
Perlahan-lahan Vivian membuka matanya,disekujur tubuhnya terasa berat dan seakan semua tulang-tulang terlepas dari rangkanya.Ia memperhatikan sekitar,tapi tidak satupun yang ia kenal dan semuanya terlihat asing.
Vivian beranjak dari tempat tidur,perasaan campur aduk mulai menyelimuti pikirannya.Ruangan yang ia tempati sekarang membuatnya bingung.
"Dimana aku????"
"Bagaimana aku bisa berada disini?????" pikirnya.
Vivian mengingat-ingat kembali apa yang baru saja terjadi,dan ingatannya membuatnya terperangah.
"Astaga..." gumamnya.
Terakhir Vivian menyadari kalau tubuhnya terjatuh tidak berdaya dalam pelukkan Hanz.Dengan berpikir cepat,Vivian ingin meninggalkan ruangan tersebut.
"Ternyata anda sudah sadar." Ucap seseorang dari balik pintu.
Vivian terkejut dan menoleh kesumber suara.Dan niatnya itupun mendadak terhenti.
"Siapa anda???" Namun Vivian teringat sesuatu,pria yang ada dihadapannya pernah ia lihat disuatu tempat.
"Aghh.Anda sipenyelinap tempo hari." Terka Vivian,sembari menunjuk sang pria yang ada didepannya.
"Woow,tunggu sebentar..." Cegahnya,"Kapan aku menyelinap???" Sang pria sedikit bingung dengan ocehan sigadis.
"Anda pria yang memakai topi dan jaket hitam.Mengendap-ngendap disamping taman perusahaan LuX"
"Saat itu aku melihatmu diatas balkon."
Sang pria berpikir sejenak,"Aah waktu itu." Sang priapun tersenyum.
"Waah ingatan nona sangat jeli juga."
"Tapi anda lupa bukankah kita tadi juga sudah berjumpa?!" tambahnya lagi.Dengan lincahnya ia menirukan gerakan Vivian yang pingsan.
"Eehhh.."Vivian terkejut tak percaya.Dan iapun menyadarinya.
"Aahh ia.Benar,diruangan CEO."
Saat Vivian menyebutkan sang CEO,iapun menyadari ada sesuatu yang membuatnya ganjil,"Dimanakah sang CEO???" pikirnya.
"Dan siapakah pria tampan yang ada dihadapanku ini??"
Semua pertanyaan membuatnya bergumul dan memperhatikan dengan seksama sang pria.
Dilain sisi,Roy mengamati setiap detail sang wanita itu juga.Wanita itu terlihat biasa saja,namun mempesona.
Roy memikirkan seperti apa wanita yang membuat kakaknya ini mendadak berubah sikap.Sampai-sampai kakaknya terlihat khawatir seperti itu, ia sangat penasaran.
Roy dengan santainya mulai memperkenalkan diri.
"Namaku,Roy."
Dengan sedikit ragu Vivian membalas uluran tangan itu.
"Eeemm...Namaku Vivian."
Seketika Roy merasakan kehangatan yang terpancar.
Roy menarik tangan Vivian lalu memeluknya.
"Aaaahh,bagaimana kakak ku bisa begitu terpengaruh terhadapmu" bisiknya.
"Kakak" pikirnya.
Dan ia menyadari Hanz dan Roy memiliki kemiripan. "Jadi mereka saudara."
Vivian yang terkejut dengan pelukkan itu sedikit memberontak.
"Aku tidak mempengaruhi siapa-siapa." Tegasnya.Vivian berusaha mendorong Roy yang membuatnya sedikit tidak nyaman.
Roy tertawa sembari melepaskan dekapannya.
"Ternyata kakakku suka dengan sikap yang pemberontak,dan itu cukup manis dan meyakinkan." Cercahnya.
"Eeehh.." Vivian tidak mengerti apa yang dikatakan Roy.
Dengan santainya Roy memegang kedua pundak Vivian,dengan berkaca-kaca ia menatap matanya.
"Aku sangat menyukaimu,Lady.."
Vivian mematung,ketika apa yang ia dengar seolah-olah begitu tiba-tiba.
