
Tidak terasa malam pun menjelang,Vivian masih dengan mode kesalnya.
Baginya Hanz begitu sangat menyebalkan hari ini.Dan efeknya berdampak pada pakaian yang ia kenankan,
"Untuk sementara pakailah baju milik ku ini",sodor Hanz saat ketika Vivian meminta untuk diantar pulang namun ditolak Hanz begitu saja tanpa alasan.
"Hanz nyebelin,kucing nakal,humfp...",gerutu Vivian diatas balkon mansion sederhana milik Hanz.Ia masih tidak terima karena Hanz membawanya begitu saja tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada orangtuanya.Ditambah lagi Hanz mengabaikan permohonan kecilnya.
Dalam keadaan terpaksa Vivian mencoba merapikan pakaian yang ia kenankan,bukan pakaian miliknya namun milik Hanz.Kemeja berwarna putih itu memang agak kebesaran ditubuh Vivian dan hampir menutupi betisnya yang jenjang.Namun tidak mengurangi kecantikkannya yang alami.
Walaupun kemeja milik Hanz mampu menutupi bagian tubuhnya,namun ia agak risih karena memakai pakaian milik pria.
"Apa yang dikatakan orang jika melihat ku memakai bajunya Hanz???",celutuknya Vivian.
"Hmmm..",dengusnya,aroma semerbak memenuhi tubuhnya dan seketika perasaan Vivian menjadi tenang.Dan tanpa disadari wajah Vivian merona kemerahan,jantungnya berdebar tidak karuan sembari tangannya mendekap merasakan halusnya pakaian yang ia kenakan.
"Tapi,kalau dipikir-pikir bau bajunya dan bau tubuh Hanz sangat wangi,kkyyyaaaa...apa yang aku pikirkan",jerit Vivian dalam hati bersorak kegirangan.
Dan tentu saja ekspresinya itu diperhatikan oleh sesosok pria tampan,Hanz.
Hanz hanya mengamati Vivian dari balik kaca ruangan sembari menikmati minuman hangatnya.
"Wanita ini kalau berulah begitu menggemaskan",oceh Hanz dan senyum manis tersungging disudut bibirnya.
"Entah apa yang sedang ia pikirkan sampai-sampai kegirangan seperti itu gayanya,hehhh...",ucap Hanz.
Dengan langkah pelan Hanz meninggalkan wanitanya menikmati dunianya sendiri.Lalu kembali lagi dan menghampiri Vivian yang masih menikmati malamnya itu.
"Udara dingin,jangan terlalu lama diluar...".
Suara Hanz menggagetkan Vivian,dan sebuah mantel hitam miliknya tersemat menutupi tubuh wanitanya itu agar hangat.
"Aah,terima kasih..",ucap Vivian malu-malu karena Hanz begitu perhatian padanya.
"Maafkan aku karena telah menolak permintaan mu tadi...",tutur Hanz.
Vivian yang mendengar, menatap pria yang disampingnya penuh tanda tanya.
Dalam diam ia menunggu kelanjutan perkataan pria yang ada dihadapannya itu.
"Apa kamu lupa dalam surat perjanjian kita jika kamu tinggal bersama ku segala fasilitas dan kebutuhan mu akan ku penuhi.Dan aku tidak ingin barang-barang yang berada dirumah mu,kamu bawa kemari.Aku tidak ingin dirimu begitu kerepotan sendiri",ucap Hanz menjelaskan.
"Lalu,bagaimana dengan ibu???",tanya Vivian khawatir.
"Dan tentunya kalau masalah bunda,aku sudah mengunjungi bunda tadi sebelum menjemput mu untuk meminta izin...",ucap Hanz meyakinkan Vivian.
"Benarkah???",ucap Vivian polos.
"Benar.Jadi,tidak ada alasan lagi kamu mengumpat diriku.Hhhaahh...tampan-tampan begini dibilang kucing",balas Hanz bernada kesal.
Karena merasa bersalah Vivian pun meminta maaf.
"Aku tidak mengumpat mu,tapi itu fakta kalau dirimu seperti kucing.Kucingkan lucu,imut,manis sudah begitu matanya juga berwarna-warni".
