Monster Eyes Are My Beautiful Eyes

Monster Eyes Are My Beautiful Eyes
19.HisteRia



Pagi sudah menampakkan sinarnya dengan moleknya,tarian-tarian kecil bergelut memperagakan eloknya selendang sutra dibalik jendela yang diterpa angin nakal.


Vivian mengerjap matanya yang masih mengantuk karena sebagian waktunya telah habis terkuras untuk melayani tuan Hanz yang menyebalkan.


Dengan langkah beratnya,iapun menepis selimut mewahnya itu.Hari ini adalah hari terakhirnya menikmati peran sebagai putri dikastil yang ia idam-idamkan.Vivian berharap waktu berputar dengan sangat lambatnya.


Namun,harapan itu hanyalah sebuah harapan.


Vivian pun melangkahkan kakinya menuju balkon,udara yang terhirup terasa menyegarkan.Dengan leluasanya ia merenggangkan otot-ototnya yang kaku.


Namun saat ia berbalik arah menatap sisi kanan balkonnya.Vivian tersedak dan tersedaknya bukan dikarenakan minuman melainkan tersedak karena terkejut.


Seseorang dengan gagahnya berdiri diterpa sinar mentari .Tubuhnya yang memikat itu,mampu menarik aroura yang begitu indahnya.Tangannya sibuk mencekram pembatas pagar.Vivian terpana.


Jarak balkon antara satu dengan yang lainnya memang menyatu namun memiliki kamar yang terpisah.



Pria yang ia lihat membuat napas nya tercekat.Pemandangan itu sungguh langka untuk diungkapkan dengan kata-kata.Pipinya merona,detak jantung berpacu dengan cepat.Tanpa disadari hidung nya pun mengalir dan mengeluarkan darah segar.


Vivian yang merasa hidungnya meler itupun dengan segera menghapusnya.


"Yaakh...!!"Teriak Vivian.


"Bisakah dirimu tidak terlalu mengumbar tubuh indah milik mu itu padaku!" Ucapnya kesal karena menahan malu.


Udara pagi yang segar membuat Vivian menjadi gerah.Pagi ini berkat apa yang ia peroleh sehingga mendapat pemandangan indah tersebut.Sehingga tubuhnya pun merespon hingga berlebihan.


Vivian tidak dapat menolak pemandangan yang terlukis namun merasa kesal dengan pria tersebut.


Pria yang diteriaki itu pun menoleh kesumber suara.Hanz dengan tampang polosnya hanya mengerutkan dahi.Ia baru saja selesai mandi,karena handuk masih melilit dipinggangnya.Ia berdiri dibalkon depan kamarnya dikarenakan ia baru saja menyambut telepon dari seseorang.


Namun Hanz menyadari jika sikap Vivian seperti itu karena melihat dirinya yang setengah telanjang.Tubuh bidang bak atlet profesional tentu saja membuat wanita histeris,kegirangan.Akan tetapi melihat respon Vivian demikian,Hanz mulai memikirkan pikiran nakal.Dengan sengaja mengabaikan sikap protes Vivian.Dan mulai dengan sengaja memamerkan tubuhnya tersebut dengan berbagai posisi.


Suasana pagi yang hangat semakin membuat Hanz bersemangat.Akan tetapi tidak ia perlihatkan begitu saja.Hanya wajah yang datar dan terlihat dingin itu menyimpan perasaan bahagia.


Hanz mengacuhkan Vivian yang semakin merona dan terus melanjutkan obrolannya dengan seseorang via telepon.Hanz ingin melihat seberapa jauh wanita tersebut tergoda dan kesal akan dirinya.


Melihat dirinya diabaikan,Vivian pun beranjak meninggalkan balkon sembari menutup hidungnya yang masih meler tersebut karena mimisan.Ia kesal karena mendapat pemandangan yang membuatnya semakin tidak berdaya.Ia tidak bisa berlama-lama menatap tubuh indah itu,wajah mempesona dan tatapan mata yang begitu memikat.Membuatnya benar-benar meleleh.


"Kyyaaa...Hanz menyebalkan!" Runtuk Vivian berlari menuju kamar mandi.


"Benar-benar menyebalkan."Jerit Vivian lagi.


Hanz yang mendengar umpatan Vivian tanpa sadar terkekeh sendiri.


"Apanya yang lucu??!!" Tanya seseorang dari balik telepon.


"Aagh,bukan apa-apa." Jawab Hanz dengan sudut bibir masih mengambang senyuman manisnya.


"Benarkah??!!Namun dari apa yang ku dengar,sepertinya kamu lagi senang." Tebaknya.


"Hmm"


"Seekor ikan kecil yang menggemparkan duniaku.Dan sekarang sedang kesal karena aku membuatnya klepek-klepek."Balas Hanz asal bicara.


Dr.Eliza terkekeh mendengar perkataan Hanz.