Napasnya seakan terhenti sejenak dan jantungnya menjadi tidak karuan,Vivian tersipu.Wajahnya sedikit merona.Pria yang dihadapannya terang-terangan bilang "suka" dan mereka baru saja bertemu.Vivian semakin tidak mengerti.
Sebelum meninggalkan Vivian yang mematung,Roy menyampaikan pesan kakaknya tadi.
"Pesan kakak kalau kamu sudah sadar,boleh pulang.Dan ia juga bilang,kalau kamu selamat kali ini."Ucapnya dengan penuh semangat sembari melambaikan tangan meninggalkan Vivian begitu saja.
Namun sebelum langkahnya berhasil meninggalkan pintu kamar.Roy pun menghentikan langkahnya dan teringat akan sesuatu yang hampir saja ia lupakan.
"Oh ia,sebelum pergi - -" Roy menatap Vivian dengan iba.
"Ada peringatan dari ka Hanz," Lanjutnya."Jangan lupa kamar privat ka Hanz dirapikan kembali.Jika ada sedikit noda debu sekalipun maka kamu tidak akan selamat." Kedipnya,mengakhiri pesan tersebut.
Roypun pergi meninggalkan Vivian yang membisu.
Dengan sedikit keusilannya ia menyadari wanita yang dihadapinya sangat menarik.
"Wanita yang polos."Gumam Roy.
"Sangat mudah diperalat." Lanjutnya dengan senyuman kebanggaan.
"Dan pastinya akan menjadi lebih menarik." Batinnya berbicara.
Dan Roy pun menghilang dari balik pintu, meninggalkan Vivian sendirian.
Suasana kamar kembali sunyi.Vivian terduduk kembali diatas tempat tidur.Dengan kesalnya ia berteriak,"DASAR...IBLIS...."Runtuknya .
******
Dengan sedikit gontai,Vivian memasuki perkarangan.Ia lalu duduk diteras depan rumah,menikmati setiap udara yang melegakan bebannya.Suara-suara kicauan burung terdengar riang,
"Betapa bebasnya mereka."Gumam Vivian.
"Kakak,sudah pulang???" Sapa Alena sembari duduk didekat kakaknya.
"Ia,baru saja."
Vivian membelai rambut panjang adik kesayangannya.
Keduanya pun terdiam dalam kesunyian masing-masing.Sebuah kenangan terlintas dipikiran mereka.Kenangan yang cukup berharga.
"Kak,aku rindu sekali dengan ayah." Sedihnya.
"Apakah kakak juga sangat merindukan ayah?Ayah selalu merawat kebun kita,dan itu semua sangat cantik."
Vivian memeluk adik kesayangannya,kesedihannya tidak ia perlihatkan.
"Ia,kakak sangat-sangat merindukan ayah."Bisiknya.
Kenangan terhadap sesosok ayah sangat melekat dihati Vivian.Orang tua yang selalu ia banggakan,kini sangatlah dirindukannya.Tanpa terasa segulir air mata menetes begitu saja.Tanpa suara isakkan hanya setetes embun yang mulai bertaburan.
Kenangan dimana keluarga kecil mereka dapat berkumpul bersama.Memberikan kehangatan dan kebahagiaan yang sempurna.
"Ayah sangat menyayangi kalian.Jadilah kebanggaan ayah,gadis-gadis cantikku." Senyumnya sembari merangkul keluarga kecilnya itu.
"Ia ayah.Aku sayang ayah juga.Terimakasih sudah menjadi ayah kami yang hebat."Balas Vivian.
Raut wajah pria itu terlihat berbinar,melihat putri-putrinya tumbuh dan sangat menyayanginya.
"Jaga ibu mu baik-baik.Jangan membuat ibu mu lelah,kalian mengerti..."Pesannya dengan nada letih.
Tak terasa airmata Vivian menetes membasahi pipinya.Pesan terakhir dari ayahnya masih ia ingat sampai sekarang.Ayah yang selalu menjadi sosok yang ia banggakan.
"Kenapa ayah cepat sekali dipanggil Tuhan."tanya Alena membuyarkan lamunannya.
Vivian terdiam.Suaranya terasa berat untuk menjawab pertanyaan Alena,adik kecilnya itu.Ia tidak tau harus berkata apa.Karena dirinya juga,merasakan pergumulan tersebut.
"Karena Tuhan sangat sayang ayah."Jawab Vivian.
