
Citt..citt..citt..
Vivian mengeliat,matanya dikucek-kucek karena masih mengantuk.Dengan bebasnya ia merenggangkan tubuhnya yang ramping,mendekapkan kepalanya yang masih pusing.Perlahan-lahan ia memperhatikan disekitarnya,
"Astaga,dimana aku...??" Ucap Vivian panik.Perasaan was-was hinggap dihatinya tanpa sadar ia berada dikamar orang asing.
"Oh,Tuhan.Bagaimana ini bisa terjadi??Bisa-bisanya aku berada ditempat asing." Batin Vivian menyesali apa yang sedang terjadi padanya saat ini.
Vivian segera memeriksa keadaan tubuhnya, "Masih lengkap." Pikirnya.
Pakaian yang ia kenakan saat pesta tadi malam masih melekat ditubuhnya.
Vivian bisa bernafas lega karena orang yang membawa dan menampung dirinya,tidak melakukan sebuah kejahatan.
Diperhatikannya disekitar,sunyi tidak ada tanda-tanda kehidupan.Rumah mewah itu mengingatkannya pada Hanz Alexandro, "Hanya dia yang mampu menempati rumah sebesar dan seluas ini." Oceh Vivian dengan dirinya sendiri.
"Tunggu dulu.Kenapa dan bagaimana aku bisa ada dan berada disini???" Pikirnya lagi.
Vivian mencoba mengingat kembali kejadian malam yang telah terlewati.Hatinya gusar,jika ingatannya itu mengarahkannya pada sebuah kejadian yang buruk.Maka tamatlah riwayatnya.
Sontak ia menyekap mulutnya tidak percaya, "Bodoh,bodoh!!Ternyata malam tadi aku diseret olehnya.Dan parahnya,kenapa aku mau saja mengikutinya?pulang bersama Hanz"
"Tidak.Mungkin memori ku saja yang sedang tidak terkoneksi dengan baik.Ingatan buruk ini mungkin saja salah mencerna.Tapi..Jika itu benar kejadiannya." Vivian terdiam sejenak.Aliran darahnya terasa terhenti.Suhu tubuhnya terasa dingin.Debaran jantungnya semakin meningkat.Vivian menghelakan nafasnya yang seketika tersekat.Dengan kesadaran penuh penuh Vivian memaki dirinya dengan frustasi.
"Kenapa?Kenapa mulut kecil ini tidak bisa dikontrol?!"
Dan dengan rasa malu,Vivian merasa kesal.
"Kenapa?"
"Kenapa?Pria setampan dirimu,begitu kejam padaku.Apa salahku?Berani-beraninya kamu mencuri ciuman pertama ku!!" Protesnya.
"Berani-beraninya pria setampan dirimu menjerumuskan aku!!"
Seketika Vivian menjerit. "Aaa.."
"Apakah aku telah menyukaimu begitu dalam??Aku bisa gila.."
Dengan malu ia membenam wajahnya kesalah-satu bantal sutra,berharap aksinya tidak sampai terdengar sang pemilik rumah.Ingatan tersebut semakin membuatnya frustasi."Apa yang harus aku lakukan?"
Dengan gusar ia memikirkan cara untuk tidak bertemu dengan pria itu.
"Aku harus kabur dari sini." Yakinnya.
"Sebelum aku menambah masalah lagi."
"Sebelum aku menjadi tambah gila..." tegasnya.
Vivian pun melangkah keluar meninggalkan kamar.Menyelusuri setiap lorong rumah,lalu menuruni anak tangga.Vivian bernapas lega karena tidak ada satu pun manusia yang ia temui.Dengan aksi yang penuh hati-hati Vivian berusaha sebaik mungkin untuk dapat cepat keluar dari rumah mewah tersebut.
Debaran jantungnya berpacu dengan cepat,tingkah laku dan gerak-geriknya terlihat mengkhawatirkan.Bagaimana pun ini adalah momen yang begitu menegangkan baginya.Vivian khawatir ia akan tertangkap basah.
Namun perasaan itu hanya bertahan sementara,takala seseorang menyapanya dari ruang tengah tepatnya diruang makan keluarga.Suara dingin khas pria yang ia kenal.
Vivian terhenti seketika.Tubuhnya mematung tanpa perlawanan.Habislah sudah nasibnya kali ini.Tertangkap basah oleh pria tampan itu.
"Apakah tunangan ku sudah bangun?" Sindirnya.
Suaranyan terdengar begitu menakutkan.Namun tidak mengahalangi gerak-geriknya yang tenang.Sembari menuangkan minuman kegelas,pria tersebut menatap kearah Vivian dengan bola mata hitam yang indah.
