
Dipenginapan🌇🌇,saat malam menjelang...
"Danian,tolong besok sediakan untuk ku EGS (Emergency Guide Stick)!!" Perintah Hanz dengan serius.
"Apa yang terjadi?? Kenapa tiba-tiba??" Tanya Danian gelisah.Ia menyadari ada sesuatu yang terlihat mendesak sehingga Hanz memintanya untuk menyediakan EGS miliknya,karena sudah lama sekali ia tidak pernah menyentuhnya dan itu berarti ia tidak pernah pulang.
"Aku ingin pulang." Akunya namun dengan tekanan suara yang sedikit ragu.
"Apakah kamu baik-baik saja?Kau tau jangan membuat ku takut.." Ucap Danian semakin khawatir.
"Tidak apa-apa.Aku pasti baik-baik saja."
"Baiklah,jika itu mau mu." Ucap Danian pasrah.
Danian tidak ingin banyak bertanya.Baginya ketika sahabatnya itu meminta pulang adalah sesuatu yang begitu mustahil namun kini terjadi.Dia ingat dan ia juga sering mengajak Hanz untuk pulang namun berjuta-juta kali Hanz menolak mentah-mentah ajakan tersebut.Dan kali ini,entah terbentur oleh apa,Hanz tiba-tiba dengan gamblangnya meminta untuk pulang,tentunya menjadikan sebuah tanda tanya besar bagi Danian.
Hanz hanya menatap nanar keluar jendela,ia mengabaikan wajah Danian yang penuh tanda tanya itu.Malam itu ia sengaja memanggil Danian kekamarnya hanya untuk menyuruhnya menyediakan EGSnya.Dia tidak tahu dengan tindakannya ini,apakah semuanya akan baik-baik begitu saja.
Purple eye color,mengisyaratkan kesedihan itu kembali.Hanz terbenam dalam lamunannya yang panjang.Napasnya terasa berat,ada kesesakan didalamnya.
Dalam cakrawala malam yang memamerkan sang rembulan terlihatlah begitu indah,namun keindahan itu nampak suram dimatanya.
Siulan-siulan malam menyanyikan gema pengantar tidurnya.Namun tidak dapat menarik dijiwanya.Hanz masih terjaga dari tidur yang panjang.Kegelisahan terus menyelimuti hatinya.Namun tetap ia sematkan dalam kesunyian.
****************&****************
Vivian baru saja mengerjapkan matanya,udara pagi menerobos masuk kedalam kamarnya.Bukan kamarnya melainkan salah satu kamar milik keluarga Smith.
Ia dan Roy menginap dirumah besar itu.Moment langka itu merupakan hadiah kecil dari pekerjaan yang sudah selesai dan berakhir menjadi sebuah liburan singkat.Vivian dengan penuh antusias menikmati liburannya kali ini.
Dengan langkah santai Vivian keluar dari persembunyian yang nyaman. Menyelusuri setiap lorong bangunan dilantai dua,dan tangannya mulai menyentuh bingkai-bingkai foto keluarga yang terpajang.
Sebuah foto keluarga yang begitu bahagia terlukis didalamnya.Dan tentu saja Vivian bisa menebak,siapa-siapa saja yang berada disana.Hangat, itulah yang digambarkan Vivian,menilik keluarga yang begitu harmonis.
Lalu Vivian tersenyum melihat dua pria bocah yang saling merangkul dengan bahagianya.Hanz dan Roy terlihat mengemaskan,wajah mereka terlihat bersinar.
"Tampan sejak lahir."Kagum Vivian dalam hati.
Senyumnya semakin merekah saat dirinya tidak henti-hentinya takjub akan potret tersebut.Tanpa disadarinya ia menyentuh salah satu wajah bocah tersebut.
"Matanya terlalu indah untuk dipandang.Cantik sekali." Gumam Vivian.
"Itu kakak Hanz." Ucap Roy dari belakang Vivian.
