Monster Eyes Are My Beautiful Eyes

Monster Eyes Are My Beautiful Eyes
28.Rindu



**Perusahaan LuX**



Hanz mengamati dirinya dicermin,sudah 2 hari semenjak lamaran itu ia belum menemui Vivian.Karena kesibukan masing-masing,mereka tidak pernah berjumpa ataupun mengirim pesan melalui chat.


Hanz mulai memikir kan cara,perasaannya begitu gundah.Bagaimana ia mengabaikan wanita yang segera menjadi tunangannya itu.


"Agh,wanita itu belum memberikan kejelasan yang pasti untukku.Benar-benar wanita yang sulit dimengerti.Apakah dia terlalu sibuk,atau memang tidak ada waktu untuk ku.Astaga apa yang aku pikirkan.Hhahh,pikiranku selalu dipenuhi oleh wanita itu,ternyata aku sudah sakit...",gumam Hanz.


Dengan wajah sedikit kusut Hanz,keluar menuju ruangannya.Sekretaris yang berjaga dipintu pun terkejut dengan penampilan Hanz yang sedikit berantakan.


Wajahnya yang dingin,membuat nya sedikit bergidik merinding.


"Apa yang terjadi???",tanya Danian sedikit frustasi melihat bosnya itu.


"Hhaahh,aku cuman terlalu lelah...",ucap Hanz dingin mengabaikan sahabatnya itu."Kepala ku sedikit pusing".


"Hhmm,oh begitu...Apa mau aku telpon Dr.Eliza??",tanya Danian khawatir.


"Tidak usah,sepertinya aku harus istirahat dulu ",ucap Hanz sedikit lelah.


"Hmm,kamu istirahatlah,biar aku yang menghandle pekerjaanmu disini",ucap Danian memberi aba-aba agar Hanz dapat istirahat dengan segera.


"Aku serahkan semuanya padamu..".


Setelah menepuk pundak Danian,dengan langkah gontai Hanz meninggalkan ruang kerjanya menuju kamar privatnya.


Danian yang mengerti keadaan Hanz pun kembali melanjutkan pekerjaan.


Namun terlintas dibenaknya untuk menghubungi seseorang yang mungkin sangat dibutuhkan oleh Hanz untuk saat ini.


Tuuutt..tuuttt..tuutt...


"Hallo",sapa seseorang dari balik telepon,suaranya sangat lembut dan merdu.


"Hallo,nona.."


"Ini,aku Danian",sapa Danian,agar yang empunya tahu bahwa itu adalah dirinya.


"Ya,ada apa,Danian???",balasnya.


"Apakah nona sedang sibuk???",tanya Danian gusar karena jam masih menujukkan sekarang masih sibuk-sibuknya orang bekerja.


"Hmm,tidak.Kebetulan hari ini pekerjaan aku selesai dikantor namun ada sedikit waktu luang,kenapa??",ucap wanita itu penasaran.


"Boss Hanz sedang sakit,kebetulan hari ini aku sibuk dan tidak ada waktu untuk ku yang merawatnya.Bisakah aku meminta tolong,nona.Untuk merawat dan menemani tuan ku segera,aku sangat khawatir.Apalagi,dia sangat keras kepala tidak mau dirawat oleh orang lain,namun jika dengan anda,aku rasa tuan tidak akan menolak.Jika anda berkenan,datanglah kekantor segera..aku mohon",pinta Danian memohon.


"Hmm,baiklah",ucapnya menuruti.


Danian yang mendengar jawaban dari wanita tersebut,akhirnya bernapas lega dan tidak sia-sia keringat yang bercucuran membasahi wajahnya karena takut-takut niatnya buruknya itu terendus.Dengan tenangnya Danianpun melanjutkan kata-katanya,"Syukurlah,nona mau menolongku.Tapi sebelum anda kemari,tuan Hanz sepertinya melewatkan waktu makannya dan bisakah sekalian nona mencarikan makanan untuk tuan.Tuan menyukai makanan apa saja".


"Tentu.."


"Terima kasih nona Vivian,selamat siang",ucap Danian mengakhiri pembicaraan.


"Sama-sama,selamat siang juga".


Telepon pun terputus.


"Hhummpp,semoga anda senang tuan dengan kejutan yang akan aku berikan,salah sendiri kalau gengsinya terlalu tinggi,hahahaha....",ucap Danian bangga.


"Sepertinya aku tertular sikap Roy...",ucapnya lagi dengan senyum yang menggambang penuh kemenangan.


