
"Aku merindukan mu",ucapnya lirih.
Vivian tertegun sejenak mendengar penuturan Hanz,wajahnya semakin memanas dan ritme nafasnya semakin tidak menentu.Dengan perlahan ia mengatur posisinya yang terjepit itu,dipandanginya wajah tampan Hanz.
Hanz masih begitu terlelap,matanya yang terpejam itu membuat Vivian kebingungan.
"Apakah dia mengigau...",batin Vivian.
"Hanz...",panggil Vivian lirih dan halus,memastikan pria yang di hadapannya itu terlelap atau belum.Namun yang dipanggil tidak merespon sama sekali.
"Hhaahh,ternyata dia benar-benar tertidur....aku jadi baper sendiri mendengar ucapannya yang ngelantur",lagi-lagi batin Vivian berargumen sendiri.
Vivian yang berada diposisi yang tidak aman pun,mencoba melepaskan diri dari pelukan Hanz.Namun segala cara dan usaha yang Vivian lakukan tidak lah membuahkan hasil,justru Hanz mempererat pelukkannya.
"Hhmm,sepertinya aku harus bertahan dalam posisi seperti ini",pikirnya,berharap sewaktu-waktu Hanz melonggarkan pelukkannya.
15 menit....
30 menit....
1 jam......
2 jam.....
Pelukkan Hanz tidak tergerak sama sekali,namun justru mata Vivian lah yang kini semakin meredup.
1 detik....
2 detik....
3 detik....
4 detik....
5 detik....
Akhirnya Vivian pun terlelap didalam dekapan Hanz,wajah mereka terbenam menjadi satu.
Ddrŕrtttt....
Suara dering telepon,menggema mengisi keheningan didalam ruangan.
Hanz secara perlahan-lahan meraih handphone yang tidak jauh berada didekatnya.
Belum sempat ia menjawab,sambungan telepon pun terputus.Matanya yang masih mengantuk tersebut,menyimpan kembali telepon genggamnya itu ke sisi disamping tempat ia tertidur.
Antara sadar dan tidak sadar,ia merasa tubuhnya ditindih sesuatu yang berat.Perlahan-lahan ia membuka matanya sekilas,lalu menggumbar senyum manisnya.
"Hhmmm,sepertinya aku masih bermimpi...",gumamnya dalam hati,lalu tanpa sadar ia mempererat pelukkannya.
Ddrrrrrrttttt.....
Suara telepon pun berbunyi kembali.
Hanz sekali lagi meraih telepon yang ia simpan tadi dan samar-samar tertera nama Danian yang menelpon.Dengan enggan Hanz pun menjawab sambungan telepon tersebut.
"Hallo",ucap Hanz lirih.
"Hallo,bos.Maaf mengganggu waktu istirahatnya.Saya ingin menyampaikan bahwa semua pekerjaan sudah saya selesaikan dengan tepat waktu,emmm..karena berhubung ini sudah mulai larut malam apalagi jam kerjanya mau habis,saya mau pamit izin pulang duluan,bos",pinta Danian.
"Hhmm,terima kasih,bro",jawab Hanz singkat nan berat dan ngawur, karena matanya masih terpejam.
"Ok,kalau begitu saya tinggal duluan ya..Tapi bos,apa bos tadi sudah bertemu nona Vivian",tanya Danian penasaran sebelum ia mengakhiri teleponnya,sebab sendari tadi ia tidak mendapati Vivian bertemu dengannya.Hanya saja bagian repsesionis mengatakan bahwa wanita tersebut sudah datang.
"Memangnya kenapa???",tanya Hanz masih mode nyamannya.
"Tadi nona Vivian datang keruangan mu bos",ucap Danian meyakinkan.
"Aku tidak tahu,karena aku dari tadi tertidur.....",ucapnya namun terjeda dan menyadari ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.
Dan sontak iapun terkejut....
Karena wanita yang dibicarakan ternyata berada didalam pelukkannya.