Vivian sedikit terkejut adanya kehadiran Roy yang begitu tiba-tiba.Namun dengan ekspresi datar membalas perkataan Roy.
"Aaahh" Jawab Vivian singkat,tanpa diberitahu ia juga dapat mengenali sosok bocah tersebut.
"Kamu berpikir mata kakak Hanz cantik bukan.Heterochmia complete,Hanz terlahir dengan warna iris mata yang dapat berubah-ubah sewaktu-waktu.Karena keistimewaannya ini sebagian orang yang menyadari berpikir dia aneh."
Vivian terdiam.
"Akan tetapi jangan salah,dulu semua orang juga banyak menyukainya.Keistimewaannya itulah menjadikan kakakku sangat spesial.Bahkan aku adiknya saja,merasa iri."
Vivian terheran,"Kenapa?"
Roy tersenyum,"Selain matanya karena kakakku sangatlah cerdas.Apakah kamu tidak tahu?Kakak ku sudah menjalankan bisnis diusia belia."
Vivian tertawa karena tidak percaya,"Mana mungkin?!" Bantah Vivian.
"Aku serius."Balas Roy meyakinkan.
"Saat berusia 5 tahun,kakak sudah membantu ayah bekerja diperusahaan.Walaupun tidak terlibat langsung,akantetapi kakak selalu memberikan ide-ide berlian untuk ayah.Dan tentu saja,ayah menuruti idenya tersebut."
"Apakah nona tidak menyadari awal mula ada nya lensa mata tanpa ganggangnya itu adalah idenya kakak?Ia begitu risih karena warna matanya selalu dipertanyakan orang."
"Ah,benar.Dan salah satunya aku." Cengir Vivian tersipu malu.
"Parahnya lagi aku pernah menyebut kakakmu itu adalah Vampir." Aku Vivian.
Roy dengan lepasnya tertawa,"Benarkah??"
"Hmm.Dan parahnya,kakakmu sengaja melakukannya padaku."
"Hahaha,tidak salah lagi.Ekspresi ketakutanmu waktu itu terlihat sangat jelas."Goda Roy.
"Sialan kamu,Roy."Runtuk Vivian kesal karena malu.
"Tenang saja,kakak tidak akan memakan mu,HAHAHA.."Ledek Roy.
"Kamu..!"
Vivian mendaratkan pukulan kecilnya kepunggung Roy.Gadis imut itu tidak henti-hentinya menyerang Roy dengan berapi-api.
"Hahaha,maaf."
Roy berusaha menenangkan pukulan nakal Vivian.Setelah terkendali,Roy mulai melanjutkan kembali ceritanya.
"Tapi asal lady Vivian tahu saja,selain membantu ayah diperusahaan.Kakak Hanz itu dulu adalah model cilik yang sangat dikagumi."
"Benarkah?!Hmm,tidak salah juga karena Hanz benar-benar terlahir memiliki wajah bak malaikat dan mata yang indah.Dia sangat-sangat tampan."Oceh Vivian bersemangat.
"Ya,ya,aku tahu."Ucap Roy mengalah akan antusiasme Vivian.Karena ketampanannya dikalahkan oleh tipe wanita tersebut.
Vivian terkekeh,melihat ekspresi Roy karena ketampanannya diduakan.
Sebab Roy memiliki warna mata pada umumnya yaitu kecoklatan.Mewarisi gen milik mata neneknya Amira.
Sedangkan Hanz memiliki warna mata aurora.Mata aurora Hanz merupakan warna mata yang jarang sekali ditemukan,dan warna mata milik Hanz perpaduan dari warna mata ibunya yang biru dan ayahnya yang hijau.
Namun semenjak kejadian 15 tahun yang lalu, warna mata Hanz mengalami perubahan yang begitu drastis layaknya bunglon yang berganti warna apabila ditempatkan pada tempat yang berbeda-beda.Dan warna aurora yang ia miliki,semenjak itu menghilang.
"Kau tahu,aku merindukan kakak Hanz yang dulu.Kakak yang ceria dan hangat,seorang kakak yang bahagia."Ucap Roy bersedih.
