Monster Eyes Are My Beautiful Eyes

Monster Eyes Are My Beautiful Eyes
5.Euforia




(Gambar hanya ilustrasi saja ya😘)


****************


Dag dig dug...


Detak jantung Vivian mendadak menjadi tidak menentu,ruangan itu terasa sesak baginya.Bagaimana tidak,wajah dan tatapan mata itu tidak bisa ia hindari.


Dan sekarang Ia sedang duduk bersebelahan dengan sang CEO Hanz Alexandro.Aroma tubuh sang pria, membuat Vivian terbuai.


"Ooh,Tuhan.Aroma tubuh pria ini wangi sekali.Dan aku tidak bisa berhenti memandang wajah tampannya.Terlihat begitu sempurna.Mengalahkan ketampanan sang aktor pemeran film Twilight."Gumamnya dalam hati dengan perasaan berbunga-bunga.


Hanz yang menyadari ada yang memperhatikan dirinya itupun balik menatap kesumber masalah yang membuatnya sedikit risih.


"Apa yang sedang kamu pikirkan???"tanya Hanz dingin.Ia kesal dengan wanita yang ada disebelahnya.


Tatapan mata mereka sekilas saling beradu.


"Apakah anda seorang Vampir?"tanya Vivian terus terang.


Hanz terpana mendengar penuturan wanita yang ada disebelahnya, "Apakah wanita ini benar-benar bodoh??Ataukah dikepalanya terlalu banyak di penuhi imajinasi liar karena terlalu sering menonton film??"pikir Hanz.


Hanz menghela nafas,hatinya sedikit tergelitik dengan sikap polos Vivian.Tanpa disadari,Hanz mencoba untuk menggodanya lebih.


"Menurut mu sendiri bagaimana?"tanya Hanz.


Hanz meletakkan berkas yang ia pegang,lalu tubuhnya dengan perlahan mendekati sang wanita.Dan kini merekapun dalam posisi yang begitu intims.Wajah mereka seakan hampir menyentuh.


Vivian refleks menjadi tidak berdaya.Tubuh mereka kini seperti setengah berpelukkan karena Hanz mendekatinya begitu saja.Dan kedua tangan bersandar disetiap sisi sofa menutup pergerakkannya.


Vivian merasakan setiap hembusan nafasnya kini telah berbaur dan menyatu dengan nafas Hanz.Tatapan mereka yang beradu seakan semakin menyatu.


Vivian yang terpedaya dengan pesona Hanz hanya pasrah.Akan tetapi perasaan itu tidaklah bertahan lama,takala Vivian terkejut mendapati kedua mata Hanz berubah seketika.


Dan tentu saja pikiran Vivian menjadi kacau.Ia terjebak dengan perkataannya sendiri yang membuatnya kini merasa takut.


Hanz terus memojokkannya,seketika itupun Vivian memberontak "Maafkan aku.Aku mohon jika tuan seorang Vampir jangan gigit aku.Darahku sebenarnya mungkin tidak enak...Dagingku pun mungkin terasa pahit."Pinta Vivian beralasan memohon agar Hanz membebaskannya.


Namun pria yang ada dihadapannya tidak bergeming sekalipun.Dengan pasrah akhirnya Vivian menyerah.


"Tapi jika tuan tetap ingin mengigitku.Apakah itu tidak menyakitkan??Agch,aku mohon jangan terasa sakit."


Vivian memejamkan matanya,membiarkan dirinya begitu saja.Dalam ketakutannya ia berharap Hanz berubah pikiran.


"Gadis bodoh.Reaksi macam apa ini?"


Hanz tertawa terbahak-bahak.


Baru kali ini ia bertemu wanita yang benar-benar sepolos,selucu dan sebodoh ini.Karena kejahilannya,Hanz merasa terhibur.


"Belum saatnya aku memakan dirimu."ucap Hanz lalu beranjak dari hadapan Vivian.Ia tidak ingin terlalu lama terjerat dengan Vivian.


"Kamu boleh pergi."Perintah Hanz.


Tanpa berpikir panjang dan sepatah kata,Vivian meninggalkan ruangan itu.Badannya masih terasa lemas ketika menghadapi suasana tadi.Benar-benar membuatnya tegang tak bernyawa.


****************


Brukkk...


Vivian menghempaskan badannya ketempat tidur.Hari ini terasa berat untuk dia lalui.Dan tempat ternyaman baginya adalah bisa pulang kerumah.


"Pria yang menyebalkan.Berani-beraninya mempermainkan aku!!"Kesal Vivian.


"Agch,benar-benar menyebalkan.Tapi,kenapa pria itu sungguh mempesona??"