"Mmm...",ragu Hanz,bingung untuk menjawab ucapan Danian.
"Mungkin nona Vivian sudah pulang,kalau begitu aku pamit pulang bos,selamat malam...",ucap Danian mengakhiri pembicaraan.
"Oh ia",balas Hanz singkat.
Hanz menatapi wanita yang berada diatas ranjangnya,semua tanda tanya terlintas dipikirannya.Dan lagi-lagi,semua itu membuatnya semakin tidak percaya karena Vivian benar-benar berada disisinya.
Untuk meyakinkan dirinya,Hanz secara perlahan menyentuh pipi Vivian yang tertidur terlelap.Dan rasa penasarannya pun membuatnya semakin tidak berdaya.
Hanz yang terus memandangi wajah Vivian,mulai menyadari kalau wanita yang dihadapannya ini semakin terlihat manis.Hanz tersenyum karena dengan sendirinya wanita tersebut datang menemuinya.
"Mmmm..."
Vivian mengeliat,sekujur tubuhnya terasa pegal karena tubuhnya terapit.
Perlahan-lahan ia membuka matanya,dan terpana pada tatapan sang pria.
"Bagaimana tidur mu,apakah pulas,sayangku???",tanya Hanz mulai mengoda,senyum mautnya membuat Vivian terhipnotis sejenak.
Vivian terkejut mendapati pertanyaan dan tatapan yang intims tersebut.Ritme jantungnya semakin tidak menentu,membuatnya semakin terperdaya.Mereka dalam posisi yang berbahaya.
"Maafkan aku,aku tidak sengaja tertidur disini",jawab Vivian gugup.
"Benarkah???Yang aku lihat malah sebaliknya",ejek Hanz.
"Aku rasa kamu mencari kesempatan dalam kesempitan???",tanyanya lagi penuh dengan ambisi,menyelidiki.
Vivian yang dituduh secara sepihak pun membela diri,dia tidak ingin dicap sebagai wanita yang kecicilan alias centil.
"Yaghh,aku bukan seperti itu.Bukankah kamu yang memulainya duluan menarik tangan ku lalu mendekapku kedalam pelukkan mu.Saat aku mencoba meloloskan diri,dirimu malah semakin menjeratku",celutuk Vivian kesal.
"Salah sendiri,masuk kekamar pria...",goda Hanz.
"Kamu...",tunjuk Vivian.
"Apa??",tantang Hanz.
"Benar-benar nyebelin...",balas Vivian.
"Tapi suka kan...",goda Hanz iseng.
"Yyyaaaa...",teriak Vivian tanpa sadar ia memukul-mukul bagian dada Hanz sembari menahan rasa malunya.
Hanz yang sengaja mengoda Vivian,tidak mampu menahan tawanya karena gemes.Apalagi pukulan kecil Vivian membuatnya sedikit meringis,dalam sekejap Hanz menghentikan pukulan kesal Vivian.
"Hahaha...baiklah,sudah cukup.Terima kasih karena kamu sudah datang menemuiku",ucap Hanz lembut.Ia memandangi Vivian dengan lembut,perasaan bahagia kini mewarnai harinya karena wanita ini ada disisinya.
Hanz menjadi bersemangat,wajahnya mulai terlihat berseri kembali.
Dan itu disadari juga oleh Vivian,perasaan lega nya pun kembali memulih memandangi pria yang ada dihadapannya itu terlihat sehat kembali.Vivian juga ikut merasakan kebahagiaan itu.
Posisi yang saling berhadapan itu membuat mereka terdiam sejenak.Pikiran mereka terbenam.
Lalu dengan santainya Hanz,bangkit berdiri melepaskan jeratannya.Ia tidak ingin terbawa suasana yang lebih jauh.
"Kamu tunggu lah disini,aku mau mandi,setelah itu aku akan mengantar mu pulang",ucapnya memberi perintah.
