Monster Eyes Are My Beautiful Eyes

Monster Eyes Are My Beautiful Eyes
21.Rainbow Eyes



Vivian masih menyentuh pipinya yang merona,hatinya benar-benar berbunga ketika mengingat kejadian siang tadi saat perjalanan pulang mereka yang tertunda.Pikirannya melayang hanya memikirkan pria yang sudah menyentuh hatinya.Dan merampas ciuman pertamanya.


Dan bila diingat-ingatnya lagi,Vivian merasakan dirinya begitu ceroboh.Bagaimana bisa ia membiarkan pria tersebut menguasai dirinya.Saat ciuman tersebut berakhir,tiada sekalipun ia memarahinya.Justru ia semakin tidak berdaya,saat tatapan mata indah tersebut memanah hatinya.


"Agh,maafkan aku." Hanz melepaskan ciumannya,wajahnya menyemu.Dilepasnya wanita yang ada dihadapannya itu,ketika sebuah deringan telepon berbunyi.Hanz mengalihkan perasaannya yang begitu brutal.


"Hallo"


Hanz menyapa seseorang yang menelponnya,dan sekali-kali mencuri pandang kearah Vivian yang masih terdiam mematung.Rona wajah wanita tersebut membuat hati Hanz tergelitik.


"Betapa imutnya." Lirih Hanz.


"Hah??Apanya yang imut,kak?"


Hanz terkejut.Tanpa ia sadari ia mengabaikan Roy yang ada dibalik telepon.


"Masa karena aku memberitahu kakak,kalau ban mobil kita sudah selesai diperbaiki,akunya dibilang imut.Wah,kakak..?!Kakak sangat menakutkan." Protes Roy.


Hanz mengerutkan keningnya,"Kamu kira aku memujimu." Kesal Hanz.


Roy terkekeh."Baiklah.Aku tau siapa yang kakak puji.Kalau begitu kami akan menunggu kalian berdua,kak.Tapi jangan lama-lama."


"Hmm." Hanz mengakhiri pembicaraannya dan beralih kembali memandangi Vivian.


"Sepertinya kita harus turun kebawah.Mereka sudah menunggu."


Vivian hanya merespon dengan mengganggukkan kepala tanpa berani memandangi wajah Hanz yang menatap dirinya.Dan dari saat itu keduanya terdiam dalam keheningan.Meninggalkan cerita yang harus mereka simpan didalam hati dan dipikirannya masing-masing.


"Kenapa aku tidak menanyakan langsung kepadanya?"Protes Vivian dalam hati.


"Bagaimana bisa ia melakukan itu kepadaku?Dan bodohnya aku."


Vivian begitu malu akan dirinya dan juga perasaan yang tidak bisa ia kendalikan.Ada penyesalan disana namun itu telah terjadi.


Walaupun begitu,wajah berseri-serinya Vivian masih terlihat jelas jika ia terus memikirkannya dan tanpa sadar ia mengabaikan ibunya yang berdiri menyambutnya pulang.


Ambar,ibunya Vivian mengerutkan kening melihat perubahan tingkah anaknya semenjak kepulangan dari kota xx.


"Apakah kamu,baik-baik saja anakku?" tanyanya.


"Aah,ia bu.Aku baik-baik saja." Ucap Vivian membalas pertanyaan dari ibunya saat kesadarannya telah kembali ,sembari meletakan barang-barang bawaannya.Mengeluarkan pakaian kotor yang ia gunakan beberapa hari.


Ambar mengerutkan keningnya karena tidak percaya.Ia yakin anaknya menyimpan sesuatu yang begitu membahagiakan.


"Apakah sesuatu yang besar telah terjadi????" Tanya ibu Ambar penasaran melihat wajah anaknya yang nampak berseri-seri itu.


"Mmmm,bukan apa-apa,bu." Sahut Vivian manja saat menyadari ibunya mulai curiga.


