
Setelah meninggalkan rumah besar keluarga Smith,Vivian dengan perasaan beratnya pun hanya menghela napas.
Roy yang selalu memperhatikan Vivian,mengerutkan keningnya.
"Ada apa???" Tanyanya prihatin.Roy mencemaskan wanita yang duduk dibelakangnya.Helaan nafas Vivian membuat bulu kuduknya merinding tidak tertahankan.
"Rasanya berat untuk meninggalkan kota ini." Jawab Vivian.Nada suaranya terdengar serius dan tatapan matanya tidak lepas memandangi pemandangan disekitarnya.
"Aku berharap dapat kembali dan tinggal disini." Pintanya.
Mobil yang melaju dengan tenangnya,memberikan kesempatan gadis itu untuk bercengkraman dengan pemandangan yang ada.Terpaan angin membelai lembut wajah ayu miliknya.Vivian menyandarkan wajahnya berharap kaca yang menopangnya tidak menolaknya.Dan kedua telapak tangannya dijadikan alas yang sempurna.
Vivian sangat terpukau akan keelokan pemandangan yang ia lihat.Baginya kesempatan kali ini tidak ia sia-siakan.Sebab saat perjalanan mereka kekota itu ia hanya banyak menghabiskan waktunya untuk tertidur.Namun saat ingin kembali pulang matanya kini enggan untuk ia pejamkan.
Hanz yang duduk dan mendengar keluhan serta keinginan wanita tersebut hanya tersenyum tipis dan tetap diam,tanpa berkata-kata.Dia tidak ingin merusak momen indah wanita yang ada disampingnya itu.Baginya melihat senyum manis Vivian membuat hatinya merasakan sebuah kehangatan.Walaupun tidak ia tunjukkan dengan jelas.
Lain halnya dengan Roy,ia yang mendengar perkataan Vivian pun melepaskan tawa kecilnya,lalu berucap "Jika kau benar-benar menyukai tempat ini,tentu saja itu dapat terwujud."
"Dan tentunya dapat terwujud jika ada seseorang pria dari kota ini yang melamar lady Vivian...??Dan menurutku, kandidat yang tepat itu adalah kakak Hanz sendiri.Apakah lady Vivian bersedia jika menikah dengan kakakku." Roy menghentikan sejenak ucapannya.
Wajah pria yang dipandanginya hanya terlihat dingin tanpa ekspresi apapun.Hanz mengacuhkan ucapannya.Namun,Roy tidak mengganggap itu sebuah hal yang buruk.Setidaknya kakaknya itu pasti memiliki harapan yang sama dengannya.Walaupun ia tahu kakaknya tidak pandai menunjukkan perasaannya.
"Dan jika itu terjadi,sebagai hadiah dariku.Bagaimana kalau pesta pernikahan kalian nanti dikota ini saja." Celutuk Roy melanjutkan perkataannya yang sedikit terjeda.
"Yyaaaa !!" Protes Vivian.
"Apakah kamu mempersulit diriku?Siapa juga yang mau melamar dan menikahi ku dikota ini?Jangan mempersulitkan kakakmu,karena kau berani-beraninya menyeretku dan mengatakan itu semua." Kesal Vivian malu.
Perasaan Vivian semakin tidak menentu.Ia kesal karena Roy selalu menyudutkannya dengan keadaan yang sulit.Vivian mencoba menenangkan kekesalannya tanpa memperhatikan ekspresi Roy yang menggumbar sebuah senyuman yang mengoda.
"Jika tidak ada yang melamarmu dan mengajak mu menikah - .Jangan khawatir karena masih ada aku yang siap seratus persen bersedia akan mempersuntingmu." Roy dengan antusiasnya menyampaikan ide gilanya itu tanpa memperdulikan lawan bicaranya yang hampir ingin menerkamnya dari belakang .
Dia berharap candaannya itu merupakan sebuah kesempatan.Kesempatan dimana ia dapat melihat wanita tersebut bahagia.Sebab Roy tahu hati dan perasaan Vivian hanya tertuju pada kakaknya Hanz.Dan menyadari wanita tersebut sedang jatuh cinta,walaupun wanita tersebut menyangkal akan ucapannya sendiri.Akan tetapi Roy akan mendukung dan membantunya.
Hanz yang mendengar dan menyadari sentilan Roy,hanya terdiam dan memasang wajah dinginnya.Sembari kacamata hitam tersebut dengan setianya masih melekat menutupi mata indah miliknya.
Ada perasaan kesal yang menyelimuti hatinya karena ia tahu adiknya itu menyukai wanita yang ada disampingnya.Hanya saja ia tidak tahu bagaimana perasaan Vivian terhadap adiknya.Hanz memalingkan wajahnya menatap langit-langit yang membiru,mengabaikan pembicaraan Roy yang membuat hatinya sedikit sesak.