"Ooohh,ternyata sekarang ada yang klepek-klepek rupanya."Godanya.


"Hhmmm,siapakah orang itu?" Tanyanya penasaran.


"Apakah seorang wanita?"


"Hmm.Seorang wanita yang aneh."


"Oh begitu rupanya.Ternyata karena ada wanita lain kamu mengabaikan aku." Protesnya.


"Kenapa topik pembicaraannya seperti aku yang berkhianat?" Hanz balik bertanya.


Terdengar kekehan dari balik telepon.


"Kamu memang telah mengkhianatiku dan menduakan diriku." Godanya.


"Agh,seperti itu kah?Dia sekarang bukan siapa-siapa hanya saja rekan bisnis." Jawab Hanz singkat.


"Hmm,pasti rekan bisnis yang cantik.Oh,cemburunya aku."


"Apakah kamu menyukainya?"


"Sepertinya begitu- "


"Aahh,ternyata begitu.Aku kecewa padamu."Ucap Dr.Eliza lagi-lagi dengan tawa kecilnya karena Hanz mulai mengakuinya.


Hanz yang tersadar akan pengakuannya pun hanya tersipu malu,dan beruntungnya kala itu Dr Eliza tidak dapat melihat wajahnya yang memerah.Jika tidak,tamatlah riwayat dirinya diejek habis-habisan oleh wanita paruh baya itu.


Hanz pun menghela napas.


"Hentikan!!Tawamu tidak enak untuk didengar."Kesalnya mengalihkan pembicaraan.


"Hayyo...kejamnya." Ledek Dr Eliza mengoda.


"Hhmm,tapi aku senang ternyata kamu terdengar baik-baik saja." Ucapnya senang.


"Awalnya aku sangat khawatir,jika terjadi sesuatu yang buruk padamu." Suara Dr Eliza terdengar sedih .


"Aku merasa sudah memikirkan semuanya.Mungkin aku harus mencoba menerima kenyataan yang terjadi." Ucap Hanz lagi.


"Jangan terlalu dipaksakan,dan cobalah dengan perlahan-lahan." Nasehat Dr Eliza.


"Aku yakin kamu bisa melewati itu semua.Sebab akhir-akhir ini dari hasil laporan,keluhan akan rasa sakit mu sedikit berkurang.Tapi tetap harus dipantau."


"Dan terus kabari aku jika terjadi sesuatu!"


"Hmm,baiklah bu dokter."


Hanz pun mengakhiri sesi konsulnya via phone.


Lalu dalam diamnya sejenak ia menikmati pemandangan dari atas balkon,ada kelegaan didalamnya.Setelah semua terasa nyaman Hanz pun balik kekamar.Walapun dalam sekilas ia mencuri pandang menatap kearah kamar Vivian.Hanz pun menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyuman kecilnya,"Benar-benar ikan kecil yang menggemaskan." Gumam Hanz dalam hati.


************


Dimeja makan semua orang berkumpul,karena hari ini pertemuan terakhir keluarga.


Sang nenek tampak sedih.Wajahnya terlihat sembab karena menahan tangis.Roy yang ada disamping neneknya hanya menepuk-nepuk bahu nenek Amira dengan lembut.


"Nenek,jangan bersedih." Hibur Roy menenangkan hati sang nenek.Dengan lembut Roy menyeka air mata sang nenek yang sedang bergulir.Tangan lembutnya membuat sang nenek semakin tidak dapat menahan akan kesedihannya.


"Kami akan sering-sering pulang.Jika nenek terus bersedih nanti wajah cantim nenek akan memudar dan semakin keriput." Goda Roy.


"Aiyya,cucu nenek benar-benar nakal." Suara nenek Amira terdengar serak dan dengan gemasnya mengacak-acak rambut cucunya itu.


"YA,NENEK...!!Rambutku jangan diacak-acak dong.Nanti kegantengannya berkurang." Protes Roy sok imut.



Sang nenek pun tertawa,"Hahahaha,,,,kamu tetap lah tampan cucuku."


"Cucu-cucu nenek tidak ada yang bisa menandingi ketampanannya,karena kalian adalah cucu kesayanganku." Lanjutnya lagi dengan senyuman yang terukir manis.Riak-riak air mata berubah seketika menjadi cerah layaknya pelangi yang indah.



"Baiklah!Nenek ku yang terbaik.Mari kita makan..." Roy menjadi senang.


Suasana kembali hangat karena nenek Amira kembali tersenyum ceria.


Dan semuapun menikmati makanan pagi dengan hangat.Tiada satu pun gelak tawa yang terlewatkan dimeja makan.Kehangatan keluarga terlihat jelas,kenangan akan masa lalu seakan hadir ditengah-tengahnya.


Kenangan yang pernah terukir indah.


"Oh ia,Hanz.Kapan rencananya pertunangan kamu dengan Vivian diadakan ??Bukankah lebih cepat lebih baik jika diadakan?" Tanya nenek Amira tiba-tiba,menghentikan suapannya,memandangi Hanz dan Vivian secara bergantian.


