Monster Eyes Are My Beautiful Eyes

Monster Eyes Are My Beautiful Eyes
18.Membalut luka




Rinai hujan pun nampak sunyi.Pertanda hujan telah berhenti.Namun suasana malam masihlah panjang.


"Ini sudah larut malam,sebaiknya kita pergi istirahat!"Ajak nenek Amira kepada cucu-cucunya maupun kepada Vivian.


"Baik,nek." Sahut Hanz.


"Baik,nenekku sayang."Roy pun ikut bersuara.


"Baiklah nenek.Selamat malam." Ucap Vivian menuruti.


Setiap langkah kaki mulai mengakhiri pertemuan tidak terduga tersebut.Menyisakan perpisahan akan sang malam.Menantikan kehangatan sang fajar.


Hanz dan Roypun kembali kekamar mereka masing-masing.Sedangkan Vivian,menunggu sang nenek Amira pergi dulu baru ia masuk kedalam kamarnya.


Sebelum nenek Amira kembali kekamarnya.Iapun dengan tegasnya memerintahkan kepala asisten rumah tangga yang sudah lama dalam mengurus permasalahan yang ada dirumah keluarga Smith tersebut untuk menyelesaikan kekacauan tersebut.


"Tuan Paul,tolong segera bereskan kekacauan yang ada ini ya!"


"Baik,nyonya besar." Sahut kepala Paul dengan hormat.Menerima perintah dari majikkannya itu dengan patuh.


Nenek Amira pun meninggalkan kepala asisten rumah tangga itu dan Vivian,kembali kekamar bawah.Lalu Danian pun menyusul nenek Amira dari belakang.


Kepala asisten rumah tangga,Paul,dengan sigapnya ia pun mulai membersihkan segala benda-benda yang berserakan bersamaan dengan beberapa anak buahnya.


Melihat demikian,Vivian bergegas memasuki kamarnya.Namun,langkahnya terhenti saat matanya mengamati bercak-bercak noda darah berceceran.


"Maaf tuan Paul,apakah anda sedang terluka??" Tanya Vivian yang tidak jadi memasuki kamarnya.Langkahnya terhenti seketika.


"Tidak,nona muda." Jawab tuan Paul dengan ekspresi bingung.


"Lalu darah apa ini???" Tanya Vivian untuk kedua kalinya karena penasaran.


"Sepertinya tuan muda Hanz terluka,nona." Ucap tuan Paul lalu menunjuk sumber jejak darah yang dimaksud.


Vivian yang mengikuti petunjuk jejak darah tersebut dengan seksama mengamati petunjuk yang diberikan tuan Paul.Darah yang berasal dan berakhir disebuah kamar lain dan tentunya kamar itu miliknya Hanz.


"Aahh,anda benar tuan Paul."


"Apakah tuan Paul ada menyimpan perlengkapan obat-obatan untuk luka?" Tanya Vivian.Perasaan khawatirnya kini mulai menghantui dirinya.



"Ooh,tentu nona." Jawabnya,lalu mengambil kotak obat dari laci meja yang tidak jauh dari tempat Vivian berada.


"Ini,nona."Serahnya.


Vivian pun mengambil kotak obat itu dari tangan tuan Paul.


"Terima kasih" Balas Vivian.Tersungging senyumnya yang ramah.


"Sama-sama,nona." Senyum Tuan Paul membalas Vivian.


Vivian pun melenggang meninggalkan tuan Paul,menuju kekamar Hanz.


**************❣❣❣*************


Hanz yang tiba didalam kamar,meringis menahan sakit.Langkahnya sedikit tertatih-tatih dan baru ia sadari ternyata kakinya terluka.Darah segar pun membasahi setiap lantainya yang putih itu.


Hanz menyadari karena kepanikannya tadi,ia melupakan untuk menggunakan alas kaki sama sekali.


"Aahh...kenapa aku seceroboh ini?" Gerutu Hanz.


Dengan susah payah ia mencari P3K yang ada didalam kamarnya,namun nihil tidak satupun tempat ia temukan.


"Sial!!!Kemana mereka menyimpannya?" Kesal Hanz.


"Ini semua berkat gadis aneh tersebut."Hanz menghela nafasnya yang tidak berat,"Bagaimana mungkin aku terlalu mengkhawatirkannya?Dan membuat diriku terlihat bodoh seperti ini." Protesnya tidak percaya.


"Agch,aku juga memeluknya begitu saja.Wanita ini bagaikan parasit yang tidak bisa lepas dariku."


"Haahh"


Helaan nafas Hanz terasa berat,saat menatapi lukanya begitu saja.Luka yang tidak ia sadari itu sedikit membuatnya meringis.Namun juga merasa sedikit tenang karena wanita tersebut terlihat baik-baik saja.


"Vivian,wanita seprti apa dia?Apakah dia adalah obat bagiku?" Lirih Hanz.


