
"Aku dimana ini?!"gumam Vivian setelah kesadarannya sedikit pulih.
Tak lepas Vivian mengamati dan memperhatikan ruangan yang sekarang ia tempati.Suasana ruangan yang tampak tidak asing bagi dirinya.Dan semerbak aroma yang begitu khas melekat dirongga hidungnya,aroma disinfektan.Ruangan yang sering ia kunjungi beberapa tahun yang lalu saat ayahnya terbaring lemah untuk kesekian kalinya.
"Bagaimana aku bisa berada disini?"
Perlahan-lahan vivian mencoba mengingat kembali kejadian yang baru saja menimpanya.Kejadian yang nyaris saja merenggut nyawanya itu.Vivian yang berkutat dalam memori singkatnya,mendadak dikejutkan dengan kehadiran seorang pria.
"Akhirnya nona sudah siuman"ucap pria tersebut yang kini juga berada didalam kamar tempat Vivian berada.
"Apakah anda merasa baikkan,nona??Ataukah barangkali masih merasa ada yang terasa sakit?"tanya pria itu prihatin.
Dengan ragu-ragu Vivian pun menjawab pertanyaannya.Seorang pria yang sama sekali tidak Vivian kenal namun memiliki wajah yang mempesona.
"Mmm.aku baik-baik saja tuan."
"Syukurlah.."ucapnya lega.
Vivian pun mencoba mengamati orang tersebut dengan seksama,akan tetapi ia menyadari bahwa pria yang ada dihadapannya ini bukanlah pria yang hampir mencelakai dirinya.Pria ini tidak memiliki sorotan mata itu.Mata yang begitu unik.
"Apakah kamu...?"ucap Vivian sedikit ragu.Sebuah pertanyaan yang membuatnya merasa penasaran sendiri yang tidak berhasil ia lontarkan.
Pria yang ada dihadapannya itu seolah tau apa yang dipikirkan.Dengan segera ia membalas ucapan Vivian yang terputus.
"Perkenalkan,saya Danian.Saya mewakili tuan saya,memohon maaf atas kejadian yang baru saja telah menyebabkan anda seperti ini..",ucapnya dengan sopan.
"Ahh,tidak apa-apa..."balas Vivian.
Belum sempat Vivian melanjutkan perkataannya seseorang telah mengetuk pintu.
"Permisi...Mohon maaf mengganggu.Saya ingin memeriksa keadaan pasien"izin sang suster ramah sembari membawa peralatan medis.
"Oh,silahkan suster.Mohon periksa nona ini dengan sebaik mungkin..!!"kata pria itu,lagi-lagi dengan ekspresi ramahnya.
"Tentu saja,tuan.Itu adalah tugas dan tanggung jawab kami sebagai tenaga medis disini"balas sang suster tak kalah ramah.
Sang suster yang sedang melakukan tugasnya pun bertanya kepada Vivian,
"Nona,apakah ada keluhan lainnya?Misalnya pusing atau semacamnya?"ucapnya.
"Tidak ada,Sus."
"Oh,syukurlah."Ucapnya dengan perasaan lega.
"Dari pemeriksaan tekanan dan denyut nadi semuanya sudah normal.Nona tadi hanya mengalami shock ringan yang tidak terlalu berdampak pada hal-hal serius lainnya"ucap sang suster menjelaskan.
"Dan atas saran dokter,nona diperbolehkan untuk pulang hari ini dan beristirahat dulu dirumah."
Vivian hanya mengangguk tanda mengerti, "Terimakasih,Sus."
"Sama-sama"balas suster perawat.
"Kalau begitu saya permisi"ucap suster beranjak pergi meninggalkan ruangan.
Mendengar pemberitahuan suster tadi Vivian merasa lega.Dan begitu juga dengan Danian.