"Aaa,,,Mmm,,,itu..." Gugup Vivian.Kata-katanya tercekat tidak dapat ia keluarkan.Hilanglah semua kata-kata yang ada dipikirannya.Keadaannya semakin kacau.
Ia masih saja mematung ditempatnya berdiri.Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi.Pria dihadapannya sedang mengitrogasinya dengan sindirian mautnya.Karena ia menyadari hubungan mereka adalah sumber masalah yang kini telah terjadi.
"Apa kamu mau minum???"
"Kemarilah!!Aku sudah menyiapkan sarapan pagi untuk kita."Ucap pria tersebut.Wajahnya tampak terlihat tenang dan sikap dingin itu terlihat menghangatkan.
Vivian masih terpaku,antara sadar dan tidak,otaknya masih belum merespon.
"Hhahh..aku tidak akan memakanmu.Jadi,cepatlah kemari.Sebelum suguhanku semakin dingin." Pintanya.
"Ahh,ia.Aku akan datang" balas Vivian sembari mulai melangkahkan kembali kakinya menuju pria yang memanggilnya itu.
Vivian bergedik merinding mendapati perlakuan baik Hanz.
"Apa yang terjadi padanya??" Pikir Vivian.
"Apakah ucapan ku tadi malam,benar-benar ia wujudkan?!" Tanyanya dalam hati,masih kebingungan.
Vivian samar-samar mengingat kejadian tadi malam.
"Ataukah aku masih bermimpi." Pikirnya lagi.Namun pria yang dihadapannya ini benar-benar nyata.
Dengan ragu Vivian mendekati Hanz yang sudah duduk terlebih dahulu dimeja makan.Sikap yang lembut hanya halusinasi bagi Vivian,karena wajah dingin Hanz masih melekat dipikirannya namun tidak nyata baginya untuk sekarang.
Vivian menarik kursi untuk ia duduki,perasaan canggung menyelimuti hatinya.Vivian bingung memulai pembicaraan dari mana.
"Tadi malam..." Nada Vivian terdengar ragu dan seketika pembicaraannya terputus,ada keraguan disana.
Namun,belum tuntas Vivian ingin melanjutkan ucapannya,Hanz mendahului dan angkat bicara.
"Aku tidak masalah jika lelucon selama ini terjadi padaku." Tegasnya.Hanz menatap lekat wanita yang ada dihadapannya itu.Pandangan matanya memancarkan silau yang memikat,Bluish black eye color ,biru yang menenagkan dalam kegelapan.
"Apalagi sampai permasalah yang disebabkan muncul dipublik tentang kita bertunangan atau pura-pura tunangan.Tapi,sebelum itu..."
Hanz menghela nafas,"Aku ingin berdiskusi denganmu." Pinta Hanz sembari menyerumput minuman yang dipegangnya,dengan tenangnya ia berusaha memecahkan masalah yang terjadi.
"Mmmm,baiklah.." Balas Vivian sedikit menuruti apa yang dikatakan Hanz.
Suasana kembali menegang,keseriusan dimata Hanz membuat Vivian terkesima.Sontak ia mengingat momen mereka di perbukitan.Wajahnya bersemu,memori itu kini terukir kembali dihatinya.
"Bodoh,bodoh,apa yang aku pikirkan?!" Vivian menggeleng-geleng kepalanya bergumam dalam hati.
Hanz yang melihat tindakan Vivian yang menggeleng-gelengkan kepala hanya mengerutkan dahi,
"Apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan sebelum kita mendiskusikan hubungan ini???Tentang apa yang menjadi keberatan mu??" Tanya Hanz penuh selidik.
Vivian yang menyadari kekonyolannya,hanya menyeringai memperlihatkan gigi putihnya yang tersusun rapi.
"Tidak ada.Lanjutkan saja.." Ucapnya berharap pria yang dihadapannya itu melanjutkan kembali apa yang ingin dibicarakan.
Hanz menarik napas beratnya.Dipangkutnya kedua tangannya sembari bersandar dikursi.Tatapannya semakin tegas.
"Berita tentang hubungan kita telah menyebar keranah publik.Dan kamu tahu,apa kamu tidak keberatan akan hal itu??"
"Tidak masalah." Jawab Vivian antusias.Entah semangat darimana yang ia dapatkan,namun kebahagiaan telah terpancar diwajahnya.Tentu saja ia tidak peduli akan sikap pria yang ada dihadapannya itu.Baginya,ia harus mendapatkan kesempatan emas tersebut.Agar usaha yang diberikan Roy tidak sia-sia.Dan berharap semoga kelak Hanz dapat memberikan hatinya untuk dirinya.
