
Hanz membuka matanya secara perlahan,kepalanya sedikit terasa pusing.Dengan samar-samar ia memperhatikan sekelilingnya.
"Apa yang terjadi padaku???"
"Bukankah aku berada di lobi hotel,tetapi kenapa aku bisa berada disini?",batin Hanz merasa sedikit bingung.
Sesuatu terasa ngilu ditengkuknya,Hanz mulai menyadari apa yang telah terjadi dan terlintas diingatannya bahwa ia sedang mengejar seseorang namun naas ia malah dipukul oleh orang lain dari belakang.
"Sial...!!Hampir saja aku menangkap pembunuh itu...",runtuk Hanz.
"Tapi...Siapakah orang yang telah melukaiku??
"Sebenarnya apa motif orang tersebut sehingga mencelakaiku???"
"Apakah pria itu????"
"Agh..."
Dengan sedikit menahan sakit dan nyeri dikepalanya Hanz mencoba mengalihkan argumen dan pemikirannya sejenak.Dan terlintas wajah Vivian.
"Bagaimana dengan Vivian?",cemasnya.
"Sepertinya aku telah meninggalkannya sendirian di pesta.Sebaiknya aku harus segera menemuinya".
Dengan segera Hanz ingin beranjak bangun,namun ternyata disisinya terbaring sesosok wanita cantik.Seseorang yang Hanz ingin temui.
"Agh,ternyata dia ada disini..syukurlah".
Hanz tersentuh.
Jemari-jemari mungil tangan wanita tersebut mengait dengan mesranya,mengunci jemari tangan besar miliknya.
Dengan perlahan ia menghela nafasnya yang terasa sesak namun juga merasa lega,karena ia menyadari bahwa dirinya telah membuat sebuah kekacauan yang tidak terduga.Sebab disaat sebuah acara yang seharusnya membahagiakan,sejenak berakhir tidak sempurna.
Hanz menatap wanitanya dengan lembut.Ada kekhawatiran dihatinya,bagaimana jika wanita yang ada dihadapannya ini juga akan terlibat seperti dirinya.Pergumulan batin pun kini merongrong hati dan pikirannya.
"Penjahat itu masih berkeliaran diluar sana.Bagaimana pun kejadian dulu tidak boleh terulang lagi.Ugh..sial!!,aku begitu ceroboh untuk saat ini",gerutu Hanz dengan erat menggengam jemari tangan Vivian.
"Kejadian ini tidak akan pernah terjadi lagi,aku akan berusaha semampunya menjaga orang-orang yang aku sayangi",batinnya.
Hanz mencoba meyakinkan dirinya untuk berpikir positif.
Dengan menyunggingkan senyuman manisnya Hanz membelai rambut Vivian yang panjang tergerai indah.
Tiada hentinya ia memandangi Vivian dengan lembut, luka dan derita yang ia rasakan kini secara perlahan hilang memudar.
"Terima kasih sayang,karena kamu hadir didalam kehidupan ku..",gumam Hanz lirih,dikecupnya jemari-jemari lentik milik Vivian dengan mesra.
Suasana ruangan yang sunyi begitu terasa hangat,Hanz sangat menikmatinya.
Hanya saja Vivian yang tertidur pulas ternyata masih mengenakan gaun pesta itu terlihat sembab diwajahnya.
"Apakah ia menemani ku dan menangis semalaman disini?",pikir Hanz.
"Apakah dia sangat khawatir sehingga tidak memperdulikan dirinya sendiri ?"
"Maafkan aku,karena membuatmu cemas seperti ini..."
"Tapi,dimanakah aku sekarang??",gumamnya lemah,sehingga membanggunkan wanita cantiknya itu.
"Hanz,kamu sudah sadar?",ucap Vivian dengan perasaan senang,mendapati pria pujaan hatinya telah tersadar dari tidur panjangnya.
"Betapa khawatirnya aku mendengar dan melihat dirimu terluka seperti ini",suara Vivian bergetar merasa cemas.
"Kita ada dirumah sakit sekarang.Apakah kamu masih merasa kesakitan?Atau terasa sakit ditubuh yang lainnya?Aku akan memanggil dokter segera..",panik Vivian.
"Tidak usah memanggil dokter karena aku tidak apa-apa",cegah Hanz menahan tangan Vivian yang hendak beranjak pergi.
"Bodoh...",umpat Vivian kesal.
Terlihat riak-riak air mata mulai menggenang dipelopak matanya.Mata yang berbinar-binar itu seakan hendak meledak segera.
"Apakah kamu tahu??aku mencemaskan mu hingga rasa ini seakan mati",isak Vivian tidak tertahankan.