"Ceritakanlah pada ibumu ini." Goda Ambar."Ibu tahu pasti ada sesuatu yang menyenangkan disana.Apakah kamu sudah mendapatkan pangeran impian???".


Wajah ibu Ambar menunjukkan ketertarikannya menunggu Vivian anaknya untuk bercerita.


Vivian dengan wajah malu-malunya itupun menolak untuk bercerita karena tidak mungkin ia menceritakan semua yang telah terjadi padanya.


"Mmm,nanti saja ya,bu.Vivian lelah mau istirahat." Pintanya dengan wajah memohon.


"Ya sudah,ibu tidak mengusik-ngusik kesenangan anak ibu.Cepat gih mandi,lalu makan.Ibu sudah menyiapkan makanan kesukaan mu,setelah itu cepatlah beristirahat." Balas ibu Ambar dengan lembutnya.


"Makasih,ibu ku sayang." Jawab Vivian sambil memeluk hangat ibunya itu.


"Ugh,dasar sudah dewasa masih saja seperti bocah." Goda ibunya lagi.


Vivian tersenyum membalas ocehan ibunya.Dan meninggalkan wanita yang sudah menjadi ibu terbaiknya itu.


***********


Ditempat yang berbeda,sebuah kehebohanpun terjadi.


Roy dan Danian secara bersama-sama mengamati Hanz yang sedang duduk disofa,di mansion sederhana miliknya.Ruang tengah yang luas itu,mengeluarkan hawa yang begitu mematikan,tidak ada hawa panas ataupun hawa dingin.Namun tetap saja dapat membekukan dan melelehkan orang-orang yang ada didalamnya.


Hanz duduk terdiam,memandangi ponselnya,entah apa yang ia lihat namun ia sekali-kali mengumbarkan senyuman yang misterius.Wajahnya menggambarkan aura yang begitu memukau.Roy terpana begitu juga dengan Danian.Secara bergantian mengamati satu sama lain.Ada sebuah tanda tanya yang melintas dibenak kedua pria tersebut.


Mereka menyadari ada sesuatu yang berbeda setelah kepulangan mereka dikota xx.Hanz terlihat bahagia.Bahagia karena apa,itu masih sebuah tanda tanya.


"Kak,apa yang terjadi padamu???" Tanya Roy mencoba menghampiri kakaknya secara perlahan sembari mengamati handphone yang tergeletak ditangan kakaknya itu.Dahinya berkerut.Roy tidak melihat sesuatu yang menarik dilayar ponsel Hanz, hanya sebuah gambar ikan kecil yang dimakan oleh kucing gendut.


"Apaan itu!?Apanya yang lucu?"



"Kenapa??Ada apa???" Tanya Hanz balik bertanya dengan intonasi nada yang dingin,mengabaikan Roy yang duduk disebelahnya.


"Bagaimana bisa kakak hanya dapat begitu bahagia dengan sebuah gambar biasa seperti itu?" Protes Roy.


"Apakah kakak telah melakukan sesuatu yang tidak kami ketahui??" Roy memicingkan matanya penuh selidik.


"Apakah ini berhubungan dengan nona Vivian?Sepanjang perjalanan kakak dan lady Vivian begitu aneh."Tatapannya masih memandangi kakaknya yang acuh tak acuh tersebut.


"Aneh bagaimana???" Tanya Hanz lagi.Tiba-tiba ingatannya bersama Vivian muncul kembali dan membuatnya sontak memandangi Roy.


Dan ekspresi wajah Hanz seketika sedang tertangkap basah,jika telah melakukan kesalahan.


Danian yang menjadi penonton dan pendengar setia tersebut hanya terkekeh.


"Aku melihat lady Vivian wajahnya memerah dan hidungnya mimisan.Apa kakak tidak menyadarinya itu." Ucap Roy,suaranya terdengar khawatir."Dan tingkah kakak juga demikian,mencurigakan".