"Syukurlah hasil pemeriksaannya baik.Saya merasa lega mendengarnya.Karena sekarang semuanya baik-baik saja.Kalau begitu saya memohon izin keluar,karena masih ada pekerjaan yang masih harus saya urus.Dan mohon maaf,saya tidak dapat mengantar anda pulang.Masalah administrasi rumah sakit sudah saya selesaikan"ucap sang pria.
Karena ketulusannya ,Vivian hanya tersenyum.
"Oh ia,tidak apa-apa.Terima kasih atas semuanya"balas Vivian singkat.
Sebelum pria itu pergi meninggalkan dirinya,iapun berkata:
"Maaf nona.Aku merasa anda memiliki barang yang begitu penting,jadi barang-barang itu saya letakkan di atas meja itu.Takutnya nanti anda mencari atau melupakannya"tunjuknya kesudut ruangan.Kemudian iapun pergi.
Vivian yang masih terpaku dengan pria tersebut hanya menggangguk dan menjawab seadanya,
"Oh,ia.Terimakasih,tuan"ucap Vivian.
Saat pria itu sudah menghilang dari balik pintu, kesadaran Vivian pun
kembali dan memperhatikan barang yang ditunjuk sang pria tadi.Sontak saja ingatannya pun bergejolak.
"Astagaaaa..."pekiknya.
"Bukankah aku tadi mau kekantor.Gawat!!gawat!!Celakalah aku kali ini" keluhnya.
Tanpa mengulur waktu Vivian bergegas beranjak dari tempat ia berbaring,mengumpulkan semua barang yang ia bawa tadi.
Dengan tergesa-gesa ia meninggalkan ruangan,berlarian sepanjang lorong rumah sakit,mata yang memperhatikannya tidak ia pedulikan.Tujuannya adalah apapun yang terjadi saat sampai di perusahaan akan ia hadapi walaupun ia tau pasti hasilnya adalah buruk.
*******
Hanz menghela napas.
"Bagaimana dengan kondisi ku,Dok??Kenapa akhir-akhir ini mimpi buruk itu selalu muncul.Apakah itu buruk atau pertanda baik terhadap kondisiku?"
"Dan semua itu membuatku merasa sakit"keluh Hanz.
Dr.Eliza terdiam dan menyimak keluhan Hanz dengan hati-hati.Pasien tetapnya ini,membuatnya harus bersabar.Setelah selesai mendengar semua keluhan Hanz.
Dr.Eliza pun mulai menjelaskan dan mencoba menenangkan pasiennya itu.
"Secara medis itu hanya diakibatkan rasa traumatik yang berlebihan dalam jangka panjang,perasaan yang selama ini anda pendam membuatnya muncul didalam mimpi dan menyatu dengan kejadian nyata yang anda alami dulu."
"Bisakah itu terobati???"
"Tentu saja bisa,tergantung dari dalam dirimu sendiri untuk mencoba mengikuti segala terapi yang selama ini saya anjurkan.Namun tetap semua itu dilakukan secara perlahan."
"Hanya saja,yang aku khawatirkan adalah belum terpecahnya misteri yang menjadi penyebab utama traumatik mu itu,membuat kondisi fisik mu semakin melemah."
"Abaikan saja itu,Dok.Rasa sakit itu benar-benar menakutkan.Aku berusaha untuk mencoba mengingatnya ataupun melupakan,akan tetapi itu semua tidak berhasil.Akibatnya jika aku memaksa untuk mengingat ataupun teringat...aku mulai kehilangan kesadaran"
"Yang aku butuhkan sekarang adalah sebuah resep obat yang terbaik untuk menghilangkan rasa sakit ku !!"
Dr.Eliza hanya menghela nafas,ia tidak mau terlalu dalam berdebat dengan bocah yang ada dihadapannya.
"Baiklah,jika itu mau mu."
Hanz sedikit lega,namun mulai mengeluhkan hal yang lainnya.
"Dan satu hal lagi..aku benci dengan keadaan ku seperti ini,Dok."