"Tapi,alena juga sangat sayang ayah."Ucap Alena lagi.
Vivian terdiam.
Ia tau semua berlalu dan terjadi begitu dengan cepatnya.Ayahnya menderita kanker darah dan itu sangat menyakitkan.Dan ia sedih bila mengingat penderitaan ayahnya yang begitu gigih untuk sembuh tapi Tuhan memanggilnya dan menghentikan semua penderitaan itu.
Vivian terpuruk ketika ayahnya telah tiada,tapi ia harus tegar karena ibu dan adiknya membutuhkan dirinya.
"Gadis-gadisku..Hari mulai gelap,cepat masuk!" Pinta ibunya yang muncul dari balik pintu.
Keduanya yang terhanyut dalam kenangan masa lalu pun tersadarkan dengan kejutan suara khas ibunya.
"Ia,bu." Sahut keduanya bersamaan.
Seutas senyum mulai mewarnai.
Vivian dan Alena berlari berhamburan memeluk ibu mereka.
"Astaga..Kalian berdua ini?!"Keluh bu Ambar,mendapati serangan tiba-tiba kedua anaknya.
Dengan wajah gundahnya.Sang ibu pun membalas memeluk erat kedua anaknya itu.Lalu membawa keduanya memasuki rumah kecil mereka.
*******
Drrrrrrttttt.
Suara getar ponsel berbunyi tanda ada pesan baru.
Vivian yang sedang bersantai di kamarnya pun dikejutkan oleh berita mendadak tersebut.
"Di beritahukan : Sesi pemotretan selanjutnya outdoor dan dilakukan diluar kota,diadakan selama 3 hari.Diinfokan kepada seluruh kru yang terlibat untuk mempersiapkan keperluaan yang dibutuhkan.Dan besok berangkat pukul 06.30,berkumpul diperusahaan LuX.Jika terlambat harus menyusul dengan transport sendiri.Terimakasih."
"Oh My Good"
Dengan terburu-burunya Vivian mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa.Semua pakaian dan perlengkapan yang dibutuhkan ia masukkan kedalam koper.Jadwal yang mendadak,membuatnya sedikit kesal.
"Mau ibu bantu."Suara ibu Ambar ketika berada dikamar Vivian.
"Tidak usah,bu.Vivian bukan anak kecil lagi.Vivian bisa mengerjakan sendiri." Senyum Vivian membalas ucapan ibunya.
Mendengar ucapan anaknya,bu Ambar pun terdiam.Hanya terduduk diam diatas tempat tidur,memperhatikan kesibukkan anaknya.
"Jaga kesehatan,didaerah pegunungankan cuacanya dingin." Nasehatnya.
"Jangan lupa bawa baju hangat."
"Ia,ibu bawel."Balas Vivian.
Vivian menghampiri ibunya lalu memeluk bundanya tercinta.
Ibunya pun membelai rambut Vivian dengan penuh kasih.
"Mudah-mudahan anak ibu dapat jodoh disana."
"Yeee,ibu.." Ejeknya tersipu malu.
"Semoga saja ya,bu.Siapa tau dapat pangeran tampan."
"Amin."
Dan merekapun tertawa bersama.
Ambar mengkhawatirkan anaknya,karena belum pernah ia melihat anaknya itu membawa pria dekat dengannya kerumah.Vivian terlalu fokus dengan pekerjaannya sehingga lupa dengan kebahagiaannya sendiri.
"Hhh" Desah bu Ambar.
"Bagaimana pun ibu tidak melarang mu dekat dengan seseorang?" Nasehat ibunya lagi.
"Belum kepikiran,bu.Apalagi belum ada yang sreeeekkk dihati.Kalaupun ada,toh orangnya beda jauh."
"Siapa dia?" Tanya ibu Ambar penasaran.
"Aahh,ibu...Bukan siapa-siapa ko." Vivian tersipu malu dan hampir saja dia keceplosan.Masa lalu yang membuatnya terlalu berharap dan kini telah tersakiti.
Dan ibu Ambar pun hanya menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum.
"Ya,sudah.Cepat istirahat karena besok kamukan berangkat." Perintah ibu Ambar lalu meninggalkan anaknya setelah melepaskan ciuman hangat kekening Vivian.
"Ia,makasih ibu".