Monster Eyes Are My Beautiful Eyes

Monster Eyes Are My Beautiful Eyes
11.Mendekapmu agar Ku Tenang




Dikamar Vivian tidak berhenti-hentinya memikirkan kejadian tadi.Jantungnya berdebar-debar saat Hanz menyentuh wajahnya.Imajinasi liar menyeruak didalam pikirannya.


"Agh,kenapa aku selalu memikirnya.Apa aku sudah jatuh cinta padanya??" Malunya.


"Mungkin aku hanya menyukainya karena ia tampan dan anggap saja aku mengaguminya."


"Jika aku benaran jatuh cinta,apakah mungkin ia jatuh cinta padaku juga?"


"Tidak...tidak...itu semua tidak mungkin.Aku terlalu berkhayal,mana mungkin pria setampan dia bisa menyukai ku juga.Aku saja yang terbawa suasana.Tapi,sudahlah,kalaupun mengaguminya dalam hayalan juga tidak apa-apakan."


Dengan wajah merona Vivian tersenyum sendiri.


"Bagaimana ini aku benar-benar menyukainya?Hanya saja kadang-kadang sifatnya mennyebalkan,"runtuknya.


"Tunggu dulu..Yang masih membuatku bertanya-tanya,benarkah kalau dia Vampir atau dugaanku saja?Bukankah kalau vampir suka dengan darah.Padahal akukan terluka seharusnya dia sudah menghisap darahku tadi.Tidak-tidak-tidak..mungkin saja dia tidak menyukai darah.Agh..kenapa aku yang jadi pusing?" Geleng-geleng Vivian sembari membolak-balik dirinya ditempat tidur.


"Hanya saja--"


"Bagaimana bisa matanya sewaktu-waktu dapat berubah secara langsung?Ataukah dia sakit?Tapi badannya terlihat sehat-sehat saja.Ugh...sudahlah,kalau di pikir setidaknya dia enak dipandang." Ucap Vivian bergelud dengan argumennya sendiri.


Vivian memandangi langit-langit kamar.Matanya masih tidak mengantuk.


Tempat tidur yang empuk tidak segera membuatnya terlelap.


Alunan musik masih terngiang-ngiang ditelinganya,tujuannya agar ia segera terlelap.Namun hasilnya tetap sama yaitu mata masih terbuka dengan lebarnya.


Ingin ia keluar meninggalkan kamar tapi ia sendiri tidak berani untuk keluar.Ingin berbincang-bincang dengan Lilly namun sang pemilik tubuh tidak ada pergerakan.Karena saat Vivian memandangi temannya itu,ternyata Lilly sudah tertidur lelap.


Vivian yang tidak dapat memejamkan mata itu,mulai frustasi.Berbagai cara sudah ia lakukan tapi mata semakin sulit terpejam apalagi nyamuk-nyamuk malam semakin menggila.


"Ternyata yang dikatakan Roy dengan makhluk pengisap itu adalah nyamuk." Gumam Vivian kesal.


Vivian melupakan lotion antinyamuknya.Vivian benar-benar tersiksa.Dengan keberanian yang kuat ia memutuskan untuk pergi keluar.



Di kamar yang lain,hal serupa dirasakan oleh Hanz.


Hanz tidak bisa memejamkan matanya,perasaannya mulai gundah.


Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.Hal itu terjadi dikarenakan baru saja ia bermimpi buruk.Mimpi yang terus menghantui dirinya.


Hanz merasakan kepalanya mulai terasa sakit.Rasa sakit yang semakin menyiksa dirinya.Tubuhnya seakan tidak berdaya untuk menahan itu semua.


Ketakutannya,kemarahan,serta kesedihannya terus berkecamuk menyiksanya.Baginya,semua yang ia rasakan adalah rasa sakit yang tidak pernah bisa terobati.


Hanz dengan langkah gontai menyelusuri lorong-lorong malam.Jiwanya seakan layu tak bernyawa.Pintu kamarnya ia biarkan terbuka,dengan kegelapan ia bersembunyi.


Desahan-desahan nafasnya mulai tidak menentu,sesak, itulah yang ia rasakan.Ia kesakitan dan terus kesakitan,kesakitannya membuat dirinya tidak berdaya,diselimuti kesendirian.Hanz telah memasuki dunia kegelapannya.


Disisi lain,


Vivian yang menyelusuri lorong malam malah tersesat.


Entah dilorong mana ia berjalan namun hanya ruangan yang sama.Vivian terus melanjutkan langkahnya,ini adalah kecerobahan yang kesekian kalinya.Dan dirinya benar-benar mengenaskan.


