Monster Eyes Are My Beautiful Eyes

Monster Eyes Are My Beautiful Eyes
24.Heart



"Hai,KAKAK IPAR........!!" Seru seseorang.Suaranya terdengar menggema keseluruh penjuru ruangan.


Vivian mengenali suara itu.Suara khas seseorang yang ia kenal disuatu tempat.Dengan refleks ia memandangi sang sumber suara.


"Roy." Gumam Vivian.


"Nona Vivian Angelica." Panggilnya lagi.Pria tersebut memperlihatkan senyum manisnya yang memukau,menjejerkan sederet giginya yang putih.Dengan pesonanya itu,Roy seakan menghipnotis.


Vivian tertegun.Antara percaya dan tidak namanya kini semakin terkenal dengan seketikanya.Dan semuanya itu karena ulah bocah yang selalu mengusilinya.Walaupun kepalanya sedikit pusing karena minuman yang ia minum,namun ia tau itu adalah Roy yang ia kenal.


"Calon tunangan CEO Hanz Alexandro yang di RA-HA-SIA-KAN.." Tudingnya penuh kemenangan.Dengan lambaian singkat Roy pun menghampiri Vivian.Wanita tersebut terkejut akan ulahnya sendiri.Roy tersenyum puas,senyuman licik yang penuh intrik.


Sontak saja para tamu yang hadir pun dibuatnya semakin heboh,kehebohan yang semakin memanas.


"Sibiang kerok,brengsek." Umpat Vivian dalam hati.Vivian tidak dapat mengelak lagi,hanya senyuman manis yang dapat ia persembahkan ketika menyambut pria tersebut.


"Kamu hadir juga??" Tanya Vivian basa-basi dan sedikit mengacuhkan tatapan Clarissa dan Sam yang berada tidak jauh darinya,yang memandanginya dengan penuh tanda tanya.


"Tentu saja,karena aku juga tamu penting disini."Balas Roy penuh percaya diri.


"Bagaimana?Apakah kamu sekarang senang?"


Bukk...


Vivian mendaratkan tinju kecilnya kedada kanan Roy.


"Augh.." Keluh Roy,meringis kesakitan walaupun sakitnya tidaklah menyakitkan untuknya.


"Apakah kamu GILA?!Kamu membunuh diriku sekarang." Keluh Vivian sembari menyandarkan wajahnya kedada Roy,karena malu.


"Tenang saja.Bukankah aku sedang menyelamatkan mu." Bisiknya.


"Kamu menjerumusku.Bagaimana aku menghadapi ini semua?Terutama pada kakakmu?Apakah dia juga ada disini?"


Roy terkekeh pelan,dipegangnya pundak Vivian dengan lembut dan membisikkan sesuatu yang membuatnya semakin tersipu malu.


"Bukankah kamu mengenaliku.Dan sudah aku katakan jika aku akan selalu membantumu dan mendukungmu.Apalagi jika ini semua berhubungan langsung dengan kakakku."


Vivian tidak dapat berkata-kata.Wajahnya semakin menyemu merah.Dalam diam ia tidak berani untuk memandangi wajah Roy maupun para tamu undangan.Vivian masih terbenam,menyembunyikan dirinya dari pandangan orang-orang disekelilingnya.


"Lady..kamu cantik sekali malam ini,hampir saja aku tidak mengenalimu." Bisik Roy lagi."Apa lady berencana mengalahkan famor ku??Ah,tidak heran tentu saja kamu adalah dewinya kakak Hanz." Godanya.Roy yang tau akan kesulitan Vivian dengan segera menghibur wanita tersebut.


"Kamu tidak perlu khawatir.Tidak akan ada yang mampu mengalahkan mu ataupun menyakitimu." Suara Roy terdengar menenangkan.Pria tersebut dengan segera membujuk Vivian agar tidak semakin bersembunyi didalam tubuhnya.


Vivian yang menyadari maksud Roy pun dengan segera melepaskan benteng pertahanannya.Walaupun ragu,ia pun memberanikan diri untuk menatap dunia yang akan segera menyerbunya.


"Tunjukkan wajahmu!" Bisik Roy.


Tanpa bersuara,Vivian mematuhi bisikkan Roy.Tanpa keraguan kini ia dapat menunjukkan dirinya.


