Monster Eyes Are My Beautiful Eyes

Monster Eyes Are My Beautiful Eyes
3.Salah Paham



*Meeting Room*



(Gambar hanya ilustrasi saja ya😊)


 


Vivian sibuk memainkan polpennya, sembari matanya terus mencuri pandang mengamati pria yang ada di hadapannya.


"Dasar laki-laki menyebalkan ...!!!"runtuknya dalam hati.


"Apa aku tadi salah bicara ..??Dipuji eh akunya yang dibentak...dasar orang gila!!"kesal Vivian.


"Tampan-tampan tapi menyebalkan!!Agch,akunya saja yang sial"pikir Vivian.


 Sebaliknya dari seberang meja.


Hanz juga memperhatikan Vivian dari balik kacamata hitamnya;


"Bukankah wanita ini yang hampir tertabrak pagi tadi oleh ku?!"pikirnya.


" Ternyata dia baik-baik saja"lega Hanz.


"Hanya saja wanita ini sedikit menyebalkan."Umpat Hanz dalam hati.


"Dia sudah berani-beraninya menatap mataku,membuatku kesal saja!!!"


"Agch,kenapa juga aku memikirkannya?!"abainya.


Hanz mencoba mengalihkan pandangannya dari Vivian dan kembali fokus pada meeting.Hanz yang serius membuat para koleganya kagum.Dan tidak terkecuali diantaranya adalah Vivian itu sendiri.


"Terimakasih atas kerjasamanya,saya menyukai proposal yang kalian ajukan.Semoga kerjasama kita berjalan lancar untuk sekarang dan selanjutnya"ucap Hanz penuh wibawa.


"Terima kasih juga,mohon bantuannya."Balas dari pihak perusahaan StyLe antusias.


Pertemuan yang memakan waktu berjam-jam kini telah usai.Kesepakatan dari kedua belah pihak membuahkan hasil kerjasama yang saling menguntungkan.Pertemuan itupun diakhiri.


Vivian bergegas meninggalkan meja rapat ketika semua orang sudah pergi.Dan ruangan itu menjadi kosong kembali.


Vivian mempercepat langkahnya,namun tanpa sengaja ia bertemu dengan Hanz dikoridor.


Pria tampan itu,berdiri sendirian tanpa seseorang yang ada disana.


Penampilan yang menawan itu membuat Vivian menjadi sedikit terpesona.


CEO Hanz yang begitu stylis dalam sekejap mampu mengalihkan kekesalan Vivian.


Karena situasi yang tidak dapat dihindari,Vivian mencoba setenang mungkin untuk mengabaikan peristiwa yang terjadi.


Entah kenapa suasana kantor terasa sunyi.Padahal jam menunjukan jam kerja masih berlaku.



(Gambar hanya ilustarsi saja ya😊)


"Kenapa lagi aku bisa bertemu dengan dia ??"gerutu Vivian mencoba mengabaikan pria yang ada dihadapannya sebisa mungkin.


Vivian melangkahkan kakinya mencoba melewati Hanz yang sedang melakukan panggilan via telpon.Jantungnya berdetak kencang takala menatap wajah itu semakin lekat,


"Astaga dia benar-benar tampan."Ocehnya tanpa sadar.


"Hanya saja sikapnya buruk dan menyebalkan"celutuk Vivian.


 Hanz yang mendengar langsung,menatap dan memanggilnya.


"Berhenti!"cegahnya ketus.


"Apa yang kamu katakan barusan??"tanyanya langsung.


 


Vivian tentu saja terkejut.Dengan segera ia mencoba berdalih atas perkataannya yang baru saja ia lontarkan.


"Aaah,saya hanya mengatakan kalau persentasi anda bagus,pak."Balas Vivian beralasan lain.


Dan tentu saja ia berharap yang bertanya tidak ingat apa yang diucapnya tadi,sembari mengeluarkan tawa kecil supaya orang yang bersangkutan tidak semakin curiga.


Hanz mengerutkan keningnya.


Namun suara ditelepon masih berbicara.Hanz mengabaikan Vivian sejenak.Melanjutkan pembicaraannya yang terputus tadi, terhadap seseorang yang berbicara sebelumnya dengan dirinya.


Melihat reaksi seperti itu,Vivian mencoba melanjutkan perjalanannya untuk melarikan diri.Akan tetapi ada sesuatu yang menghambatnya,tanpa sadar Hanz menarik kerah bajunya.


 


"Aaww..."Keluh Vivian menggema dilorong ruangan yang sunyi.


Vivian menoleh kearah Hanz dengan kesal.Menyadari pria tersebut tanpa wajah berdosa menatapnya datar masih mengcengkram kuat kerah baju miliknya tanpa berniat untuk melepaskan.


Dengan tidak berdaya,Vivian pun masuk kedalam perangkapnya.


