
Dengan perasaan berat Vivian mengikuti permainan Roy,adik Hanz itu benar-benar tidak beda jauh dengan kakaknya,selalu menyebalkan.
Didalam mobil Vivian tidak banyak bicara,pikirannya menerawang entah kemana.Dirinya tidak berkutik saat Roy menarik tangannya meninggalkan Hanz yang terdiam seribu bahasa itu tanpa menolak atau menyetujuinya.
Namun sekilas ia menatap tatapan Hanz yang begitu kesal.Tanpa disadari Vivian dapat membaca setiap ekspresi Hanz hanya dengan menatap kedua iris matanya saja.
Amber eye color,mata serigala itu membuat Vivian merasakan ada sesuatu yang tersembunyi dan itu sangat menakutkan.Tatapan mata seperti itu pernah tertanam diingatannya yang hampir membuatnya mati karena ketakutan.
Secara reflek Vivian mengeleng-gelengkan kepalanya menepiskan segala ketakutan dan pikiran negatifnya.Roy yang memperhatikan hanya tersenyum nyinyir.
"Ada apa?" tanya Roy sembari mengemudikan setir mobilnya dengan santai,sesekali ia melirik Vivian yang ada disebelahnya.
"Tidak ada apa-apa." Sahutnya singkat menutupi rasa kekhawatirannya,sembari memandangi pemandangan diluar jendela mobil.
Melihat reaksi Vivian,Roy sedikit canggung karena telah memaksanya masuk dalam kesulitannya.
"Apakah kehadiranku tadi telah merusak pertemuanmu dengan kakakku Hanz?"
Vivian menoleh dan menatap Roy dengan kesal.
"Agh,maafkan aku."
Roy yang mendapat sorotan tajam Vivian mulai merasakan perasaan merinding.Tatapan wanita yang dihadapannya ini terlihat sama dan sangat menakutkan untuk diungkapkan.
"Benar-benar jiwanya kakak Hanz yang kedua."Batinnya,
"Menakutkan."
Roy menghela nafas yang terasa sesak,dengan berhati-hati ia pun mengungkapkan niatnya.
"Maafkan aku karena mengajak lady secara tiba-tiba.Sikapku mungkin berkesan tidak sopan.Akan tetapi,semua ini diluar kendaliku.Aku memanfaatkan mu."
"Wah,sungguh terlalu.." Protes Vivian tidak terima.
Roy menelan aliran silvanya yang mengering,"Ya.Aku memanfaatkan mu."
Kata-kata Roy terjeda sejenak.Dan sebaliknya,
Dengan menyilangkan kedua tangannya didada,Vivian merasakan dirinya dipermainkan oleh kedua kakak beradik ini.Dan justru ia semakin terseret kedalamnya.Tanpa memperdulikan Roy,Vivian hanya menatap lurus kedepan.
Roy melanjutkan kembali ucapannya.
"Aku-- memanfaatkanmu itu karena ada alasannya.Memanfaatkanmu untuk memancing kakak ku agar ia mau pulang.Dan menemaniku agar dengan begini nenek tidak akan memakanku.Jika kakakku Hanz ternyata masih menolak untuk pulang." Curhat Roy memelas memohon pertimbangan Vivian untuk membantu dirinya.
Vivian menatap Roy dengan penuh pertimbangan.Namun rasa khawatirnya semakin menjadi apalagi setiap kata-kata yang diucapkan oleh Roy selalu membuatnya tergugah.
"Hahaha--,Lady jangan khawatir.Nenek tidak semenakutkan itu..." Suara Roy terdengar bersungguh-sungguh meyakinkan Vivian.Entah kenapa ia harus menjelaskan sesuatu yang tidak penting.
"Aku hanya khawatir jika nanti aku pulang tidak membawa seseorang,nenek akan sedih.Dan orang yang diharapkannya adalah kakak ku,Hanz.Tapi,tenang saja karena lady menemani ku,nenek pasti akan senang." Hibur Roy.
Vivian hanya menyengir ragu akan penuturan Roy.Terselip sesuatu misteri yang membuat Vivian harus selalu waspada dengan pria yang ada disampingnya itu.
