Monster Eyes Are My Beautiful Eyes

Monster Eyes Are My Beautiful Eyes
30.Circle Of Heart




Mata adalah bayangan yang nyata,mewarnai semua yang akan diceritakan.Apakah itu,hitam,abu-abu,coklat,merah,biru,hijau,ungu maupun warna-warna yang mungkin kita tidak menyadarinya.Perasaan yang terpancar,menunjukkan diri kita yang sebenarnya,maka tataplah dengan kedua mata mu dengan sepenuh hati,lalu bicarakan dan sampaikan.'Bahwa aku melihat dirimu dari balik mata indahmu....'


*************


"Apa yang baru saja kamu katakan???",tanya Hanz menyadarkan Vivian.


Wajah Hanz yang begitu penasaran hanya menanti jawaban wanita yang ada dihadapannya itu.


Hanz mendengar sekilas apa yang diucapkan Vivian,namun tetap saja tidak terucap begitu jelas.Rasa penasarannya begitu mendalam,karena ia yakin yang diucapkan Vivian tadi sesuatu yang begitu penting.Hanya saja konsentrasinya teralih saat seseorang tiba-tiba menelpon keponselnya.


"Mmm,bukan apa-apa...aku cuman bilang kalau aku sangat menyukai hidangannya".


Dengan sedikit kesal,Vivian mengoyak-ngoyak makanannya dengan pisau dan garpu lalu mengunyahnya dengan cepat.Perasaan kecewa karena Hanz tidak menyimak ucapannya.


"Ugh,nyebelin",runtuk Vivian dalam hati.


"Syukurlah,jika kamu benar-benar menyukainya.


Hanz memperlihatkan wajah mempesonanya mengamati dan memandangi wanitanya yang begitu lahap menikmati hindangan.


"Mulai besok,kamu harus mau tinggal bersama aku sesuai isi kontrak yang telah dibuat",ucap Hanz tanpa menyadari reaksi sang wanita yang sedikit muram.


"Uhuk-uhukkk....".


Vivian terbatuk,wajahnya yang kesal berubah menjadi rasa terkejut dan juga malu.Karena Hanz tiba-tiba menyinggung tentang sebuah kontrak perjanjian sebelumnya.


"Yaaa,aku belum memutuskan.Apalagi dirimu belum melamarku secara resmi",bantah Vivian mencoba mencari alasan,ia tidak ingin terlalu gegabah mengambil sebuah keputusan.


"Hahh,kamu ini jadi wanita terlalu ribet ...",celutuk Hanz.


"Harus donk seperti didrama-drama romantis kan seperti itu",goda Vivian tidak mau kalah berargumen.


Walaupun Vivian tahu ini adalah sekedar sebuah permintaan yang sederhana,namun ia ingin mengingat moment yang palsu itu seperti nyata.


Hanz yang mengerti maksud Vivian pun,seketika menjentikkan jarinya memberi kode kepada pelayan restoran.


Ttaakkkk...


Seketika lampu padam.


"Aghh,kenapa mati lampu...",suara Vivian terdengar sedikit panik.


Namun tidak menunggu waktu yang lama lampupun menyala kembali.


Suasana kembali terang menerangi,Vivian yang merasa lega pun seketika mencari sosok pria diseberang meja yang mendadak tidak ada.Dan mendapati Hanz telah berjongkok di sampingnya.


"Astaga,apa yang kamu lakukan disini",ucap Vivian terkejut.


Hanz lalu merogoh sesuatu disaku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil yang cantik.


"Bagaimana pria ini bisa secepat itu mengabulkan permintaan ku",batin Vivian.



"Izinkan aku untuk malam ini,menyampaikan niat terindah yang kumiliki... Bersediakah,nona Vivian menjadi kekasihku,pendamping hidupku,susah maupun senang.Jika nona Vivian mengatakan IA maka terimalah cincin sederhana ini sebagai pemikat diantara kita dan bukti ketulusanku untuk melamar kekasih yang sudah mengikat hatiku sepenuhnya".


Hanz menarik napas yang dalam saat ia sudah berhasil menyampikan niatnya.Jantungnya berpacu cepat,dengan kegelisahan ia menunggu jawaban dari Vivian.Dan dia menyadari,sikapnya sekarang benar-benar di luar pemikirannya.


Sontak Vivian yang mendengar penuturan Hanz,menyemukan wajahnya bak mawar merah yang merekah.Gemerlap gemerlip bintang dihati bertaburan memancarkan kemeriahan yang tidak terhingga.


Dag dig dug...


Vivian tidak dapat berpikir realistis namun hatinya pun menyambut ajakan tersebut.


"Ya,aku bersedia",ucapnya spontan.


Hanz yang mendengar balasan Vivian hanya tersenyum,"Hah,wanita ini benar-benar lucu",batinnya.


