
*Perusahaan LuX*
Diruangan,Hanz membolak-balik lembar demi lembar berkas yang menumpuk dimeja.Tangan indahnya mulai menabuhkan tulisan khas miliknya dan semua harus melalui persetujuannya.
Danian yang berada disampingnya hanya mengamati tuannya itu dengan seksama.
"Bagaimana dengan supermodel yang kita inginkan?Apakah sudah dipastikan bersedia menjadi ikon dari merek kacamata terbaru kita?"Hanz menghentikan tandatangannya menanti jawaban Danian.
"Sudah,Bos.Yang akan menjadi model kita nanti adalah Veronica Elqarin dan Roy Smith."
Sejenak Hanz terdiam.Sebuah pena sesekali ia mainkan,dengan ragu ia menatap kearah Danian.
"Roy Smith,Bagaimana kabar nya bocah itu??"tanya Hanz sembari melanjutkan kembali membubuhkan tanda tangannya.
"Roy Smith dinobatkan menjadi duta fashion diParis,tuan.Walaupun sibuk dengan modelingnya namun ia selalu menanyakan tentang keadaan anda.Kabar nya pun sangat baik.Apalagi mendengar jika perusahaan kita sedang mencari model untuk kerjasama.Roy smith dengan segera mengajukan diri.Perusahaan kita tentu saja tidak menolak karena dia merupakan kandidat terbaik"jelas Danian.
"Hhmm"
"Sedangkan nona Veronica juga sudah setuju menjadi kandidat.Walaupun kesibukannya di Paris begitu padat.Dia tidak menolak tawaran dari perusahaan kita.Akan tetapi,aku sedikit khawatir dengan mereka berdua...?!"Danian menghentikan kalimatnya membuat Hanz kembali menatap dirinya penuh tanda tanya.
"Ada apa??"
"Apakah tidak masalah jika mereka pulang kembali ke negara kita?Mengingat ada konflik diantaranya?!"tanya Danian khawatir.
Hanz menghela nafas,kekhawatiran Itu ia tepiskan.
"Tidak masalah.Jika mereka menyetujui untuk bekerja sama dengan kita,apa masalahnya untuk kembali kesini?"balas Hanz dingin.
"Bukankah sangat bagus jika mereka ada disini dapat memperbaiki kesalahpahaman diantara mereka.Dan seorang profesional tidak akan mencampur-adukkan masalah pribadi mereka kedalam sebuah pekerjaan."
Tentu saja Danian tertegun dengan perkataan Hanz.Apa yang dikatakan tuannya itu ada benarnya juga.Jika dari awal mereka ragu untuk bekerja sama karena alasan pribadi,maka mereka tidak akan pulang dan menolak secara langsung kerjasama itu.
"Hahaha,kamu benar juga.Masalah pribadi tidak ada kaitannya dengan pekerjaan ataupun pulang kembali kenegara asal."
"Wah,bos benar-benar dapat diandalkan."Puji Danian mengacungkan kedua ibu jarinya.
Hanz yang sedikit kesal dengan pujian Danian,melepaskan tatapan mematikannya.
"Kalau begitu,tidak ada masalah lagi kan??Lakukan pekerjaanmu segera..!!!"perintah Hanz.
Melihat reaksi Hanz demikian,Danian semakin tidak tahan selalu menggoda sahabatnya itu.Walaupun tatapan mematikan Hanz tidak terlalu mempengaruhinya.
"Siap,bos gatam(galak namun tampan)."
Hanz benar-benar tidak mempercayai temannya itu.Karena pengaruhnya yang menakutkan sama sekali tidak berfungsi pada temannya ini.Dengan segera ia meredakan kekesalannya itu dengan mengabaikan sikap konyol Danian.
"Oh ia.Siapa yang bertanggung jawab dengan fashion mereka saat pemotretan nanti?"tanya Hanz mengalihkan topik pembicaraan.