"Ukkgghhh...".Hanz dan Vivian tersedak berbarengan.


Dan secara bersama-sama pula mereka mengambil minuman lalu meminumnya.


Vivian yang masih tersedak itu dengan reflek menepuk-nepuk dadanya,serta menarik napas yang dalam.Wajahnya menjadi tersipu malu karena dibrondong pertanyaan yang sakral.Namun tidak berani untuk berkomentar.Hanya terduduk diam.


Sedangkan Hanz,Ia masih tetap tenang tanpa ekspresi apapun.Dengan perlahan ia mengatur sisa kunyahan makanannya yang belum tertelan sempurna karena perkataan neneknya yang mengejutkan itu.Hanz bagaikan diserang sebuah meteor.Meteor yang memercikkan api cinta.


Roy tertegun,begitu pula dengan Danian.Keduanya pun ikut terkejut namun hanya mengeluarkan tawa kecil.Dalam pikiran keduanya,berharap ide gila tersebut dapat terwujud.


"Aghh,nenek benar." Roy ikut bersuara dengan antusias ia mendukung pemikiran sang nenek,"Aku sependapat dengan nenek jika kakak Hanz dan Vivian melangsungkan pertunangan segera."


Hanz dengan sorot mata tajam menatap Roy,tatapannya sungguh mematikan.Roy yang ditatapi pun tertunduk lesu,tidak berani bertindak lebih jauh.Kakaknya terlihat menakutkan jika ia terlihat serius.



Sedangkan Vivian,ia masih tidak berani bicara.Karena hubungan antara dia dan Hanz sudah jelas tidak ada apa-apanya.Mulut besar Roy lah yang membuat situasi semakin runyam.


"Nenek,hubungan kami masih terlalu dini untuk membicarakan masalah pertunangan.Kami harus memahami satu sama lainnya." Sahut Hanz.Nada suaranya terdengar tegas namun tidak menolak ataupun menyetujui usulan sang nenek.Baginya ia harus membicarakan dan memikirkan hal tersebut dengan pasti,apalagi hubungan mereka adalah palsu.


"Jika nanti ada kesepakatan pasti kami memberi kabar baik untuk nenek." Lanjut Hanz.


Sang nenek sedikit kecewa mendengar perkataan Hanz,namun tetap mendukung apa yang cucunya katakan.Baginya keputusan cucunya adalah yang utama.


"Baiklah.Tapi jangan lama-lama.Nenek sudah sangat menyukai nak Vivian,jika kamu terlambat melamarnya.Nenek akan sangat sedih."ucap nenek Amira.


Hanz kembali terdiam sembari mengamati sang wanita yang dibicarakan berharap Vivian membantu menjelaskan.Namun Vivian hanya memasang wajah tersenyum sembari menikmati makanannya mengabaikan komentar Hanz.Senyuman Vivian membuat Hanz sedikit kesal karena wanita yang dihadapannya ini sama sekali tidak membantu penjelasannya.


"Baiklah nenek.Tentu saja Vivian tidak akan lepas dari jeratan ku.Dan ku pastikan itu." Ucap Hanz penuh keyakinan.


Lagi-lagi,kali ini Vivian tersedak.Dan Hanz tersenyum puas akan ucapannya.


*****************&&&**************


Note;


πŸ§šβ€β™€οΈ : Hai,readers😊😊😊.....,terima kasih ya sudah berkenan mampir membaca karya pertama aku.Mohon maaf ya ceritanya sering kali update nya tidak menentu oleh karena berupa kesibukan seorang IRTπŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ™πŸ™πŸ™.Tapi,aku senang sekali jika kalian menyukai karya nya aku😊...


Dukungan kalian sangatlah bermanfaat,terutama dari para readers n teman2 author sekalian,terima kasih banyak πŸ™πŸ™πŸ˜‡πŸ˜‡..


πŸ§šβ€β™€οΈ :Oh iya,readers...maaf ya jika visual pemerannya gonta-gantiπŸ˜… yang penting asal jangan gonta-ganti pasangan aza yaπŸ˜…πŸ€­βœŒβœŒβœŒ,sebenarnya author mau nunjukin contoh ekspresi dari tokoh pemeran yang berhubungan langsung dengan jalan cerita.Eehh ternyata banyak kali cogan-cogannya yang masuk kriteria sesuai skrip jalan cerita.yach,,,jadi khilaf deh😁😁


πŸ§šβ€β™€οΈ :Aduh...aku jadi banyak komentar nih πŸ€­πŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜Š.


Tetap dukung author ya,jangan lupa beri Like,Kom,Rate n Vote n jadiin karya ku sebagai bacaan favoritmu ya.Makasih 😊 dan salamπŸ™,semoga kita senantiasa diberi kesehatan dan kebahagiaan selalu...