
Cit...cit...cit...
Suara kicauan burung terdengar merdu dipagi hari.Hanz terbangun,matanya tidak bisa terpejam kembali.Hanz tidak menyalahkan suara kicauan burung.Akan tetapi suara gaduh dipagi hari yang tidak menentu itu membuat ketenangannya terusik.
Hanz menyadari kini ia tidak sendiri lagi.Kehidupan tenangnya kini mulai berganti dan tentu saja dirinya harus terbiasa akan hal tersebut.
Sudah beberapa hari dirumah sakit,kini ia sudah kembali dan berada dirumahnya.Hanz tersenyum nyinyir, "Apa yang sedang ia lakukan sepagi ini?Wanitaku,benar-benar penuh kejutan." pikir Hanz.
Hanz beranjak dari tempat tidurnya,masih mengenakan baju tidurnya.Walaupun wajah dan baju tidurnya sedikit berantakan namun aura ketampanannya masih bersinar.
Hanz menuruni setiap anak tangga dengan perlahan.Matanya nanar mencari sesuatu kesetiap penjuru arah.Dan langkahnya tertuju keruang dapur.
Hanz menatap punggung kecil itu,gaun tidur yang indah membalut tubuhnya.Rambut hitam terikat seadanya,Hanz menghentikan langkahnya,memperhatikan setiap gerak-gerik wanita tersebut yang kini ia sebut dengan calon istri .
Hanz menggeleng-gelengkan kepalanya.Suasana dapur yang semua tertata rapi dan bersih,kini terlihat layaknya kapal yang pecah berserakkan.
Aroma tidak sedap tercium dari pancainderanya,aroma terbakar begitu kuat memekakan penciumannya.Hanz frustasi.Dihampirinya wanitanya tersebut.
"Apa yang sedang kamu lakukan?"
Suara Hanz terdengar lembut,namun wanita yang ada dihadapannya tidak merespon.Hanz mengulurkan tangannya dan menyentuh pundak tunangannya dengan lembut.Namun,alangkah terkejutnya Hanz saat mendapati wajah dan tatapan dari tunangannya itu.
"Ada apa dengan wajahmu itu?Ppfftt.." Hanz tidak dapat melanjutkan perkataannya dan tidak mampu menahan tawanya.
"Hiks..hiks.." Vivian menangis tersedu dalam isakkan tangisnya yang terdengar pelan dan putus asa, ia dengan terbata-bata menumpahkan rasa kecewanya. "Bagaimana ini?Aku tidak bisa membuat omelet.Bukankah mereka terlihat mudah untuk dibuat,tapi kenapa?Aku sendiri tidak bisa memasaknya...Padahal aku membuatnya dengan penuh cinta -..."
Hanz mendekap tunangannya itu dengan hangat.Dengan mesra ia menatap wajah tunangannya itu.Hanz mencoba menahan gejolak untuk mentertawakan kelucuan yang tunangannya lakukan."Tidak apa-apa jika hari ini gagal bukankah bisa kamu coba kembali lagi nanti."
Hanz berusaha menghibur wanitanya itu."Jadi..hentikan wajah sedihmu itu.Karena aku sungguh tidak tahan untuk melihatnya."
Vivian menatap wajah tampan suaminya itu dan dengan seketika hati sedihnya mulai menghilang."Tapi,bagaimana dengan sarapan pagi kita?"
"Hmm.." Hanz menghela nafas dengan berat ia memperhatikan disekelilingnya."Aku saja yang akan membuatkan sarapan untuk kita."
"Tidak boleh.." Vivian mencegah,nada suaranya terdengar keberatan.
"Suamiku,kamu baru saja pulang dari rumah sakit dan masih dalam proses pemulihan."
Hanz yang termanggu dengan ucapan Vivian yang begitu perhatian kepada dirinya semakin bersemangat,panggilan suami terdengar manis dari mulut manis tunangannya itu.
"Aku baik-baik saja,istriku." balas Hanz,sifat dinginnya kini mulai melunak jika dihadapkan langsung dengan istrinya.Kepribadiannya yang tertutup kini perlahan-lahan terbuka.
"Tapi yang aku khawatirkan itu justru dirimu."
Vivian terdiam dan bingung dengan ucapan Hanz.
"Apakah kamu tahu?Penampilan mu dipagi hari ini cukup menggemaskan dan hampir membuatku tidak tahan -..."
"Apa yang kamu pikirkan?" Refleks Vivian menutup bagian dadanya.
Hanz tercengang dengan pemikiran wanitanya itu."Apa yang kamu pikirkan?Lihatlah dirimu yang comel itu.Aku sungguh tidak tahan untuk tertawa hahaha..."