Tiba-tiba langkahnya terhenti.Sebuah pintu terbuka begitu saja,dengan lampu kamar yang sedikit redup,ia mencoba memberanikan diri masuk.Tidak ada tanda-tanda kehidupan.


Bukan Vivian kalau tidak penasaran.Ia terus mencari si pemilik kamar.Dengan sigap siaga,ia memberanikan diri.Andrenalin semakin memacu,pukul 02.00 dini hari,aura mulai mencekam layaknya film-film horor.


Vivian terus melangkah menyelidiki setiap sudut ruangan,didapatinya jendela kamar terbuka dan tirai-tirai menari diterpa angin.Sesosok tubuh terduduk dibawah terpaan cahaya bulan.


Vivian mengenali sosok tersebut,"Maaf,tadi aku langsung masuk karena pintunya terbuka." Ucapnya menghampiri sosok tersebut.Namun tidak ada balasan.


"Sedang apa kamu duduk dilantai dengan cuaca yang sedingin ini?" Tanya Vivian lagi,namun tidak ada reaksi sekalipun,hanya kesunyian.


Hanz dalam diamnya,menatap kekosongan.Wajahnya diterpa cahaya bulan dan itu terlihat sendu.Entah apa yang dipikirkan namun wajah itu tidak menampakan dirinya yang arogan dan dingin.



Vivian mengamati mata itu,dan menyadari akan sesuatu.Mata yang indah itu,terlihat kembali namun dengan makna yang berbeda.


Pria yang dihadapannya ini sedang terluka dan lukanya jelas sangat begitu dalam.Semua terpancar dari sorot matanya yang kelam.


Purple eyes,pemilik mata indah itu dapat Vivian rasakan kini keberadaannya.Tidak ada kehidupan hanya sebuah kekosongan yang berarti.


Vivian tahu,ia tidak pantas merusak privasi seseorang,serta mengusiknya.Dengan segera ia mencoba untuk meninggalkan pria tersebut.


"Maafkan aku,tidak seharusnya aku berada disini.Aku hanya lewat,karena aku tersesat dan kupikir kamar yang terbuka-- telah terjadi sesuatu."


Hanz masih tetap terdiam dan tidak ada satupun pergerakan atau respon yang ia tunjukkan.


Dengan perlahan-lahan,Vivian berbalik badan mencoba meninggalkan pria yang ada dihadapannya ini.Ada rasa bersalah menyelimuti hati Vivian,ia tidak tega.Namun juga tidak baik jika ia disitu tanpa persetujuan orang yang bersangkutan.Dengan berat hati Vivian meninggalkan Hanz dalam kesendirian.


Tappp..


Hanz memegang pergelangan tangan Vivian, tangannya erat mencekram dan tidak ingin dilepaskan.


Vivian terpaku mendengarnya.Namun sebelum ia mencerna perkataan dari Hanz.Hanz sudah menariknya dan mendekapnya erat.


Vivian tidak dapat menolak dan memberontak.Ia tahu lelaki yang ada dipelukkannya ini sedang membutuhkan sebuah sandaran.Karena obat terbaik adalah adanya orang yang peduli yang selalu menguatkan.


"Biarkan tetap begini." Pintanya sekali lagi.


"Baiklah.Aku tidak akan pergi." Ucap Vivian menenangkan.


Dan perlahan-lahan dekapan itu terasa semakin hangat,Hanz merasakan ketenangan.


*****


"Hal--lloo--oo"


"Danian?Bisakah kamu kemari?" Ucapnya lirih.


"Ku rasa obat ku tertinggal."Rintihnya


"Tolong cepatlah kemari..."


Tut..tutt...tuuttt.


Danian yang mendapat telepon darurat dari tuan/sahabatnya ini,segera beranjak dari tempat tidur.Ia dengan rasa was-was memikirkan Hanz.Ia takut kejadian tiga tahun lalu ketika perjalanan dinas dan obatnya tertinggal,Hanz kritis tidak sadarkan diri selama dua hari.


Kepanikan dan rasa sakit yang dirasakan oleh Hanz membuatnya koma untuk waktu yang cukup lama.


"Semoga tidak terlambat.Bertahanlah,Hanz."


Danian yang merasakan ketakutannya semakin menjadi.Mempercepat pergerakkannya,Ia tidak ingin hal tersebut terulang kembali,menimpa sahabatnya itu.


Danian berlari sekencang-kencangnya menuju kamar Hanz sembari membawa obat cadangan yang telah ia siapkan.Ia sudah menyediakan dengan sedemikian rupa agar sewaktu-waktu ketika Hanz melupakannya.