Sedangkan Danian yang duduk bersebelahan dengan Roy hanya tersenyum mendengar perkataan jahil Roy.Dan berusaha fokus dengan kemudinya.Walaupun pendengarannya dengan setia mendengar adu debat antara Roy dan Vivian.
CKkiiitttt...
Mendadak mobil berhenti dengan tiba-tibanya.
Begitu pula sebuah tangan lembut mendaratkan keinginannya.
Pleettakkk,seketika itu juga tangan Vivian memukul kepala Roy..
"Aawww,kenapa mendadak berhenti?!" Gerutu Roy kepada Danian yang sedang memegang kemudi stir mobil.
"Entahlah??" Jawab Danian singkat.
Lalu,Roy pun mengalihkan kekesalannya dan topik pembicaraannya ke Vivian.
"Kenapa juga lady Vivian memukul kepala ku?" Protes Roy tidak terima menoleh kearah Vivian.
"Itu hukuman untuk mulut comel mu." Jawab Vivian sinis.
"Kau pikir aku tidak laku,sampai-sampai menyetujui perkataanmu untuk kau nikahi." Tuntutnya kesal.
Roy tertawa.
Sedangkan Vivian memasang wajah jeleknya karena tidak terima.
Vivian tidak ingin Roy mempermainkan perasaannya dan terus menyulutkan hubungannya terhadap kakaknya itu tanpa awal yang jelas.Dan membutakan perasaannya untuk selalu berharap walaupun kenyataannya jauh dari harapan.
Berharap jika Hanz menyimpan perasaan sukanya dan benar-benar mencintainya tulus atau mengungkapkan perasaannya langsung.
Namun yang ia dapati,pria yang disampingnya hanya menggangap itu adalah sebuah sandiwara belaka dan tetap bersikap dingin serta menyebalkan.
Roy pun menghentikan tawanya dan mencoba membalas perkataan Vivian dengan memasang wajah imutnya.Berharap Vivian tidak kesal lagi dengan ulahnya.Walaupun wajahnya tidak seimut kenyataan namun masih mempesona karena aura supermodelnya itu.
Hanya saja Vivian mengacuhkan tampang konyol Roy.Membalas pria tersebut dalam diam.Agar pria tersebut tidak semakin merajalela membullying dirinya.
Melihat sikap cuek Vivian,Roy pun hanya menyerah pasrah karena kalah.
Hanz yang sedari tadi hanya terdiam,akhirnya mengeluarkan sepatah kata.Rasa khawatirnya pun tidak bisa ia abaikan begitu saja.
"Apa yang terjadi???" Tanya Hanz mengabaikan sikap kekanak-kanakan Roy dan Vivian,lalu fokus kepermasalahan yang sesungguhnya terjadi saat itu.
"Sepertinya ban mobil kita mengalami kendala." Keluh Danian lalu bergegas melepas sabuk pengamannya keluar dari mobil memeriksa keadaan.
Hanz yang mendengar perkataan Danianpun ikut menuruni mobil,mengikutinya.
Lalu disusul oleh Roy dan Vivian yang masih cuek-cuekkan .
"Ternyata ban mobil kita pecah." Ucap Danian lagi dengan helaan napas berat,memandangi ban mobil didepan,kosong melompong tanpa udara.
Dan bersyukurnya mereka berhenti ditepian yang aman.
"Perjalanan pulang kita sepertinya terhenti dulu," Lanjutnya sembari menyinsing lengan bajunya yang panjang,bergegas ke bagasi mobil untuk mengambil perlengkapan dan ban mobil cadangan.
"Sepertinya aku harus turun tangan memperbaikinya dan ini membutuhkan waktu yang cukup lama.kalian boleh berkeliling dulu." Pintanya Danian,agar Hanz dan yang lainnya tidak semakin khawatir.
"Apakah kamu yakin?" Tanya Hanz.
"Hmm.Tidak masalah" Balas Danian penuh keyakinan.
Danian yang notabennya memiliki berbagai keahlian pun dengan sukarela mengajukan diri,walaupun ia tahu Hanz lebih unggul darinya dalam segala hal.
"Baiklah." Hanz terdengar lega.
"Aku akan membantu mu." Tambah Roy.Dengan sigapnya ia mengambil ban cadangan dari tangan Danian.
Danian yang mendapat bantuan sukarela pun hanya tersenyum akan ulah adiknya Hanz tersebut.Ia tidak berani menolak ataupun memerintah.
Roy melakukan semua itu karena sesuatu.Ia tidak ingin menjadi penonton yang membosankan yang tidak bisa melakukan pekerjaan pria.
Apalagi dalam situasi seperti ini,otak besarnya semakin bekerja.Ia mulai melayangkan trik dan menargetkan Vivian untuk sebuah idenya.Agar wanita yang ia kagumi itu memiliki kesempatannya untuk berdua dengan kakaknya.Sebagai strategi untuk mewujudkan permintaan maafnya.