Hanz terdiam.Diletakkannya kembali ponselnya itu diatas meja.Responnya seperti itu bukannya ia tidak menyadari,namun kecerobohannya tersebut membuatnya dan


Vivian dalam hubungan yang sulit.Sulit untuk ia jelaskan.


"Tidak ada." Bantah Hanz berbohong.


"Benarkah?Aku rasa sikap kakak tidak merespon demikian." Curiga Roy.


"Apakah tuan telah menyakiti nona Vivian atau...???" Sambung Danian angkat suara.


Hanz melepaskan kacamatanya karena gerah dengan pembicaraan yang terjadi.Dengan kesalnya Hanz bangkit berdiri dan berkata,"Kalian pikir aku crazy,sampai berbuat seperti itu."


Namun belum sempat melanjutkan kata-katanya,Hanz dikejutkan oleh suara menggelegar Roy dan hampir saja gendang telinganya pecah dan jantungnya berhenti berdetak seketika.Jika adiknya bukan seorang brand ambassador dari perusahaannya,sudah tentu ia akan menguliti adiknya itu secara habis-habisan.


"Kak,apa yang terjadi pada matamu?!" Pekik Roy,menutup mulutnya yang hampir terlepas oleh rasa keterkejutannya.


"Apa??!!"Balas Hanz ketus.Mengabaikan adiknya yang terlihat kesurupan.Dihampirinya meja bar didalam ruangan tersebut,menuangkan segelas anggur dan meneguknya secara perlahan.Rasa kesalnya membuatnya terlalu haus.


"Mata kakak telah kembali." Roy terlihat bahagia.


Hanz lagi-lagi semakin rumit memikirkan kegilaan yang terjadi padanya hari ini.Otaknya semakin memanas untuk mulai berpikir.Hanz mengerutkan keningnya.


"Kau pikir mataku pergi kemana??"


Hanz tidak habis pikir dengan sikap adiknya yang selalu comel,layaknya seorang wanita,walaupun kenyataannya adalah ia hanya memiliki seorang adik laki-laki.


"Tuan...".


"Apa lagi??" Kesal Hanz semakin menjadi.Ditatapnya danian,"Bukankah sudah ku bilang dari dulu berhenti memanggilku tuan jika diluar dari pekerjaan.Jangan menambah pusing dengan sikap konyol darimu",cerocos Hanz.


Danian terkekeh.


"Bro,clamdown..maksud adikmu,rainbow eyesmu telah kembali".


"Apa"


Hanz belum menyadari apa yang dimaksud Danian,sepenuhnya, karena mendadak kepalanya terasa berdenyut.Namun dengan cepat ia merilekskan badannya dan melanjutkan meminum minumannya.


Dengan wajah polosnya Roy mendekati Hanz.Tangan mulusnya mulai menyentuh kulit wajah kakaknya itu.


"Kakak.Ini benar-benar kakak." Ucap Roy dengan mata berbinar-binar.


"Aku senang kakakku telah kembali".Dengan segera Roy mendekap Hanz dengan kegirangan.


Mulut Hanz yang dipenuhi minuman hampir menyembur keluar,karena sikap Roy yang menggelikan,seperti seorang kekasih yang baru saja bertemu karena lama terpisah.Hanz menghembuskan napas penatnya,menghirup kembali udara yang segar dan perasaannya pun kembali netral.Dan iapun memandang Danian dan melepaskan pelukkan brutal Roy.


"Haaisszz,jadi kamu pikir selama ini aku bukan kakakmu." Balas Hanz frustasi.


"Bodoh." Ucap Hanz dingin.


"Agch,bukan begitu ka..." Ralat Roy.


Mendengar pertengkaran kakak beradik,sebagai penonton setia,Danianpun terkekeh menahan tawa.


"Apa kau juga ingin mencari mati,Danian!" Ancam Hanz.


