
Suasana di Hotel bintang ternama dikota xxx mulai ramai dan hangat,para tamu undangan VVIP dan EXSCLUSIVE telah berkumpul memamerkan bakat ketenarannya.Para wartawan elit pun siap dengan ragam beritanya.
Alunan musik berkemumbangan memeriahkan suasana,germecik suara gelas saling beradu.Decak tawa sendau gurau antar tamu pun terdengar membahana.
Hanz tampak elegan dengan stelan jasnya.Tiada lebih bersinar dari aura dan style yang ia gunakan,wanita-wanita menjerit histeris karena terpukau,sedangkan pria berdecak kagum bahkan merasa iri.
Hanz melangkahkan kakinya dengan santai melewati setiap para tamu undangan,senyum tipis ia sampaikan sebagai salam persahabatan.Walaupun dirinya tidak terbiasa menghadiri acara seramai itu.Hanz tetap mencoba untuk berbaur.Membiasakan diri berada ditengah keramaian yang sesungguhnya.
Danian yang mengikuti pun tidak luput dari pandangan dan sapaan.
Danian memang tidak semenarik Hanz Alexandro,namun kepiawaiannya dalam bernegoisasi dan bersosialisasi merupakan keahliannya yang mutlak.Dirinya sebagai juru bicara yang diandalkan oleh Hanz.
Hanz mengamati para tamu satu persatu,sosok yang dicari nampak tidak kelihatan.Rasa kecewa pun menyelimuti hatinya.
Danian yang tau akan sikap Hanz pun angkat bicara,"Biasanya Cinderella dalam dongeng,datangnya terlambat".
Hanz hanya memicingkan matanya dibalik kacamata Chopard miliknya.Ia tidak terima jika Danian mengetahui apa yang dipikirnya.Dengan arogannya Hanz mengabaikan Danian dengan meminum champange yang ia ambil dari seorang pelayan.
Danian hanya tersenyum.
Cekrek..Cekrek...Cekrek...
Suara kamera derdecik riuh,berlomba-lomba menggaet sasaran yang hendak difoto.
Roy Smith dan Veronica Alqarin,tampak mempesona.Suara riuh wartawan membuat mereka selalu menebarkan senyuman yang mempesona.
Mereka adalah dewa dan dewi didunia modeling.Tidak heran setiap media masa,media sosial,dan media elektronik lain,mengait-kaitkan mereka adalah pasangan yang serasi.Hanya saja pada kenyataannya mereka bukanlah sepasang kekasih melainkan mantan kekasih yang menjalin hubungan secara diam-diam.
Roy menghampiri kakaknya Hanz dan mengamati situasi disekitar.
"Bukankah perusahaan StyLe juga diundang,kenapa aku tidak nampak melihat Vivian hadir?", Roy bertanya-tanya sembari masih fokus mencari-cari wanita yang dimaksud.
"Kenapa kamu bertanya padaku?!" Kesal Hanz,namun didalam hati ia juga gelisah menunggu Vivian muncul.
"Hahaha,siapa tau kakak tahu." Balas Roy polos.
"Kamu ini...!!" Hanz menjadi jengkel.Suasana hatinya mulai memburuk.Apalagi kemunculan Vivian,wanita yang ia nanti pun tidak menampakan dirinya.
"Astaga kakak.Kenapa dirimu tiba-tiba marah padaku?" Protes Roy.
Hanz terdiam mengabaikan Roy begitu saja,segelas champange masih terisi penuh namun Hanz sudah merasakan gerah.
"Apa yang kalian bicarakan???" Vero muncul begitu saja.Ekspresinya begitu penasaran saat memdapati kakak beradik tersebut sedang beragumen.
"Bukan apa-apa." Jawab Hanz menyunggingkan senyum dinginnya,Vero terkesima.
Vero menyukai pria yang dihadapannya,mengagumi Hanz yang tersenyum tipis itu.Sudah lama sekali ia tidak melihat wajah dingin Hanz yang selalu membuat hatinya berdebar.
"Kamu terlihat memukau,Hanz." Puji Vero anggun.
"Kamu juga terlihat cantik malam ini,Vero." Balas Hanz memuji lalu menyulangkan segelas champange.Kekesalannya seketika teralihkan dan mengabaikan adiknya seketika.
Vero merasa tersanjung,dan menerima pujian Hanz dengan bahagia.Senyuman manis merekah disudut bibirnya dengan malu.Tanpa menolak iapun menimun segelas anggur merah miliknya.
Roy sejenak terdiam.Ia tidak bisa mengabaikan suasana yang terjadi,dengan cemburu ia merampas minuman milik Hanz lalu meneguknya habis.
