Monster Eyes Are My Beautiful Eyes

Monster Eyes Are My Beautiful Eyes
13.Tactics



"Hallo,Roy?" Sapa seseorang dari balik telepon.


Suaranya terdengar lirih dan berat.


"Hallo,nenek ku yang cantik." Sahut Roy lembut.


"Dasar cucu ku yang nakal.Kenapa tidak pulang?Apa kamu tidak merindukan nenek?" Sedihnya.


"Nenek tahu kalian ada dikota ini.Berkunjunglah,nenek benar-benar merindukan kalian." Pinta sang nenek.


"Ia,nenek.Roy juga sangat-sangat merindukan nenek.Pasti Roy akan menemui nenek." Balas Roy dengan antusias.


"Baguslah" Ucapnya terdengar senang.


"Kalau bisa,ajaklah kakak mu ya." Pintanya.


"Hhmmm" Ucap Roy singkat.


"Kalau begitu,nenek menantikan kedatangan kalian berdua." Suara nenek terdengar penuh harap.


"Baiklah nenek ku yang bawel." Ucap Roy mengakhiri pembicaraan.


Dan sambungan telepon pun terputus.


Roy mendesah panjang,"Haaaahhhhh......"


Sebuah beban berat seakan sedang menimpa dirinya,Roy merasakan frustasi.


"Bagaimana caranya aku mengajak kakak pulang?" Gumam Roy putus asa.


Lalu terbesitlah ide gila.


"Apa aku culik saja kakak yach.Tapi jangan deh.Terlalu beresiko,yang ada malah membunuh kakak secara mendadak."


"Apa aku bius saja ya??Itu semakin membunuhnya juga,aarrrrgggghhhhh!!!" Teriak Roy,kalut.


Roy mondar-mandir didalam kamar seperti setrikaan kusut.Perasaannya menjadi serba salah.Disatu sisi ia tidak ingin menngecewakan neneknya karena sudah berjanji.Dan disatu sisi dia paham betul dengan keadaan kakaknya.


"Apa aku coba tanya dulu sama kakak ya?" Gumam Roy menyimpulkan.Lalu dengan segera ia pergi meninggalkan kamar tanpa keraguan.


*******


- Taman Villa -



Danian dengan sikap profesionalnya menghampiri Hanz yang sedang duduk menyendiri.Dua hari berada dipenginapan merupakan hari yang begitu melelahkan.Ada keraguan yang menyelimuti perasaan Danian.Dia mengamati pria yang ada dihadapannya,tampak gelisah.


"Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Danian lalu duduk disebelah Hanz.


"Entahlah" Jawab Hanz ragu,sembari memutar-mutar botol minuman yang ada ditangannya lalu meletakkan kembali ke meja.


Suasana kembali sunyi.


"Apakah pemotretannya sudah selesai?" Tanya Hanz memecahkan kesunyian.


"Semua sudah selesai tepat pada waktunya.Setelah pulang nanti baru dipublikasikan dan kali ini hasil produksi kita akan mencapai target yang diharapkan,pihak-pihak investor sudah mulai melirik produk terbaru kita.Apalagi kalangan selebritis papan atas sangat tertarik." Danian menjelaskan dengan antusias.


"Baguslah.Berarti tinggal satu hari kita berada disini dan berikan kesempatan satu hari ini untuk para staff yang sudah bekerja keras.Biarkan mereka menikmati hasil kerja keras dan usaha mereka untuk berlibur sampai besok." Pinta Hanz.


"Baiklah,segera aku umumkan." Jawab Danian lalu meraih handphone yang ada disaku celananya,lalu mengetik pesan.Setelah selesai mengirim pesan untuk para staff yang lainnya,Danianpun balik bertanya.


"Kalau begitu,bagaimana dengan mu? Ini bukan tentang pekerjaan melainkan rencana mu untuk hari ini, Hanz??" Tanya Danian setelah selesai menyimpan handphonenya kembali,menoleh kearah sahabatnya itu.


"Aku rasa tidak salahnya menikmati pemandangan disini,lama tidak pernah menjelajahinya." Balas Hanz dengan sedikit tersenyum.


"Mmmm,aku rasa rencana itu bagus.Agghhh,lama sekali aku tidak merasakan sesantai ini." Tutur Danian sembari merenggangkan otot-ototnya yang sedikit kaku karena lama tidak berolahraga.


Hanz tersenyum sembari meninju pelan sahabatnya itu.


Danian pun membalas senyuman dari Hanz sahabatnya,dan belum sempat ia menanyakan apa yang hendak dikatakan.Tiba-tiba Vivian muncul ditengah-tengah percakapan mereka berdua.


Wajah Vivian sedikit merona ada kecanggungan disana,apalagi ia harus berhadapan dengan Hanz secara langsung.


