Monster Eyes Are My Beautiful Eyes

Monster Eyes Are My Beautiful Eyes
37.Rahasia



Semenjak dari pemakaman Hanz nampak begitu lelah itu terlihat saat ia begitu terlelap ditempat kediaman sang nenek.


Perjalanannya kali ini memang sudah direncanakan oleh Hanz,yaitu mengunjungi pemakaman kedua orangtuanya untuk meminta restu serta berkunjung kerumah nenek.



Hanz menyandarkan dirinya disalah satu sofa yang terletak dilantai atas kamarnya.Matanya yang dalam keadaan terpejam itu,nampak begitu tenang.


Namun Hanz tidak sepenuhnya terlelap hanya saja ia mengistirahatkan tubuhnya sejenak.


Suara langkah kaki tiba-tiba terhenti tepat dihadapannya.Sekilas bayangan seseorang sedang berjongkok menghadap kearah Hanz.Sebuah sentuhan lembut menyentuh pipinya.


Karena ada yang mengusik keberadaannya sontak saja Hanz membuka matanya.


"Agh,maafkan aku karena membangunkan mu..",ucap Vivian menyesal karena membangunkan Hanz.


Bukan tanpa alasan Vivian masuk kekamar Hanz karena sang nenek Amira meminta dirinya untuk menemui Hanz agar dapat berkumpul diruang utama.


"Ada apa???",tanya Hanz dengan tatapan yang teduh.


"Nenek meminta kita berkumpul diruang utama",jawab Vivian sembari bangkit berdiri.


Tappp...


Agchh...suara lengkingan Vivian karena terkejut.


Sebuah tangan kekar Hanz menarik tangan Vivian,hingga tubuh wanita itu tersungkur kedalam dekapan Hanz.


"Apa yang kamu lakukan??",tanya Vivian kesal.


Tubuh Hanz dan dirinya kini saling berhadapan dalam satu dekapan.


"Tetaplah seperti ini sejenak,aku lelah..nanti saja kita menemui nenek",balas Hanz lembut.


"Nanti nenek akan memarahi kita jika tidak segera menemuinya",ucap Vivian beralasan.


Namun,Hanz mengabaikan ucapannya dengan mata terpejam ia merangkul Vivian dengan kehangatan.


"Nenek tidak akan marah,apalagi ia tahu saat ini kamu sedang bersama ku,istriku".


Spontan saja Vivian mencubit pinggang Hanz karena kesal dan juga malu.Entah kenapa Vivian mulai terbiasa dengan sikap dan perilaku dari Hanz,walaupun hatinya masih ragu dengan ketulusan Hanz.


Hanz hanya meringis namun tidak mau melepaskan rangkulannya,Hanz sudah begitu merasa nyaman jika sudah berada didekat Vivian.Rasa nyaman dan kehangatan yang pernah diberikan oleh kedua orangtuanya dulu.


"Aku mohon tetaplah seperti ini",pintanya bersungguh-sungguh.


Vivian tidak mampu memberontak karena Hanz memeluknya dengan erat.Pipi yang merona dan jantung yang berdebar membuatnya semakin tidak karuan.Vivian benar-benar terperangkap didalamnya.


"Bisakah dirimu sedikit tenang??",bisik Hanz didaun telinga Vivian.Karena tingkah Vivian tidak bisa diam yang membuatnya sedikit risih.Membuat Hanz hampir tidak bisa mengontrol hasratnya yang lain.


"Mmm,maafkan aku".


Hanz melepaskan rangkulannya dan memindahkan tubuh Vivian untuk duduk disampingnya,agar wanita yang ia rangkul tadi merasa nyaman.Serta dia tidak ingin terjadi sesuatu yang lebih diluar kendalinya dan tidak bisa mengontrolnya jika mereka berdua terus seperti itu.



Hanz membenamkan kepalanya kepundak Vivian.


"Apakah sebegitu lelahnya dirimu???",tanya Vivian,entah keberanian apa tiba-tiba pertanyaannya begitu terlontar keluar dari bibir manisnya itu.


"Hhmm,sangat lelah..".


Vivian menyadari jika pekerjaannya Hanz begitu padat beberapa hari ini saat dirinya telah tinggal bersama.Kepadatan pekerjaan dan kesibukan yang lain sungguh menyita energinya,biarpun sebagian pekerjaan yang Hanz miliki ia limpahkan kepada Danian.


Dengan bangga Vivian menggagumi laki-laki yang ada disampingnya itu.Karena Hanz adalah pria istimewa yang luar biasa.


"Baiklah,aku akan menemani mu untuk beristirahat sebentar",ucapnya dengan patuh.


Tidak ada suara namun Vivian tahu jika Hanz sedang terlelap.


