
💗💗Song : BTS Jungkook- Still with You💗💗
***************💓💓💓💓****************
Zzrrrssshhhhh....
⛈⛈⛈⛈⛈⛈
Suara hujan terdengar begitu nyaringnya,ditambah lagi suara guntur yang menggelegar dengan cahaya kilatan sang petir dan udara malam semakin terasa dingin.Suasana malam sangat mencekam.Apalagi malam ini entah kenapa rumah keluarga Smith nampak begitu mengerikan,dan terasa sunyi.
Dag dig dug....
Suara jantung Vivian tidak menentu,pikirannya menerawang entah kemana.
Kamar besar yang ia diami sekarang tampak menyeramkan.Sialnya baru saja ia sedang berchat ria dengan sahabatnya,Karina.Yang membuat Vivian takut adalah sahabat dekatnya itu dengan iseng menakut-nakutinya.
"Vi,beneran kamu nginap dirumahnya Roy supermodel itu???" Tanya Karina kepo.Jiwa penasarannya kini mulai menjalar disanubarinya.Karina merasakan jika sahabatnya itu akan mendapatkan sebuah cerita menarik dihidupnya."Cinderella" sebuah pemikiran yang tersemat dipikirannya.Karina menyunggingkan senyumnya dari balik telepon menanti balasan dari sang sahabat.
"Iaa..." Jawab Vivian singkat,sembari mengatur posisi tidurnya.
Karina pun semakin bersemangat membaca pesan dari Vivian.
"Benarkah?"
"Hmm,Iaaa.."Lagi-lagi Vivian menjawab singkat.
"Dan asal kamu tau saja Karin,ternyata Roy itu adalah adik kandungnya Ceo Hanz."
"Apa!!"
"Tapi,tidak salah juga karena mereka terlihat mirip.Hanya saja berita besar ini kenapa disembunyikan ya?"
"Entahlah?!Tapi ini rahasia kita berdua saja,okay."
"Okay"
"Ceo Hanz dan Roy,bagaikan pinang dibelah dua.Ketampanan dan bakat mereka berdua benar-benar ternyata dari gen yang sama."
"Tentu saja."
Vivian tidak menyadari jika sahabatnya itu bagaikan seorang reporter yang haus akan berita.Dengan tenangnya Vivian hanya membalas Seadanya pertanyaan sahabatnya itu.Walaupun dihatinya mulai merasakan pengaruh yang besar.Hati yang berbunga-bunga.
"Astaga,Tuhan.Kamu beruntung banget ya,Vi.Bisa di ajak oleh pria tertampan.Apalagi bisa diundang dan sekaligus nginep bareng dirumahnya."
"Tapi,apakah Ceo Hanz tidak keberatan jika adiknya membawa kamu ketempat tinggalnya?"
"Yhh,bagaimana lagi karena aku dipaksa sama Roy sitengil itu?"
Vivian kesal,"Dan kamu tau tidak?!Ceo Hanz hanya diam saja melihat diriku diseret oleh adiknya itu.Bagaimana mungkin aku bisa menolak jika adiknya itu membawa ku begitu saja." Pesan teks Vivian terdengar pasrah.
"Tapi,aku juga tidak menyangka jika ia juga kembali pulang kerumah ini padahal- ."
Vivian menghentikan ketikannya dan menyadari ia tidak boleh menceritakan tentang pria tersebut.
"Kenapa??Apa yang terjadi??" Karina mulai mengirimkan pesan suaranya.
"Tidak kenapa-kenapa." Balas Vivian dengan VMnya karena jemarinya mulai lelah mengetik
"Benarkah?"
"Hmm"
"Oh,ia,ternyata Roy dan Ceo Hanz punya seorang nenek yang cantik."
Vivian mengalihkan semua ceritanya itu dengan cerita lain dan dengan perasaan bangga ia menceritakan orang penting lainnya yang berada dikediaman keluarga Smith tersebut.
"Beliau sangatlah ramah.Aku menjadi merasa senang berada disini."
"Oohh,irinya." Jawab Karina.
"Seandainya aku yang dipaksa, dengan suka rela aku senang banget hahaha...."Ucapnya berharap.
"Ye maunya..." Cibir Vivian ikut tertawa mendengar penuturan sahabatnya itu.