"Ada apa memanggil ku kemari??" Tanya Vivian,tepat berdiri dihadapan Danian dan Hanz.Napasnya sedikit tersengal,karena habis berlari.


Danian yang mendengar penuturan yang tiba-tiba itu sedikit bingung dengan ucapan Vivian.Dan melirik kearah Hanz sahabatnya yang juga berada disitu.


Lalu Vivian memperlihatkan teks pesan yang ada handphonenya.


"Segera temui aku!!Ditaman dibelakang penginapan,sekarang!!!Jangan membuat ku menunggu lagi!!"



Danian yang membaca teks singkat itu pun tidak mampu menahan kelucuan yang terjadi.


"Hahaha..." Tawa Danian lepas.


Diliriknya Hanz yang sedang fokus dengan handphonenya.Ia tidak tahu sejak kapan Hanz mulai membuka diri mengirim pesan kepada orang lain selain dirinya maupun kerabat terdekatnya.


Dengan malu Vivian menyimpan kembali handphone kesaku celana jeansnya.Menanti reaksi si pengirim pesan.


Hanz tampak mengabaikan apa yang di katakan Vivian,sikap yang dingin itu mengalahkan dinginnya gunung everest.Tidak ada respon sama sekali.


"UMmm.Sepertinya aku harus meninggalkan kalian berdua disini." Ucap Danian berlalu pergi sembari menahan tawa karena menurutnya itu sangat menarik dan lucu.


Ditinggalnya lah Hanz dan Vivian berduaan.Danian tidak ingin terlibat dalam komplik aneh tersebut.Namun menyukai suasana seperti itu karena kehidupan Hanz terlihat lebih berwarna.


"Hmm" Jawab Hanz singkat tanpa memperdulikan kepergian Danian.


Lalu dengan santainya Hanz memandangi wanita yang dihadapannya.Ekspresinya tetap sama,datar dan tetap diam seribu bahasa.


Vivian yang tidak tau apa yang diinginkan oleh pria yang dihadapannya ini,memperlihatkan wajah kesalnya.Sebab baru saja ia menikmati waktu senggangnya,justru harus berhadapan langsung dengan pria iblis ini.


"Ada apa,CEO Hanz mencari saya?" Ucapnya bertanya dengan gaya bahasa yang sedikit formal.Nada suara Vivian yang ditinggikan sengaja ia buatkan.Bukan tanpa alasan ia marah sebab Hanz selalu tidak memberinya kebebasan.Dua hari berturut-turut,ia diberikan sebuah pekerjaan yang sangat berlebihan.Dan anehnya semua hal tersebut hanya tertuju pada dirinya sendiri.


Suasana penginapan nampak sunyi setelah kepergian Danian termasuk juga disebabkan karena tidak ada orang disekitar mereka.Para staff yang lain sudah sibuk berpergian menikmati pemandangan dikota itu.



Hanz yang terdiam mulai menandakan pergerakkannya.Tentu saja respon tersebut membuat Vivian harus siap siaga.


Hanz melepaskan kacamatanya.


Eyes with green eyes,Hanz memperlihatkan tatapannya yang mempesona.Ia dengan leluasa menanggalkan kacamata hitam miliknya ketika semua orang tidak terlihat keberadaannya.Dan keberanian itu hanya dapat ia lakukan terhadap orang tertentu saja.Dan salah satunya adalah Vivian itu sendiri.


Entah kenapa ia mulai membiasakan diri membiarkan tatapan matanya itu diperlihatkan pada wanita yang ada dihadapannya itu.


Vivian mematung,lagi-lagi ia terpana.Tatapan dari kedua bola mata indah Hanz membuatnya terbius.Rasa kesal dan amarah yang ia rasakan tadi,sejenak luluh dan mencair begitu saja.Vivian bagaikan terhipnotis oleh mata dewa yang dimiliki Hanz.Semuanya diluar nalar akal sehat Vivian,jika pria yang dihadapannya ini selalu merubah-rubah warna mata.


"Apakah ia selalu mengganti warna matanya dengan warna lensa mata yang berubah-rubah?Dan itu sungguh terlihat seperti asli." Vivian berdecak tidak karuan.


Dalam hati,ia menggagumi Hanz begitu besar.


"Warna mata hijau itu,terlihat seksi dengannya."


Hanz yang dipandangi sedemikian rupa,mengerutkan kening.Tatapan matanya seakan menyelidiki setiap ekspresi yang Vivian gambarkan untuknya.


Hanz merasa tergelitik hatinya.Wanita yang ada dihadapannya ini memiliki pandangan yang berbeda untuknya.


"Apakah sudah puas memandang wajahku???" Goda Hanz.


Sikapnya yang dingin berubah mencair.


"Aahh,be-lumm." Ucap Vivian terputus dengan mengatup kedua bibirnya dengan rapat.