"Kakak dan Vivian,bersantailah.Dan serahkan permasalahan disini pada kami." Ucap Roy ditengah-tengah kesibukannya.
"Cepatlah dikerjakan!!"
"Siapp,bos." Sahut Roy.
Hanz pun meninggalkan Roy dan Danian yang bekerja,sedangkan Vivian bingung dengan apa yang ia lakukan.Dalam diamnya ia hanya menjadi penonton bagi pria-pria pekerja itu.Karena Hanz berlalu tanpa mengajaknya.
"Hei,nona Vivian...!!" Seru Hanz dari kejauhan.Silauan wajahnya yang diterpa matahari,membuat Vivian tertegun sejenak.Tidak ada kata sahutan dari wanita tersebut.Antara sadar dan tidak,suara sang Ceo terdengar merdu namun lantang dipendengarannya.
"Apakah kau ingin berdiam diri disitu saja?!!!Kemarilah!! Ikut bersamaku." Ajak Hanz tiba-tiba.
Vivian yang awalnya meragukan perkataan tersebut terkejut dengan ajakan Hanz,Sang CEO yang dingin dan menyebalkan itu.
Namun dugaannya kini mengguat jika Hanz benar-benar mengajak dirinya.Tanpa berpikir panjang Vivian bersorak kegirangan didalam hati,dengan segera ia menyusul ajakan Hanz,berlari menuju pria dingin tersebut.
"Ia.Aku ikut."
"Hahh..hhh..kita mau kemana??" Tanya Vivian penasaran.Nafasnya terdengar berat karena setengah berlari dan berhasil mendapati sosok yang ia kejar,lelah.
"Entahlah...hanya berjalan-jalan." Jawabnya singkat tanpa memperdulikan penderitaan sang wanita.Dengan santainya ia terus melangkahkan kakinya kedepan sembari terus menapaki jalan yang begitu terjal karena mobil mereka berhenti tepat diperbukitan.
Vivian pun terdiam tidak berani bertanya lagi karena dirinya masih begitu lelah untuk memulai sebuah perdebatan.Setiap langkah kakinya ia kuatkan,agar ia dapat mengikuti dan menyamai langkah kaki Hanz yang begitu cepat,kalau tidak dirinya akan tertinggal jauh.
Hanzpun terhenti.
Vivian yang tidak menyadari pengereman mendadak tersebut tanpa sengaja menabrak punggungnya Hanz.
"Aaww,kenapa berhenti tiba-tiba?" Keluh Vivian mengusap dahinya yang terbentur punggung kekar Hanz.Walaupun benturan tersebut tidak lah sakit.Hanya sebuah respon tubuh,menandakan sebuah keterkejutan.
"Kita sudah sampai." Ucap Hanz,mengabaikan keluhan Vivian.
Pemandangan yang ada dihadapannya membuat Vivian menjerit histeris.
"Wwaaaaaaaaahhhh....indahnya,keren!!!" Seru Vivian kegirangan.Mengabaikan perasaan kesalnya barusan.
Mendengar Vivian begitu senang,Hanz menjadi lega karena tidak sia-sia ia mengajak wanita tersebut.Hanz membiarkan Vivian menikmati pemandangan yang ada.Menghadiahkan kenangan kecil untuk wanita tersebut.
Udara diperbukitan tidaklah panas melainkan terasa dingin walaupun mentari sudah meninggi.Pepohonan rindang tumbuh disela-sela jurang yang memikat.Memberikan kekokohan dan keasrian alam yang mempesona.
Hanz dan Vivian berdiri diantara perbukitan tinggi tersebut.Dalam diam mereka menikmati ciftaan Tuhan semesta.
Hanz menoleh,menatap sejenak wanita yang ada dihadapannya.Wajah cantik Vivian terlihat bersilau karena bahagia,rambutnya yang panjang sengaja ia geraikan.Angin bertiup mulus menyentuh kulitnya yang putih bersih itu.
Hanz mendadak terpesona akan senyum manis Vivian yang sedang menikmati pemandangan tersebut.Namun hatinya gusar mendapati tubuh Vivian yang sedikit terbuka,
"Dia pandai menilai tubuh ku,tapi tidak memikirkan tubuhnya sendiri." Batin Hanz dalam hati lalu melepaskan mantelnya hitamnya.
Dengan segera Hanz memasang mantelnya itu menutupi tubuh bagian belakang Vivian.Membiarkan wanita tersebut memiliki kepunyaannya sejenak.Tanpa memperdulikan reaksi Vivian,Hanz lalu merebahkan dirinya duduk dibangku santai yang telah disediakan oleh penduduk sekitar yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Vivian terkejut ketika sesuatu melekat ditubuhnya dan memandangi sang pemilik mantel tersebut.