Tatapannya memudar.Rasa kepedulian akan saudara kandungnya sendiri membuat Roy tidak berdaya.Kesedihannya tersirat begitu jelas.
Vivian hanya terdiam.Matanya tetap tidak lepas mengamati gambar-gambar yang terpajang itu penuh kenangan.Sekali-kali ia mengamati Roy penuh prihatin.
"Aku harap semua itu dapat terwujud "Balas Vivian.
"Hmm.Semoga."
"Dan semoga dapat terwujud dengan segera."Ucap Roy dengan senyuman manisnya.
Puas dengan cerita-cerita kehidupan masa silam,Roypun mengajak Vivian mengelilingi seisi rumah.Dan keduanya pun melakukan touring singkat.
**********&**********
Hari menjelang sore🌅🌅
Di kediaman keluarga Smith,tepatnya diperkarangan halaman depan.
Roy dan Vivian sedang menikmati acara perjamuan yang disiapkan oleh sang nenek.
Masakan, makanan yang disediakan maupun yang dihidangkan oleh para pelayan tersajikan dengan sempurna.Pesta kebun sederhana ala keluarga Smith,kini telah diadakan.
Nenek Amira sengaja mengadakan pesta kecil-kecilan tersebut karena menyambut kedatangan cucunya yang tersayang. Sang nenek terlihat bahagia,untuk pertama kalinya rumah itu tampak hidup kembali karena kehadiran cucunya tersebut.
"Nenek,apa yang sedang nenek pikirkan???Coba nenek cicipi masakan buatan aku dan Vivian." Ucap Roy sembari menyodorkan hidangan itu dimeja tepat dihadapan sang nenek.
"Tanpaknya makanan ini lezat sekali."Tambahnya.Dan dengan lahap nenek mulai mencicipi hidangannya.
Roy senang karena nenek menyukai makanan yang ia sajikan.Ditambah lagi adanya kehadiran Vivian yang memeriahkan suasana.
Roy sedikit tersentuh saat melihat senyum Vivian yang merekah dan gelak tawa yang menggelegar itu,perasaan dimana ia sangat menyukainya.Walaupun rasa suka itu bukan miliknya.
Vivian menatap Roy dengan curiga.Namun tatapan itu ditepis Roy dengan sebuah senyuman,yang membuat Vivian menjadi salah tingkah.
Bruummmmm.......
Sebuah mobil hitam muncul dan terparkir didepan halaman.Semuapun memandang kearah sumber suara dan menanti siapa pemilik sang mobil tersebut.Seseorang yang dikenalpun keluar dari dalam mobil,Danian.
Danian yang dipandangi hanya melambai dari jauh,sembari menebarkan senyuman.
"Jika kakak Danian datang kemari.Mungkinkah kakak Hanz juga datang?" Gumam Roy.
Mendengar penuturan Roy,jantung nenek Amira pun mulai berdebar.Penantian yang selama ini ia rasakan,kini adakah harapan?
"Benarkah??" Tanya Amira tidak yakin.
Sang nenek dengan mata berbinar-binarnya terus memandang kearah mobil.Dan tanpa sengaja ia merangkul tangan Vivian dengan erat.Berharap kegundahannya kini terjawab,menanti cucunya itu keluar dari dalam mobil.
Dan benar saja Hanz keluar dari dalam mobil ketika Danian telah membukakan pintu mobil untuknya.
Nenek Amirapun sangat bahagia,melihat cucunya Hanz telah kembali pulang.
Vivian yang merasakan kebahagiaan sang nenek pun menjadi senang.Pertaruhannya dengan Roy kini terjawab sudah.
Dari kejauhan Hanz tampak memukau seperti matahari yang bersinar,cerah.Namun,ada yang berbeda dari Hanz,pria tersebut berjalan menggunakan sebuah tongkat yang ia pegang.Tongkat yang biasa digunakan pada penderita tunanetra.Dengan langkah yang dituntun,Hanz melangkah dengan hati-hati menghampiri neneknya.