"Ah,ia..",balas Vivian menuruti.
Dilihatnya punggung Hanz yang berlalu pergi.
"Apa yang aku harapkan,dasar mesum",batinnya.
Ia merasa malu,dan hampir saja moment tersebut menghancurkan pertahanan batinnya.Terbesit dipikirannya jika dalam hitungan diam tadi Hanz akan menciumnya,namun itu hanya imajinasi liarnya saja.
Untuk mengamankan hati dan pikirannya,Vivian dengan segera merapikan tempat tidur,mengalihkan pikiran jahatnya dengan cara melakukan kegoatan positif.
Dan dalam hitungan waktu kamar itu kembali keseperti semula,bersih dan rapi.
Vivian menjadi bangga akan itu semua.
Ckkllkk,knop pintu terbuka.
Seorang pria tampan tampak segar setelah usai mandi,aroma tubuhnya menyeruak mengisi seisi ruangan.Vivian menelan air ludahnya sendiri,dan lagi-lagi imannya mulai tergoyah.
"Apakah kamu ingin mandi juga????",tanyanya,mengabaikan wajah Vivian yang merona.
"Karena malam ini sebelum pulang,aku ingin mengajak mu kesuatu tempat",ajak Hanz,ia baru saja mengenakan pakaian gantinya.Sederhana namun tetap stylis.
"Mmm,boleh,hanya saja aku tidak memiliki baju ganti",jawabnya sekenannya,karena pikiran Vivian mulai kacau tak beraturan.Bagaimana tidak,pria yang dihadapannya itu selalu saja membuatnya terpesona.Apakah ia sangat beruntung menatapi pria yang berwujud malaikat itu,apalagi matanya sangat indah.Vivian benar-benar terhipnotis bahagia tingkat dewa.
"Kalau begitu,kamu mandilah.Biar nanti aku minta seseorang mencarikan untuk mu pakaian ganti",ucap Hanz lalu meninggalkan Vivian yang tertegun.
"Mmm,baiklah".
************💝💝💝💝*********
Vivian mengikuti langkah Hanz,sesekali ia melirik wajah pria yang ada disampingnya itu.Vivian tidak tahu,pria ini membawa kemana dirinya malam-malam kesebuah restoran yang begitu sunyi tanpa umat manusia yang berkunjung.
Restoran itu tampak mewah dan elegan,apalagi suara musik menghiasi keromantisan yang terjadi.Dan Vivian tidak heran jika Hanz sering berkunjung ketempat itu.
Hanz menarik kursi dan mempersilahkan Vivian duduk dengan segera.Walaupun canggung,ia pun menurutinya.Sikap Hanz yang tiba-tiba membuat Vivian berbunga-bunga.
Malam ini,entah apa yang dipikirkan Vivian.Hari ini,ia selalu dikejutkan dengan beberapa moment yang begitu indah.Apalagi,untuk pertama kalinya ia diajak makan kerestoran mewah.Vivian tidak habis pikir,dalam hatinya ia pun berasumsi,"Apakah kami sedang kencan???".
Tempatnya sungguh romantis untuk diucapkan dengan kata-kata.
Apalagi,hanya mereka berdua yang ada disitu.
"Apakah ia memboking tempat ini???",batin Vivian beragumen kembali.
"Kalau ia,ya ampun so sweet banget....",ucap Vivian berimajinasi.
"Oh,Tuhan...terima kasih untuk berkat mu hari ini",ucapnya senang namun tidak ia umbarkan.
"Selamat makan,semoga kamu senang",ucap Hanz membuyarkan lamunannya.
"Hmm,selamat makan juga",balas Vivian dengan senyum mengembang.
Suasana begitu romantis.
Dalam diam Vivian begitu menyukainya dan semakin menyukai pria dingin yang ada dihadapannya itu.
Dengan spontan Vivian pun mengumbarkan isi hatinya,"Aku menyukai mu...".
**************💝💝💝*************