"Hahaha...",tawa Hanz lepas melihat tingkah polos Vivian yang blak-blakkan.
Tentu saja Vivian tidak terima dengan tawa Hanz,tinju kecil pun mendarat mulus kebahunya.
"Agh...",ringis Hanz kesakitan.
"Ahh,maafkan aku...apakah aku menyakitimu lagi?",cemas Vivian menumpahkan tangisannya yang tidak tertahan.
"Hei,aku baik-baik saja.Apa yang kamu tangisi",hibur Hanz mencoba menenangkan Vivian.
Senyuman manis Hanz membuat Vivian sedikit luluh dan menghentikan tangisnya.
"Benarkah??"
"Hmm"
Hanz dengan lembut mengusap pipi Vivian yang begitu sayu.
Dengan secara detail Vivian mulai menceritakan apa yang telah terjadi.
"Seseorang mengatakan jika melihat dirimu hampir dicelakai oleh orang lain".
Hanz terdiam karena kini ia benar-benar mengingat kejadian yang baru saja menimpa dirinya.
Seseorang yang selama ini ia cari dan takuti tiba-tiba muncul dan rasa penasarannya semakin menjadi ketika ia hampir saja menangkap sang pelaku namun tiba-tiba sebuah benda berat menghantam punggungnya.Dan tentu saja ia tidak ingat lagi apa yang terjadi.
"Jangan khawatir,sayang...aku baik-baik saja,bukan".
Vivian pun terdiam mendengar penuturan Hanz.
"Kak,apa kamu baik-baik saja??",suara Roy terdengar menggelegar didalam ruangan dan kemunculannya yang tiba-tiba membuat Hanz mengerutkan alis.
"Hmmm..",balas Hanz dingin.
Kehadiran Roy membuat Hanz sedikit terusik karena mengganggu kemesraannya bersama Vivian.
"Syukurlah ka..",lega Roy mengabaikan ekspresi Hanz yang sedikit terganggu.
"Semoga orang tersebut dapat segera ditangkap ..",kesal Roy.
Namun kekesalan itu teralihkan ketika Danianpun berhasil menyusulnya kedalam ruangan tempat Hanz berada.
Danian yang mengikuti Roy dari belakang pun memasang wajah khawatirnya.
"Hanz,apa kamu baik-baik saja??"
"Ia,aku baik-baik saja.Jangan terlalu dikhawatirkan",sahut Hanz menenangkan.Dan dengan pasrah ia membiarkan kedua pria yang ada dihadapannya itu mencemaskan dirinya.
"Sialan!!!Siapa yang berani-beraninya mengganggu kakak?Kenapa ketika identitas kakak diketahui,muncul sebuah teror dan itu langsung tertuju padamu kak?!",cemas Roy.
Dengan tenang Hanz menenangkan adiknya yang semakin cerewet itu.
"Mungkin kejadian ini hanya kebetulan saja,dan orang yang mencelakai ku menggunakannya disaat seperti ini".
"Tapi,tetap saja itu sangat berbahaya",tepis Vivian tidak terima.
"Hei,sayang...tenanglah",ucap Hanz menenangkan wanitanya itu juga.
Namun,Vivian tetap dengan wajah frustasinya mencoba menerima apa yang dikatakan Hanz.
Hanz mencoba meraih tangan Vivian agar mendekat padanya,dengan segera ia mengusap wajah wanitanya.Namun,
"Aaawww..."
Suara jeritan kesakitan Vivian mengagetkan semua orang yang berada diruangan yang sedang serius memikirkan kejadian yang baru saja terjadi.
"Kenapa kamu mencubit pipiku..??",kesal Vivian mengusap-usap pipinya yang merona merah akibat ulah tangan jahil Hanz.
"Kamu mau tau kenapa???Karena wajah mu terlihat jelek untuk saat ini.Lingkaran hitam dimatamu layaknya panda,apakah wanitaku menangis semalaman??Dan hampir saja,aku tidak mengenali wanita yang ada dihadapanku ini,apakah sayangku sedang mengadakan sebuah party hallowen??",goda Hanz yang membuat Vivian terkejut dan menahan malu.
Roy dan Danian yang terlihat serius teralihkan seketika saat mendengar ocehan nakal Hanz.Tanpa disadari keduanya pun terkekeh secara bersamaan karena menyadari bahwa Vivian terlihat begitu berantakan.
Hanz dengan lembut menggenggam tangan Vivian,"Sayang,aku baik-baik saja dan jangan terlalu dikhawatirkan,okay".
Vivian yang mendengar ucapan lembut Hanz hanya membalas dengan anggukkan.