Dengan perlahan ia menyematkan sebuah cincin sederhana kejemari tangan cantik Vivian.Dan tentu saja cincin itu pas dijemarinya.


Hanz bernafas lega karena tidak sia-sia ia memesankan cincin dari seorang desainer ternama yang tidak lain adalah teman bisnisnya,walaupun ia harus merogoh uang kecil untuk memesan cincin berlian tersebut.


Apalagi waktu yang digunakan pun sesingkat itu,dan tentunya membuat temannya mengomelinya sepanjang waktu.


"Tapi,buat kamu tentu saja aku tidak pernah menolak.Semoga calon tunangan mu suka".



"Cantik..",ucap Hanz.


"Dan tentunya yang memakainya juga tak kalah lebih cantik.. ".


Hanz mengagumi Kecantikan Vivian malam itu yang terlihat manis dan imut.


Reflek saja tangan Vivian mendaratkan pukulan kecilnya kebahu Hanz,"Jangan terlalu banyak menggombal",celutuk Vivian malu-malu.


Hanz terkejut akan serangan tiba-tiba tersebut.


"Haahh,bukan nya dapat pelukkan eh malah dipukul..",ucap Hanz meringis kesakitan sembari bangkit berdiri.


Cuupp....


Serangan tiba-tiba pun berhasil tersematkan dengan sempurna.


Sebuah ciuman mendarat dipipi Hanz ketika Vivian berhasil menarik lengan Hanz yang hampir berlalu dari hadapannya.


Hanz terpaku ditempatnya saat tubuhnya berhasil dikuasai oleh Vivian.


Wanita yang dihadapannya ini mendadak membuatnya tidak dapat berkutik.


Lagi-lagi jantungnya menjadi tidak karuan.


"Maaf...",ucap Vivian lirih,ia tidak berani menatap Hanz.


Namun dugaannya salah,Hanz tidak menyahut permintaan maafnya.


"Apa kamu baik-baik saja",tanya Vivian saat melihat Hanz yang terpaku tanpa ada respon sama sekali.Matanya menatap dengan nanar seakan ada yang salah nan kosong.


"Hei,Hanz...Apa kamu baik-baik saja???",ucap Vivian sedikit panik,ada rasa bersalah hinggap dihatinya karena perbuatan konyolnya tadi.


"Haahh".


Tiba-tiba Hanz menghela napasnya,lalu memandangi Vivian dengan tatapan yang linglung.Ia menyadari ada yang salah dengan dirinya.


"Aku rasa kamu benar-benar wanita licik,mencari kesempatan didalam kesempitan",ucap Hanz lirih.


Ia tidak ingin dipermainkan begitu saja,dengan wajah mengodanya ia pun memancing kekesalan Vivian.Namun,jujur saja ia tidak tahan dengan sikap wanita yang ada dihadapannya itu.


"Yyaa,kamu benar-benar ny..b...",teriak Vivian kesal namun belum habis ia ucapkan kata-katanya,Hanz sudah menarik tubuhnya.


Hanz mendaratkan ciuman hangatnya.mengeratkan cengkramannya ketengkuk Vivian.Perlahan-lahan namun pasti ia berhasil menguasai bibir manis Vivian.



Ciuman itu terus membasahi bibir merekah Vivian,nafas nya tersekat karena ******* Hanz.Entah apa yang merasuki pria yang dihadapannya ini yang begitu mendomisili miliknya.Vivian tidak mampu menolak yang ada sikap Hanz membuat pikiran jernihnya tercemar .


Hanz menghentikan aksinya lalu memandangi lagi wanita yang ada dihadapannya ini dengan tatapan penuh arti.Bola matanya memancarkan kemenangan dan keindahan,dengan menyunggingkan senyum manisnya,ia menghapus noda yang telah ia buat dengan jari-jari nakalnya.


Vivian pun tidak kalah menatapi pria yang dihadapannya ini,


gejolak hatinya semakin membara.Namun tidak bisa memberontak.


"Aku antar kamu pulang...",ajak Hanz yang dibalas anggukkan setuju Vivian.


****************


Disebuah bar,duduk seorang wanita cantik.Wajah dan tubuhnya memikat pria yang sedang memandang.Tidak henti-hentinya ia memutar-mutar botol whisky lalu menuangkannya memenuhi gelas kosong yang ingin minta diisi.


Ekspresinya sedikit gundah,menanti seseorang yang telah ia hubungi tadi via telepon.Pikirannya hanya dipenuhi dengan pria yang ia cintai,ia tidak ingin harapannya itu pupus sebelum ia benar-benar bisa mendapatkan pria itu seutuhnya.


Ddrreettt...


Suara bangku digeser,dan seorang pria telah duduk disampingnya.


"Hanz,kamu sudah datang.....".