"Nenek apa kabar??" Sapa Hanz.
Hanz dengan pakaian kasualnya dan tetap dengan ciri khasnya memakai kacamata hitam itu,kini berdiri tepat dihadapan neneknya.
Aroma perkarangan didepan rumahnya kini terasa dipancaindera penciumannya.Hanz samar-samar dapat merasakan kepulangannya dalam memori ingatannya.Hanz menahan semuanya.Kaki panjangnya terasa bergetar namun tetap ia tegakkan.
"Nenek baik-baik saja."Sahut nenek Amira sembari mengusap wajah Hanz dengan perasaan rindu dan sedih.
Nenek Amira merasakan pilu karena Hanz masih tetap sama,tidak ada perubahan jika ia pulang kerumah.
Dalam diamnya,ia berusaha menyambut cucunya itu dengan hangat."Entah sampai kapan kamu menyiksa dirimu seperti ini cucuku?" Batin sang nenek menangis.
"Syukurlah jika nenek baik-baik saja." Balas Hanz bahagia,tersungging senyum manis disudut bibirnya.Senyuman yang ia buat agar neneknya dapat bahagia.
"Hhmm." Balas nenek singkat,mencoba menahan isak tangisnya.Ia tidak ingin suara tangisnya sampai terdengar oleh cucunya itu.
Lain halnya Vivian yang berada disamping nenek Amira.Ia mulai sedikit kebingungan dengan apa yang ia lihat.Pikirannya sedikit kurang memahami apa yang terjadi,setahunya CEO Hanz bisa melihat dan buka berjalan menggunakan tongkat layaknya orang buta .
"Keluarga Smith terlalu banyak misteri."Pikir Vivian.
Namun,tetap saja hatinya terpanah memandang pria yang ada dihadapannya,"Hanz begitu memikat." Gumam Vivian dalam hati dan deguban jantungnyapun mulai berpacu cepat.
"Apakah Hanz pulang itu karena aku?Ah,tidak mungkin."Batin Vivian beragumen.Dengan wajah merona,Vivian menepiskan harapan semunya itu.
Roy yang mengetahui ekspresi Vivian hanya menebarkan senyum.Lalu,dengan samar-samar membisikkan sesuatu ketelinga Vivian.
"Pengaruh Lady sungguh besar."
Vivian yang mendengar semakin menyemu malu.
**********&************
ðŸ•
Senja pun mulai berganti malam.Temaram-temaram lampu mulai mendomisili menerangi gelapnya hari.Cuaca sedikit berangin dan langit pun tidak nampak,hanya awan gelap yang menutupi.Karena cuaca tidak bersahabat,acara makan malam pun dialihkan keruang makan didalam rumah.
Suasana tampak tenang dihadapan meja makan,hanya terdengar irisan daging yang disayat pisau atau hentakan garpu dan sendok yang saling beradu menjerat mangsanya.
"Nenek senang kita dapat berkumpul kembali." Ucap nenek disela-sela santapan makan malam.
"Iya,nenek benar.Rasanya sudah lama sekali kita tidak berkumpul dirumah ini." Sambung Roy menimpali perkataan sang nenek.
Hanz hanya terdiam.Matanya yang terpejam itu hanya menjadi pendengar sejati.Dalam keuletannya ia menikmati makan malamnya dengan tenang.
Sedangkan Vivian yang sibuk dengan makanannya,tidak lepas mencuri-curi pandang menatap Hanz yang ada didepannya.Dalam keheranannya,ia menggagumi pria aneh dihadapannya itu.
"Bagaimana bisa ia makan sambil terpejam begitu?" Pikir Vivian.
"Seperti sudah terlatih saja."
Vivian yang terlalu fokus dengan pengamatannya,mengabaikan sebuah perbincangan antara Roy dan Amira.
"Apalagi ada pacar kakak Hanz disini,Vivian." Lanjut Roy,penuh kemenangan.