"Hanz aku benar-benar menyukaimu dan menggagumi mu",batin Vivian.


"Walaupun hubungan kita seperti ini,namun aku sudah bersyukur disetiap waktu ada bersama mu",bisiknya menatap lekat kearah Hanz.


Dengan perlahan ia memandang wajah Hanz yang begitu damai dan nyaman berada dipundaknya.


***********


*Ruang Utama*



"Nenek sibuk apa???",tanya Roy penasaran,menghampiri dan duduk disamping nenek tercintanya.


"Sedang melihat berita hangat",balas sang nenek.Dengan senyuman ramah ia menyambut cucu kesayangannya itu dengan sayang.


Vero yang mengikuti Roy pun dengan sungkan menyapa nenek Amira.


" Selamat siang nek.Nenek tampak terlihat begitu sehat dan cantik",puji Vero.


"Mulut manis mu itu tidak berubah,vero",balas nenek Amira.


"Haha...nenek ada-ada saja",ucap Vero malu.


Vero memang baru pertama kali diundang kerumah neneknya Hanz dan juga Roy,namun sudah beberapa kali bertemu dengan nenek Amira dipertemuan besar.Jadi,Vero sudah mengganggap nenek Amira adalah neneknya juga.


Kegaduhan diruang utama menjadi pemandangan yang jarang terjadi,Hanz dan Vivian secara bersamaan menapakkan kakinya menuruni anak tangga.


"Seru sekali...",sapa Hanz menghampiri nenek Amira,Roy dan Vero.


"Haiya....lama sekali cucu nenek yang satu ini baru muncul...",protes sang nenek cemberut.


"Maaf nek,tadi Hanz ketiduran...".


"Hmm,mencurigakan...",selidik Roy.


"Hahaha...Roy,jangan mulai nakalnya..",ucap nenek Amira menegur.


Tentu saja Vivian menjadi malu.Namun,dengan segera Hanz membantah.


"Apa yang perlu dicurigai,bukankah kami pasangan...",ledek Hanz dan tentu saja membuat Roy tertohok karena dirinya yang masih menjomblo.


"Ya..kakak Hanz benar,beginilah nasib ku yang supermodel namun tidak


memiliki pasangan",ucap Roy bersedih.


"Nek,bagaimana nasib cucumu ini??",tanya Roy frustasi.


Tentu saja sang nenek terkekeh mendengar penuturan cucunya tersebut.


"Vero,tolong bantulah nenek mu ini untuk mencarikan pasangan untuk Roy.Bukankah kamu memiliki teman-teman wanita yang cantik.Nenek menjadi sakit kepala jika melihat Roy yang kesepian ini",ledek sang nenek.


"Haha,ia nenek...nanti aku akan perkenalkan Roy kepada teman-temanku",balas Vero.


Mendengar penuturan Vero pun Roy hanya mencibir karena dalam lubuk hatinya ia masih berharap dengan gadisnya itu.


"Hanz,kapan kamu mengadakan acara pertunangan kalian??Karena didalam berita dan gosip-gosip media sudah menanyakan tentang kebenaran hubungan kalian berdua,nenek menjadi khawatir jika kalian tidak mengkomfirmasi tentang hubungan kalian ke publik".


"Apa yang nenek khawatirkan,semuanya sudah ku persiapkan dengan matang",tegas Hanz penuh keyakinan.


Mendengar penuturan Hanz yang begitu serius membuat semua yang berada di ruangan menjadi bingung dan tidak terkecuali Vivian.


"Aku berharap nenek akan menghadiri nya nanti...sebagai pengganti ayah dan juga ibu".


Sang nenek pun mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Hanz.


"Tentu nenek akan menghadirinya,apalagi jika berhubungan langsung dengan kepentingan cucu nenek".


Hanz sangat senang mendengarnya.


"Tapi,apa tidak masalah bagi mu,cucuku??".


"Aku sudah siap nenek,apapun yang terjadi aku akan selalu siap,karena aku tidak mau terpuruk lagi".


"Baiklah,jika itu keputusan mu,nenek akan menghadirinya".


Hanz dan nenek pun tersenyum bahagia namun tidak bagi ketiga insan manusia lainnya.Walaupun menjadi pendengar setia Roy,Vero maupun Vivian tidak memahami apa yang dibicarakan oleh nenek dan Hanz.


"Bisakah kalian menjelaskan lagi yang sebenarnya,karena aku tidak secerdas nenek dan Hanz",tanya Roy penasaran.


Namun,apa yang terjadi,ternyata Hanz dan nenek tidak ingin menjelaskan.


"Ini rahasia...",balas nenek Amira.


Dan spontan saja Roy terkena kutukan "Mati karena Penasaran".