Hanz menatap dirinya didepan cermin yang berada disamping tempat ia sekarang duduk,menatap matanya yang berwarna ungu itu.
"Bagaimana semua ini semakin mempengaruhi pada kedua warna mata ku ..??!!"Tunjuknya kediri sendiri.
Dr Eliza tersenyum terhadap pasien langkanya ini.
"Tenanglah,Hanz.Kedua mata mu itu bukanlah akibat traumatik mu.."
"Heterochrimia genap memang selalu ada dimiliki setiap manusia,namun tidak semua orang memiliki keunikan warna mata seperti milik mu yang dapat berubah-rubah seketika".
"Dan menurutku,anda sangat beruntung memilikinya walaupun harus
mengontrol dulu emosi yang ada didalam dirimu,tapi...."
Hanz mengerutkan keningnya.
"Bagaimana bisa sembuh jika emosi mu selalu tidak menentu,dingin dan judes begitu hahaha..",timpalnya.
"Bukankah aku sangat penting bagimu,makanya aku selalu datang menemuimu.Apakah kamu mau aku mengakhiri kontrak kerjasama kita?"Ancam Hanz mengoda.
"Wah,kejam sekali..."
Dr Eliza tidak mampu melanjutkan tertawa nya lagi karena Hanz mencoba menggancamnya.
"Baiklah,aku menyerah untuk tidak tertawa lagi.Karena Hanz Alexandro adalah gudang emasku yang tidak ternilai"balas Dr,Eliza pasrah walaupun diwajahnya masih mencoba menahan tawa.
****************
Toktoktok....
Seseorang muncul dari balik pintu.
"Masuk"
Manager Kille,menatap Vivian dengan tatapan yang dingin.
"Mohon maaf manager,saya datang terlambat karena ada insiden kecil tadi"ucap Vivian gugup.
"Hhmm.."
Dengan ragu-ragu Vivian mencoba mendekati meja manager Kill.
"Ini manager,daftar kerjasama kita dengan perusahaan LuX"
Vivian menyerahkan berkas yang ia bawa tadi, "Satu jam lagi kita mulai
meetingnya,Manager."
"Hhhmm".
Manager mengisyaratkan Vivian untuk meninggalkan ruangan.
Dag dig dug suara detak jantung Vivian saat meninggalkan ruangan manager Kille,ia takut managernya itu memarahinya habis-habisan namun ia bersyukur sang manager hanya memasang wajah dinginnya yang begitu mematikan.
"Haahhh..."desah Vivian saat bertemu Karina,sahabat dekatnya diperusahaan StyLe tempatnya bekerja.
"Manager Kille seramnya minta ampun.Dan hampir saja aku kehilangan
oksigen ketika berhadapan dengannya.Bayangkan,dengan auranya saja
kita jadi mati layu."Cerita Vivian yang membuat Karina ikut mengiyakan.
"Haahhh..."Kali ini Karina yang mendesah,
"Beginilah nasib kita kalau menjadi bawahan,salah atau benar ya tetap salah"sedihnya.
Keduanya pun saling menatap,menumpahkan segala kegundahan yang melanda.
*************
Siang itu,suasana di perusahaan StyLe terlihat sibuk.Alih-alih perusahaan yang dihebohkan itu adalah perusahaan ternama LuX.
Dan perusahaan yang selalu diidam-idamkan itu merupakan keuntungan
besar bagi perusahaan kelas menengah apabila dapat bekerjasama,dan tentunya perusahaan StyLe lah salah satunya.
Tap..tap...tap....
Suara langkah kaki bergemuruh dilobi.Semua nya sibuk menyambut sang tamu penting.Tentu saja membuat histeris para pegawai wanita di perusahaan StyLe,takala pria yang diidam-idamkan muncul menampakan dirinya.
"OMG...tampan sekali?!Aku sampai tidak bisa berkata-kata.Beruntung sekali jika rejeki ada wanita biasa dapat bersanding dengan
pria setampan dan sehebat itu" Suara histeris sekumpulan wanita pekerja itu layaknya menyaksikan idol favorit mereka yang sedang perform.