"Begitukah...kalau begitu aku tidak sungkan-sungkan menyebutmu seperti ikan..",balas Hanz tidak mau kalah juga.
Sontak saja Vivian tidak terima,"Kenapa ikan???!!Tidak adakah binatang yang lebih bagus dari itu???",protes Vivian.
"Tidak ada,karena ikan cocok sama kamu,yang lucu,lincah dan tidak bisa diam..",ucap Hanz membalas dengan senyum kemenangan.
"Kyyaa,aku tidak mau disamain dengan ikan..",lagi-lagi Vivian tidak setuju.
"Salah sendiri yang duluan bilang aku kucing",ejek Hanz.
Karena pertengkaran kecil tersebut suasana mansion dimalam hari tampak hidup.Kejahilan satu sama lain membuat keduanya terlihat mulai akrab.Dan tentunya keduanya tidak mau mengalah.
Karena lelah berargumen yang tidak jelas,Vivianpun mengalihkan topik pembicaraan.
"Oh iya Hanz,apa kamu mengenal Sam??",tanya Vivian penasaran perihal pertemuan mereka tadi siang.
Hanz terdiam sejenak.
Padangannya jauh menatap langit yang tidak berbintang,hanya rembulan terlihat begitu indah.Cahayanya rembulan makin membuat Hanz tanpak bersinar
menerangi wajahnya yang rupawan.
Vivian memandangi Hanz yang berdiri disampingnya dan seketika ia mulai mengamati warna mata indah Hanz berubah seketika menjadi violet.
"Ya,aku mengenalnya....bahkan telah lama mengenalnya",ucap Hanz dingin.
Lalu terdiam kembali tanpa berkata-kata.
"Agh,begitu rupanya...".
Vivian pun terdiam,ia tidak ingin bertanya lagi karena tahu suasana hati Hanz terlihat tidak baik.Ada kesedihan yang tersirat.Vivian menyadari itu karena warna mata Hanz sama, saat ia melihat kesedihan dan kesakitan Hanz pada malam itu dipenginapan.
"Sammuel Frendrick adalah sahabat kecil ku dulu dan orangtuanya dulu juga adalah sahabat terdekat orang tua ku juga",cerita Hanz.
Vivian yang terkejut dengan ucapan Hanz dalam sekejap menyadari perubahan itu lagi.Dan tatapan matanya sedikit menakutkan baginya.Walaupun malam,mata sendu Hanz tersebut seketika berubah menjadi merah karena amarah.
Tentu saja Vivian merasa sedikit takut.Namun,ia tidak berani berkomentar untuk mengeluarkan suara sekalipun..
"Apa yang terjadi padanya,ya???",batin Vivian bergelut.
"Ayo masuk,udara malam semakin dingin.Aku tidak ingin kamu menjadi sakit nanti",ajak Hanz membuyarkan sejenak lamunan Vivian.
"Ah,ia".
**********
Diruang berbeda Hanz sedang mengatur napas dan pola degub jantungnya,tiba-tiba ia merasa sakit.Peluh dikeningnya membasahi wajah putihnya yang bersih.
Jam didinding menunjukkan pukul 02.00 dini hari,Hanz baru saja bermimpi buruk.Mimpi buruk kembali.
"MONSTER"
Kata-kata itu mulai menghantuinya kembali,dan mengembalikan sebagian memori yang telah terjadi.Hanz mengutuk kata-kata itu karena telah mengoyak hati dan perasaannya.
Walaupun sebenarnya ia masih tidak ingat peristiwa sesungguhnya namun kematian kedua orang tua tepat dihadapannya merupakan pukulan besar baginya.Dan julukkan "Monster" yang ditunjukkan padanya berhubungan dengan kematian orang tuanya,kata-kata yang dilontarkan oleh sahabatnya sendiri.Hanz dinobatkan sebagai pembunuh kedua orang tuanya karena saat peristiwa tersebut hanya dia yang selamat.
Ya,semua karena Sam lah yang pertama kali menuduhnya seperti itu dihadapan semua orang,tentunya teman- temannya disekolah.Jadi,Sam bukan sahabat yang baik untuknya.Karena perbuatan Sam yang demikian membuatnya semakin terjatuh dalam keterpurukkan hingga dikucilkan semua orang.