"Bagaimana,CEO Hanz!!Apakah dewimu terlihat bersinar malam ini?!" Seru Roy seketika.


Hanz dari kejauhan mendengar ocehan Roy yang sengaja itupun tersedak,minuman yang ditangannya jadi tidak menggairahkan.


Danian yang setia berada didekatnya hanya menepuk pundak sahabatnya itu,menyunggingkan senyumannya.


"Aku rasa anda harus bertindak tuan."Ucap Roy memberi kode untuk Hanz.


"Aku rasa begitu.."Ucap Hanz dingin,sesuatu terlintas dibenaknya,memandang Vivian penuh arti.


Para wartawan yang terkejut mendengar berita tersebut mulai berbondong-bondong mengerumbuni Vivian dan Roy menanyakan perihal kebenaran hubungan tersebut.


"Apakah yang dikatakan Tuan Roy itu benar nona?"


"Apakah hubungan anda dengan Ceo Hanz benar adanya?"


"Sejak kapan nona Vivian menjalin hubungan dengan CEO Hanz dari perusahaan Lux"


"Kapan pertunangannya digelar??"


"Siapa yang dulu menyatakan cinta??"


"Kapan pernikahannya diadakan???"


"Bagaimana awal pertemuan anda dengan CEO Hanz??"


"Apakah kalian tinggal bersama???"


Sederet pertanyaan membuat kepala Vivian menjadi tambah sakit,namun dengan sekuat tenaga ia menyikapinya dengan tenang dan anggun.


Roy yang melihat ekspresi Vivian yang gusar dan bingung dengan banyaknya pertanyaan pun tertawa geli.


"Semua itu benar." Jawab Roy angkat bicara.Ia khawatir jika Vivian segera menyangkalnya.


Seketika Vivian merona mendengar perkataan dari Roy.Membayangkan perkataan tersebut tentulah membuat perasaannya sangat bahagia.


Apalagi jika ia dihubungkan dengan Hanz Alexandro.Bagaimana hatinya tidak luluh dengan pria tampan itu,Hanz sangat mempesona baginya.


"Jika ingin mengetahuinya lebih lanjut,nanti mereka akan konfirmasi secara langsung.Benar begitukan nona Vivian."


"Agh,ia." Jawab Vivian seketika.


Roy tersenyum bahagia karena akhirnya Vivian tidak menyangkal dan mengakuinya juga.


Vivian yang menyadari akan ucapannya pun dengan malu mengutuk dirinya sendiri, "Bodohnya aku.Kenapa aku mengikuti permainan bocah tengik ini."


"Bagaimana cara ku menghadapi pria tersebut?" Batinnya lagi.


Vivian semakin pusing dibuatnya.Minuman beralkohol tinggi yang masih mempengaruhinya masih belum menghilang,namun sudah memberikan efek berat padanya dan semakin menambah.Vivian tidak dapat berpikir dengan jelas.


"Agh,aku tidak peduli.Karena aku benar-benar menyukainya." Suara hatinya berbicara.Ditambah hatinya semakin berbunga-bunga karena ternyata pria yang dibicarakan tersebut juga berada didalam pesta.


Karena tanpa disadari Vivian berhasil mendapati sosok tersebut diantara kerumunan.Pandangan mereka berdua saling beradu,ada ikatan yang begitu erat sedang terjalin.


Roy menyunggingkan senyumnya,ketika tanpa ia sadari melihat ekspresi Vivian yang merona.Kelegaan dihatinya semakin lapang,karena ia berhasil membalikkan suasana,walaupun ada rasa yang mungkin tersakiti.


Perasaan bahagia Roy terbayar bila dapat bertemu Vivian,karena hanya dengan wanita ini lah dia dapat dengan nyaman mengoda dan menjahilinya.Vivian seperti sahabat,maupun kakak yang menyenangkan baginya.Dan sejenak perasaan sesaknya terobati.


Hanya saja,Roy tidak suka jika ada seseorang yang menyakiti orang-orang yang ia cintai dan sayangi.Dan itu berlaku pada Vivian,melihat sesuatu yang tidak baik terjadi.Maka ia dengan segera berkorban dan membantu.


Malam semakin larut dan suasana semakin memanas.Roy dengan segera menggenggam tangan Vivian menjauhi kerumunan.Sebab permainan yang ia lakukan telah berakhir.