Hanz menyadari jika dunianya kini telah dipenuhi wanita tersebut.Perasaan dihatinya kini mulai terisi.Membalut luka dihatinya dengan perlahan.Bagaikan mantra sang dewi penyembuh.


"Apa yang aku pikirkan?" Keluhnya.


Dengan segera ia menggobati lukanya.Karena sudah larut malam,iapun urung untuk memanggil kepala Paul.Dengan perlengkapan seadanya ia mencoba melilit lukanya dengan seutas kain dan membersihkan darahnya dengan air bersih.Walaupun ia masih kesusahan,Hanz tetap mencoba mengobati lukanya tersebut.


Tok...tok..tokk...


Terdengar suara pintu diketuk.


Hanz mengerutkan keningnya.


"Siapa malam-malam begini mengetuk pintu kamarku?" Pikirnya.


Kegiatannya terhenti seketika,"Siapa?????" Tanya Hanz ketus.


"Ini,aku,Vivian." Jawab seseorang dari balik pintu.


Hanz tertegun,"Apa yang ia lakukan selarut ini?" Batinnya berbicara.


Hanz yang sejenak terdiam,menyadari ia membuat wanita tersebut menunggu jawabannya.


"Ada perlu apa???" Tanya Hanz penasaran.Ia yang masih duduk dipinggir ranjangnya enggan untuk berdiri dan membukakan pintu.


Dengan sabar Ia menanti jawaban wanita tersebut.


"Emmm- " Ragunya.


"Aku membawakan obat P3K,karena aku tahu kamu pasti terluka.Jika tidak diobati segera,takutnya nanti bisa infeksi." Ucap Vivian gugup.


Hanz terkejut.Vivian mengetahui ia sedang terluka.Hanz menyadari jika wanita dibalik pintu itu sedang mengkhawatirkan dirinya.


"Ini semua karena kamu,bodoh." Gerutu Hanz.Namun tersungging sebuah senyum bahagia."Itulah yang seharusnya kamu lakukan.Kamu harus bertanggung jawab." Ucapnya dalam hati.


Kkrreeeekkk...


pintu pun terbuka.


Dengan sangat hati-hati Vivian melangkah memasuki kamar Hanz.


Untuk ketiga kalinya ia masuk kekamar pria ini.Pertama kamar pribadinya diperusahaan LuX.Kedua di kamar tempat penginapan dan terakhir yaitu berada dikamar ini.


Tanpa disadari ia merasakan sudah terbiasa untuk berhadapan langsung dengan Hanz.Tempramen dingin namun memiliki hati yang hangat.Hanz yang dikagumi sejuta wanita didunia,telah menjadi satu-satunya pria yang membuat dirinya menggila.


Vivian mengamati sosok pria yang ingin ia temui itu.Pria itu tengah bersandar ditempat tidurnya.Vivian terkesima.Wajah meronanya mulai menjalar.Dan seketika pikiran nakal Vivian pun mencuat.


"Oh my God.Hanz,betapa seksinya dia." Pikir Vivian.


Naluri kewanitaannya membuatnya histeris kegirangan,"Pria yang terlahir tampan sejak bayi ya.. tetap tampan...biarpun posisi duduknya seperti apapun semakin terlihat seksi." Gumamnya dalam hati.


Otak nakalnya pun semakin liar,jiwanya seakan telah dilahap habis oleh pria yang ada dihadapannya itu.


"Bagaimana ini?Aku seakan ingin menggila."


Vivian menjadi tidak berdaya dengan pemandangan yang ada dihadapannya.


"Kenapa Hanz terlihat semakin bersinar?Bukankah tadi ia tidak seperti ini?"


"Apakah otak ku yang sedang bermasalah?Ataukah karena gayanya yang memikat itu?"


Didalam jiwanya,Vivian berusaha membunuh pemikiran yang semakin melekat.Namun tetap saja pikiran tersebut tidak bergeming dari imajinasinya.



Wanita tersebut telah berdiri dihadapannya.Hanz yang mengamati tingkah Vivian yang berdiri mematung namun memasang muka cengar-cengir itupun mulai mengerutkan keningnya kembali.


Dengan keras ia mulai melontarkan kekesalan berbicaranya,agar Vivian tersadar dari lamunan panjangnya tersebut.


"Sampai kapan kamu berdiri disitu??Bukankah ingin mengobati luka ku?"


"Jika tidak ada niat mengobati dan hanya memasang muka jelek mu itu saja.Lebih baik kembali saja kekamarmu" Tambahnya lagi.


Vivian yang terhipnotis dengan imajinasinya itupun tersadar mendengar penuturan Hanz.Menyadari jika pria yang dihadapannya itu bukan hanya tampan tetapi memiliki kepribadian yang buruk.


"Iya,iya..." Kesal Vivian lalu menghampiri Hanz.Duduk tepat disampingnya dengan segera.