Dalam sedetik rasa kesalnya pun beralih ke rasa kagumnya.Seluruh pipinya kini merona malu,terukir senyuman menghiasi setiap imajinasinya yang liar.


"Apakah aku menyukainya???"Batinnya meronta.


"Hmm,sepertinya bukan.Aku hanya menggaguminya saja."


Vivian pun merenggang kan badannya mencari posisi yang sempurna.Mengulang dan mengisi kembali daya yang telah hilang.


Perlahan-lahan matanya pun mulai mengantuk.Tidak terhitung waktu iapun terlelap dibuai mimpi.


Krrreèeeèttt...


Suara pintu terbuka.


Dengan perlahan seseorang masuk kekamar Vivian.Dengan gusar ia


memandangi wajah gadisnya itu.Kesedihan seorang ibu membayangkan anak tertuanya itu untuk bekerja banting tulang sendirian.


Walaupun rasa khawatir terpatri dihatinya namun ia bersyukur memiliki seorang anak seperti Vivian yang sekalipun tidak pernah mengecewakan dirinya.


Diselimutinya anaknya dengan penuh kasih sayang.Perlahan-lahan ia membelai rambut anaknya,


"Andai saja hidup kita tidak sesulit ini.Dan andai saja ayah mu masih hidup nak."Sedihnya.


"Kamu tidak akan bekerja sekeras ini hingga larut malam."


Dibelainya wajah Vivian yang begitu lelah.Dalam guratan diam,ia lalu meninggalkan anaknya yang tertidur itu.Mematikan saklar lampu kamar.Dengan hati-hatinya ia pun kembali menutup pintu kamar.


"Mimpi indah..."


Cekkleekk...


pintu tertutup.


"Apakah kak Vivian sudah tidur,ibu?"Tanya Alena.


"Sudah,nak.Ayo,kita tidur!Dan bukankah kamu besok harus bangun pagi-pagi berangkat sekolah?"


"Ia,Mah."


Alena yang penurut segera masuk kekamarnya meninggalkan ibunya yang tersenyum padanya.



(Gambar hanya ilustrasi saja ya😍)


***********


Malam itu Hanz duduk dimeja Bar sembari memainkan gelas minumannya,suasana hatinya sedang baik.


Danian yang ada disampingnya,sedikit tersenyum.


"Aku merasa suasana hati mu sedang membaik,kawanku."


Diluar pekerjaan Danian mengganggap Hanz sebagai sahabatnya.


Persahabatan mereka terbilang unik karena Danian tau segala kekurangannya,namun tidak sekalipun menghina atau meninggalkannya.


Senyuman Danian membuat Hanz tersipu malu.


Dengan mata yang berbinar-binar belum pernah ia merasa sesenang ini,


"Bersulang."Pinta Hanz mengangkat gelasnya.


Danian pun mengangkat gelasnya.


Dan suara musik terdengar indah malam itu.


Disinilah tempat dirinya melepaskan lelah menikmati setiap malam.


Hal yang membuatnya senang atau tidak senang hanya ia nikmati dengan segelas anggur terbaik ditempat itu.



Danian senang melihat sahabatnya itu.


Karena keinginan terbesarnya adalah agar sahabatnya itu dapat terbebas dari rasa sakit yang ia alami selama ini.


Ia tahu benar betapa menderitanya Hanz Alexandro dengan peristiwa waktu itu.Peristiwa yang membuatnya benar-benar terluka sangat dalam.


Sebagai sahabat dan kerabat terdekatnyanya,Danian dapat mengerti akan penderitaan itu.


Dengan berbagai usaha dan cara ia lakukan untuk membuat sahabatnya dapat bangkit dan melupakannya.Walaupun tak bermakna besar,ia akan mendukung sahabat nya selalu.


Namun Danian menyadari akan sesuatu.Beberapa hari ini Hanz sedikit mengalami perubahan dalam suasana hati dan sikap.Yang ia tahu,Hanz selalu memiliki hati yang dingin dan tertutup.Akan tetapi, semenjak gadis yang bernama Vivian itu mengusik dirinya.Hanz terlihat hidup dimata Danian.


Walaupun kenyataan yang Danian tahu,beratus-ratus wanita berusaha mengejar ataupun mengganggu Hanz.Tetapi lelaki berbakat no.1 itu tidak sekali pun dapat tertarik ataupun menarik para wanitan itu dimatanya.


Berbeda hal nya jika dengan Vivian,Hanz begitu tertarik walaupun tanpa ia sadari.Danian menyadari jika kehadiran Vivian merupakan sumber yang baik untuk kesembuhan sahabatnya itu.


Dalam diam Danian berharap jika sahabatnya itu segera berjodoh dengan wanita pembawa keberuntungan tersebut.