Dengan langkah gontai Vivian mengikuti Roy.Jantungnya berdebar tidak karuan bukan karena ia jatuh cinta pada Roy,akan tetapi suasana yang begitu tidak terkendali.


Para wartawan mengambil gambar dirinya dan Roy.Ada rasa kekhawatiran dihatinya,


"Ya,Tuhan,semoga tidak ada berita buruk karena aku." Batinnya.


Vero,ia amat terpukul dengan berita itu.Seperti sebuah benda tajam telah menusuk jantungnya,seakan dunia berhenti berputar.


"Bagaimana bisa,wanita itu menjadi tunangan Hanz???" Batin Vero tidak percaya.


Ditatapinya Hanz yang masih terdiam menyaksikan apa yang sedang terjadi.Tidak ada penerimaan ataupun penyangkalan,pria tersebut masih berdiri ditempatnya dengan dingin.


"Masih ada kesempatan dan satu-satunya cara adalah bertanya kepadanya?" Pikir vero memotifasi dirinya sendiri.


Vero yang menolak situasi yang terjadi,secara perlahan mulai mendekati Hanz.Ia ingin memastikan berita itu secara langsung pada pria yang ia cintai.


Hanz masih terdiam.Arah pandangannya masih saja terpusat kepada Vivian.Walaupun ia mendengarkan pertanyaan Vero,namun pikirannya masih tertuju pada wanita tersebut.Ia terdiam namun memiliki kekhawatiran lebih pada Vivian,"Apakah dia baik-baik saja?"


Vero melanjutkan kembali pertanyaanya," Hanz apakah kamu dan wanita tersebut-."


"Maaf,Vero.Aku harus menemui wanita itu." Potong Hanz tanpa memperdulikan pertanyaan dari Vero.Perasaannya semakin tidak tertahankan ketika melihat Vivian dan Roy mengalami kesulitan menghadapi para awak media.


Hanz dengan segera melangkahkan kakinya meninggalkan Vero begitu saja.Dengan sigap ia mulai menerobos para tamu undangan dan awak media.Rasa khawatirnya mengalahkan rasa takutnya yang berlebihan jika berhadapan langsung dengan orang banyak.


Tanpa memperdulikan pandangan dan perkataan orang-orang yang mulai mengintrogasinya.Hanz berhasil sampai dihadapan Vivian.Wanita tersebut terlihat kacau,Hanz frutasi.


Hanz menarik Vivian kedalam pelukkannya.Membuat wanita tersebut terkejut,begitu pula Roy.Aksinya tersebut semakin menjadi sorotan tajam media.


Dengan segera ia membawa Vivian menjauhi kerumunan,menggengam dan menariknya dengan segera.


Roy yang melihat aksi kakaknya tersebut tersenyum puas dan bangga.Tanpa berpikir panjang iapun membantu kakaknya itu lolos dengan cara menghalau semua orang yang ingin tahu.Dan Danian pun tak luput ikut membantu Roy juga.


Vero yang menyaksikan aksi Hanz merasa kecewa.Ada genangan air mata yang mengalir disudut matanya.Bulir air mata tersebut mengisyaratkan kesedihannya yang teramat dalam.Hanz mengabaikan dan menolak genggamannya kali ini.Hatinya dimalam ini terasa sangat menyakitkan.Vero terdiam dalam kepedihannya.


Tidak ayalnya Vero, para wanita muda yang juga menjadi tamu undangan pada pesta itu histeris karena penuturan Roy,patah hati.Pria idaman telah dimiliki oleh seseorang.Dan seseorang tersebut adalah cinderella yang tidak terduga.


Disisi lain,Sam menatap punggung Vivian dengan lekat.Ia tidak percaya ada pria lain yang telah memiliki hatinya.Sam tidak percaya dan tidak mempercayai itu semua.Wajahnya memerah menahan emosi.Entah kenapa dia tidak rela jika Vivian bersama pria lain,


"Hanz Alexandro sang MONSTER!!!" Umpatnya dalam hati.


Sam mengenal sosok pria yang sudah merampas wanitanya itu.Dan ia meyakinkan dirinya untuk tidak menyerah.


"Lihat saja,Vivian akan kembali padaku.Dan tidak ada seorang pun yang merampas milik ku.Walaupun orang itu adalah dia." Sumpah Sam dalam hati.