Dan dengan kesal Vivian mengumpat dirinya sendiri.


"Dasar bodoh,dasar bodoh."Runtuknya dalam hati.Ia malu mendapati reaksinya seperti tadi.


Hanz tersenyum.Guratan wajahnya yang dingin kini terlihat manis.Walau hanya sekilas terlintas.


"Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padamu." Tutur Hanz.


"Tentang apa???" Tanya Vivian sedikit bingung dan mendadak pikirannya sedikit eror.


"Hhmmm,untuk tempo hari." Jawab Hanz canggung.


Vivian terdiam sejenak.Ia mencoba memutar kembali kejadian tempo hari.Mencoba mengingat apa yang dimaksud dengan ucapan Hanz.Vivian yang teringat kejadian tempo hari hampir menganga karena terkejut.Dan rasa urat malunya pun kembali menyeruak.


Dengan wajah yang merona,Vivian dengan setenang mungkin menjawab ucapan Hanz.


"Aaa--itu,tidak masalah--" Ucap Vivian terbata-bata.


Namun belum sempat ia melanjutkan perkataannya.Seseorang dari kejauhan dengan nada sedikit berteriak itu muncul diwaktu yang tepat untuknya.Vivian dapat bernafas lega.Sebab pembicaraan yang memalukan tersebut kini teralihkan.


"Kaaakkkk...." Teriak Roy.


Dengan putus asa akhirnya ia berhasil menemukan seseorang yang sedang dicari-carinya.


"Akhirnya aku menemukan mu" Ucapnya dengan napas ngos-ngosan.Roy berusaha mengatur pernapasannya kembali,dengan sekejap memandangi kakaknya yang kebetulan bersama seseorang yang ia kenal.


Roy sedikit terkejut namun tidak terlihat keterkejutannya,sebab kakaknya dengan terang-terangan tidak menggunakan kacamata hitamnya.Roy tahu persis kakaknya tidak pernah melepaskan kacamatanya kesembarang orang.


"Bisakah kau memanggil ku secara profesional?!" Ucap Hanz kesal karena kemunculan adiknya itu.Sebab telah merusak waktunya.


"Ya ampun ka,ini sudah profesional.Kita kan sudah diluar dan tidak bekerja." Bantahnya membela diri.


"Ada apa mencariku???" Tanya Hanz datar.Lalu mengabaikan sejenak Vivian yang berada disitu.


Mendadak Roy terdiam.Sepanjang perjalan ia tidak menemukan ide untuk mengajak kakaknya pulang.Namun matanya tertuju pada Vivian dan terlintaslah sebuah ide liar miliknya.


"Aaahhh,aku kemari ingin meminjam wanita yang ada didepan mu ka..??!!" Ucap Roy meyakinkan.


Hanz menatap Roy dengan tajam.Sedangkan Vivian terpaku penuh tanda tanya.


"Tadi nenek menelpon dan menyuruhku pulang,dan kakak juga diminta pulang..." Ucapnya penuh hati-hati.


Hanz terdiam,dan tatapannya mendadak kosong.


"Pulang",pikir Hanz.


Sudah lama ia tidak pernah menginjakkan kakinya kerumah itu,rumah orangtuanya,rumah dimana neneknya tinggal.


Roy tahu dengan reaksi kakaknya itupun melanjutkan kan kata-katanya,"Kau tau kan nenek sedikit cerewet",imbuhnya."Apalagi ia tahu kita disini,nenek marah karena dia tidak dikunjungi.Oleh karena itu,aku pasti tahu kakak tidak mungkin mau....",ucapnya lagi sembari mengamati kakaknya yang mulai membelakanginya.


"Lalu,apa hubungannya kamu meminjam wanita ini?" Tunjuk Hanz penuh selidik masih membelakangi adiknya itu.Menatap Vivian lekat disampingnya.


"Karena kakak tidak bisa makanya aku minta izinmu dengan meminjam lady Vivian....".


Hanz berbalik menatap Roy dengan penuh curiga.


"Jika aku bersama lady,nenek tidak akan kecewa." Ucap Roy meyakinkan.


"Bukankah nenek akan merasa senang jika aku membawa seorang wanita pulang."


"Dan aku ingin mengajak lady,menjadikan lady sebagai seorang kekasih--" Sambung Roy dan menghentikan sejenak kalimatnya.


"Pokoknya,intinya seperti itu".


"Eeeehhhh.." Vivian terkejut dan kebingungan dengan semua omong kosong Roy.


Sedangkan Hanz,ia hanya terdiam tanpa sepatah kata.Namun,dari tatapan matanya dapat terbaca.Ia tidak menyukai usulan Roy.


Roy yang memgamati reaksi tatapan kakaknya itu sedikit tersenyum puas.


"Yapp,akhirnya terjebak." Ucapnya dalam hati kegirangan.