Hanz tertegun.Tanpa berkata-kata ia membiarkan Roy bersikap kekanak-kanakan.Ia menyadari adiknya memiliki suasana hati yang buruk apabila vero mendekatinya." Cemburu.." Batin Hanz.
"Agch.."
Suara Roy terdengar berat dan sedih.
"Apakah kamu baik-baik saja?" Hanz terdengar khawatir.
"Aku baik-baik saja.Aku hanya haus dan gerah." Balas Roy.
Dikembalikannya gelas bening itu kembali ke tangan kakaknya.Tidak ada rasa bersalah ataupun meminta maaf,Roy sudah sedikit senang.Membiarkan kakaknya terlihat khawatir.Walaupun ia tau seharusnya tidak menyalahkan kakaknya sendiri.
Akan tetapi Hanz tidak memperdulikan itu semua.Baginya Roy hanya kesal sesaat padanya.
"Oh." Jawab Hanz singkat.Sejujurnya dirinya lah yang merasa gerah karena berada diantara dua sejoli yang rumit.
Vero yang melihat aksi Roy hanya terdiam.Seketika wajahnya merasakan sebuah ketakutan.Bagaimana tidak ia tau semua sifat dan karakter Roy.Karena pria tersebut pernah singgah sejenak dihidupnya.
Sikap dingin Roy merupakan buah dari kesalahan yang telah ia buat.Walaupun Roy pria yang baik namun tetap saja dia tidak ingin menyakitinya lebih.Oleh karena itu hubungan mereka pun kandas ditengah jalan.
Roy menatap lekat wanita yang ada dihadapannya,vero mengacuhkan dirinya.Dan itu sangat menyakitkan dirinya.Baginya Vero masih tidak dapat melupakan cintanya pada Hanz.
Hubungan dirinya adalah sebagai sebuah pelarian.Tentu saja pria mana yang tidak kecewa.Tapi tetap saja Roy masih mencintai wanita tersebut.
Dihatinya,hanya Verolah segalanya walaupun wanita tersebut masih tidak menyadarinya.Roy gagal mempertahankan cintanya.
Jika dikaitkan dengan Hanz,Roy tidak bisa membenci kakaknya itu. Hanz bukanlah sumber kesalahan.Hanz sudah menolak Vero sebelum mereka menjalin hubungan dan mengganggap Veronica Alqalin adalah adik perempuannya,yang juga teman dekat dirinya.Dan bodohnya ia,tetap memaksa cinta yang bukan untuk dirinya.
Namun saat ini jika dihadapkan Vero dan Hanz,rasa cemburu membuat pikiran Roy menjadi kalut,sebisa mungkin ia menahan itu semua, namun hati tidak dapat berbohong.Ia tidak menyukai jika senyum manis milik vero diperlihatkan begitu saja untuk orang lain,terutama kepada kakaknya sendiri.Roy kesal.
Danian yang menyaksikan ketegangan yang terjadi,mulai mencairkan suasana.Menghampirinya,lalu membisikkan sesuatu,
"Hanz,dia sudah datang."
Dan seketika itu juga,Hanz memandangi sumber yang ia dengar.Senyuman manis tersungging disudut bibirnya.
"Akhirnya dia muncul juga." Suara Hanz terdengar bahagia,Roy yang mendengarpun menjadi bingung begitu juga vero.
Keduanya mengikuti pandangan Hanz yang fokus kesatu sosok.Roy mendapati sosok tersebut dan seketika hatinya tercerahkan.
Sedangkan Vero masih kebingungan,karena mendapati Hanz dalam sekejap dapat merubah ekspresi wajahnya yang tidak pernah ia lihat sebelumnya untuk seseorang yang tidak terlihat.
Vivian nampak anggun dengan gaun sederhananya,rasa gugup menyelimuti perasaannya.Tentu saja ini adalah pesta malam elit pertamanya.Gaun yang ia kenakan adalah pemberian dari perusahaan,walaupun sederhana Vivian sangat menyukainya.
"Apa kamu gugup???" Tanya manager Kill,disaat mereka berdua telah sampai diBallroom Hotel xxx.
"Sedikit.." Jawab Vivian polos,menyunggingkan senyum manisnya.
"Hhmm,itu wajar dan santai saja..." Terdengar nasehat lembut manager Kill.
Vivianpun melangkahkan kakinya dengan perlahan mengekori manager Kill yang berjalan duluan,seraya menyapa para kolega penting.Wajahnya sedikit merona karena sebagian para tamu menatap kearahnya.
Namun langkahnya terhenti,saat seseorang berdiri dihadapannya.
