Monster Eyes Are My Beautiful Eyes

Monster Eyes Are My Beautiful Eyes
36.Kehadiran



Note:


(putar lagu EXO - MONSTER ya readers biar tambah semangat😊)


- Dia membuatku gila


Kenapa hatiku berdebar?


Kau cantik,kau tertutup


Aku akan mengetuknya jadi bisakah kau biarkan aku masuk?


Aku akan memberikan sensasi tersembunyi


Ada rasa ingin tau,terlihat dari matamu


Kau sudah jatuh cinta padaku


Jangan takut,cinta adalah jalan


Sayang aku mengerti,kau biasa memanggilku monster


Aku merayap didalam hatimu


Aku akan melemparmu,menghancurkan mu dan menelanmu


Aku akan menculikmu dan memanjakanmu


Aku akan mengacaukanmu


Karena aku terukir dipikiranmu


Bahkan jika aku mati,aku ingin hidup selamanya


Kau memanggilku monster


Aku akan masuk kedalam hatimu......


****************



Terpaan sinar mentari pagi,mulai menghangatkan.Vivian mengeliat,wajahnya yang terpapar cahaya pagi membuatnya sedikit tidak nyaman.Dengan segera ia menarik selimutnya untuk menutupi seluruh tubuhnya.Namun,usahanya sia-sia karena alaram diponselnya harus membangunkan dirinya segera.


"Ugh...",suara keluhan Vivian menandakan dirinya enggan untuk bangun.


"Hari ini cerah sekali...",ucapnya dengan senyuman yang sumringah.


Ranting-ranting pohon mengelok-elokkan tubuhnya menandakan sukacita.Bunga-bungapun menampakkan kuncupnya,mengoda sang lebah yang berlalu lalang mencari madu.Tentu saja musim semi telah terjadi.


"Hhoooaaammmm...".


Vivian beranjak dari tempat tidurnya,walaupun masih mengantuk ia berusaha menyegarkan dirinya ke pemandian.Dan mempersiapkan diri untuk berangkat bekerja.


Dengan langkah semangat Vivian menelusuri anak tangga,pandangannya tertuju pada meja makan.


Seseorang tampak memukau membuat Vivian tidak berhenti memandangnya.Malaikat terindah yang begitu sempurna untuk ia pandangi.


Namun yang dipandangi hanya memasang wajah dingin seperti biasanya.Walaupun demikian Vivian tidak dapat menolak isi hatinya untuk terus menggagumi pria tersebut.Dengan sendirinya ia pun tersihir begitu saja.



"Sedang apa kamu disitu??",ucap Hanz membuyarkan lamunan Vivian yang panjang.


"Kemarilah..kita sarapan bersama",ajak Hanz saat ia selesai mengenakan kemejanya.


"Oh ia...",jawab Vivian gelagapan,menghampiri Hanz yang sudah duduk terlebih dahulu di meja makan.


"Hanz,kenapa kamu selalu menggunakan kacamata kalau sedang berada diluar??Bukankah warna mata mu itu sangat indah??",tanya Vivian disela-sela suapannya.


Dengan santainya Vivian menanti jawaban Hanz.


"Apakah itu penting...???",ucap Hanz balik bertanya disudut meja sembari menyerumput minumannya.


"Hmmmm..",angguk Vivian refleks.


"Karena aku ingin saja...",balas Hanz acuh.


"Jawaban yang dangkal",ucap Vivian kecewa.


Sontak saja Hanz meletakkan kembali minumannya,menatap Vivian dengan nanar.Karena ia tidak ingin memberitahu sebenarnya alasan ia seperti itu.


"Untuk apa aku memperlihatkannya untuk orang lain dan cukup untuk mu saja aku perlihatkan.Apakah kamu tidak menginginkannya??",tanya Hanz kesal dengan sikap konyol wanitanya.



"Mmm,bukan seperti itu..",balas Vivian serba salah karena menahan malu dan takut menyinggung perasaan sensitif Hanz.