Hanz pun menyodorkan kakinya yang terluka saat Vivian duduk dihadapan disebelah kakinya,dengan posisi tubuh saling berhadapan.


Vivian pun memeriksa kaki Hanz yang terluka,mirisnya Vivian jadi meringis melihat luka Hanz yang begitu banyak.Walaupun luka itu hanya berupa goresan-goresan dari benda tajam namun luka tersebut banyak mengeluarkan darah segar.


Dengan perlahan-lahan Vivian membersihkan luka-luka tersebut mengunakan alkohol,lalu mengoleskan obat antiseptik berupa Povidone Iodine (Betadine) dan kemudian menutupinya dengan pembalut luka (Wound Dressing).


Vivian nampak piawai dalam melakukannya,karena semenjak kuliah ia sering kali menjadi relawan tenaga medis apabila ada kegiatan dikampusnya.Jadi mengobati luka ringan bisa ia lakukan.


Hanz yang diobati Vivian hanya meringis menahan sakit karena perihnya alkohol.Wajahnya yang tampan itu dengan sekuat tenaga untuk tidak terlihat kesakitan.


Hanz mengagumi kepiawaian Vivian dalam mengobati luka,sekali-kali ia mengamati wajah serius Vivian.Wanita itu nampak cantik ketika dilihat dari dekat.


"Akhirnya sudah selesai." Ucap Vivian lega.


"Belum" Bantah Hanz menimpali.


"Eeh,dimana lagi???" Vivian menjadi bingung.


Hanz pun dengan segera menyerahkan pergelangan tangannya sebelah kiri.Dengan tenangnya ia membiarkan wanita yang dihadapannya itu mengamati lukanya dengan sedikit tidak percaya.


"kenapa banyak sekali lukanya???" Protes Vivian sembari membolak-balik tangan Hanz yang terluka itu.


"Kenapa dipergelangan tangan juga bisa terluka?" Tanyanya penasaran.


"Jangan-jangan dikepalamu juga terluka???Atau ditubuh mu juga." Cercanya sembari meraba dan memeriksa anggota tubuh yang lain.


Hanz pun risih karena bagian tubuhnya disentuh-sentuh oleh Vivian.Dengan refleknya ia pun menangkap kedua tangan yang nakal itu.


"Bisakah tangan mu ini,tidak menyentuh sembarangan bagian tubuhku?!" Pinta Hanz kesal.


"Jika tidak bisa kau hentikan.Jangan salahkan aku apabila aku balik menyerang mu." Ancam Hanz dengan liciknya.


"Asal kamu tau saja.Bukankah luka-luka ku ini,semua karena kamu."


"Ah,ia,maafkan aku.Maafkan jika semua ini karena aku." Ucap Vivian menyadari kecerobohannya itu.


Hanz pun melepaskan cengkeramnya dan membiarkan Vivian melanjutkan untuk merawat lukanya.


"Ugh,dasar pria menyebalkan.Siapa juga yang mau menyentuh tubuhmu ini.Padahalkan aku cuman punya niat baik.Kalau-kalau ada luka ditempat lain" Gerutu Vivian.Sembari tangannya sedang mengolesi obat ketangan Hanz dengan keras.


"Aawww..."Jerit Hanz kesakitan dan matanya pun menatap tajam kearah Vivian,"Apakah kamu sengaja ingin menyakitiku?"


"Maaf,maaf,aku tidak sengaja."Balas Vivian dengan cepat,takutnya Hanz akan memarahinya lagi.


"Pelan-pelan,bisakan?" Ucap Hanz kesal.


"Ia,ini sudah pelan-pelan ko." Sahut Vivian lembut.


Lalu,


"Sudah selesai",ucapnya lagi.


Hanz pun menarik tangannya yang dibalut itu,dengan ekspresi datar.Namun di dalam hatinya,ia pun puas dengan pengobatan Vivian.


Vivian yang menyadari sikap Hanz yang menyebalkan itu pun,bangkit berdiri."Lukanya sudah aku obatin,jadi aku balik kekamar dulu." Pinta Vivian berpamitan.


Namun dengan sikap acuhnya,Hanz mengiyakan dengan memberi kode dengan lambaian tangannya untuk segera pergi.


Vivianpun beranjak dari kamar Hanz dengan wajahnya yang merah karena kesal,"Sudah ditolongin,tidak berterima kasih pula,malah diusir." Runtuknya dalam hati.


"Ganteng-ganteng nyebelin.." Umpatnya keceplosan saat berada diluar kamar Hanz.


"Aku masih bisa dengar." Protes Hanz lantang dari kamar.


Mendengar perkataan Hanz,Vivianpun malu lalu berlari terbirit-birit meninggalkan kamar Hanz.


Hanz yang mendengar langkah lari Vivian pun hanya tersenyum puas,karena mengisengi Vivian yang sedang kesal.Walaupun ia sendiri tidak menyadari sikap kesal Vivian disebabkan oleh sikap buruknya sendiri.