"Agh,rugi sekali aku ga ikut kamu,Vi." Ucap Karina dengan nada menyesal.
"Kamu sih pake alasan cuti liburan." Balas Vivian meledek.
"HaHhh,kamu tau sendirikan lama sekali aku tidak jumpa dengan orangtuaku." Balasnya dari seberang.
"Hmm,ia aku tau."
Karina memang hidup sendiri dikota tempat ia bekerja,Karina merupakan wanita karir yang suka hidup mandiri.Kedua orangtuanya tidak menentang apa yang dia lakukan.Karina adalah sahabat pertama Vivian selama bekerja diperusahaan StyLe.
"Ngomong-ngomong bermalam dirumah pria tampan ada sesuatu yang menarikkah?Cepat ceritakan padaku."Ucap Karina bersemangat.
Terdengar suara helaan napas Vivian.
"Terlalu banyak cerita menarik." Balas Vivian enggan merespon sahabatnya itu,"Nanti aku ceritakan setelah aku balik pulang dari sini."
"Yach,tidak seru.."Karina sedikit kecewa.
"Janji,ya.Aku tunggu ceritamu saat kita nanti berjumpa kembali." Pintanya.
"Hhmmm" Balas Vivian singkat.
"Bagaimana cuaca disitu??" Tanya Vivian mengalihkan topik pembicaraan.
"Kamu taukan disini masih terang benderang." Balas Karina.
"Oh ia,aku lupa kalau kamu masih diParis hahaha...." Vivian sadar karena perbedaan waktu dan tempat.
"Yeee...."Ledek Karina."Memangnya disitu kenapa???"
"Disini hujan,sudah gitu aku sendirian nih dikamar.Apalagi kamarnya luas dan sebesar apartemen milikmu.Mungkin aku masih belum terbiasa disini." Adu Vivian."Kamu tau kan kalau aku orangnya sedikit penakut."
"Hahaha..."
Karina tertawa lepas,dengan bercanda ia mulai mengoda Vivian,"Mau aku temanikah?Tapi,akunya kan lagi disini-jauh banget dari kamu,Vi."
"Hhh"
Suara Vivian terdengar lirih.
"Kenapa tidak kamu panggil saja,pria-pria tampan buat temani kamu?" Goda Karina."CEO Hanz atau Roy yang ganteng itu."
"Jangan bercanda ah,bukannya menghibur eh malah ngeledekin aku terus nih." Kesal Vivian.
"Aduduh,maaf deh.Terus maunya apa??" Tanya Karina.
"Tau ah..." Ucap Vivian ngambek.
"Yeee,ngambek nih ceritanya.Yaudah nanti aku bantu deh,kirimin vidio-vidio lucu buat kamu supaya tidak takut-takut lagi." Hibur Karina.
Vivian tersenyum mendengar chat Karina yang sedikit menghibur.Walaupun hujan masih deras-derasnya diluar menerpa dikegelapan malam.
Namun,JLLeeeeppppppbb....
Seketika itu juga listrik padam.
Disusul sebuah pesan masuk dari Karina.Kiriman vidio dari Karina terpampang dilayar ponsel.
Disaat yang bersamaan Vivian mulai ketakutan akan kegelapan dan perasaan panik mulai menghantuinya.Alhasil,tanpa disadari ia menekan layar ponsel untuk mendapat penerangan.Sialnya,karena ketakutan jari jemarinya malah menekan play vidio yang dikirim sahabatnya itu.Vidio yang dikirim Karina bukanlah vidio lucu melainkan vidio horor.
"Àaà aaaaaaaaaaaaaaa..........." Sontak Vivian menjerit ketakutan dengan refleks hpnya pun terlempar jauh.
Ddduuuuuaaaaaarrrrr......
Suara petir menggelegar.Dan lagi-lagi Vivian kembali menjerit ketakutan,
"Aaaaaaaaaaaaaaaaa............"
Teriaknya yang kedua kalinya membuatnya harus meringkuk didalam selimut untuk bersembunyi karena terkejut dan ketakutan.
"Karina,kamu benar-benar menyebalkan." Runtuk Vivian,kekesalannya membuatnya hampir menangis dalam kesendirian.