"Kalau tidak salah dari perusahaan StyLe sudah mengajukan seorang kandidat.Atas nama Vivianorich Angelica."Balas Danian.
"Oohh.."ucapnya singkat.
Dan keduanya pun mulai sibuk kembali.
Sebaliknya,
*Perusahaan StyLe*
"Vi,dipanggil manager keruangan...!"seru Adam .
Vivian yang sibuk dengan setumpuk kertas-kertas desainnya hanya mengangguk tanda mengerti.
"Oke"balas Vivian.
Setelah merapikan mejanya,segera Vivian mendatangi managernya itu.
Toktoktok...
"Masuk"
Vivian dengan gelisahnya membuka pintu,lalu menghampiri manager yang berada dibalik meja kerjanya.
"Ada apa manager mencari saya???"tanya Vivian gusar.
Suasana ruangan sedikit menegangkan.Dengan seriusnya manager Kille mulai mengeluarkan suaranya.
"Vivian,kamu adalah orang kepercayaan saya.Saya percaya kamu dapat melakukan tugas yang saya berikan.Hanya sebuah tugas kecil.Apakah kamu bersedia?"
Perasaan Vivian menjadi senang sekaligus takut,ketika dirinya dipuji dan diminta untuk melakukan sesuatu.Itu terbukti ketika ia selalu diandalkan dalam menangani hal-hal penting.Jika menolak artinya mencari kematian sendiri.
"Terima kasih manager yang selama ini sudah mempercayai saya."
Lalu dengan sangat hati-hati Vivian bertanya,
" Tugas apa itu manager????"
Manager lalu mengambil sebuah amplop coklat disertai berkas penting lalu menyerahkannya langsung pada Vivian,
"Ini adalah surat perjanjian kontrak kita dengan pihak LuX."
Vivian yang menerima surat itu hanya terdiam.
"Saya ingin meminta dirimu secara langsung menyerahkan isi kontrak ini,serta bertanggung jawab dalam pelaksaan pemotretan nanti perihal keikutsertaan perusahaan kita untuk mempromosikan merk-merk StyLe kita."Ucapnya menjelaskan.
"Saya berharap kamu dapat menerima tugas ini dengan sebaik mungkin.Demi kemajuan perusahaan kita."
Dengan sigap Vivian menerima tawaran itu ,walaupun dihati kecilnya masih merasa cemas.
"Baik manager."
"Laksanakanlah!!"
Manager Kille melambaikan tangannya memberi isyarat untuk Vivian segera meninggalkan ruangan dan kembali bekerja.
Vivian dengan sigapnya memohon undur diri lalu pergi.
*********
Hari ini cuaca begitu terik,udara terasa begitu panas.Awan berarak-arak memancarkan keindahan dengan langit seperti hamparan laut biru.
Di perusahaan LuX untuk pertama kalinya Vivian menginjakan kaki diperusahan tersebut.Bangunan megah tersebut membuatnya sedikit ciut.
Dengan berusaha setenang mungkin,ia mencoba untuk melalui itu semua.
Vivian berdiri didepan meja resepsionis sembari memperhatikan sekelilingnya.Berharap tujuannya segera berjalan dengan lancar tanpa hambatan.
"Mohon maaf,ada yang bisa saya bantu nona?"Suara wanita cantik membuyarkan pandangannya.
"Emm...Begini?!Saya perwakilan dari perusahaan StyLe yang bekerjasama dengan perusahaan anda.Mau bertemu dengan CEO Hanz Alexandro.Dan sudah memiliki janji"ucap Vivian berusaha menjelaskan.
"Dengan atas nama siapa nona??"tanya sang repsesionis.
"Vivianorich Angelica."
"Oh,tunggu sebentar ya nona.Saya coba hubungi sekretarisnya dulu."
"Baik"
Vivian pun menuruti apa yang disampaikan sang resepsionis,sembari menunggu Vivian pun duduk di kursi yang telah disediakan.
