Monster Eyes Are My Beautiful Eyes

Monster Eyes Are My Beautiful Eyes
27.Melamarmu



***Rumah Vivian***



Bu Ambar menatap anaknya penuh selidik,semua pertanyaan terlintas dipikirannya dengan mengintimidasi, ia mengharapkan anaknya itu menceritakan semua padanya.


"Bu,maaf..",rengek Vivian terhadap ibunya,tingkah lucunya membuatnya tidak bisa memarahi bayi besarnya itu.


"Hahhhh,kau ini..selalu membuat ibu khawatir.Apa yang terjadi??Semalam seorang pria menelpon ibu kalau kamu menginap ditempatnya???Dan siapa dua pria yang ada diruang tamu kita???",cerocos ibu Ambar.


Vivian mengalihkan pandangannya mengamati kedua pria yang ibunya maksud dan mengabaikan sejenak deretan pertanyaan ibunya.Vivian mengaduk-ngaduk minuman dimeja dapur seraya memikirkan kata-kata yang tepat untuk ibunya,perasaannya sedikit gundah bukan karena ia khawatir ibunya tidak menyetujui keinginannya akan tetapi ia takut ibunya terlalu berharap tinggi dan kecewa nanti.


"Mmm..emmm...mmm",ragu Vivian,ia atur perasaannya senyaman mungkin.


"Bu,jangan kaget ya...",ucap Vivian menghentikan kegiatannya lalu menatap kearah ibunya yang sibuk menyiapkan makanan.


"Apa..",balas ibu Ambar hati-hati dengan ucapannya agar Vivian mulai angkat bicara dan sedikit terbuka padanya.


"Ada yang mau melamar Vivian tunangan,bu",ucap Vivian akhirnya.


"Apa...",ucap ibu Ambar terkejut,suaranya terdengar nyaring.


"Sssstttt,jangan keras-keras teriaknya bu",pinta Vivian menenangkan.


"Vivian malu kalau kedengaran mereka",celutuk Vivian kesal.


Karena tak ada hujan maupun badai,sang ibu hanya bingung dengan pemberitaan Vivian yang tiba-tiba,namun tertawa geli melihat ekspresi Vivian yang malu-malu.


Masalahnya adalah anak perempuannya ini tidak pernah mengenalkan atau mengajak pria ke rumah mereka selama Vivian meniti karir dalam bekerja.Pikiran ibu Ambar pun beroleh ke hal yang mencurigakan kepada putrinya itu.


"Apakah kamu hamil nak??",tanya sang ibu membolak-balik tubuh Vivian dengan penasaran.


"Ya engga lah ibu",bantah Vivian kesal.


"Vivian dipinang tuk tunangan bukannya menikah".


"Oh,iya ya,hahaha....Hahh,syukurlah",lega sang ibu.


"Diantara kedua pria didepan,trus yang mana pria yang mau ngelamar kamu???",goda sang ibu.


"Soalnya ibu lihat,pria-prianya ganteng semua.Tapi,yang ibu heran kenapa tuh satu anak masih pake kacamata hitam didalam rumah,apa tunanetra ya nak??atau lagi matanya bengkak???atau habis berduka??".


Vivian terkekeh mendengar ocehan ibunya yang aneh-aneh.


"Ibu ini,pikirannya kemana-mana.Namanya Hanz Alexandro,bu.Dan dia memang seperti itu kalau ditempat umum tapi matanya baik-baik saja.Malahan matanya sangat indah ,bu".


"Apa tidak masalah seperti itu???Ibu sih tidak keberatan dia pakai kacamata yang biasa orang pakai kalau matanya plus minus tapi ini kacamatanya warna hitam,jelas sajakan ibu jadi bertanya-tanya.Kalau dirumah kita ibu tidak masalah namun ditempat lain bagaimana",ucap bu Ambar khawatir.


"Dia seperti itu menurut ku keren loh,bu",ucap Vivian dengan senyum sumringahnya."Ada alasan tertentu membuatnya seperti itu,bu".


