Hanz mengabaikannya.
"Ada apa ini?" Tanya nenek tiba-tiba muncul.Ia ditemani oleh Danian.
Namun sang nenek semakin terkejut dengan pemandangan yang ia lihat.
"Astaga...apa yang terjadi?!" Tunjuk nenek Amira.
"Kenapa berantakan sekali disini???Apakah terjadi perampokan...???" Tanyanya khawatir.
Vivian menyengir dan bergidik merinding,memikirkan kerugian yang terjadi akibat kekacauan yang dilakukan oleh Hanz.
"Astaga,berapa banyakkah uang yang harus digunakan untuk kekacauan ini?" Pikir Vivian.Dipandanginya Hanz yang hanya terdiam tanpa merasa bersalah.
Sedangkan Roy dengan segera membela diri.Ia mengeleng-gelengkan kepala menandakan bukan dirinya yang melakukan," Bukan aku,nek." Adunya,lalu menunjuk kearah Hanz dan Vivian.
Sang nenek pun menatap kearah Hanz dan Vivian,menyelidiki apa yang terjadi.Namun dugaan nenek adalah Hanzlah pelaku utamanya.Sebab kekacauan itu tidak mungkin dilakukan oleh orang lain.
Hanz yang menyadari dengan perkataan sang nenek pun hanya terdiam.Ekspresi datar itu tidak terlihat sebagai pelakunya,namun ia tidak menyangkal dengan apa yang ia lakukan.Hanz beralih menatap Vivian sebagai penyebab utama ia bertindak seperti itu.
Tatapan yang diberikan Hanz membuat Vivian bergidik merinding.Vivian yang menyadari dirinya menjadi penyebab utama pun akhirnya angkat bicara.
"Ha..ha..Maaf nenek." Aku Vivian."Sepertinya ini semua gara-gara aku." Ucap Vivian gugup.
"Sepertinya Hanz mendengar aku menjerit karena takut.Lalu mendatangi kamarku." Ocehnya sembari mengharapkan Hanz ikut menjelaskan,namun naasnya Hanz masih terdiam dengan ekspresi tidak berdosanya itu.
"Benarkah?"
Selidik sang nenek,pandangannya tidak lepas menatap kelakuann cucunya itu.
Mendapati pandangan sang nenek,Hanz menyerah,"Hmm." Sahut Hanz singkat.
Sang nenek yang bingung dan panik tadi mulai melega mendengar penuturan dan penjelasan dari Vivian serta pengakuan dari cucunya itu.
"Oohh,ternyata seperti itu." Ucap nenek Amira lega sembari mengamati cucunya Hanz dengan senyum mengoda.Lalu menghampiri cucunya tersebut.
Hanz yang mendapati senyuman mematikan sang nenek,hanya menyengir.Mencoba menutupi perasaannya yang sedikit bersalah.
Nenek Amirapun menatap Hanz dengan penuh makna.Ia menyadari bahwa cucunya itu tidak lagi menutup matanya.Dan betapa senangnya nenek Amira akan peristiwa yang terjadi sekarang,sebab cucunya kini bisa melewati lukanya.
Dalam keheningan,
"Syukurlah" Ucapnya lirih lalu memeluk cucunya itu.
"Tapi nenek merasa lega jika dirimu baik-baik saja."
Hanz merasakan kekhawatiran sang nenek pun membalas dekapan tersebut,"Aku baik-baik saja,nek."
Wajah sang nenek tampak begitu sayu,namun begitu menenangkan.Hanz menikmati setiap dekapan yang diberikan sang nenek dengan perasaan hangat.
Dengan sentuhan lembut,sang nenekpun mengusap wajah Hanz yang dingin itu.Sang nenek merasa bahagia karena cucunya telah kembali seperti dulu.
Selain nenek Amira dan Roy yang sedari tadi mengkhawatirkan kondisi Hanz.Danian juga merasakan kekhawatiran yang sama, hanya saja ia menghadapinya dengan sedikit lebih tenang.
Awalnya Danian bingung dengan kegaduhan dan situasi yang terjadi,namun mulai memahami apa yang terjadi.Itulah kelebihan dari seorang Danian,dapat dengan segera memahami permasalahan yang muncul.
"Hanz,aku rasa sekarang rasa trauma mu- ,apakah tidak masalah ???" Ucap Danian hati-hati.
Feeling seorang sahabat yang sudah lama kenal itu,menyadari ada perubahan yang signifikan telah terjadi pada Hanz.
Hanz yang tidak mengerti apa yang diucapkan Danian hanya menyipitkan mata menanti penjelasan dari nya.
"Aku rasa kamu tidak takut lagi menghadapi masa kelam rumah ini.Matamu?!"Tunjuknya memberi isyarat.
Hanz terkejut dan mulai menyadari apa yang dikatakan Danian,ia benar-benar merasa dirinya telah mengalami perubahan hanya dalam satu hari dan itu semua hanya karena wanita ceroboh yang ada dihadapannya itu.
Sering kali ia mencoba memasuki rumah ini dengan mata terbuka namun seketika itu juga peristiwa mengerikan itu membuatnya terluka.Ingatan terhadap orangtuanya membuat ia tidak berdaya hingga membuat kondisinya semakin buruk.Alhasil Hanz jatuh sakit dan terkapar dirumah sakit berhari-hari.
Hanz pun melupakan kenangan buruk itu dengan cara begitu mustahil.Dokter menyarankan Hanz harus diungsikan ketempat lain.Namun sang nenek menolak,ia tidak ingin terpisah dari cucunya.
Hanz menyadari bahwa neneknya begitu menyanyanginya.Oleh karena itu ia tetap bertahan dirumah besar walaupun ia harus menutup mata dan kenangan manisnya itu dengan sangat rapat.Yach,Hanz menjadi penyandang tunanetra sementara jika berada didalam rumah dan kembali menjadi normal ketika berada jauh dari rumah.
Tetapi sulit ia pahami kenapa malam ini,ia dapat melaluinya.Dan rasa sakit yang ia rasakan terabaikan begitu saja.Dengan penuh tanda tanya Hanz pun memandang kearah Vivian.
"Bagaimana mungkin ikan kecil ini menyihirku?" Batin Hanz bergejolak,
"Sihir apa yang dia gunakan padaku???" Pikirnya dalam hati.
Vivian yang dipandangi Hanz sendari tadi,hanya mengerutkan dahi.
"Entahlah,aku juga tidak mengerti." Ucapnya membalas perkataan dari Danian.Tanpa melepaskan pandangannya dari wanita yang ada disampingnya itu.