"Haaahh.." Desah Hanz.
"Aku harap kamu pegang kata-kata mu sendiri!" Perintahnya berat.
"Jadi,aku menyetujui hubungan ini karena aku ingin memastikan sesuatu yang selama ini ingin aku pastikan."
Vivian menatap Hanz penuh tanda tanya.
"Apakah kamu menyukaiku??" Tanya Vivian menyela ucapan Hanz yang sedang kesal.
"Bodoh!Apa aku terlihat menyukaimu." Sela Hanz.
"Menyukaimu atau pun tidak,tentu itu bukan urusanmukan."
"Bagaimana mungkin tidak urusan ku?!Kamu akan menjadi calon tunanganku dan kata-kata mu yang mengatakan akan memastikan sesuatu.Membuatku semakin penasaran.Apakah itu berhubungan tentang perasaanmu sendiri?"
"Bukan.Tentunya untuk saat ini bukan tentang perasaanku." Jawab Hanz singkat dan seketika hati Vivian pun patah.
"Lalu apa??!" Ucap Vivian kecewa.
"Apa kamu tahu,kalau aku memiliki sebuah masalah yang ada didalam diriku?Penyakit yang mungkin saja tidak ada obatnya" Hanz secara terbuka membuka kartu hitam miliknya.
"Ia ,aku sedikit tau akan hal itu." Jawab Vivian.Tiada rasa keterkejutan diwajahnya.
"Baguslah,jika kamu telah mengetahuinya" Hanz merasa lega.
"Aku rasa dirimu tidak keberatan jika aku ingin mengatakan kalau diri ku sedang mengalami PTSD dan mempengaruhi warna iris mata ku." Jelas Hanz
"Ia,aku tau juga akan hal itu.Tapi...akan tetapi apa hubungannya dengan masalah kita sekarang.Maksud ku masalah pertunangan kita dengan PTSD mu itu.Dan menurut pemikiran ku yang bisa sedikit aku cerna.Akulah yang mengacau dikehidupanmu."
Hanz tersrnyum.
"Tentu saja itu berhubungan"
Vivian mengeryitkan keningnya,masih belum memahami apa yang dikatakan oleh pria yang ada dihadapannya itu.
"Bukankah kamu sendiri mengakuinya,Nona Vivian.Penyakit ku ada hubungannya dengan ini semua" Tegas Hanz dengan sorot mata yang penuh makna.
"Bukankah kamu telah mengacaukan hidupku."
Vivian tersentak.
"Jadi,aku hanya ingin memastikan jika aku terus bersama mu,apakah PTSD ku dapat terobati?Karena selama kamu mengacaukan hidupku rasa kesakitanku dan ketakutanku sedikit terobati."
"Aku hanya ingin mencari tau saja,kenapa dengan adanya dirimu??Obat terampuh yang selama ini aku konsumsi tidak sebanding ampuhnya jika itu berhadapan langsung dengan dirimu."
"Benarkah." Vivian tergelitik mendengar penuturan Hanz.
"Jika aku berguna seperti itu.Bukankah aku sudah menjadi obat penawar bagian terpenting dihidupmu." Bangga Vivian.
"Mungkin saja.Tapi,bagiku,itu tidaklah masuk akal."
"Kenapa tidak masuk akal?!" Protes Vivian.
"Kamu sendiri mengakui dan merasakannya,jika aku benar-benar efektif sebagai obat penawarmu."
"Sudah ku katakan itu hanya dugaan ku saja." Kesal Hanz.
"Dan jangan terlalu berharap padaku,penting ataupun tidaknya dirimu,tidak ada hubungannya dengan ku." Bantah Hanz dingin.
"Ya sudah,terserah kamu saja." Abai Vivian tidak bersemangat lagi.
Dengan malas wanita tersebut mengalihkan kesedihannya,mencicipi masakan buatan pria yang dihadapannya itu.Ia tidak ingin Hanz selalu mematahkan semangat yang ada didalam hatinya.
Secara perlahan ia mengunyah makanan yang dibuat Hanz dan menelannya.Vivian tertegun.
"Astaga...makanan mu enak sekali!!!!" Puji Vivian histeris.
Lalu dicobanya kembali menyantap makanan tersebut dengan antusias tanpa memperdulikan tatapan pria yang dihadapannya ini penuh keterkejutan.
"Makanan mu,benar-benar sungguh enak Hanz." Acung jari jempol Vivian.