"Mata indahku ini hanya boleh dilihat dan dimiliki oleh mu saja,orang lain tidak perlu tau.Jadi,jangan berpikir untuk menanyakan kembali pertanyaan konyol seperti itu",pinta Hanz,mengakhiri obrolan mereka.


"Baiklah..",ucap Vivian menyerah karena sikap Hanz yang begitu arogan.


"Hari ini bisakah kamu izin ke tempat kerjamu???",tanya Hanz membuyarkan lamunan Vivian.


"Kenapa???",tanya Vivian bingung.


"Aku ingin mengajak mu kesuatu tempat...".


"Oohh..",balas Vivian sekenanya.


Hanz pun memicingkan matanya agar Vivian serius dengan ucapannya.


"Ia nanti aku minta izin ke bos ku",ucap Vivian agar Hanz melepaskan tatapan mematikannya itu.


"Ia,nyebelin...",balas Vivian melanjutkan sarapannya yang belum tuntas.


Ting tong...


Suara bel membuyarkan kesunyian diantara keduanya.Hanz dengan segera beranjak untuk membukakan pintu.


Dan beberapa menit kemudian muncul membawa dua orang tamu yang Vivian kenal.


"Roy....",sapa Vivian.


Dan sontak Roy terkejut karena mendapati Vivian berada dikediaman kakaknya.


"Lady Vivian ada disini juga...",tanya Roy tidak percaya sembari menatap kakaknya penuh tanda tanya.


"Mmm,ia...",jawab Vivian malu-malu.


"Dia sedang tinggal bersama ku,apa ada masalah???",tanya Hanz dingin menjawab keingintahuan Roy.


Tentu saja ucapan Hanz membuat Roy sedikit merinding sedangkan teman wanita yang mengikutinya tidak kalah terkejut dan merasa sangat kecewa.


"Hmm,tidaklah kaka,tapi justru aku senang...".


"Apa kalian sudah sarapan ??",tanya Hanz kepada Roy dan juga Vero,mengajak tamunya agar duduk bersama dimeja makan.


"Kami berdua sudah sarapan ka..",sahut Roy namun tangannya tetap mengambil roti bakar yang tersajikan dan melahapnya,mengabaikan Vivian yang melongo karena jatah makanannya diambil begitu saja oleh Roy.


"Oh....Lalu apa tujuanmu kemari??",tanya Hanz tanpa berbasa-basi terhadap adiknya itu menanyakan tujuan mereka datang diwaktu yang tidak tepat.


Dan Hanz sedikit kesal dengan ulah Roy.Karena dengan lancangnya mengambil makanan milik wanitanya padahal di meja lain masih tersedia banyak makanan.


"Astaga kaka...apa aku tidak boleh berkunjung kemari??",tanya Roy sedih,mengabaikan ekspresi kakaknya tersebut.


"Bukannya tidak boleh,tapi apa kamu tidak menyadari jika kami ingin pergi kesuatu tempat",balas Hanz ketus.


Roy hanya mencibirkan bibirnya tanda kecewa.Karena kedatangannya tidak di harapkan oleh kakaknya sendiri namun ia tidak peduli karena ia tahu tujuan kakaknya kemana.


"Kebetulan sekali kakak,aku juga ingin pergi kesuatu tempat.Dan itu satu tujuan dengan mu".


Hanz mengerutkan keningnya.Ia menatap adiknya itu dengan seksama,mengharapkan penjelasan.


"Tidak usah melihatku seperti itu ka,aku tahu dari Danian.Dan aku juga ingin ikut karena bukan hanya dirimu saja yang perlu.Aku juga...karena aku rindu",balas Roy santai.


"Lalu Vero...",tanya Hanz.


Vero yang ditunjukpun,tidak tahu menahu arah tujuan adik-kakak tersebut hanya terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.Karena dirinya diseret langsung oleh Roy,namun dengan demikian ia begitu merasa senang karena ada kesempatan bisa bersama Hanz.Hanya saja hatinya sedikit terluka karena ada Vivian diantara mereka.


