Monster Eyes Are My Beautiful Eyes

Monster Eyes Are My Beautiful Eyes
39.I Love You



Note:


๐Ÿงšโ€โ™€๏ธ:Hai readers...aku ingin kalian membaca cerita ini sembari jangan lupa ya dibarengin sama lagunya IU "Loving You",biar tambah greget๐Ÿ˜Š,selamat menikmati๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


-Loving you


by.IU


Loving you is easy because you're beautiful


Making love with you is all I want to do


Loving you is more than just a dream come true


And everything that I do is out of loving you


Lalalalallala lalalalalla....


Dumdum duru haaa...


No one else can make me feel the colors that you bring


Stay with me while we grow old and we will live each day in spring time


.......**๐Ÿ’˜๐Ÿ’˜๐Ÿ’˜**.......


*************


Hanz menatapi punggung Vivian dari kejauhan,akhirnya ia berhasil menemukan wanita itu.


Nafas yang tersengal-sengal tidak membuatnya patah semangat untuk dapat menemukan Vivian.


"Akhirnya aku menemukanmu...gadis bodoh...benar-benar ikan yang sulit ditangkap",gerutu Hanz.


Senyuman mengembang disudut bibirnya tak kala Hanz mendengar keluhan Vivian.


"Apa yang kamu lakukan,menangis diantara semak-semak",ledek Hanz.


Tentu saja Vivian terkejut dan tidak menyangka Hanz malah mengejar dirinya.


"Siapa bilang aku menangis",protes Vivian dari kejauhan.Dengan segera ia mengusap air matanya agar Hanz tidak meledeknya lagi.


Namun usahanya sia-sia karena Hanz kini berada dihadapannya.Wajah pria tersebut membuatnya semakin tidak berdaya.


Hanz melepaskan kacamata hitamnya,menatap Vivian dengan lekat.Wanita yang ada dihadapannya tampak begitu berantakan dengan wajah nya yang tertunduk.


Hanz bisa merasakan itu semua.



Dengan tatapan lembut,Hanz dengan perlahan mendekati Vivian dan menariknya kedalam pelukkan.


"Kenapa kamu berlari sampai sejauh ini,apakah dirimu tidak takut tersesat.Jika itu terjadi,kamu semakin membuat ku khawatir",keluh Hanz.


Seketika Vivian merasa Hanz begitu mengkhawatirkan dirinya.


"Apa pedulimu???",tanya Vivian kesal namun senang,karena dekapan Hanz begitu hangat.Baginya kehadiran Hanz saat ini membuatnya merasa sedikit lega walaupun kesedihannya masih mengganjal di dalam hatinya.


"Bodoh,apa yang sedang kamu pikirkan.Jelas saja aku peduli,karena kamu adalah milik ku.Milikku yang begitu berharga",jelas Hanz dengan senyuman mengembang di bibirnya.


Vivian tersipu malu,deraian air matanya kini beralih ke zona bahagia.


"Apakah kamu cemburu???",bisik Hanz.


Vivian terperangah dan tampa disadari ia mendorong tubuh Hanz dengan segera.


"Benarkah,kenapa yang terlihat bukan seperti itu.Seorang wanita cantik meraung-raung menangis dipadang rumput yang luas sembari berteriak...hmmff..",belum sempat Hanz melanjutkan kata-katanya Vivian dengan segera mendekap mulut manisnya.


"Aku tidak cemburu...",jawab Vivian terbata-bata karena malu.


Tentu saja Hanz tidak mempercayainya,dengan segera ia melepas tangan Vivian yang masih menutup mulutnya itu,lalu menarik gadisnya itu masuk kedalam dekapnya.


"Gadis bodoh,jikapun dirimu cemburu..justru aku menyukainya.Untuk apalagi kamu menghindar...".


Vivian tidak berdaya,apa yang dikatakan Hanz adalah benar nyatanya.Dirinya begitu terluka jika pria yang ia cintai sedang bersama wanita lain.Mungkin dirinya sedang cemburu.


Vivian berusaha melepaskan dekapan Hanz,namun laki-laki yang ada dihadapannya ini tidak ingin memberinya kesempatan.


"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Vero.Dia sudah ku anggap seperti adik ku sendiri.Jadi,jangan berpikir yang bukan-bukan dan menghindariku seperti ini",pinta Hanz.


Vivian terdiam dan kini hatinya sedikit lega mendengar penjelasan Hanz.


"Aku mencintaimu,ikan kecilku",bisik Hanz lembut.


Sontak saja Vivian begitu berbunga-bunga,Hanz sudah menyatakan perasaannya untuk dirinya.Dengan debaran jantung yang semakin berpacu cepat,Vivian pun semakin mempererat pelukkannya.


"Aku mencintaimu,Hanz..",balas Vivian.


"Aku tahu dan itu sudah kudengar tadi...",ucap Hanz meyakinkan.


Hanz begitu bahagia karena wanita nya kini seutuhnya adalah miliknya.Tidak ada keraguan dan kebohongan diantaranya.


Sedangkan Vivian tersipu malu,dan pemandangan disekitar pun kini terlihat begitu indah.


Kedua insan manusia tersebut saling menumpahkan rasa sayangnya,pelukan hangat disenja hari menghiasi kebahagiaan diantara keduanya.


**********


Vero dengan langkah gontainya,menerima kekalahannya karena tidak bisa mendapatkan hatinya Hanz.Hanz benar-benar menolak dirinya.


Kekalahannya membuatnya semakin membuatnya harus menjadi kuat.Vero berusaha tegar menghadapi sebuah kenyataan tersebut walaupun perih.


"Apakah kamu baik-baik saja??"tanya Roy.


Roy muncul dihadapannya,tepat disaat dirinya kini dalam posisi tidak berdaya.Lelaki yang tidak pernah ia harapkan justru ada disaat dirinya seperti ini.Dan selalu hadir disaat dirinya benar-benar membutuhkan seseorang.


Dengan senyuman yang dipaksakan Vero pun menatap Roy .


"Aku baik-baik saja...",sahut Vero dengan nada suara yang masih bergetir.Suara yang dipaksakan untuk terlihat tegar.


Namun,bukan Roy namanya jika tidak tahu dengan keadaan yang terjadi.


Dibibir Vero mengatakan tidak,namun dihatinya belum tentu baik-baik saja.Roy dengan segera memeluk Vero,dengan begitu wanita yang ada dihadapannya itu tidak merasa sendirian lagi.


Ia tahu saat ini wanita itu sungguh sedang terluka.Karena ia melihat semuanya.Namun dengan cara seperti ini Roy dapat meringankan kesedihan Vero.


Entah kenapa kehadiran Roy membuat Vero tidak dapat menahan luapan emosinya.Air matanya lagi dan lagi jatuh didalam pelukkan Roy.Isakkan tangisnya tumpah begitu saja.


Dengan lembut Roy membelai rambut Vero.Berharap wanita yang ada dipelukkannya untuk menangis sejadi-jadinya.Agar beban dihatinya sedikit melega.


"Menangislah,menangislah hingga semuanya terlepas...",ucap Roy perih.


"Aku akan tetap disini bersamamu,jadi jangan ragu...".


"Menangislah,lepaskan semuanya....".


Wanita tersebut menangis sejadi-jadinya.Tanpa memperdulikan rasa malu dan citranya sebagai seorang model,Vero menuruti ucapan Roy.


Keduanya hening,hanya suara tangisan yang menggema ditaman.Kali ini Vero benar-benar telah kalah.