Hanz bukan hanya bos,sahabat tapi ia adalah keluarganya yang sangat berharga.Baginya,Hanz adalah periotas utamanya.Harta berharga yang harus ia jaga dan lindungi sampai mati.


Pertolongan Hanz pada keluarganya adalah berkat yang luar biasa.Ia ingat bahwa dirinya dari keluarga biasa yang miskin.Saat itu kedua orang tuanya menderita sakit secara bersamaan.Danian merasa sangat putus asa.Apalagi dirinya yang masih kecil,merasakan bahwa ia tidak berguna.Hal itu semakin menjadi dikarenakan masalah biaya pengobatan orangtuanya semakin mendesak harus dilunasi.


Namun,Hanz kecil muncul dihadapannya bagaikan malaikat tak bersayap dan mengatakan.


"Orangtua mu pasti selamat dan mereka sedang dirawat dokter." Hiburnya.


"Apa yang kamu khawatirkan?" Tanyanya.


Danian kecil,menangis.


"Orang tua ku miskin.Kami tidak mempunyai harta yang berharga.Apakah dokter dirumah sakit ini mau menolong kami?"


Hanz terdiam.Diliriknya seorang wanita dewasa yang selalu mendampinginya dengan sebuah isyarat sentuhan tangan.Dengan tersenyum wanita itu mengerti,dan menganggukkan kepalanya tanda setuju walaupun tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Dokter pasti akan menolong kedua orang tuamu.Karena merekalah harta sesungguhnya yang kamu miliki." Ucap Hanz menenangkan walaupun ia sendiri telah kehilangan harta berharga itu.


Danian terhibur,walaupun ia tidak mengerti namun perasaannya sedikit lega.Pertemuan mereka terus berlanjut karena kala itu Hanz juga sedang menjalani perawatan rutin di rumah sakit.


Dengan mata berbinar-binar Danian sedikit tidak mempercayainya.Akan tetapi perkataan Hanz ternyata benar,kedua orang tuanya selamat.


Biaya rumah sakit yang hampir tidak bisa ia tebus ternyata telah dibayar oleh seseorang dengan hati dermawan.Danian mencaritahu dan menemukan kalau Hanz lah yang menolongnya pada saat itu.Mendapat pertolongan dari Hanz,Danian pun tidak akan pernah melupakan hal tersebut.


Dan beruntungnya ia dapat dekat dengan Hanz dan membalas semua kebaikan sahabatnya itu untuknya hingga sekarang.


Dengan tergopoh-gopoh Danian berhasil kekamar Hanz.Nafasnya yang hampir sekarat itu,ia pulihkan.Kecepatan akan larinya dapat diacungi jempol.Usahanya tidak dapat mengecewakan.


Namun langkahnya terhenti dan mulutnya tersekat ketika ia mendapati Hanz dalam keadaan tenang didalam pelukan Vivian.


Walaupun dalam temaran dan hanya bercahayakan bulan,Danian dapat melihat bahwa Hanz terlihat baik-baik saja.Danian bernafas lega.


Perlahan-lahan Danian mencoba menutup pintu kamar dan membiarkan Hanz dalam ketenangan.Ia tahu,Hanz tidak membutuhkan obatnya lagi.


Danian pun pergi melangkah meninggalkan kamar itu dengan perasaan tenang.Berkat Vivian,ia tidak akan merasakan khawatir lagi.


"Syukurlah,ia baik-baik saja." Gumam Danian lirih.


Cekleekkk..


Pintu kamarpun tertutup.


Suara malam yang menjelang pagi,mengalahkan kesunyian.Dengan lembut Vivian menepuk pundak Hanz,ada ketenangan didalamnya.


Tanpa disadari Hanz tidak terlihat gelisah kembali.Tubuhnya tidak bergetir karena takut.Hanya terdengar deru nafas teratur miliknya.Pria tersebut sangat penurut,tidak ada pemberontakan yang menyakitkan.


Hanz yang berbaur dalam dekapan Vivian,bagaikan malaikat kecil yang tidak berdaya.


Akan tetapi pelukan yang erat itu secara perlahan mengendor,Vivian mengamati wajah pria yang ada dihadapannya.Wajah yang tenang tidak ada guratan kesedihan itu telah tertidur lelap .


"Akhirnya ia tertidur juga." Leganya.


"Hhuuuaaaammmm...."


Vivian menguap dan tiba-tiba rasa kantuknya mulai menerpa.perlahan-lahan matanya seakan mulai mengatup.Dan iapun tertidur lelap dibawah rinai rembulan malam bersama malaikat tak bersayap.