Suasana diperusahaan nampak begitu sibuk,hiruk pikuk para pekerja berlalulalang dilobi.Tanpa sengaja Vivianpun memandang sebuah potret besar yang memperlihat sesosok pria tampan yang begitu elegan dengan style yang dimilikinya.
Pria yang pernah membentaknya beberapa hari yang lalu karena hal kecil.
Hanz Alexandro,gayanya yang cool membuat Vivian bergidik merinding mengingat kejadian waktu itu.
"Astaga,celakalah aku..."pikirnya.
Vivian terpaku ditempatnya,sebuah nasib yang tidak dapat ia hindari lagi.
"Bagaimana aku bisa sebodoh ini ?! Tidak menyadari kalau hari ini harus bertemu dengannya."
Vivian mencoba menenangkan hatinya,berharap sebuah keajaiban membantu dirinya.
"Semoga dia tidak ada hari ini."Pintanya dalam hati,berharap cemas.
"Dengan nona Vivian,mohon ikut saya .."Sang resepsionis membuyarkan lamunannya.
"Aah,ia.."sahut Vivian,putus asa.
Dengan langkah gontai,Vivan pun mengikuti sang resepsionis memasuki lif menuju lantai atas.Tubuhnya benar-benar tidak berdaya untuk menerima kenyataan.Karena Tuhan tidak mengabulkan doanya.
Ting...
Pintu lif pun terbuka,mendadak aura yang dirasakan Vivian menjadi mencekam.Aura keputusasaan.
Vivian mengutuk dirinya,karena menerima tawaran manager Kille.Sebab ia tidak menyadari orang seperti apa yang akan ia temui.Tapi karena sudah terjadi,Vivianpun pasrah.
Kini jantungnyapun berdegub kencang.Entah kenapa pikirannya menjadi kacau.Terlintas dipikirannya ia akan segera menemui pria jadi-jadian itu.
"Kali ini tamatlah riwayatku"batin Vivian meringis.
"Agch.."jeritnya.Sontak wanita yang bersamanya ikut terkejut.
"Ada apa nona?"tanyanya cemas.
"Ha..ha..saya kira tadi ada laba-laba."Alihnya dengan wajah merona karena malu,membuat wanita tersebut hanya menggeleng-geleng kepala.
Karena imajinasi liarnya itu,Vivian menyadari sikap konyolnya.
"Ini semua karena pria itu,pikiran ku jadi aneh-aneh?!"Kesal Vivian membatin.
"Kita sudah sampai nona."
"Aah ia"Kaget Vivian.
Tanpa disadari tempat yang dituju sudah ada didepan mata.Pintu besar itu kini telah menyambutnya dengan kokoh,Vivian termanggu dan hanya menelan kegugupannya.
Wanita cantik tersebut mulai mengayunkan tangannya mengetok pintu.Sembari mengumbar senyuman manisnya kearah Vivian.Namun Vivian hanya mampu membalasnya dengan senyum getirnya.
Tok..tok..tok...
"Masuk!!"Perintah seseorang dari dalam.
Dan pintu pun dibuka.
Dag dig dug,
Jantung vivian berdebar kencang.Bukan karena baru pertama kalinya bertemu dengan orang penting.Tapi yang ditakutkan adalah apa yang dibayangkannya semenjak tadi.
"Tuan,ini nona Vivianorich yang ingin bertemu dengan anda."Sang wanita menjelaskan.
"Ooh ia,dan silahkan anda kembali bekerja."Perintahnya lagi kepada wanita resepsionis itu.
Wanita itu pergi,lalu hanya ada mereka bertiga didalam ruangan itu.
Suasana hening sejenak.Vivian masih mematung tanpa bersuara.
Dua pria itu telah berada disana dan menanti dirinya,sang CEO Hanz yang ditakuti dan juga Danian si pria ramah.Keduanya menatap Vivian dengan tatapan yang berbeda.Seorang CEO dan Sekertaris,pria tampan,keduanya pasangan sempurna untuk dilihat.Namun,memiliki kepribadian yang berbeda dimata Vivian.