Wajah yang ia kenali,pria sederhana yang dulu pernah singgah dihatinya akan tetapi membawa luka yang menyakitkan.
Sammuel Frandrick,pria itu tersenyum dengan indahnya.Menatap lekat pada kedua mata Vivian,menorehkan rindu yang dalam.Dan beruntungnya dia dapat berjumpa dengan wanita yang ada dihadapannya ini.Entah mengapa sejak ia menjalin hubungan dengan Clarissa,hubungannya dengan Vivian merenggang.
Sammuel Frandrick telah dijodohkan kedua orang tuanya dengan Clarissa Tylor yang juga merupakan sahabat Vivian yang ia cintai.Hubungan yang belum dimulai retak karena sebuah perjodohan.Sam tidak bisa mengekang keputusan orang tuanya,namun tidak bisa membohongi perasaannya terhadap Vivian.
"Apa kabar,Vivian?" Tanya Sam disela-sela ramainya tamu undangan.Ini adalah pertemuan pertama mereka.
"Mmmm.Aku,baik-baik saja." Jawab Vivian gugup,dan bohong saja jika ia masih tidak mengagumi pria yang ada dihadapannya itu.
"Syukurlah..." Ucapnya lega.
"Bersama siapa kamu kemari??Apakah aku mengganggu??" Tanyanya Sam penasaran.Sam merasa lega karena mendapati Vivian tidak didampingi oleh seseorang yang spesial.Ia menyadari jika dirinya terlihat egois,akan tetapi ia bahagia.
Belum sempat Vivian menjawab,Clarissa muncul ditengah-tengah mereka berdua,dan rasa canggungpun terjadi.Vivian tidak ingin memperkeruh keadaan karena kecemburuan Clarisaa.
"Oh ya,ka,sepertinya aku harus kesana dulu." Pamit Vivian kepada Sam yang merupakan senior dikampusnya dulu lalu menunjuk kearah manager Kill.Alasan yang tepat agar ia dapat lepas dari jeratan Sam dan Clarissa.
Sam terdiam.Ada perasaan kecewa yang ia rasakan karena Clarissa muncul diwaktu yang tidak tepat,ia kesal.Tanpa berkata-kata Sam membiarkan Vivian pergi begitu saja.
"Kenapa terburu-buru?" Cegah Clarissa terdengar sinis.Ia merasa tersakiti,tidak menyukai Vivian yang begitu dekat dengan Sam.
"Bukankah,Sam bertanya padamu.Apa karena aku mengganggu makanya kamu pura-pura mencari alasan dan terburu-buru meninggalkan kami.Apa kamu takut padaku." Suara Clarissa terdengar mengancam.
Langkah Vivian terhenti.Ia berusaha setenang mungkin untuk tidak terprovokasi.Menatap lekat kearah Clarissa yang tersenyum sinis kepadanya,
Clarissa pun merangkul lengan Sam menyatakan bahwa Sam adalah miliknya sepenuhnya.Ia tidak ingin cintanya direbut begitu saja.Walaupun Sam merasa risih akan ulahnya.Clarissa tidak perduli.
Vivian terdiam sejenak,ia tidak dapat berkata-kata ketika Clarissa memojokkannya.Raut wajah yang anggun itu mendadak sayu tidak berdaya jika berhadapan langsung dengan Clarissa.
Tiba-tiba seorang waitress yang membawa minuman beralkohol dan berbagai macam jenis dan warnanya itu melintas dihadapan Vivian.Tanpa di sadari ia meraih segelas minuman beralkohol tersebut, mengalihkan kegelisahannya dan mengambil segelas Vodka.
"Apa kamu baik-baik saja." Sam terlihat panik.Tubuhnya segera bergerak menuju Vivian akan tetapi tidak dapat berkutik saat Clarissa merangkulnya sangat erat,dan tidak membiarkan dirinya untuk mendekati wanita tersebut.
Ia sangat terkejut karena Vivian dengan entengnya meminum minuman keras itu.Wajahnya terselip rasa khawatir karena ia tau Vivian tidak pernah menyentuh minuman dengan kadar alkohol yang tinggi.
"Aku baik-baik saja." Ucap Vivian mengacuhkan kekhawatiran Sam.
"Jangan memperdulikan aku seolah-olah kita dekat.Urus saja tunanganmu.Aku tidak ingin ia semakin membuat kekacauan disini dan merusak pesta." Ancam Vivian.
Sam terdiam.Ditatapnya Clarissa dengan tatapan yang menakutkan.Pria tersebut menjadi sangat marah.Dengan segera ia membawa wanitanya itu menjauh.Clarissa menjadi tidak berkutik.