"Vero ku bawa karena aku tidak mau menjadi obat nyamuk diantara kalian berdua...",sahut Roy.


"Dan tentu juga aku ingin menjaga lady Vivian,takut-takut kakak akan memakannya..Apalagi sekarang sudah satu rumah dan belum diresmikan,pasti itu sangat berbahaya.Dimana ada kesempatan pasti aaaaawwwuuuuu...kakak Hanz pasti akan memakan lady Vivian hidup-hidup",goda Roy melonglong seperti serigala.


Byuurrrr...


Minuman yang Vivian belum sempat ditegukpun meronta keluar karena terkejut.


"Kyyaa...ini anak benar-benar nyebelin",protes Vivian kesal.


Plaakkkk,sebuah pukulan mendarat dikepala Roy.


"Awww,sakit kak..",keluh Roy.


"Jaga ucapan mu dan minta maaf..",perintah Hanz.


"Ia-ia,bawel...."


"Hahaha....becanda lady dan maaffff...",pinta Roy sok imut.


"Hmmm...",balas Vivian pura-pura dingin padahal ia sudah lega karena Hanz sudah membelanya walaupun Roy sebenarnya tidak bersalah.


Vero yang sendari tadi terdiam ikut tersenyum melihat kegaduhan isi masion.


*************


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh,keempat insan manusia tersebut menapakkan kakinya disuatu tempat yang begitu tenang.Hamparan lapang yang luas dan dihiasi pepohonan yang meneduhkan,membuat perasaan semakin terbawa didalamnya.


Setiap langkah kakipun berjalan menyelusuri manusia-manusia lain yang sedang tertidur menyisakan kisah yang ditinggalkan.Dalam gundukkan tanah yang tertutup oleh batu-batu yang kokoh dan berselimutkan rumput yang indah.


Hanya sebuah prasasti tentang akhir manusia saja yang menyimbolkan mereka masih ada,walaupun hanya meninggalkan nama dan memori namun tetap terpatri untuk yang hidup.


Hanz menghentikan langkahnya,dihadapan batu nisan milik kedua orangtuanya.


Dalam diam ia memandangi wajah kedua orang tuanya,butiran-butiran air mata tidak nampak dipelupuk matanya hanya saja kakinya terasa begitu lemah dan rapuh.Hanz mencoba menguatkan hati dan jiwanya dan tanpa disadari tangannya mencengkram tangan Vivian dengan kuat,dengan begitu ia bisa terlihat tegar.


Sontak saja Vivian yang berada didekat Hanz tidak mampu menolak karena ia tahu Hanz membutuhkan dukungannya untuk saat ini.


Lain halnya Roy yang menahan rindu akan kedua orangtuanya itupun menangis menahan kesedihan.Tangisan yang telah ditinggalkan untuk waktu yang cukup lama dan tidak mungkin dapat kembali lagi.


Karena iba Vero yang bersebelahan dengan Roypun mencoba menepuk pundak Roy agar perasaannya lebih tenang.Entah kenapa perasaan Roy yang terluka membuatnya ikut terluka.



Hanz menghelakan napasnya.Sudah beberapa jam berlalu dan kini hanya dirinya dan Vivianlah yang masih menetap dipusaran kedua orangtuanya.


Roy dan Vero telah kembali terlebih dahulu ke mobil.


Seikat buket bunga yang cantik Hanz persembahkan dihadapan kedua orang tuanya.Dengan keadaan sedikit tenang iapun mencurahkan isi hatinya kepada kedua orang tuanya tersebut.


"Mah,pah..aku datang kemari untuk menyampaikan sesuatu.Perkenalkan wanita yang ada disampingku ini adalah calon menantu kalian.Kali ini aku mengajak dia kemari untuk meminta restu kalian.Dia adalah pendamping hidupku.Semoga mamah dan papah tidak kecewa dengan pilihan dan keputusanku".


Vivian yang berada disamping Hanz pun terkesima.