"Oh begitu..",jawab bu Ambar seolah mengerti.


"Sepertinya anak ibu ini benar-benar sedang kasmaran",goda bu Ambar.


"Hmm,jangan-jangan nak Hanz ya yang mau melamar kamu...??",tanya ibu Ambar.


Dengan malu-malu Vivian menggangguk.


"Hmmm,ibu suka jika anak ibu bahagia...ya sudah jangan lama-lama didapur,kasihan tuh calon menantu ibu menunggu lama".


"Haha,ibu bisa saja",jawab Vivian malu-malu.



Diruang tamu Hanz tampak gelisah,jantungnya menjadi tidak karuan.Entah kenapa setibanya dirumah Vivian,ia tidak nampak berbicara banyak hanya saja gerakan tubuhnya yang berbicara karena gusar.Untuk pertama kalinya,ia bertamu kerumah wanita yang akan segera menjadi tunangannya.


Hanz mencoba menenangkan pikiran dan hatinya dengan mengalihkan pandangannya mengamati seisi rumah Vivian.


"Sederhana,namun nyaman",gumam Hanz.


Danian pun tidak kalah gugupnya,bagaimana pun juga dirinya sekarang adalah wali Hanz.Sebagai juru bicara yang baik ia harus mempersiapkan dirinya sebaik mungkin agar pertemuan kali ini sesuai dengan yang dikehendaki.


"Haahh",desah Danian.


"Kenapa kamu??",tanya Hanz menatap sahabatnya itu penasaran.


"Kamu yang lamaran,kenapa aku yang parno ya???",ucap Danian gelisah.


"Padahal berhadapan langsung dengan klien ngga seperti ini juga",adunya.


Hanz tertawa,dirinya yang gugup tadi tiba-tiba berangsur-angsur menghilang,mimik wajahnya terlihat memukau saat dirinya tidak tahan melihat tingkah laku sahabatnya itu,Danian.


"Apa yang kalian tertawakan",tanya Vivian tiba-tiba,sembari membawa nampan berisikan minuman dan cemilan ringan.


Hanz menghentikan tawanya mendapati Vivian menghampiri mereka.


"Mana,bunda??",tanya Hanz.


Vivian mengerutkan keningnya saat mendengar perkataan Hanz,nampan yang ia bawa ia letakan dihadapan ke dua pria itu.Dengan santainya ia pun duduk berhadapan diantara Hanz dan Danian setelah menuangkan minuman kesetiap masing-masing gelas.


"Ibu,sebentar lagi kemari",ucap Vivian.


"Oohh",jawab Hanz singkat dengan wajah datarnya.


Tidak beberapa selang menit,bu Ambar pun muncul dengan senyuman manis dipipinya.Wajahnya masih terlihat segar walaupun usianya semakin menua.


"Maaf ya,lama menunggu",ucap bu Ambar ramah.


"Tidak apa-apa,bunda",ucap Hanz sembari bangkit dari tempat duduknya,menyambut kehadiran sang calon mertua.


"Saya,Hanz Alexandro.Maaf telah lancang bertamu dan mengganggu aktivitas bunda".


"Saya,Ambar,ibunda Vivian",balas bu Ambar sembari menepuk pundak Hanz dengan lembut,menandakan bahwa ia menerima kehadiran Hanz.


Walaupun aura Hanz dingin,ibu Ambar dapat merasakan Hanz orang yang baik.


"Hallo,bunda",sapa Danian ramah.


"Saya,Danian El Crushz.Teman dekat Hanz dan Vivian".


"Salam kenal juga",balas bu Ambar senang karena mendapati tamu Vivian yang begitu ramah dan sopan.


"Bunda senang..karena ada yang bertamu kerumah ini,dan Vivian jarang sekali mengajak temannya.Ia terlalu sibuk bekerja",adu bu Ambar bercerita.


Yang menjadi sumber tokoh yang diceritakan,Vivian hanya tersipu malu.


"Wah,sepertinya nanti ada yang akan sering kesini,bun",goda Danian.