"Semoga lampunya segera menyala-" Ucapnya lirih.
"Semoga seseorang segera datang.Aku takut.." Pintanya lagi.
***************🖤🖤🖤🖤************
Dilain sisi,Hanz tampak terlihat buruk .Didalam kamar nya ia mulai mengeluarkan kata-kata yang samar,dirinya yang sedang tertidur mulai mengigau,berbicara ngelantur yang tidak jelas.Jiwanya tertarik terbawa kesuasana yang kelam.Diantara sebuah mimpi dan nyata.
"Mamah...Papah..."Suara Hanz terdengar serak dan berat.
Tubuh dewasanya mendadak menjadi anak-anak.Kakinya bergetar,karena takut.Didalam ruangan yang samar-samar itu,Hanz kecil terus mencari kedua orang tuannya.
Ia gelisah mendapati ruangan yang begitu sunyi, hanya kegelapan yang terlukiskan dan suara hujan yang ia dengar.Menghiasi perjalanan malamnya yang panjang.
Napasnya terasa berat,pandangannya sedikit kacau karena air mata.Ia sungguh-sungguh merasakan ketakutan dan tidak berdaya.Kesendirian dalam kegelapan.
Ruangan demi ruangan ia jelajahi.Akan tetapi yang ia dapati tetaplah sama, kosong.
Lagi-lagi suaranya terdengar bergetir," Pah...Mah....dimana kalian???" Tanyanya.Namun hanya kesunyianlah jawabannya.
"Hah..hah..."Sesaknya.Hanz merasakan perih didadanya.Sebuah benda seakan telah menancap lekat di hatinya.
Hanz terus berjalan dan langkah kakinya semakin berat.Matanya terus mencari kesetiap sudut ruangan.
Dan langkahnya terhenti sejenak,saat matanya menangkap sesuatu yang mencurigakan.Dalam temaram minimnya pencahayaan, Hanz menatap lantai yang basah.Baunya seperti familiar dan sangat menyengat, Hanz tau itu adalah bau darah.Lalu ia mencoba mengikuti sumber darah tersebut dan menemukan sesosok tubuh wanita tergeletak diruang tamu.Yach,ia mengenali sosok tersebut yang tidak lain adalah ibunya.
Hanz yang terpaku dengan peristiwa yang terjadi ,hanya terdiam melihat yang tidak seharusnya ia lihat.Aurora eyes atau mata pelangi itu kini terlihat kelam,tengelam bersama fakta yang baru saja ia hadapi.Dan tubuhnya kini terduduk lemah didekat tubuh dingin tersebut.Hanz tidak berdaya.
Tangannya yang bergetar mulai menyentuh tubuh ibunya yang berdarah,tidak ada pergerakan.Hanz mencoba menggoncang-goncang tubuh ibunya agar bangun namun tetap saja tubuh itu tetap sama,diam.
Hanz menumpahkan tangisannya menangis sejadi -jadinya sampai samar-samar ia mendengar suara rintihan yang tak jauh dari dirinya,suara pria yang sekarat.Hanz mengenali suara itu.Dengan segera ia mencarinya dan benar saja ia mengenali suara rintihan itu yang tidak lain adalah ayahnya sendiri.
Hanz mendekati ayahnya yang tergeletak bersandar disamping sofa dan tubuhnya bersimbah darah.Dengan panik ia memeluk ayahnya yang sekarat,air matanya semakin berlinang,ia tidak tau harus berbuat apa.
"C-pat..per-gi dari si-ni Han-zs.."
Suara ayah Hanz terdengar lirih namun jelas.Akan tetapi ucapannya yang terputus itu tidak Hanz pedulikan.Karena baginya saat ini yang ia pikirkan adalah harus menolong ayahnya segera.
Tangan dingin itu berusaha meyakinkan anaknya untuk segera beranjak pergi.Matanya yang terlihat sayu nan pucat itu mencoba mengisyaratkan supaya Hanz menjauh dari tempat itu segera.
Namun celakanya seseorang bertubuh besar dan tegap itu kini telah berdiri tepat dihadapan Hanz.Lalu sebuah benda runcing berpelor tersebut menyentuh dahinya yang basah.Dan,
Dooooorrrŕŕrrr..........