"Mmm"
Suara pertama yang mampu Vivian lontarkan,terdengar ragu namun jelas.Sebuah kata yang tersekat begitu saja tanpa arti sama sekali.
Vivian berpikir sejenak,menata kembali kosakatanya.Namun,lagi dan lagi semuanya buyar seketika.Takala kedua pria tersebut masih memandanginya,menanti perkenalan formal dan tujuannya karena telah datang ketempat itu.
"Agh,kenapa aku jadi eror begini"protes Vivian dalam hati.
Kali ini ia benar-benar mati kutu,semua kemampuannya hilang begitu saja.
Dan justru yang ada adalah ia masuk ke dalam imajinasi nya sendiri.Membayangkan berada didunia lain dan dihadapkan dengan dua makhluk keadilan,yang satu IBLIS dan yang satunya lagi MALAIKAT.Benar-benar tidak berkutik.
Akan tetapi,lagi-lagi ia harus disadarkan karena kini ia berada didunia kenyataan.Dengan sedikit keberanian,Vivian mengabaikan ketakutannya.
"Hallo,selamat siang.Saya Vivianorich Angelica,asisten kepercayaan manager killer.Hari ini saya datang untuk menyerahkan kontrak kerjasama antar perusahaan LuX dengan perusahaan StyLe kami"ucap Vivian gugup.
"Mohon bantuan dan kerjasamanya"pinta Vivian akhirnya.
Hanz yang mengamati tingkah laku Vivian sendari tadi,hanya menyungingkan senyum sinisnya.Dan mempercayai takdir,jika ia akan bertemu lagi dengan wanita itu.Hanz menggagumi keberanian si wanita yang ada dihadapannya itu.
"Kebetulan sekali,ternyata si IKAN KECIL.."Gumam Hanz.Tentu saja didengar oleh Danian yang berada disampingnya.
Danian menatap Hanz penuh curiga lalu menerka bahwa ikan yang dimaksud kan oleh Hanz ternyata adalah nona Vivian itu sendiri.Mendapati sebuah momen langka,Danian menjadi semakin ingin menyaksikannya.Apalagi tingkah Hanz yang sekarang membuat wanita tersebut hampir mati ketakutan olehnya membuat Danian tidak tahan untuk tersenyum puas.
"Hallo nona Vivian,senang berjumpa dengan anda.Saya Danian El Crushz,skretaris pribadi CEO Hanz Alexandro"ucap Danian mencairkan kembali ketegangan yang terjadi.
"Sebelumnya kita sudah bertemu.Pertama dirumah sakit dan kedua berada diperusahaan kalian"terkanya.
"Ah,ia"jawab Vivian malu.
"Senang bisa bekerjasama dengan anda"ucapnya ramah.
Tentu saja Vivian sedikit lega,setidaknya Danian membantunya untuk mencairkan kecanggungannya.
Sedangkan Hanz hanya diam seribu bahasa masih menatap kearahnya,dingin.
Danianpun merasa pandangan tuannya tidak pernah lepas dari sang wanita,Ia menyadari harus ada penyelesaian kesalahpahaman diantara mereka.
Dengan isengnya Danianpun berencana meninggalkan kedua insan tersebut untuk saling berinteraksi.
"Kalau begitu alangkah baiknya kerjasama ini nona Vivian membahasnya langsung dengan CEO Hanz.Mohon maaf sekali saya tidak dapat menemani karena masih banyak urusan lain.Kalau begitu saya permisi ijin keluar dan meninggalkan kalian berdua disini."Pinta Danian kepada tuan dan tamunya itu.
Hanz hanya mengangguk,mengijinkan.
Lain halnya Vivian,dia hanya tersenyum tipis.Berharap Danian tidak meninggalkan ruangan itu segera.
Danian seolah tau apa yang dipikirkan Vivian,namun hanya tersenyum dan tetap meninggalkan ruangan.