Sedangkan Roy tersenyum manis penuh makna karena ia yakin Vivian akan membantu permainan liciknya.
************&************
Beberapa jam kemudian.
Tanpa terasa tempat yang dituju pun sudah nampak dipelupuk mata,Vivian sedikit terpana.Tempat yang terpencil jauh dari keramaian itu,tersembunyi sebuah mahakarya yang luarbiasa indah.
Dengan terkagum-kagum Vivian mengamati rumah bak istana itu.Bangunan yang luas dan besar serta dihiasi taman yang luas dan indah itu,membuat jantungnya berdebar tak berdaya.
Vivian termanggu dalam keheningan,tanpa sekalipun mengedipkan mata.Dirinya bagaikan sedang bermimpi disiang bolong,hampir tidak percaya apa yang dilihatnya.Kekagumannya mengalahkan perasaannya yang terkhianati.
Dengan berdebar-debar Vivian keluar dari dalam mobil.Saat Roy dengan spesial membukakan pintu mobil untuknya.Langkah kaki yang hampir goyah itu tidak mampu menopang perasaan gugup dan khawatirnya.
Untuk pertama kalinya Vivian merasakan berkunjung kerumah orang penting tersebut.Pemilik perusahaan Lux serta supermodel terkenal.Merupakan momen terlangka untuknya.
Wajah Vivian sedikit memucat,pikirannya sedikit dramatis,mengingat orang kaya biasanya tidak bersahabat.
Roy yang menyadari ketidaknyaman Vivian,dengan santainya mengandeng tangan Vivian dan membawanya masuk.Anak-anak tangga secara perlahan mereka lalui,layaknya sepasang kekasih yang hendak menuju altar pernikahan.Tetapi mereka bukanlah sepasang romantis itu.
Pintu terbuka dan berdirilah beberapa pelayan menyambut kedatangan tuan mudanya itu berserta tamunya.Dengan senyum ramah dan terlatih,mereka serentak menyapa.
"Selamat datang kembali tuan muda.." Sapa mereka serentak dengan hormat.
Roy hanya mengangguk dan membalas dengan tersenyum ramah,lalu mengabaikan pelayan-pelayannya itu.Dengan suara lantang,Roy pun berteriak.
"Nenekkkkkkk.....!!!!aku pulang..."
Suara lengkingan Roy menjalar kesegala penjuru arah.Bangunan yang eksentrik dengan gaya eropa itu hampir menelan seluruh suara yang mengema.
Roy dengan santainya menantikan seseorang yang ia panggil.Sedangkan Vivian masih menggagumi apa yang ia lihat,dan mengabaikan tingkah konyol Roy.
Tiba-tiba seseorang wanita paruh baya muncul,sikapnya dan penampilannya sangat berwibawa dibalut dengan pakaian yang sangat sederhana namun elegan itu,tersenyum riang menyambut cucu kesayangannya.
Amira Lex Smith,tergopoh-gopoh menuruni titian anak tangga.Dengan kehati-hatiannya ia mendatangi cucu yang baru saja datang.
"Roy,cucu kesayangan nenek 🥰🥰.."
Sang nenek langsung memeluk cucu kesayangannya itu layak sang bayi besar yang dipeluk mesra oleh ibunya.
Roy dengan manjanya membalas pelukkan sang nenek.
Kehangatan cucu dan nenek benar-benar begitu erat.Bukan tanpa alasan jarak dan waktu memisahkan mereka membuat rasa rindu semakin tak terbendung.Sedari kecil sang nenek sudah terbiasa mengurus cucu-cucu tampannya itu.Namun saat besar kedekatan itu mulai merenggang.
Kehidupan yang mandiri dari kedua cucunya membuat sang nenek harus menjadi bijak.Keputusan yang mereka pilih adalah dukungan yang harus ia beri demi kebahagiaan kedua cucunya tersebut.Walaupun ia harus merasakan sedih dan kesepian.