"Benarkah??Bunda sangat senang mendengarnya",ucap bu Ambar.


"Tapi,bukan aku tentunya,bun.Melainkan Hanz calon mantu ibu",cerocos Danian mengoda.


"Uhuukkk".


Hanz terbatuk saat menyerumput minuman buatan Vivian,dan itu sedikit panas membuatnya menghentikan minumannya.Hanz ingin menyampaikan niat awalnya secara perlahan-lahan,namun sudah diumbar oleh Danian terlebih dahulu.Mau tidak mau akhirnya ia harus jujur dan memberanikan diri sebaik mungkin.


"Dasar danian,lama-kelamaan sifatnya seperti Roy,lihat saja nanti saat pulang..",umpat Hanz dalam hati.


Danian yang mengerti suasana dan sikap Hanz,hanya menggumbarkan senyum, terdiam dan sedikit memberi kode untuk Hanz,"Maaf".Namun Hanz ternyata mengabaikannya dengan kesal.


"Gawat...",batin Danian.


"Hmm,maaf telah lancang bunda,saya dan teman saya kesini untuk meminta ijin bunda",pinta Hanz,ia tidak ingin melepaskan kesempatannya.


"Ya,tidak apa-apa.Memangnya nak Hanz minta ijin apa dengan bunda???",tanya bu Ambar pura-pura tidak tahu tujuan Hanz.


"Saya minta ijin untuk mendekati dan melamar secara resmi Vivian,bunda.Mungkin ini terkesan mendadak dan tidak sopan,namun saya benar-benar tulus untuk mempererat hubungan kami.Saya telah jatuh hati pada anak ibunda,ia begitu melekat dihati saya pada pandangan pertama",ucap Hanz dengan wajah seriusnya.


Vivian yang mendengar penuturan Hanz,hatinya sesaat benar-benar tidak berdaya.Lalu,bunda Ambar pun mengumbar senyumnya menatap Vivian yang ada disampingnya,merengkuh tangan Vivian dengan hangat.


"Jika nak Hanz serius,bunda tidak masalah.Tapi,semua itu tergantung dengan anak bunda yang satu ini,apakah ia bersedia atau tidak.Lalu,bunda hanya berharap keseriusan nak Hanz dapat membahagiakan putri berharga bunda ini".


Hanz menatap Vivian dan pandangan mereka saling beradu penun makna.


"Mungkin aku tidak bisa meyakinkannya bunda,namun sebisa mungkin aku akan membahagiakan Vivian,bun",ucap Hanz.


"Dan aku memohon doa restunya,karena sekarang orang tua yang aku punya hanya bunda".


Seketika senyum manis bunda Ambar berubah menjadi sedih.


"Kenapa seperti itu,kemana kedua orangtua mu???",tanya bu Ambar penasaran.


"Mereka meninggal dunia,bun",ucap Hanz singkat,tersirat kesedihan didalamnya walaupun dibalik kacamata hitamnya yang menutupi.


Mendengar penuturan Hanz,ia tidak ingin bertanya lebih jauh.


"Bunda turut bersedih,namun bunda bisa merasakan jika kedua orang tua mu masih hidup mereka pasti bangga memiliki anak seperti mu yang tumbuh dengan baik sekarang",ucap bu Ambar menenangkan.


Hanz terdiam,matanya berkaca-kaca,perasaannya sedikit lega dan terobati hanya mendengar ucapan dari ibunya Vivian.Kerinduannya terhadap orang tuannya tersematkan pada sosok wanita paruh baya didepannya itu.Hanz dapat meresapi setiap tutur kata lemah lembut ucapan bunda Ambar,yang mengingatkannya pada ibunda tercintanya.


"Dan sekarang,kamu bisa anggap bunda ini seperti bunda mu juga",ucap bu Ambar.


"Terima kasih bunda",jawab Hanz tenang dan bahagia.


"Hhmmm,sepertinya aku akan tersaingi",celutuk Vivian.


"Hayyooo,ada yang merajuk hahaha....",goda bu Ambar.


Dan semua pun tertawa bahagia.