Dengan gusarnya Sam mengabaikan Clarissa yang ada disampingnya,melepaskan rangkulan wanita yang tidak ia cintai itu,pergi meninggalkannya.


Clarissa yang tidak diperlakukan dengan baik,merasa kesal karena ia belum bisa mendapatkan hati dan kasih sayang Sam.Niatnya untuk memiliki Sam seutuhnya masih terhalang oleh orang lain.Clarissa putus asa dengan segera menyusul Sam.



Diluar lobi hotel,Hanz yang masih menggenggam tangan Vivian dan menariknya keluar dari kerumbunan merasa lega dan senang.Akhirnya mereka dapat terbebas juga.Walaupun kesenangan itu adalah rekayasa adiknya.


Malam ini kehidupannya berubah seketika dan menjadi menggila.Ia tidak mengerti kenapa dirinya justru terlibat kedalam hal yang tidak terduga tersebut.Adiknya yang menggila justru membuatnya terseret juga.


Hanz yang dingin dan arogan,kini sedang berlari bersama wanita yang tidak lama ia kenal.Wanita yang tidak jelas hubungan terhadap dirinya.Namun dengan sekuat tenaga,tangan tersebut tidak ia biarkan lepas begitu saja.Hanz membiarkan wanita tersebut tetap berada digenggamannya.Membiarkan ia kini masuk kedalam dunianya,dunia Hanz Alexandro.


Wajah Vivian merona merah,tangan yang lembut sekarang menyatu ditangannya.Pundak yang bidang itu,menebarkan aroma yang begitu memikat,Vivian tidak dapat berkutik dengan pria yang ada dihadapannya.Kemana pun pria tersebut membawanya,Vivian membiarkannya.Baginya,bersama-sama seperti ini adalah sebuah mimpi terindah.Mimpi yang tidak ingin ia lepaskan begitu saja.


Langkah mereka saling mengikuti,meninggalkan tempat kejadian.Malam yang berbintang menyaksikan hati dan perasaan diantaranya.


Hanz membukakan pintu mobilnya dan meminta Vivian untuk masuk kedalam.Tanpa dipaksa Vivian menuruti perintah pria tampan itu.


"Terima kasih,karena sudah menolongku." Ucap Vivian sembari menatap pria yang ada disampingnya.Senyuman manis sebisa mungkin ia tunjukkan pada Hanz.Walaupun pria tersebut hanya terdiam.


Hanz hanya membalas dengan tatapan seperti biasanya,dingin.


Ekspresi Vivian berubah,ia yang masih dalam pengaruh alkohol,tersenyum menggila.Pikiran dan pandangannya kembali kacau, saat mendapati wajah Hanz menjadi begitu lebih banyak.Tanpa rasa malu,ia mulai menyentuh wajah Hanz yang sedang mengemudi.


"Ada apa???" Tanya Hanz saat Vivian mengejutkannya dengan sebuah sentuhan dipipinya.


"Kenapa kamu terlihat banyak??Apakah kamu ingin membuatku mati tak berdaya??" Protes Vivian,ia tersipu malu.


"Satu wajah tampanmu saja sudah membuatku tak berdaya.Apalagi jika dirimu sebanyak ini." Gumamnya sembari memegang kepalanya yang mendadak berputar-putar.


Hanz yang mendengar rancuan perkataan Vivian hanya mengeleng-gelengkan kepala.


"Berapa gelas minuman yang kamu minum tadi??"


"Hmm" Geleng-geleng Vivian merespon.


Melihat tingkah Vivian yang demikian,Hanz menepikan mobilnya mengamati Vivian yang mulai tidak beres.


"Entahlah,aku rasa satu gelas saja.Minumannya membuat kepala ku pusing." Jawab Vivian.


Ia tidak mengingat kembali berapa gelas minuman yang ia minum.Suasana dipesta saat para wartawan mengintrogasinya,membuatnya panik lalu tanpa sadar meminum minuman yang ada dihadapannya.


"Jika tidak bisa meminumnya,kenapa diminum juga." Kesal Hanz.


"Ya ampun,kenapa kamu cerewet sekali,pacar juga bukan?" Oceh Vivian protes.