"Nenek tambah cantik.Terlalu lama tidak bertemu nenek,kenapa nenek terlihat muda ya?"Goda Roy.Dengan kata-kata manisnya dan sikap jahilnya, Roy memuji sang nenek.
Dengan gregetnya sang nenek mencubit pinggang Roy.
"Dasar cucu ku yang nakal,senang sekali ya mengoda nenek mu ini." Balas sang nenek.
"Aawww---" Rintih Roy kesakitan.Cubitan sang nenek membuat Roy sedikit meringis.
Lama sekali ia tidak merasakan cubitan kesal neneknya itu,karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya.Entah kenapa Roy sangat merindukan sikap bawel neneknya itu.
Vivian tertawa menyaksikan Roy dengan nenek Amira.Dugaannya salah jika menilai nenek Hanz dan Roy itu sangatlah galak.
Mendengar ada yang tertawa sang nenek pun mengamati Vivian yang sedang berdiri dibelakang Roy.
"Siapa ini??" Tanya sang nenek kepada Roy,menunjuk wanita yang ada dihadapannya.Sikap nenek yang hangat berubah dengan sikap penuh tanda tanya.
"Oh ia,Nek.lupa memberitahu,ini rekan aku." Balas Roy dengan segera.
"Hallo,Nek.Perkenalkan nama aku Vivian." Sapa Vivian ramah,ada nada gugup didalamnya.Pertemuan pertama yang menegangkan,layaknya mengikuti ujian kelulusan pertama saat memulai wawancara pekerjaan.
Dengan terpana sang nenek mendekati Vivian,"Sungguh manis." Ucapnya sembari menyentuh wajah Vivian.
Sang nenek menyukai wanita itu dalam pandangan pertama.Karena rasa keibuannya,ia merasakan Vivian seperti mendiang menantunya dulu.
"Nek,apakah nenek tidak penasaran?" Ucap Roy membuat kedua wanita tersebut menuaikan ekspresi penuh tanya.
Dibalik pundak sang nenek Roy merangkul sembari membisikkan sesuatu dengan misterius.
"Nenek,hari ini aku membawakan kado spesial buat nenek?!"
"Apa itu?Nenek jadi penasaran dengan kado spesial mu itu."Balas Nenek Amira senang.Tangan tuannya membelai lembut punggung tangan cucunya.
"Nenek penasaran?!Kado spesialnya itu ada dihadapan nenek sendiri."
Amira Smith menjadi bingung.Karena dihadapannya hanya ada Vivian.
Sebaliknya Vivian yang menjadi pendengar setiap pun ikut kebingungan juga.Sebab ia menyadari Roy tidak membawa sesuatu saat keluar dari mobil hingga sampai lelaki itu berdiri dihadapannya.
"Tidak lah nenek ku sayang."
Roy pun beralih haluan mendekati Vivian dan dengan segera memegang kedua pundak Vivian dengan lembut.Dan secara perlahan mendorong Vivian hingga wanita tersebut maju selangkah dihadapan sang nenek.
"Kadonya adalah Vivian.Dia ini pacarnya kakak Hanz,Nek."Ucap Roy penuh kejutan.
Vivian terbatuk namun tenggorokkannya tidak gatal.Ia hampir memukul Roy jika saja wanita paruh baya tersebut tidak berada disitu.
Amira Smith terkejut namun ia percaya cucunya itu tidak pernah berbohong.Dengan tersenyum Amira Smith melihat Vivian dengan sikap groginya.
"Benarkah??" Ucap sang nenek meluapkan kegirangannya sembari memegang kedua tangan Vivian.
Vivian hanya tersenyum meringis menatap Roy dengan pandangan melotot karena tidak terima,namun hatinya sedikit berbunga.
"Nenek,akuu-- " Ucap Vivian terputus.
"Beneran,Nek." Ucap Roy menimpali,tanpa memperdulikan kekesalan diwajah Vivian terhadap dirinya.
Dengan cepat-cepat Roy lalu mengajak neneknya duduk diruang tamu.Sedangkan Vivian hanya menganga karena kalah cepat untuk menjelaskan,namun dengan terpaksa ikut menyusul keruang tamu.