"Aku mau banget.Coba jodohnya untuk ku saja"pinta wanita lainnya,sembari kegirangan ketika Hanz Alexandro mulai mendekati dan hendak melewati mereka.
Walaupun pria yang diperbincangkan hanya memasang wajah dinginnya saja.Tapi kekaguman mereka semakin bersinar.
Namun ada sebagian pegawai yang berpikir lain,
"Keberuntungan dia seperti itu,mana mau sama kita yang seperti ini."
"Tampan sih ia,tapi lihat wajah seramnya begitu mana tahan..."
"Dan dengar-dengar nih ya.Ada kabar,boss tampan itu tidak pernah sekalipun menanggalkan kacamata hitamnya di depan publik loh.Dibalik kacamatanya itu pasti tersimpan misteri yang menakutkan," bisik seseorang.
"Ada kabar kalau matanya cacat."
Semua orangpun saling bertukar pandang,ada yang mengiyakan dan ada
yang menyangkalnya.
"Husss...tidak usah menfitnah.Pria setampan dan sekaya itu mana mungkin cacat,setau aku wajarlah kalau beliau menggunakan kacamata untuk menjaga image nya.Kan kacamata branded itu sendiri
khusus dirancangan dari perusahaan optik terbesar mereka sendiri,
hitung-hitung promosi dan agar juga terlihat tampil keren... "ucap seseorang yang terpancing emosinya karena tidak terima dengan pendapat tersebut.
Suasana menjadi hening kembali.Tidak ada yang berani berkomentar,apalagi saat manager Kill melintas dihadapan mereka.Dengan sikap kelabakan mereka mengakhiri kekaguman maupun peseteruan yang terjadi.
Hanz Alexandro dan sekretarisnya Danian berjalan mengikuti manager Kille menuju ruang rapat.Dalam perjalanan manager Kill tidak hemti-hentinya mengagumi CEO Hanz yang muda namun berbakat.Apalagi sang CEO mudah diajak untuk berkomunikasi.
Tapi sayang sekali karena kekurangan hati-hatian,tanpa sengaja Hanz menabrak seseorang yang berada didepannya.
Bbrruuuuukkkkk...
Hanz dan orang yang ditabraknya itupun ikut terjatuh.Tatapan mata antara keduanya pun saling beradu ketika kacamata yang digunakan Hanz terlepas.
"Cantik..."ucap wanita itu mengagumi keindahan mata Hanz.
Hanz terkejut,merogoh kembali kacamata yang terlepas itu,bangkit berdiri
merapikan kemeja dan memasang kembali kacamatanya.
"Lancang sekali kau menatap mataku!"hardik Hanz kesal terhadap Vivian.
Vivian juga beranjak berdiri,terkejut mendengar pria itu membentaknya.
"Kamu..."Kesal Vivian tidak terima.
Namun belum sempat Vivian melontarkan kekesalannya,sang Manager Kille segera menengahi dan meminta maaf pada Boss Hanz,kemudian meminta sekertaris Hanz dan boss patner perusahaannya itu masuk keruang meeting terlebih dahulu.
Tentu saja Vivian tidak berkutik saat Manager Kille menatap tajam kearahnya,membuat Vivian menjadi ciut layaknya siulat bulu sedang meringkuk.
"Agch,kenapa hari ini aku sial sekali??"Jerit Vivian dalam hati,
"Sudah mau ditabrak dan hampir mati,eh ini ditabrak lagi sama manusia judes"keluhnya lagi.
Akan tetapj tiba-tiba Vivian menyadari sesuatu,
"Sepertinya aku pernah melihat warna mata itu??"pikirnya.
"Dimana ya???"
"Astaga,bukankah pria itu dengan pria yang tadi adalah orang yang sama yang hampir menabrak ku pagi tadi"jerit Vivian histeris.