"Apa kamu lupa,kita memang bukan pacar." Tegas Hanz tersulut emosinya."Tapi dimata orang lain aku adalah tunangan mu,karena kecerobohan mu dan Roy yang selalu mengusik hidupku." Tegasnya.


Vivian yang mendapati kemarahan Hanz dan terpengaruh alkohol,semakin kesal.


"Jika kamu tidak terima,kenapa tidak kamu jelaskan saja tadi." Balas Vivian setengah tidak sadar.Dan seketika mulai membalikkan keadaan.Membuat Hanz terdiam.


"Apakah aku seburuk itu dimatamu?" sedihnya.Vivian menutup wajahnya dan mulai menangis.Tangisannya yang keras membuat Hanz menjadi tidak tega.


"Sudahlah." Hanz pasrah,suaranya terdengar melembut.Ia tidak ingin memperparah suasana,sebab ia tau wanita yang dihadapannya ini sedang mabuk.


"Kamu tidak seburuk itu."


Vivian yang menangis,terhentilah isakkannya dengan segera ia memandangi Hanz.


"Lalu kenapa?Kenapa kamu membiarkannya?Membiarkan adikmu melakukannya,dan kamu sendiri tidak menolaknya?" Kesal Vivian,"Apa alasannya?"


Vivian menatap pria tersebut dengan seksama,menanti jawaban yang ingin ia dengar.Disandarnya kepalanya didepan kemudi,berharap Hanz segera menjawabnya.


Hanz terdiam sejenak.Air salivanya terasa tercekat.Wajah wanita yang dihadapannya terlihat mengoda.Sisa-sisa air mata masih terlihat merembes.Hanz tanpa sengaja mulai menyentuh dan menyekanya.Waktu seakan terhenti.Hanz seakan terjerumus,debaran jantungnya seakan tidak terkendali.Hampir saja ia terbawa suasana akan tetapi Vivian dengan segera,berteriak kembali,"Kenapa?"


Hanz menghela nafas.Kesadarannya kembali normal,hampir saja ia terkena serangan jantung."Hah,wanita ini!?"


"Apakah semudah itu!!Tapi tidak masalah karena bagiku,kamu adalah perisai bagiku untuk menjauhkan dari para wanita yang selalu mengejar-ngejar aku." Hanz beralasan.Baginya,alasan apapun itu,untuk orang mabuk seperti Vivian itu tidaklah berarti.


"Eeeehh...Jahat sekali." Vivian kesal dengan bibir dimayunkan karena tidak percaya Hanz sekejam itu pada dirinya.


"Baiklah.Aku akan benar-benar berperan menjadi tunanganmu," Akunya. "Walapun itu bohongan.Tapi dengan satu syarat,kamu harus memperlakukan ku layaknya tunangan mu sungguhan.Dan satu hal lagi,jangan melarangku jika aku jatuh cinta padamu." Pintanya secara beruntun,walaupun samar-samar dan terkadang terdengar tidak jelas.


"Aku bersungguh-sungguh." Ucapnya lagi.


"Karena aku benar-benar menyukaimu." Akunya.


Hanz terdiam.


Dengan kekanak-kanakan Vivian membalikkan badannya menghadap jendela.Memalingkan wajah,berharap pengakuannya tidak ditolak begitu saja.Ia tidak ingin Hanz menjawab langsung ucapannya.Lalu seketika itu juga Vivian terdiam.Suara rancauannya tidak terdengar kembali.


Hanz mulai menjalankan mobilnya saat suasana kembali tenang.Dalam keheningannya tadi,Ia tidak dapat berkomentar.Wajahnya mulai menyemu.Mendengar ucapan Vivian yang tidak terduga itu.


"Wanita ini kalau mabuk,benar-benar lucu." Gumamnya.


"Apakah besok ia dapat mengingat kembali perkataannya barusan?"


Ditatapnya wanita tersebut sebentar,ada guratan yang tak dapat ia mengerti.


"Wanita ini dengan terang-terangan menyatakan cintanya." Hanz membatin.


Dan seketika detak jantungnya berpacu tidak karuan.


Dag dig dug...


"Apalagi ini??" Ucap Hanz penasaran dengan detak jantungnya yang menjadi tidak menentu.Dalam sekejap ia benar-benar merasa kacau.Hanya dalam semalam perasaannya terus berubah-rubah dan itu hanya ada pada satu wanita yang telah tertidur lelap disampingnya.