Sontak Hanz dan Vivian terbatuk secara bersamaan.Keduanya dikejutkan dengan perkataan nakal Roy yang sepihak.
Danian yang berada diantara mereka pun ikut terkejut.Menatap Hanz dan Vivian penuh tanda tanya dan tidak mengerti apa yang terjadi.Namun,merasakan kebahagiaan yang tiba-tiba.
"Wah,benarkah?" Ucap Danian tidak percaya.
Namun,belum sempat ia melanjutkan pertanyaannya.Sebuah injakkan kaki mendarat dengan mulusnya mengenai kakinya.Danian terdiam seketika.
Hanz yang tanpa bersuara,mencoba memberi peringatan kepada Danian yang ada disebelahnya untuk tidak memperkeruh suasana.
Lain halnya sang nenek,ia hanya tertawa melihat kekompakan cucunya dengan Vivian yang ia anggap sebagai calon masa depan cucunya itu.
Vivian tertunduk malu,dengan wajah merona ia menyembunyikan perasaannya.Dan beruntungnya Hanz tidak dapat melihat ekspresinya sekarang.
"Dasar Roy keparat!!" Umpat Vivian dalam hati.
Hanz yang terbatuk tadi menghentikan acara makannya,dengan ekspresi datar ia bangkit berdiri.Menyudahi santapan malamnya.Perasaannya sedikit kacau.
"Maaf,nek.Aku sudah kenyang,mau balik kekamar dulu." Pinta Hanz berpamitan.
"Hmm,baiklah."
"Apa perlu ku bantu?"Tanya Danian.
"Tidak usah.Kamu lanjutkan saja makannya." Balas Hanz sembari mengambil tongkatnya lalu meninggalkan meja makan.
Danian yang tidak berkutik hanya menurut,sedangkan Roy merasakan khawatir akan sikapnya.
Dengan langkah perlahan Hanz menaiki lantai dua menjauhi perjamuan makan malam itu.Dengan hati-hati juga ia menaiki setiap titian anak tangga tersebut.Walaupun kadang kala dalam setiap langkahnya,Hanz mengalami sedikit kendala.Tersandung ataupun menabrak sebuah benda disekitarnya yang tanpa sengaja mengenai setiap langkahnya.Karena sudah terlalu lama ia tidak menelusuri seisi rumah tersebut.Akan tetapi beruntungnya Hanz memilik daya ingat yang kuat dan tajam,jadi masih hafal seluk beluk posisi dan arah yang ia tuju dalam memori ingatannya yang dulu.
Sepeninggalan Hanz,Vivian merasakan sedikit perasaan kecewa dengan sikap Hanz yang begitu dingin."Bagaimana mungkin ia dapat menyukai ku dan berharap aku ini adalah pacarnya?"Pikir Vivian,menghela napas panjang.
"Astaga!!Bodohnya aku.Kenapa otak ku ini?" Batin Vivian frustasi.Dengan kesalnya ia melanjutkan kembali menyantap makanannya yang terjeda.
Hanz yang sudah berada didalam kamar mencoba menenangkan degub jantungnya.Ia hampir saja tidak percaya,dengan lelucon adiknya itu.Namun wajahnya sedikit memanas memikirkan ucapan adiknya tadi,"Dasar bodoh,ternyata aku tertipu." Runtuk Hanz.
"Aku tertipu oleh permainan kecilnya.Dasar adik kecil yang usil!"
"Bisa-bisanya aku termakan dengan ucapannya itu."
"Dan lagi,apa yang sebenarnya kupikirkan?" Hela Hanz tidak percaya akan dirinya sendiri.
"Bagaimana mungkin hanya karena wanita itu,aku berpikiran sempit seperti ini?"
"Pacar?Astaga!!Hanz ,ada apa dengan mu?"
Hanz menutup wajahnya dengan kedua tangannya,melepaskan beban tubuhnya ditempat tidur yang nyaman.Dengan lelah ia mengakhiri pemikirannya yang semeraut itu.