Semuanya pun buyar.
Hanz terbangun.Matanya terbuka dan mendapati suasana kamarnya gelap layaknya mimpi yang baru saja ia alami,dan Hanz menyadari ada sesuatu yang salah.Ya,suasana itu seperti dejavu.
Hanz mencoba mengatur nafas nya yang sedikit sesak.Kepalanya mulai berdenyut dan terasa sakit,perasaan panik akan kegelapan seperti sekarang kini kembali menghantuinya.
Hanz yang masih terbaring diatas tempat tidurnya,kini terduduk diam.Tubuhnya mulai bergetir,sebuah gejolak akan memori lamanya mulai tersikap perlahan.Hanz merasakan kesakitan yang teramat sakit.Air matanya secara perlahan mengalir deras,tanpa isakkan.
Hanz yang menyadari akan dirinya,dengan segera ia mencoba mencari ponselnya.Namun sialnya ponsel itu tidak kunjung ia temukan.
Dalam rintihannya Hanz mencoba terus mencari namun tetap saja nihil.Akan tetapi pencariannya terhenti karena samar-samar ia mendengar seseorang berteriak,dan ia menyadari suara teriakan itu berasal dari kamar sebelah yang ditempati oleh Vivian.Namun ia tidak yakin.
Dan sekali lagi ia mendengar teriakan itu dengan jelas.
"Benar-benar suara wanita itu.Vivian." Batin Hanz panik.
Ingatan akan masa lalu membuatnya melupakan akan kegelapan.Dihatinya,ia tidak ingin terulang kembali kejadian tersebut.Ia tidak ingin terlambat lagi.
Hanz beranjak dari tempat tidurnya,handphone dan tongkatnya ia abaikan.Rasa paniknya mengalahkan rasa sakitnya,ia khawatir Vivian mengalami hal buruk.Hal buruk yang pernah menimpa kedua orangtuanya.
Dengan segera ia meninggalkan kamarnya,namun karena suasana gelap,ia selalu menabrak benda yang ada dihadapannya.Hanz tidak peduli dengan benda yang ia tabrak itu.
Praaannnggggkkk....
Sebuah vas bunga terjatuh dari tempatnya,suasana sedikit gaduh.
Tapi Hanz tidak memperdulikan,pikirannya fokus kesumber suara.Dengan tertatih-tatih Hanz akhirnya mencapai ganggang pintu kamar milik Vivian,dan untungnya pintu tersebut tidak terkunci.
Sunyi dan gelap,itulah pertama kali Hanz dapati didalam kamar Vivian.
"Vivian,apa kau baik-baik saja???"Teriak Hanz panik dalam kegelapan,suaranya terdengar khawatir.Ia abaikan keselamatan dirinya hanya untuk wanita tersebut.
"Vivian..."Panggilnya lagi dalam keputusasaan berharap wanita tersebut dapat ia temui.
Mendengar suara knop pintu terbuka.
Vivian menyadari ada seseorang yang datang lalu memanggil namanya dan ia mengenali suara itu,Hanz.Dengan segera ia keluar dari persembunyian nyamannya yaitu selimut, menghampiri si sumber suara.
"Hanz.."Sahut Vivian dengan segera.Perasaan takutnya kini terselamatkan.
Takkkk,
Lampu menyala kembali.
Tiba-tiba seseorang berlari dan merangkul tubuh Hanz.
"Hanz,aku takut sekali.." Isak Vivian pecah.
"Aku senang kamu datang."Ucapnya lirih tanpa melepaskan pelukkannya yang erat.Perasaan nyaman kini ia rasakan ditubuh pria tersebut.
"Jangan takut.Ada aku.." Balas Hanz lega,dan dekapannya juga ia eratkan untuk melindungi wanitanya.
"Apakah kamu baik-baik saja???" Tanya Hanz lirih,nada suara yang cemas ia lontarkan.
Vivian hanya menggangguk,lalu "Aku baik-baik saja."
Ucapnya.Tangisannya pun mulai terhenti,karena ia kini tidak sendirian lagi.
Dengan erat Hanz membalas pelukkan Vivian,ada rasa lega didalam hatinya.
"Syukurlah",ucapnya tenang.