Mendengar penuturan Hanz,tanpa disadari Vivian menoleh kesebuah kaca yang ada di dapur.Dengan histeris ia berlari menjauh dari dapur,rasa malu yang luar biasa tidak bisa ia utarakan.Tanpa memperdulikan Hanz,Vivian meninggalkan sosok tersebut tanpa menoleh sekalipun.
Hanz terkekeh,kelucuan sang Vivian memberikan kesan rumahnya kali ini akan terasa berwarna.
"Hahh,apa boleh buat.Aku semakin mencintainya.."
Hanz kembali meletakkan dan menyajikan hidangan diatas meja dengan sempurna.Suasana dapur yang berantakan telah ia rapikan kembali,tangan yang cekatan terbukti dapat membereskan kekacauan tersebut dengan cepat.
Setelah selesai,Hanz menghela nafas dan dengan segera meninggalkan dapur untuk membersihkan dirinya.
Lain halnya Vivian,dirinya yang kini telah kembali terlihat cantik dengan bahagianya memperhatikan suasana dapur yang kembali seperti semula.
"Suamiku benar-benar yang terbaik,bukan hanya tampan dan kaya tapi juga keren." Puji Vivian bangga.Kesan romantisme kini dapat ia rasakan.
Dengan berdebar ia menunggu calon suaminya itu untuk dapat menikmati sarapan bersama.
Namun pria yang di tunggu belum juga muncul,Vivian memperhatikan arloji ditangannya,raut wajahnya berubah kesal,"Kenapa dia lama sekali?"
Dengan perlahan Vivian menatap makanan yang disajikan,walaupun mengoda namun selera makannya sejenak menghilang.
"Kenapa tidak makan duluan?"
Vivian yang hanyut dalam lamunannya,terkejut.
"Apa yang terjadi?Kenapa lama sekali?Aku menunggumu?"
Hanz tersenyum,lalu menarik kursi duduk disebelah istrinya.
"Maafkan aku.."
"Sesuatu sedang terjadi,jadi aku harus menyelesaikannya."
Hanz menatap tunangannya dengan rasa menyesal.Wajah yang dingin tersebut terlihat memohon.
Vivian tidak dapat menolak permintaan maaf calon suaminya tersebut.Justru jantungnya semakin berdebar jika dihadapkan dengan ekspresi Hanz yang seperti itu.Ingin sekali dirinya menerkam sang tunangan,akan tetapi ia tidak ingin terlalu terburu-buru.
Perkenalan dan pertunangan mereka berdua terlalu singkat,Vivian belum sepenuhnya untuk menyerahkan hidupnya.Walaupun ia mencintai pria tersebut,namun ia masih belum mendapatkan hati Hanz sepenuhnya.
Pria yang dihadapannya memang mencintainya,akan tetapi cinta Hanz terlihat dimatanya sebagai sebuah bentuk rasa kepedulian.Kehadiran dirinya dianggap sebagai penawar racun hatinya yang kelam.
"Tidak apa-apa.Apakah semuanya baik-baik saja?"
"Hmm,tidak masalah."
"Hanya masalah kecil.Dan ini semua berkat dirimu,sayang."
Vivian menatap Hanz dengan bingung.
"Jangan menatapku seperti itu?!"Goda Hanz.
"Ini menyangkut tentang pesta pertunangan kita yang mendadak.Jadi semua pebisnis maupun wartawan serta media sosial maupun elektronik memburu kita.Aku harap kamu harus terbiasa."
Hanz menggenggam tangan wanitanya,"Termasuk hal dan sesuatu yang buruk sekalipun.Dan percayalah padaku.Apapun itu,aku akan selalu menjagamu."
Vivian tersentuh,dengan percaya diri ia memeluk kekasih tercintanya itu dengan hangat,"Hmm.." angguk Vivian mengakhiri kegundahannya.
Hanz yang mendapat pelukkan tiba-tiba sang calon istri,membalas mendekapnya dengan erat.
"Maafkan aku jika perjalanan masa bersama kita kali ini akan mengalami kesulitan dan berbahaya." Batin Hanz berbicara.
"Aku tidak ingin orang yang aku sayang terluka dan meninggalkan diriku lagi.Aku akan selalu melindungimu.Karena aku benar-benar mencintaimu,Vivian."
Hanz merasakan sebuah kedamaian jika berada didekat istrinya,kekuatan yang besar semakin mengalir didalam tubuh dan jiwanya.Akan tetapi beberapa jam yang lalu kedamaian tersebut sedikit terusik.Danian menghubungi dirinya dan memberikan kabar yang harus ia dengar.