Hanz sudah menutup teleponnya.Dan dengan santai melepaskan cengkramannya dari sang mangsa.Melanjutkan kekesalannya yang sedikit tertunda.Mulai mengintrogasi Vivian kembali.


"Kau pikir aku tuli dan bodoh..!!"ucap Hanz ketus.


"Kalau sudah tau,kenapa bertanya lagi...??"balas Vivian juga kesal.Mengabaikan posisi Hanz yang untuk saat ini sebagai seorang CEO mitra bisnis perusahaannya.


"Dasar wanita bar-bar!"


"Kamu!"Tunjuk Vivian tidak terima.


"Dasar.Pria psikofat tak bermoral!"lanjutnya.


"Kamu!"Tunjuk Hanz juga tidak mau kalah.


"Apa!"Tantang Vivian menyela ucapan pria yang ada dihadapannya itu,tanpa memperdulikan wajah Hanz yang membara.


Suasana koridor menjadi mencekam.Keduanya berargumen mempertahankan sikap masing-masing,yaitu tidak mau mengalah.


"Kamu!Sudah membuat aku jengkel.Dengan ucapan mu itu!"Timpal Hanz.


Hanz mencoba mendekati Vivian dengan amarahnya.Tubuhnya yang kekar hampir menenggelamkan tubuhnya yang mungil.Vivian menjadi tidak berdaya.


 


Vivian yang merasa dirinya seolah penyebab segalanya mencoba mempertahankan posisinya.Namun,tidak menyadari langkah kakinya bertindak lain.Ia melangkah mundur.


Seketika itu juga mental Vivian mulai terkikis.Dengan nada gusar,ia pun membalas ucapan Hanz.


 


"Aku tadi hanya memuji mu.Memangnya apa yang salah dari itu??"bela Vivian tidak mau mengalah.


"Memuji"Hanz tertawa menyeringai.


"Bagian mananya?!"celutuk Hanz,membuat Vivian menjadi salah tingkah namun juga mendadak merasa takut.


"Yang aku tau,kamu mengatakan jika sikap ku buruk dan menyebalkan."


"Memang sangat buruk."Batin Vivian berargumen."Memiliki wajah tampan tapi mentalnya buruk."Lagi-lagi Vivian membatin.


"Kenapa terdiam!"


Vivian terperangah dengan suara Hanz yang keras.Suara keras yang kini sangat dekat dihadapannya.


Tentu saja itu disebabkan Hanz mendekatkan wajahnya terlalu dekat di wajahnya.Rasa takutnya mulai teralihkan dengan pesona pria yang ada dihadapannya itu.


Wajah putih mulus itu,membuat aliran salifa Vivian mulai tersekat.


Dan tiba-tiba tanpa ia sadari pipinya merona tersipu malu,malu untuk mengatakan sebuah kejujuran bahwa ia juga tidak dapat berkata-kata jika pria dihadapannya itu terus mendesaknya dengan wajah mempesona tersebut..


Namun Vivian tidak bisa menahan lagi,karena ia tau dibalik kacamata hitam itu ada pandangan yang menatapnya tajam.


"Aku hanya bilang kamu tampan"celutuk Vivian."Apakah aku salah mengatakan hal tersebut?"


Hanz terdiam.


"Apalagi tadi aku juga tidak sengaja menatap matamu.Apakah aku salah?Matamu begitu indah dan sangat unik.Apakah aku salah untuk menggaguminya?"


"Salah!"


Vivian tertegun.


"Apa yang salah?"Protes Vivian tidak mengerti.


"Kamu salah karena menatap mataku."


Mendengar ucapan Hanz yang tidak masuk akal,Vivian tidak terima.


"Ada masalah apa dengan matamu?Bukankah matamu itu sangat cantik."Ucap Vivian.Dan dengan refleks ia mencoba menyentuh ganggang kacamata milik Hanz untuk dilepasnya.


Akan tetapi usaha tersebut dengan segera dicegah Hanz.Hanz mencengkram kembali tangan usil tersebut dengan kuat.Tangannya terasa sakit.


Bbukkk..


Dalam seperkian detik.


Sebuah tinju mendarat didinding tepat disamping wajah Vivian.


Vivian terkejut bukan main.Sebuah tangan lain menghancurkan pertahanannya.Kedua tangan tersebut kini menghakimi dirinya yang tidak berdaya.Kini posisinya dalam keadaan terpojok.Tanpa sadar Vivian semakin ketakutan.Nafasnya tersekat dan tentu saja jantungnya berdebar begitu cepat.


Hanz yang marah pun melepas kacamata hitamnya.Mengabaikan ekspresi wanita yang ada dihadapannya itu.


Dan dengan tegas ia memperlihatkan bagian matanya itu.Membuktikan seperti apa reaksi wanita tersebut terhadap ucapannya dan dirinya.