Vivian yang kini merasakan dirinya berada diantara keramaian dunia yang tidak ia kenal,mengabaikan tatapan jahat akan dirinya.Berusaha sekuat mungkin untuk dapat berdiri walaupun sebenarnya ia pun ketakutan.
Vivian merasakan kepalanya semakin sakit dan menusuk,menusuk hingga kedalam hatinya kini.Namun tetap saja ia mencoba untuk bertahan agar harga dirinya tidak jatuh didepan Clarissa dan Sam tadi.
Segela minuman yang telah memberikan keberanian itu membuatnya semakin percaya diri walaupun berat ia mencoba untuk menunjukkan senyuman manisnya.Mengabaikan luka yang ada dihatinya,mengabaikan dunia yang begitu kejam padanya.
Vivian mulai merasakan tubuhnya semakin tidak terkendali,
"Sial,minuman apa ini." Batinnya.Dengan segenap kemampuan ia berusaha berdiri tegap,agar tidak terjatuh begitu saja.Agar orang yang memandangnya tidak semakin menjatuhkannya.Vivian putus asa.
Dikejauhan Roy yang mendapati Vivian berdiri dalam kesendirian.Wanita tersebut terlihat kacau dengan seseorang yang baru saja menindas nya.Roy mengerutkan kening.Ditambah lagi mulut-mulut kejam wanita yang ada dipesta sedang menggosipkan Vivian.Roy tidak terima.
"Bukankah itu Sammuel Frandrick,CEO GLAMoR,dan bukankah dua wanita tersebut mereka bersahabat dulunya," tanya seseorang tamu yang memiliki hobi bergosip.
"Ia,benar.Aku kenal mereka saat satu kampus dulu.Mereka sangat terkenal dan persahabatan mereka sangat erat.Wanita cantik yang didekat Sam itu namanya Clarissa Tylor pewaris perusahaan StyLe yang booming itu ,sedangkan yang satunya Vivianorich Angelica.Ada kabar Clarissa itu tunangan Sam,tapi karena Sam menyukai Vivian,persahabatan mereka pun renggang." Cerita salah satu wanita lagi.
"Benarkah."
"Hmmm.Tapi yang terdengar nona Vivianlah yang berusaha merebut Sam dari nona Clarissa." Tambah yang lain menambah bumbu dalam cerita.
"Wah,jahat sekali jadi wanita.Jangan-jangan dia datang kesini mau merusak hubungan CEO Sam dan nona Clarissa.Bukan kah hari ini adalah hari bahagia mereka.Yang katanya sih hari ini akan dikejutkan dengan pertunangan mereka." Ucap salah satu tamu wanita elit yang terprovokasi.
Roy yang panas mendengar Vivian dijelek-jelekkan pun angkat bicara dan mulai menyelamatkan wanita yang tidak berkutik itu.Roy yang dipengaruhi minuman beralkohol dan memiliki suasana hati yang buruk,mulai melayangkan aksinya.
"Hai KAKAK IPAR....." Suara Roy dengan lantangnya menggema diantara keramaian.Para wanita yang bergosip tadi mulai menggalihkan pandangannya ke Roy.Mencari tau apa yang sedang terjadi.
Roy si pembuat onar.Dalam sekejap ia mulai membalikkan keadaan yang terjadi.Kehebohan antara Sam dan Clarissa kini beralih menjadi kehebohannya yang membrutal.
"Nona Vivian Angelica," tunjuk Roy.
Roy mulai mendatangi sosok Vivian,menjadikannya target yang harus diperkenalkan.Dengan senyuman memikat miliknya,Roy yang supermodel itu telah menarik perhatian banyak para tamu undangan dengan seketika.
"Calon tunangan CEO Hanz Alexandro yang dirahasiakan..." Tutur Roy licik.
Vivian tertegun.Dalam sekejap ia semakin tidak berdaya,keterkejutan akan ulah Roy membuatnya terkesima.
Sontak seluruh orang yang berada didalam gedung memperhatikan.Para tamu undangan termasuk wartawan terkejut mendengar perkataan dari sang supermodel karena mereka mendapatkan berita yang spektakuler.
Dan tentu saja mereka berpikir hubungan relasi antara supermodel Roy dan CEO Hanz Alexandro memiliki sebuah hubungan yang dekat,karena tidak mungkin seorang supermodel hanya membual begitu saja.Walaupun pada kenyataannya mereka tidak mengetahui hubungan sesungguhnya diantara keduanya adalah saudara.
Sedangkan Hanz yang berada diantara keramaian,mulai merasakan efeknya.Adiknya yang berulah,membuatnya semakin kesulitan,
"Dasar Roy,lagi-lagi membuat ulah." Runtuk Hanz.