"Semoga mereka berjodoh.Dan alangkah baiknya jika Vivian ditakdirkan sebagai obat penyembuh Hanz.Karena obat terbaik adalah saat jatuh cinta."Gumam Danian sembari menatap Hanz dengan lekat.


Hanz yang sibuk memainkan gelas minumannya itupun menghentikan permainannya.Pandangannya tertuju pada Danian yang begitu serius memperhatikan dirinya.Sejenak ia mulai mengerutkan keningnya.Menanti Danian menjelaskan tatapannya itu.


Danian yang menyadari arti sikap dan tatapan Hanz pun hanya meneguk minuman.


"Hari ini aku selalu mendapati setiap tatapan yang mencurigakan,salah satunya dirimu?"tanya Hanz.


"Apakah kamu mulai jatuh cinta padaku???"ucap Hanz mengoda sahabatnya itu.


Byyuuuuurrrrr....


Seketika minuman yang diminum Danian menyembur keluar.


Sang batander yang berada diseberang meja pun menjadi korban yang tidak terduga.


"Agch...Maaf."Sesal Danian kepada korbannya itu.


Sang Batander pun hanya meringis menahan malu,karena ulah pelanggannya.


Namun,suasana teralihkan takala seseorang tertawa lantang karena puas.


"Hahaha..."Tawa pecah Hanz memecahkan suasana bar.


Danian dengan polos melototi tuannya itu,


"Aku masih menyukai perempuan."Tegas Danian.


Dengan tampang tak berdosa,Hanz mencoba menghentikan tawanya.


"Aku pikir kau tidak pernah sekalipun terpikat pada wanita,karena setiap hari bersamaku."Goda Hanz.


"Itu karena dirimu tidak pernah lepas memberiku segudang tugas"tegasnya.


Dan merekapun tertawa bersama.


********


"Aku akan memakan mu...:?!Kamu adalah milikku Vivian..haha..haha".


"Tidaaakkkkkkkkkk...."jerit Vivian.


Gubraaakkkk.


Vivian terjatuh dari tempat tidurnya.


"Ternyata aku hanya bermimpi"pikirnya lega.


Matahari mulai menampak kan sinarnya,menerobos masuk melalui sela-sela jendela.Udara segar terasa begitu memikat,bunga-bunga kecil yang berada diluar jendela tersenyum riang,semalam turun hujan membuat tanaman diluar begitu memukau.Suasana hari inipun terasa indah.


Dengan malas Vivian beranjak bangkit dari samping tempat tidurnya,dengan kesadaran penuh ia menuju kekamar mandi.Handuk disambarnya segera,dan nyanyian- nyanyian kecilpun berkemumbang dari dalam.


Dengan tersipu malu,Vivian membayangkan seseorang dari balik mimpinya tadi malam.Wajahnya merona merah ketika ia menatap dirinya dibalik cermin.


"Bagaimana bisa didalam mimpi saja dia masih mengikutiku?"Vivian bergumam sendiri.


"Menakutkan sekali??!!"


"Tapi aku tidak bisa menolaknya karena dia sangat-sangat tampan."Jerit Vivian kesenangan.


"Hanya saja-.Dia seorang vampir."Pikirnya,lalu buru-buru meninggalkan kamar mandi.Mengabaikan pikiran jahatnya yang selalu menggoda.


Vivian yang seperti biasa,sederhana dan manis itu tersenyum puas menatap dirinya dibalik cermin.


"Perfect"Pujinya terhadap diri sendiri dengan senang.


Dengan segera ia meraih tas kerjanya menuju ruang makan.


Dimeja makan Vivian melihat semua sarapan telah disediakan,ibunya tersenyum melihat putri cantiknya itu.


"Vivian,ayo kita sarapan sama-sama,"ajak ibunya.


Amelia yang sudah duduk dimeja makanpun,memanggil kakaknya itu.


"Ka,ayo buruan ...nanti keburu dingin."


"Ia,ia,adik ku sayang."


Vivian duduk diantara adik dan ibunya,ia senang melihat adik dan ibunya tersenyum riang dan ia sangat bersyukur masih memiliki keluarga yang menyayanginya.Walaupun keluargannya tidak lengkap,kehilangan sosok seorang ayah membuatnya menjadi lebih semangat untuk menyayangi keluarganya.


"Masakan ibu selalu enak,"celutuk Vivian.


"Terima kasih,bu untuk sarapannya."Pamit Vivian sebelum berangkat bekerja.


"Ia,nak sama-sama."


"Jangan terlalu memaksakan diri bekerja.Kalau lelah,istirahat."Pinta ibunya.


"Jangan mengabaikan makan siang,mengerti."Pesannya.


Vivian hanya mengangguk mendengar ocehan panjang ibunya.Lalu meninggalkan rumah.