Hanz dalam diamnya mendengarkan Danian yang sedang berbicara melalui telepon.Mencerna dan memikirkan semuanya dengan penuh perhitungan yang tepat.
"Hanz,orang yang mencelakaimu tempo hari akhirnya berhasil kita temukan jejaknya.Seorang pelayan tanpa sengaja berhasil merekam sang pelaku secara diam-diam.Walapun terlihat tidak jelas,namun kami berhasil menganalisis sang pelaku dari beberapa rekaman Cctv yang berada diluar hotel.Apakah kita harus bertindak sekarang?"
Hanz masih terdiam.Didalam kamarnya yang luas ia memandangi pemandangan yang ada diluar jendela.Tubuhnya masih dililit handuk yang menempel.Dan sebagian air masih menetes dari rambutnya yang basah.
Ia baru saja selesai mandi setelah menyajikan hidangan untuk sarapan pagi.
"Jangan gegabah,Danian.Menangkap dan mengintrogasinya secara terang-terangan dan menyerahkannya kepihak berwajib hanya membuang waktu saja.Pantau dan biarkan saja dulu orang tersebut bebas,akan tetapi suruh orang kepercayaan kita untuk selalu mengawasi dan menyelidikinya.Aku ingin tau siapa orang dibalik ini semua?Karena orang tersebut hanyalah umpan kecilnya saja.Yang aku inginkan adalah umpan terbesarnya."
"Baiklah,Hanz.Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menyelidiki ini semua."
"Hmm"
"Ada apa?"
"Ach,ini berita tentang dirimu.Anda semakin terkenal.Pernikahan mendadak dan identitas sebenarnya dirimu kini menjadi sorotan media.Apakah perlu diklarifikasi?Karena aku khawatir ini akan berpengaruh pada kehidupan Vivian dan terutama pada dirimu.Apakah kamu siap jika semua orang mulai mencari tahu titik kelemahan mu,Hanz?"
"Entahlah..Namun,aku tidak mungkin terus sembunyi dan menutupi ini semua kan."
"Terkadang,kita harus mencoba untuk melalui itu semua.Dan yang terutama,aku ingin berusaha mengingat kembali apa yang terjadi kepada orangtua ku dulu.Mencari tahu kebenarannya."
Red eyes,mulai menampakkan amarahnya,dalam keheningan yang tersembunyi.Hanz merasakan hatinya seakan terbakar,berharap tujuannya kali ini dapat terpecahkan dengan segera.
"Aku berharap kamu jangan terlalu memaksakan diri,Hanz."
"Hmm,aku tidak apa-apa,Danian.Tapi,yang pasti kamu harus selalu waspada.."
"Tentu saja,jangan mengkhawatirkan diriku.Karena aku adalah tameng terkuatmu."
Hanz mengakhiri panggilan teleponnya.Dalam ketenangan ia menantikan harinya nanti.Pengadilan terbaik bagi penjahat yang menghancurkan dirinya.Ia tidak lah selemah dulu melainkan Hanz yang akan menjadi monster yang ditakuti oleh musuh-musuhnya.
"Hanz!!!" Panggil Vivian.
Hanz tersadar dari pikiran panjangnya,dan tidak menyadari wanita yang dihadapannya terus memanggil namanya,"Ahh,ia,ada apa?"
"Apa yang sedang kamu pikirkan?"
"Hmm..." pikir Hanz,Ia tidak ingin wanita yang ada dihadapannya itu menjadi khawatir,"Aku sedang memikirkan dirimu?"
"Aku?" Vivian kebingungan,"Kenapa?"
"Bagaimana bisa,wanitaku ini tidak bisa memasak omelet?" Ledek Hanz.
Tentu saja Vivian terkejut dan malu dengan perkataan Hanz.
"Aku kan sibuk bekerja.Jadi tidak pernah menyentuh perlengkapan memasak." Elak Vivian.
"Pttakk.." Sebuah jentikkan lembut mengenai dahi Vivian.
"Alasan yang tidak masuk akal." protes Hanz.
"Mau bagaimana lagi,kalau faktanya aku tidak bisa memasak.Apakah kamu akan kecewa padaku?"
"Sangat-sangat kecewa,mulut yang tajam ini ternyata memiliki kelemahan juga." Ledek Hanz.
Vivian hanya mencibir,bibirnya yang merekah merona terlihat mengoda.Dan hampir saja Hanz terperangkap didalamnya.
"Tapi,syukurlah dirimu ini tidak bisa memasak.Karena dengan sangat bahagia bakat memasak ku ini tidak tersia-siakan." Angkuhnya.
"Wah,sombong sekali!!"