"Aku mohon--bantu aku--demi nenek." Bisik Roy ketika mereka sudah berada diruang tamu.Vivian tidak dapat menolak permintaan memelas Roy.
"Tunggu dulu,dimana cucu nenek yang satunya??" Tanya nenek kearah Vivian dengan perasaan gelisah.Ada raut wajah sedih terpancar dari matanya.
Dengan terbata-bata Vivian menjawab sebuah drama yang diberikan Roy,untuknya dan untuk sang nenek.
"Hanz--sibuk,Nek, dan ia masih berada dilokasi.Kalau sudah beres mungkin dia akan menyusul kemari." Balas Vivian.
Vivian berharap apa yang diucapkannya dan strategi yang Roy rencanakan dapat terwujud.Jika Hanz benar-benar akan datang untuk pulang.Vivian tidak tega membohongi wanita paruh baya itu dan menjadikan nenek Amira bersedih kembali.
"Aku sangat berharap ia pulang.Sudah lama sekali dia tidak pernah pulang kerumah ini semenjak umur 15 tahun.Semenjak peristiwa naas didalam rumah ini."Sebuah cerita lama terlontar begitu saja dari bibir rapuh Amira Smith.
"Jikapun Hanz pulang kerumah ini,apakah rasa traumanya sudah memulih? Nenek khawatir jika ia masih seperti dahulu." Ucapnya tercekat karena sedih.
"Nenek sangat khawatir jika itu terjadi-- dia pulang.Agh,dengan kondisi bisa melihat tapi tidak bisa melihat." Sang nenekpun memegang kedua dadanya yang begitu sesak sembari merangkul Roy yang duduk disebelahnya.
Vivian yang mendengarkan hanya terdiam karena masih tidak memahami apa yang dikatakan sang nenek.Namun ia dapat memahami perasaan itu.Kesedihan yang teramat dalam.
"Sudahlah nenek,semua akan baik-baik saja.Roy yakin kakak Hanz pasti bisa pulih kembali.Apalagi sekarang ada kakak Vivian yang mendampingi." Hibur Roy.
"Ia,Nek.Aku akan berusaha sebaik mungkin membantu Hanz.Nenek jangan bersedih lagi." Sambung Vivian antusias.Tanpa disadari Vivian menelan ucapannya sendiri.Tentu saja Roy tersenyum penuh kemenangan mendapati Vivian mendukungnya lagi.
"Ya,kamu benar.Nenek yakin Hanz dapat melupakan peristiwa itu segera."
Roy yang mendengarpun menjadi lega.Dan suasana pun kembali menjadi tenang.Rasa sedih itu sejenak teralihkan.
"Kalian menginap disinikan untuk malam ini??" Tanya Amira Smith tiba-tiba.
"Tentu nek,kami akan bermalam disini." Jawab Roy tanpa memperdulikan pendapat Vivian.Dan tentu saja,lagi-lagi Vivian menyerah mengikuti keputusan Roy.
Nenek Amira sangat senang.Dengan segera ia menyuruh semua pelayan untuk mempersiapkan kamar milik Roy dulu dan untuk tamu cucunya tersebut.Serta tidak lupa meminta pelayannya itu untuk segera menyediakan perjamuan makan malam yang lezat.
Tanpa mengulur waktu dengan segera pelayan pun berhamburan melakukan tugas mereka masing-masing.Sehingga membuat suasana rumah keluarga Smith pun nampak terlihat sibuk dan ramai.
Kesibukan yang terjadi dirumah mewah itu membuat Vivian sedikit canggung,karena telah merepotkan orang-orang dirumah tersebut.Bukan tidak ada alasan,hanya saja dirinya tidak layak diperlakukan istimewa padahal bukan dari kalangan atas atau borjuis.Namun sikap tuan rumah yang ramah,membuat Vivian sangat bersyukur,ada kenyamanan didalamnya.
Vivian memasuki sebuah kamar yang disediakan untuknya yang bertepat dilantai dua,kamar yang luas hampir seluas rumahnya.Perabotan yang adapun membuatnya sedikit frustasi,takut-takut ia akan merusaknya tanpa sengaja.