"Bisakah,sayang untuk pulang beristirahat dirumah.Aku tidak ingin melihat wanitaku seperti ini karena membuatku semakin merasa terluka.."
"Tapi,Hanz..aku..."
"Ssttt...Aku tidak ingin mendengar alasan apapun.Karena yang aku inginkan wanita ku segera pulang beristirahat,mengerti",pinta Hanz.
Vivian tidak dapat menolak.
"Roy,bisakah kamu menemani kakak iparmu dan mengantarnya pulang!",perintah Hanz.
"Agh,ia ka.."
"Jangan khawatir,Danian akan menemani ku disini karena aku membutuhkan dirinya".
Vivian dan Roy yang mendengar keputusan Hanz pun dengan segera meninggalkan ruangan rumah sakit dimana tempat Hanz berada.
Kepergian keduanya pun,membuat seisi ruangan kembali mencekam.
"Danian,apakah kamu menemukan siapa pelaku yang mencelakai ku?"
"Untuk saat ini belum Hanz,karena rekaman setiap Cctv ditempat kejadian semuanya telah dirusak dan tidak ada petunjuk apapun",ucap Danian sedikit frustasi.
"Kamu tahu,sebelum seseorang memukulku dari belakang.Aku bertemu dengan sosok pembunuh orang tua ku dulu."
Danian pun terkejut mendengar penuturan Hanz.
"Hanya saja aku tidak ingat dan tidak jelas melihat rupa orang tersebut.Akan tetapi aku hafal betul dengan suara itu..suara yang membuat aku tersiksa hingga sekarang".
Danian yang tidak mampu berkata-kata hanya mendengar dengan jelas apa yang sebenarnya telah menimpa bos ataupun sahabat dekatnya itu.
Masa kelam Hanz masih melekat dimemorinya,membuatnya selalu ingin menjaga dan melindungi Hanz penuh.
"Yang aku khawatirkan suara yang aku dengar dengan orang yang mencelaki ku memiliki hubungan yang sama",gundah Hanz.
"Apa perintah mu,Hanz?!",tanya Danian.
"Aku ingin dirimu menyelidiki semua ini dari awal lagi.Karena aku tidak ingin sembunyi dan berlari lagi".
"Baiklah,aku akan berusaha semampu ku untuk mencari pelaku yang sudah menyakiti mu selama ini.Dan percayakan padaku..",pinta Danian.
"Terima kasih,Danian.Aku percaya padamu.."
Keduanya pun kembali terdiam memikir apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.
Namun,Hanz harus menghadapi sesuatu yang baru.Berita tentang kemunculannya membuat heboh media massa.Berita dimana dirinya yang selama ini tidak diketahui keberadaan dan merupakan satu-satunya orang yang selamat dalam pembunuhan sadis diVilla keluarga Smith.
Semua orang menanyakan dan penasaran apa yang terjadi,akantetapi berita buruklah yang semakin tersiar.
"Apakah kamu baik-baik saja dengan berita ini,Hanz??",tanya Danian.
"Aku baik-baik saja."
"Apakah kita perlu membuat klarifikasi untuk semua ini??"
"Belum saatnya,karena pembunuh itu masih berkeliaran diluar sana dan dia akan mendapatkan keuntungan dari semua ini.Biarkan saja dulu..aku yakin dia tidak akan pernah menyerah untuk mencelakaiku..Dan aku akan menanti saat-saat itu..",ucap Hanz penuh amarah dan seketika tatapan matanya berubah menjadi merah darah.Aura yang begitu menakutkan kuat melekat didiri Hanz.
Danian yang ada didekatnya pun tidak dapat berkutik.Sesosok iblis seakan telah menguasai dirinya.
"Akan tetapi sebelum itu terjadi,aku meminta padamu untuk melindungi orang-orang terdekatku.Karena pemburuan kali ini sungguh sangat berbahaya".
Danian hanya menggangguk walaupun dihatinya masih penasaran dengan motif pembunuh yang mengincar tuannya itu.Karena keluarga Smith yang hidup bukan hanya Hanz melainkan Roy dan nenek Amira juga.
Dan kedua orang tersebut tidak pernah dijadikan target yang begitu mematikan.
Danian yang sudah lama bersama dengan Hanz tidak sepenuhnyamengetahui apa yang terjadi.Karena Hanz melupakan kejadian tersebut dan tidak mengingat apa yang terjadi.
Hanya saja berita yang tersebar begitu meresahkan dan puing-puing memori Hanz mulai terekat kembali.
Danian mengkhawatirkan hal buruk yang terjadi,sesuatu yang dapat melukai Hanz lebih dalam lagi.