"Harus..karena aku adalah suami masa depanmu yang terbaikmu"
Vivian terdiam,wajahnya mulai tersipu.Ucapan dan tatapan Hanz membuatnya tidak berdaya.Pria yang ada dihadapannya ini bukanlah suami yang terbaik melainkan suami yang sangat teristimewa untuk dirinya.
"Ya,aku tau.." pasrahnya.
Dalam diam Hanz dan Vivian menjadikan sarapan pagi ini sebagai awal perjalanan yang harus mereka hadapi.Sarapan pagi yang begitu hangat.
******************♡♡♡♡****************
Gedung tua.
Langit terlihat mendung seakan mencurahkan bulir-bulir air mata dewa.
Dipinggiran kota,sebuah gedung tua menampakkan sisinya.Sisa-sisa reruntuhan dan lorong-lorong yang suram menandakan kepemilikkannya telah berakhir.Jauh dari pemukiman penduduk,bangunan tersebut telah lama ditinggalkan namun masih terlihat kokoh.
Sebuah mobil sedan hitam terpakir menanti dengan setia.Didalamnya seorang pria sedang menghisap cerutunya dengan gelisah.Dentingan jarum jam arloji meramaikan suasana.Tangan kasar miliknya dengan angkuh menghentakkan setir mobil.Pria bertopi itu sekali-kali melirik kearah kaca mobil.
Brummm...
Mobil putih BMW dengan gesitnya terparkir diikuti oleh dua mobil sedan hitam.Kebisingan yang terjadi seketika terhenti,hanya derap langkah kaki yang keluar dari dalam mobil.Dua mobil sedan hitam memamerkan pria-pria tegap berjas rapi.Dengan sigap mereka berdiri disamping mobil BMW putih,menanti seseorang dari dalam untuk segera keluar.
Pria bertopi dengan segera keluar dari dalam mobilnya,menghampiri tamu yang ia nantikan sedari tadi.
"Selamat siang,bos." Sapanya dengan hormat.
Ckleek..
Pintu mobil pun terbuka,seorang pria paruh baya dengan tegapnya keluar dari persembunyiannya.Tubuh yang masih kekar tampak terlihat dari setelan jas yang ia kenakan.Dan sebuah tongkat bermahkotakan naga emas menghiasi tangannya.
Tidak ada yang berani bersuara ataupun mengeluarkan perkataan sekalipun.Hanya pria bertopi saja yang menyapa.
"Hmm."
Aura yang terpancar dari nada suaranya terkesan menakutkan.Pria yang menjadi ketua dari perkumpulan tersebut menatap tajam si pria bertopi.
"Apakah kamu berhasil menemui anak bocah itu?!"
"Sudah,Bos.Aku hampir mencelakainya lagi,akan tetapi mengalami sedikit kendala.Karena aku rasa ia mengenali ku."
"Bodoh!!!"
Buukk...
Sebuah hantaman tongkat besi itu meluncur mulus ke tubuh pria sang bertopi.Dan sang pria hanya meringis menerima hadiah tersebut karena ia gagal menjalankan tugasnya.
"Pekerja begitu saja masih belum bisa kamu selesaikan!!"
"Maafkan aku,Bos." tunduknya minta pengampunan."Lain kali aku akan melakukannya dan melenyapkannya."
"Lakukan itu!!Jika tidak,aku tidak membutuhkan nyawamu!!!"
"Baik,bos"
"Lakukan sebaik mungkin seperti dua puluh dua tahun yang lalu!Anak itu harus dilenyapkan!Dan jangan sekalipun meninggalkan jejak."
"Bagaimana bisa selama ini kamu tidak dapat melacak keberadaannya?"
"Maafkan aku,bos"
"Agch,bocah itu akhirnya menampakkan dirinya sendiri dan berani untuk keluar dari sarangnya."
"Aku harap dengan kesempatan ini kamu tidak mengecewakan aku.Jika kamu gagal lagi,jangan harap ada kesempatan lagi untuk mu!"
"Baik,bos."
Pria bertongkat pun meninggalkannya sendiri.Deru suara mobil memekakan telinganya,beranjak menyisakan beban yang harus ia lakukan.
"Sial!!!" runtuknya kesal.
"Monster kecil itu,sungguh merepotkan.."
"Beruntung sekali ia waktu itu.."
Sang pria bertopi pun memegang pundaknya.Sebuah bekas peluru masih terlukis indah ditubuhnya.Bekas luka pengingat akan kegagalannya dalam menghabisi sebuah keluarga ternama itu.
"Tidak ada kata beruntung lagi untukmu.." ucapnya dengan antusias.
"Sebentar lagi hidupmu akan berakhir seperti kedua orangtua mu dulu."