Vivian yang merasakan tubuhnya kini terasa sangat lelah.Telah teralihkan lelahnya akan sesuatu saat dirinya berada diberanda diluar kamar.
Terik matahari tidak bisa mengalahkan betapa indahnya pemandangan yang ada dibalkon kamarnya.Bisa dibayangkan bagaimana perasaan seseorang mendapatkan pengalaman yang begitu langka tersebut.Ia menikmati setiap moment akan suasana seperti ini.
"Apakah tidak keberatan lady,bermalam disini??" Tanya Roy tiba-tiba masuk tanpa permisi.
Vivian sedikit terkejut ketika seseorang masuk kedalam kamarnya.
"Dengan terpaksa" Jawab Vivian tegas mengacuhkan Roy.
Namun perkataan yang ia ucapkan hanya kamuflase belaka sebab didalam hatinya ia sangat beruntung bisa berada dirumah mewah tersebut.
"Kamu sudah menjebakku.Mengatakan bahwa aku kekasih kakakmu.Apa kamu tau?! Justru kamulah yang telah membunuhku perlahan-lahan secara perlahan-lahan kini." Kesal Vivian namun berbunga-bunga.
"Tenang saja karena Hanz tidak akan menduganya." Jawab Roy yakin.
"Anggap saja ini adalah bentuk penghargaanku.Karena lady Vivian mau menjadi teman dekatku."
"Apakah Lady tau? Lady adalah malaikat pelindung ku.Jika tidak ada lady mungkin nenek sudah mengomeliku sedari tadi.Jika sudah begitu ia akan merajuk seperti bayi dan mengabaikan aku cucunya hanya demi kakak Hanz yang tidak pulang-pulang.Dan tentunya aku tidak mau nenekku itu kecewa dan terlihat sedih."
"Baiklah,jika alasannya seperti itu." Ucap Vivian menunjukkan senyum manisnya,menyetujui permainan konyol si Roy.
"Aku memaafkan mu."
Roy pun tersenyum balik,namun senyumnya terlihat licik.
***************
Hanz dengan gelisah memikirkan perkataan Roy.Perasaannya mendadak berubah menjadi tidak menentu.Ada yang mengganjal didalam hatinya dan itu sungguh tidak terasa nyaman.Hanz dengan berbagai cara menghilangkan ketidaknyaman itu,akantetapi tetap saja terasa sama.
Dreeettt.....
Suara handphone berbunyi,sebuah pesan masuk.Deretan pesan singkat itu kini memenuhi memori diotaknya.
"Ka,malam ini kami menginap dirumah."
"Nenek,menunggumu."
"Nenek senang dengan hadiah yang aku bawa."
"Apakah kakak ingin tahu apa hadiah yang ku berikan pada Nenek?"
"VIVIAN"
"Karena senang,nenek mengadakan acara kecil-kecilan untuk penyambutan kami"
"Apakah kakak tidak penasaran?"
"Nenek ingin memperkenalkan calon menantu cucunya itu pada acara besok."
"Apakah kakak tidak penasaran siapakah pasangannya itu?"
"Jika kakak penasaran,alangkah baiknya kakak mencari tahu sendiri."
"Karena aku tidak ingin memberitahukannya."
"Agh,tetapi aku bukan sekejam itu kak."
"Aku akan memberitahu kakak?!"
"Apakah calonnya Vivian itu AKU,Adikmu Roy ini,ataukah....?"
"KAKAKK KU tersayang."
"Karena jika itu AKU.Kakak harus merestui ku."
"Setidaknya,hubungan itu akan diresmikan."
"Besok."Pesan singkat dari Roy Smith,adiknya.
Hanz terpaku ditempatnya.Deretan pesan tersebut membuatnya tidak dapat berpikir dengan tenang.Ia seperti diranjau sebuah bom yang akan segera meledak.Antara keraguan akan isi pesan tersebut.Akan tetapi,
Deg,
Sebuah benda tajam terasa menusuk jantungnya,SAKIT.