Hanz kecil tidak mengerti dan tidak tahu alasannya, kenapa Sam melakukan itu semua.Namun karena semuanya itu,Hanz mulai membenci sahabat nya itu sendiri.Hingga saat mereka berjumpa kembali.
Mengabaikan sejenak ingatan masa lalu,Hanz beranjak dari tempat tidurnya mendekati almari yang menyimpan persediaan obat miliknya.
Dengan gontainya Hanz meraih obat yang masih tersimpan,namun naas ia tidak menyadari jika stok obat yang ia miliki telah habis.
"Sial..",umpat Hanz.
Ia ternyata mengabaikan kondisinya sendiri,sampai-sampai persediaan obat yang dibutuhkan ia lupakan.Kini tubuhnya benar-benar tersiksa karena menahan rasa sakit.
"Danian..",pikirnya,mencoba mencari ponsel miliknya berharap segera dapat menghubungi temannya itu segera.Namun,lagi-lagi Hanz dibuat frustasi karena ponsel miliknya tidak dapat ditemukan keberadaannya.
"Agh,benar-benar sial,saat dibutuhkan mendadak hilang...",keluh Hanz kecewa.
Dengan lemahnya Hanz mencoba melangkahkan kakinya yang masih terhuyung untuk mencari udara segar berharap rasa sakitnya sedikit berkurang.Dia tidak tahu melakukan apa dalam kesendiriannya yang begitu menyedihkan.
Hanz meninggalkan kamarnya,menyusuri setiap lorong.Tidak ada yang dapat ia pikirkan,hanya melangkah mengikuti setiap jejak langkah yang ia tapaki.Bangunan luas miliknya seakan mengawasinya penuh kehampaan.
Hanz menuju balkon akan tetapi langkahnya terhenti didepan sebuah kamar lain.Ia baru menyadari jika di mansionnya sekarang ia tidak sendirian.Tanpa pikir panjang Hanz meraih knop pintu kamar yang ditempati Vivian,dan itu tidak terkunci.
"Dasar bodoh,wanita ini benar-benar ceroboh..pintu kamarnya saja tidak ia kunci",kesal Hanz.
"Apa dia berencana mengundang orang lain untuk masuk kekamarnya",lagi-lagi Hanz berargumen sendiri.
Hanz melangkahkan kakinya menghampiri wanitanya yang tampak tertidur begitu pulas.Wajahnya yang tampak tenang membuat Hanz mengembangkan senyumnya.Dengan perlahan ia menjatuhkan pantatnya,duduk disamping tubuh Vivian yang terlelap.
"Jika diperhatikan dari dekat,kamu begitu mempesona",ucap Hanz pelan dan tangannya secara reflek menyentuh raut wajah itu.
"Semakin lama aku mulai tersihir olehmu...".
Deg...
Hanz terdiam sejenak.
Hanz menyadari perbuatannya ini sedikit lancang,namun membuatnya sedikit lebih tenang.
"Apa yang terjadi padaku",batin Hanz.
Seketika ia menyadari sekarang bahwa Vivian adalah obat terbaik untuknya,rasa sakitnya mendadak memulih,tergantikan dengan perasaan yang tidak bisa ia rangkaikan.
"Apakah aku menyukainya",gumam Hanz sembari memandangi Vivian dengan lekat.
Kehadiran yang berawal dari ketidaksengaja hingga sekarang membuatnya memiliki hari-hari yang berwarna.
Seketika Hanz benar-benar menyadari perasaannya.
"Terima kasih sudah hadir dalam hidupku",bisik Hanz lalu mengecup kening Vivian dengan lembut.
"Tetaplah selalu menjadi milik ku,jangan berpaling dan meninggalkanku",lontarnya.
****************
Note:
π§ββοΈ :Hai readers,aku senang kalian senantiasa menikmati ceritanya aku,
mohon maaf upnya tidak beraturan,akan tetapi aku berusaha membuatnya hingga tamat.Mohon kritik dan sarannya ya,bantuan kalian sangat membantu...
π§ββοΈ :Oh ia,senangnya membaca novelku jika diiringi dengan musik.
"My Love" dari EXO adalah rekomendasiku.
Selamat menikmati dan semoga sehat selaluππ