Hanz yang mendengar seruan Vivian pun sontak terperangah.Pembicaraan mereka akhirnya teralihkan kesebuah hidangan.Hanz benar-benar tidak bisa menduga dengan sikap wanita yang ada dihadapannya itu.
"Apakah dirimu baru menemukan makanan seperti ini???" Protes Hanz kesal dengan ulah Vivian yang tidak bisa tenang sedikit pun.
"Mmm,ini benar-benar enak." Aku Vivian.
"Nasi goreng buatan mu luar biasa perfect." Vivian mengacungkan kedua jempol jarinya.Mulutnya masih penuh dengan makanan namun nada bicaranya sungguh meyakinkan.
Hanz yang dipuji pun hanya terdiam tanpa ekspresi,namun hatinya bersorak senang,dengan iseng ia pun menjahili Vivian.
"Aku rasa dirimu beruntung sekali." Godanya.
"Bukankah aku sudah tampan,kaya,mapan, dan pandai memasak." Ucap Hanz arogan,menyombongkan diri. "Jadi apa yang aku dapat dari diri mu???" Ucap Hanz dengan tatapan mengitrogasi.
Vivian tersedak.Makanan dimulutnya hampir saja tidak bisa tertelan.Dengan perlahan ia meraih segelas minuman.Dan menghentikan suapan makanannya seketika.Makanan terakhirnya.
Dengan ragu dan malu ia lalu memandangi pria yang ada dihadapannya itu,menyadari kekurangannya.Membuat Vivian menjadi tidak berdaya.
"Hahaha,aku rasa sebaiknya aku segera pulang.." Pinta Vivian mengalihkan pembicaraannya begitu saja.Dan terlintas dipikirannya,seseorang pasti mengkhawatirkan dirinya kini.
"Aku baru sadar,pasti ibu mengkhawatirkan aku." Ucap Vivian spontan.
Namun Hanz tidak merespon,membuat Vivian tidak berani untuk beranjak dari meja makan.Kakinya seakan terkunci,berharap menunggu perintah pria tersebut.
Hanz yang terlebih dahulu menyelesaikan sarapannya pun bangkit berdiri meninggalkan tempat duduknya.Meninggalkan Vivian yang masih duduk terdiam menanti jawaban darinya.Dengan santainya ia membalas kekhawatiran Vivian.
"Aku sudah memberitahu ibu mu jika kamu bermalam disini semalam." Ucap Hanz.
"Dan,ibumu tidak keberatan." Lanjutnya lagi.
Vivian pun terkejut,
"Apa!!Apa kamu mau mencari mati,ya?!"
Hanz menghentikan langkahnya dan menoleh kesumber suara yang sedang mengancam dirinya.Hanz mencibir,senyuman tipis tersungging disudut bibirnya.Ditatapnya wanita tersebut dengan angkuh.
Vivian menelan perkataannya sendiri,tatapan Hanz membuat nyalinya seketika menciut.
"Bagaimana bisa kamu memberitahu ibuku,tanpa seijin ku." Rengek Vivian frustasi.
"Apakah aku perlu izinmu??!!" Balas Hanz dingin.
Tanpa berkata-kata Vivianpun terdiam.Ia menyadari,hubungan yang terjadi pada dirinya juga tanpa izin si pria,Hanz Alexandro.Jadi,ia tidak bisa menyalahkan Hanz.
Hanz tersenyum bangga karena wanita dihadapannya itu tidak dapat melawannya kembali.
"Pakaian mu ada dikamar atas.Jadi untuk hari ini kamu tidak bisa pulang dan masih tetap harus berada disini.Masih ada yang perlu kita bahas dan rencanakan lagi." Ucapnya mengingatkan Vivian.Dengan segera meninggalkan Vivian menuju kekamarnya.
Namun tiba-tiba langkah Hanz terhenti,
"Agh,sebelum kamu kembali kekamar." Peringatannya.
"Aku harap kamu membersihkan bekas-bekas makanan yang ada dimeja.Tidak mungkin kan dirimu tidak berguna dan bertanggung jawab sebagai kekasih ku." Pinta Hanz,lalu melanjutkan langkahnya kembali.
"Yyaaa,kenapa kamu memenjarakan aku disini..." Teriak Vivian protes.Ia kesal karena Hanz mempermainkannya.
"Aku tidak memenjarakan mu,tetapi sebagai kekasih aku memperlakukanmu dengan baik bukan.Bukankah kita sudah resmi menjadi pasangan.Bukankah itu mau mu kan?" Ucap Hanz mengingatkan Vivian tentang sesuatu.
Vivian yang menyadari perkataan Hanz hanya terdiam pasrah.
Klapp,pintu kamar Hanz pun terkunci.