 Tentu saja Vivian semakin terperangah dibuatnya.Entah kenapa tiba-tiba saja ia reflek mendorong Hanz.Membuat Hanz terdorong dan melangkah mundur.


Vivian menjadi panik terhadap apa yang baru saja dia lihat,kemudian berlari meninggalkan Hanz sendirian.


 


Hanz yang merasa ditolakpun menyeringai,


"Akhirnya kau lari juga.Reaksi mu seperti itu pasti akan mengatakan kalau aku seperti Monster.. "ucap Hanz.


Dan suasana pun menjadi sunyi.


 ******


"Bos,kenapa masih disini?"


Tiba-tiba Danian muncul saat mendapati tuannya berdiri sendirian dibalkon perusahaan StyLe.


Hanz hanya terdiam menatap lurus kedepan sambil menghirup udara yang ada disekitarnya.Angin sepoi-sepoi mulai menyentuh wajahnya yang putih itu.


 


Danian memperhatikan tuannya yang sedikit kacau,dengan tangan yang terluka.


"Apa yang terjadi,bos..??"celutuknya prihatin,ketika ia mendapati tuannya itu dalam kondisi tidak baik.


"Tidak ada,hanya saja aku sudah memberi peringatan terhadap ikan kecil itu.."gerutu Hanz.


Danian hanya menghela napas mendengar tuannya berbicara demikian.


Ia mengerti apa yang dimaksudkan oleh bosnya itu.


"Siapa lagi korban ketakutan yang diberikan tuanku??"Pikir Danian sembari menggeleng-geleng kepala,sembari tersenyum memikirkan kecerobohan tuannya itu.


 Hanz hanya tersenyum ketika amarahnya mereda,ia tau betul bahwa Danian,asistennya ini,memikirkan cara dalam mencari alasan menutupi kekurangannya.


 


"Aku serahkan padamu,ikan kecil ku itu kelak jika kami dipertemukan kembali!"perintah Hanz.


"Hah,baiklah.."keluh Danian.


"Semoga saja kali ini tidak terlalu merepotkan?!"godanya.


Dan mereka pun meninggalkan balkon sembari tertawa kecil.


********


Vivian berlari sekencang-kencangnya,meninggalkan Hanz sendirian.Napasnya yang terputus-putus itu,menghentikan pergerakkannya.


"Apa itu tadi?!"pikir Vivian.


Ketika dirinya berhasil lolos dari cengkraman Hanz.


"Matanya tadi bukankah berwarna ungu?Tapi,kenapa tiba-tiba berubah menjadi merah darah??"


"Apakah aku salah menduga??Tidak!!Jelas-jelas tadi aku melihat dengan benar.Hhah..."


Perasaan Vivian menjadi tidak menentu dan pemikiran yang tidak masuk- akalpun bermunculan.


 


"Apakah dia manusia vampir??Atau manusia jadi-jadian lainnya??"Gumamnya.


"Celakalah aku.Jika itu semua benar.Apa aku akan menjadi korbannya ??Karena aku telah mengetahui jati dirinya.Bisa-bisa aku dimakannya..",pikir Vivian cemas.


"Ah itu tidak mungkin...tapi apa mungkin dia benar-benar seorang vampir???"Gumamnya lagi berusaha untuk mempercayai dan tidak.


"Siapa yang Vampir,Vi?"kejut karina.


"Astaganaga..."Jerit Vivian,membuat Karina ikut terkejut juga.


"Ada apa???"


Vivian hanya mengeleng-gelengkan kepalanya,


"Aahh,tidak ada apa-apa,Ri.. "Jawabnya meyakinkan sahabatnya itu.


"Aku hanya terkejut saja."


Karina yang ikut terkejut,hanya tersenyum geli.


"Hahaha...ada-ada saja kamu ini,Vi?"


"Salah sendiri mondar-mandir,komat-kamit sendirian ngga jelas begitu disini..Jadi,penasaran saja maka nya aku bertanya?!",goda Karina.


"Yeee.."ejek Vivian,


"Kamu sendiri,datang-datang seperti hantu.Tiba-tiba mendadak muncul"balas Vivian.


Dan merekapun tertawa.


"Ngomong-ngomong,CEO Pak Hanz itu ganteng juga ya,Vi..???"Karina mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Aku sampai deg-degan..."Gemes Karina.


Tingkah genit Karina membuat bulu kuduk Vivian merinding.


Namun ia tidak menyangkalnya juga.


Apa yang dikatakan Karina memang benar.


"Iya,ganteng tapi ....??"Sahut Vivian,tidak berani membayangkan.


"Menjengkelkan,sudah gitu killer lagi."


Karina mengerutkan dahinya,mendengar ocehan Vivian.


Dengan wajah polosnya Karina pun menggoda kembali.


"Waah gawat donk.Nanti dimakannya hidup-hidup donk kita"Candanya.


"Yeee maunya,kalau aku no way!!"