"Apa yang kau lihat?!" Tanya Hanz ketika Vivian terus memandanginya.
"Agckh,bukan apa-apa."Elak Vivian.
Tatapan Hanz membuat Vivian terbungkam,seharusnya kata-kata yang mudah ia lontarkan seketika membuyar.
"Sial...kenapa wajah dan tatapan mata itu selalu memikatku?!" Protes Vivian dalam hati.Ia kesal,akan tetapi lagi-lagi ia tersihir begitu saja.
Sehingga membuat debaran jantungnya berpacu semakin cepat,ia tidak ingin kejadian dibalkon terulang kembali.Dengan spontan Vivian membalikkan arah tubuhnya memandangi pemandangan didepannya sembari mengucapkan kata yang begitu lembut.
"Terima kasih atas mantelnya".
Hanz yang dibelakangi Vivian pun tersenyum.Namun,senyuman itu seketika beralih menjadi kebingungan.
"Bisakah kau memasang kembali kacamata hitam mu itu!!" Pinta Vivian tiba-tiba masih dengan punggung membelakangi Hanz,suaranya terdengar gugup.Walaupun ragu,akhirnya ia dapat mengutarakan pendapatnya yang tidak masuk akal.
Hanz yang masih duduk dengan cantiknya,mengerutkan keningnya.
"Kenapa???" Tanya Hanz spontan.
Lalu bangkit berdiri menghampiri Vivian karena penasaran.
"Itu karena - ..." Ucapan Vivian terputus.
Vivian yang tidak tahu Hanz mendekatinya,terus fokus mengatur perasaannya dan masih memandangi alam didepan sembari memikirkan kelanjutan kata-katanya.
"Kenapa?" Nada suara Hanz terdengar dekat dipancaindera pendengarannya.
"Bukankah dari awal kau menyukai mataku." Bisiknya tiba-tiba tepat ditelinga Vivian.Wewangian tubuh Vivian mulai menyerap kesanubarinya.Hanz tidak menyadari akan sikapnya yang semakin arogan.
Vivian terkejut.Tanpa ia sadari dengan spontan ia pun berbalik.Tubuh tersebut saling berhadapan,pandangan mereka seakan menyatu karena terlalu dekatnya.Vivian menatapi wajah Hanz begitu dekatnya dalam diam.Sel-sel otaknya berhenti merespon.Bola mata yang hitam dan berkilau itu,membuatnya terhipnotis seketika.
Namun dengan keberanian yang tidak terduga,bibir manis Vivian mulai berucap.
"Aku memang menyukai matamu." Jawab Vivian polos.Ia tidak bisa membohongi perasaannya lagi dan semakin menggagumi pria yang ada dihadapannya itu.
"Bagaimana bisa,bola mata indah mu itu dapat berubah-rubah dihadapanku???Dan itu benar-benar membuatku semakin terpikat." Tanya Vivian penasaran.
Vivian dengan perlahan melayangkan jemari tangannya menyentuh area mata Hanz.Dan pria yang ada dihadapannya pun tidak menolak ataupun menepis tangannya seperti disaat mereka berjumpa dulu.
Hanz yang masih terdiam dalam pertahanannya, menatap lekat tatapan Vivian dan membiarkan wanita itu menyentuh area sensitifnya dengan penasaran.
Lalu,
Deg..deg..deg...
Jantungnya berdegub kencang,naluri kelaki-lakiannya membuatnya tidak dapat mengontrol perasaannya lagi.
Hanz menyentuh pipi Vivian lalu menyelipkan tangannya ditekuk Vivian dengan lembut dan perlahan-lahan membenamkan wajahnya mendekati wajah ayu milik Vivian.
Hanz mendaratkan ciuman pertamanya.Yach,wanita ini berhasil membuatnya terjerat seketika itu juga.Mengisyaratkan bahwa ia adalah kepunyaannya sekarang.Menghilangkan akal sehatnya,akan keterpikatnya.Tatapan yang lembut yang ia berikan pada wanita tersebut.Memberikan warna mata yang terindah yang dapat ia lukiskan.
Vivian yang mendapat serangan mendadak itupun,hanya mematung tidak berkutik saat sentuhan lembut menyentuh bibirnya.Keterkejutannya itu membuatnya tidak berdaya.
Matanya tak dapat berbohong karena sesuatu yang mengejutkan hatinya.Pandangan tulus dari tatapan pria yang ada dihadapannya itu telah mengunci dirinya lekat.Waktu seakan terasa berhenti,pikiran pun menjadi kosong dan membuyarkan pertahanannya.Tanpa penolakan Vivian pun membalas sentuhan manis bibir itu dengan hangat.Menyatukan hati yang mulai terperangkap.