Hanz benar-benar kesal karena ditertawakan saat moodnya sedang tidak stabil.


"Ehhmmm,bukan begitu Hanz.Aku hanya merasa kalau hari ini adalah sesuatu yang langka terjadi." bela Danian sembari tersenyum,mengumbar lesung pipinya yang cantik.


"Langka,kepalamu."


"Tunggu dulu.Kenapa kalian berdua masih disini dan tidak pulang?" Tanya Hanz menatapi pria-pria lajang itu bersamaan,mengalihkan pembicaraan yang tidak bertuan.


Danian dan Roy pun tersadar dan mencoba memperlihatkan tawa mereka agar Hanz tidak berencana mengusir.


"Aku ingin menginap disini malam ini,wajarkan kalau aku adiknya kakak.Tidur diapartemen membuatku jenuh,apalagi para paparazi sering mengusikku." Roy beralasan.


"Hanz,bukankah kamu tahu.Seharian ini kan aku jadi sopir kalian,aku lelah dan bolehkah aku juga bermalam disini.Tidak ada tenaga lagi untuk ku bergerak." Danian pun tidak kalah mencari alasan,lalu dengan seenaknya merebahkan diri diatas sofa yang empuk itu.


Hanz pun menggeleng-gelengkan kepala mendengar kedua alasan yang telah direncanakan tersebut,lalu berkata "Terserah kalian berdua.Sekarang aku mau mandi dan segera beristirahat.Aku harap kalian tidak mengusik dan mengganggu ketenangan ku malam ini." Titah Hanz,meninggalkan kedua pria tersebut dan menuju lantai atas,kekamar pribadinya.


"Ok,bos",jawab mereka berdua serentak.



Titik-titik air masih merembes dipermukaan dinding,menandakan seseorang telah menggunakannya.Genangan air yang tersisa masih terasa hangat.Menyisakan aroma khas .


Dan aroma segar tersebut mengalir diseluruh tubuh Hanz,ia baru saja menyegarkan dirinya.Bau lavender menyeruak keseluruh ruangan.


Hanz menatap dirinya dalam dihadapan cermin yang terpajang dikamar mandi.Matanya terlukis jelas,warna-warna pelangi itu terlihat cantik.Tentunya itu adalah warna pelangi dari mata indah miliknya.


"Bagaimana bisa ini terjadi?" Ucapnya tidak percaya.


Mata yang indah itu menyimpan sebuah kenangan-kenangan yang manis.Dan cerita itu semua terekam jelas dibalik mata pelangi miliknya.Hanz tidak lupa jika mata indahnya itu mengingatkannya kembali tentang kedua orangtuanya. Kedua orang tua yang begitu menyayanginya,namun sayangnya rasa sayang itu bertahan sesingkat itu.


Hanz menyentuh manik-manik yang terpantul itu,pandangannya begitu teduh.


Gejolak hatinya kini membludah,entah kenapa.Debaran dan ritme jantungnya berdetak tidak karuan.Tatapan matanya seakan memiliki tanda tanya yang besar.


"Apa yang terjadi padaku???",


"Bagaimana mungkin warna mata ini telah kembali???",


"Apakah ini berkaitan dengan wanita ceroboh itu???".


Hanz menyentuh dadanya yang tidak sakit,hanya saja ada yang mengganjal didalam sana.Dan ia membutuhkan jawaban tersebut,namun tidak ia temukan apa sebabnya.


Hanz menatap lekat pandangannya,lalu wajah Vivian muncul disana.


"Aku rasa,aku sudah gila." Gumamnya.


Tangannya yang kokoh itu menyentuh kepalanya yang tidak sakit,hanya saja membingungkan baginya.Dalam kebimbangannya,ia tidak henti-hentinya masih memikirkan wanita itu.Wanita yang sudah benar-benar merubahnya.Wanita yang telah menghancurkan tembok pertahanannya.