"Semangat,nona"ucap Danian lirih saat berpapasan dengannya.
Mata Vivian terus menatap punggung Danian yang beranjak pergi.Dan kembali lagi perasaannya menjadi kacau,badannya pun terasa lemas.Sebab ia menyadari hanya tersisa mereka berdua diruangan besar itu.
Hanz yang melihat pandangan Vivian yang tidak lepas dari sekretarisnya itupun beranjak dari singasananya,lalu menghampiri Vivian.
Sang wanita tidak menyadari keberadaannya,jika Hanz kini sudah berdiri dihadapannya.
Vivian yang melihat Danian telah pergi,kembali menoleh kedepan dimana Hanz berada.
Tetapi alangkah terkejutnya Vivian,ternyata Hanz kini berdiri dihadapannya tanpa ia sadari.
"Astaganaga..."Pekik Vivian shock ringan.
Hampir saja dirinya mendapat serangan jantung,namun terpana akan wajah itu.
Hanz mengerutkan dahinya,menatap wanita itu dengan tajam.Namun mengabaikan sikap konyol Vivian.
Hanz mengulurkan tangannya,namun sang wanita masih terpaku.
"Serahkan?!"pinta Hanz.
Vivian yang terpana itu kembali sadar.
"Se-se-rahkan apa tuan??"tanya Vivian bingung.Akal sehatnya kembali buyar karena berhadapan langsung dengan Hanz.
Vivian yang tidak mengerti akan perkataan Hanz pun semakin panik.
Entah kenapa,berhadapan dengan pria ini sulit sekali mengontrol perasaannya.Dan ia menjadi semakin takut apalagi terlintas akan kejadian lalu.
Hanz yang tidak sabaran itu pun semakin mendekatkan diri, lalu hendak mengambil berkas yang Vivian bawa.
Namun apa yang ia dapati,wanita itu malah memejamkan mata.
"Apa yang kamu lakukan bodoh?!"kesal Hanz.Karena wanita yang ada dihadapannya ini benar-benar membuatnya frustasi.
Dan itu terjadi pada Vivian,ia terkejut ketika Hanz mendekatinya.Dan wajah pria tersebut hampir berdekatan dengan wajahnya,spontan saja ia memejamkan matanya.
"Habislah aku"pikirnya,namun buyar saat Hanz mengumpatnya.
Hanz merampas berkas yang ada ditangannya,lalu beranjak ke tempat duduk yang ada diruangan tersebut.Tanpa memperdulikan Vivian yang terkejut oleh sikap kasarnya.
Dengan santainya Hanz duduk disofa yang empuk itu.
"Duduk."Pinta Hanz.
Vivianpun menurutinya dengan ragu-ragu,dan berhasil mendaratkan bokongnya dengan tenang.
Susanapun kembali sunyi.
Hanz melepas kacamata hitamnya lalu mulai membaca isi kontrak.
Tangannya sibuk membolak-balik isi kontrak.Dengan seriusnya ia memahami setiap detail isi surat perjanjian itu.
Vivian yang duduk disebelahnya pun hanya terdiam.Namun matanya sibuk mengamati Hanz dengan seksama.
Vivian terpana akan wajah itu,dan semakin penasaran akan sesuatu.Kulit putih seputih salju,bibir merah mengalahkan darah dan matanya.
Deg..
Detak jantung Vivian seakan berhenti.Ia menyadari akan sesuatu.
"Kenapa warna matanya berbeda lagi kali ini??"batin Vivian
"Tidak mungkin ia gonta-ganti lensa matakan??Jika ia.Kenapa waktu itu kedua matanya dapat berubah warna seketika??"pikir Vivian.
"Apakah dia keturunan Vampire bangsawan??Wah,keren.."
Hanz yang curiga akan gerak-gerik Vivian,kemudian menatapnya.
Dan pandangan merekapun beradu.
"Apa yang sedang kamu pikirkan"tanyanya.