********Perusahaan STyLe***********


Vivian yang selesai menerima telepon dari Danian,hanya menghela nafas.Jantungnya benar-benar berkecamuk,akhirnya ia dapat menemui pria es itu.Ada rasa khawatir yang melanda perasaannya,sudah beberapa hari ia tidak mendengar kabar pria tersebut.Namun,sekarang kabar itu tiba-tiba datang membawanya sedikit frustasi.


Dengan segera ia menyambar tas hitamnya,meminta ijin kepada manager.Dan beruntungnya hari ini izin itu berpihak padanya.


Vivian meninggalkan ruangannya,menapakkan kakinya menyelusuri setiap koridor dikantornya.Pikirannya terlalu fokus hanya memikirkan Hanz,tanpa disadarinya ia menabrak seseorang.


"Aaww",keluh Vivian.


"Apakah kamu baik-baik saja",tanya seseorang sembari menangkap tubuh wanita yang ia tabraknya itu.


"Hmmm,aku baik-baik saja",ucap Vivian menatap sumber yang ditabrak sembari mengusap jidatnya yang sedikit sakit.


"Syukurlah",ucapnya lega sembari melepaskan pegangnya mengamati kondisi Vivian.


Vivian terkejut,karena pria yang ditabraknya adalah Sammuel Frandrick.


"Tidak apa-apa",jawabnya singkat dengan menebarkan senyumannnya manis.



Vivian yang terhipnotis dengan senyuman Sam,tiba-tiba menyadari tujuan awalnya.


"Maafkan aku sekali lagi...",ucap Vivian dengan penuh menyesal.


"Sepertinya aku harus pergi",pamit Vivian berlalu pergi.


Namun,tiba-tiba lengannya ditahan oleh Sam.


"Biar aku antar,sepertinya terburu-buru",tawarnya.


Dengan secara halus Vivian pun menolak.


"Tidak usah,Sam.Aku bisa sendiri.Dan aku tidak ingin merepotkanmu,bukankah kamu kemari ada sesuatu yang penting".


"Tidak masalah karena urusanku tidak mendesak juga",balas Sam enteng.


Vivian tetap pada pendiriannya pun terus mencari alasan.


"Amm,maaf,Sam.Aku benar-benar tidak ingin merepotkan mu".


"Sudah aku bilang tidak masalah,bukankah dirimu lebih terdesak.Ayo,aku antar",


jawabnya sembari menarik tangan Vivian dengan lembut mengikuti langkahnya,sedikit memaksa.


Vivian yang tidak bisa menolak karena tanganya dipegang Sam hanya menurut pasrah.


"Mmm,baiklah.Tapi,bisakan kamu lepaskan pegangan mu ini.Karena tangan ku kesakitan",ucap Vivian beralasan.


"Agch,maaf kan aku",ucapnya menyesal lalu melepaskan pegangannya.


Dengan langkah gontai,Vivianpun mengikuti Sam dari belakang.Bukannya ia tidak ingin ditolong oleh Sam,namun posisinya saat ini sedang sulit,apalagi pria yang dihadapannya ini adalah tunangan dari anak bos perusahaannya.Dan tentunya yang dikhawatirkan jika Clarissa muncul dan salah paham.


"Kita mau kemana??",tanya Sam yang membuyarkan lamunan Vivian.Wajahnya yang tenang itu membuat Vivian salah fokus.


Dalam sejenak ia membandingkan Sam yang hangat dengan Hanz yang dingin namun Vivian tidak bisa memungkiri kalau Sam kalah jauh dari Hans yang paling tampan.


"Mmm,kita keperusahaan LuX",jawab Vivian gelagapan.


Seketika hatinya sedikit gugup karena sebentar lagi ia menemui pria dingin itu.


"Oohh",jawab Sam singkat.


Ia kecewa karena ternyata tujuan Vivian yang terburu-buru adalah menemui Hanz Alexandro,mantan sahabatnya itu.


Dengan kesal ia mengemudi mobilnya itu dengan perlahan-lahan,hanya saja jarak yang ditempuh tidak sejauh yang diharapkan.


"Terima kasih,Sam.Karena sudah merepotkan mu,untuk mengantarkan ku sampai disini",ucap Vivian.


"Ah ia,tapi...",belum sempat Sam melanjutkan kata-katanya Vivian sudah melenggang jauh meninggalkan dirinya sendirian didalam mobil.


Sam sangat kesal,dengan emosinya yang memuncak ia pun meninggalkan perusahaan LuX.Mobil yang ia kendarai pun melaju dengan kencangnya.


Tok...tok...tokk...


Vivian mengetuk pintu itu berulang kali,namun yang empunya kamar tidak merespon sama sekali.Karena khawatir ia pun membuka knop pintu yang tidak terkunci.Ada rasa was-was yang menyelimuti hatinya.


"Tuan Hanz..Hanz...",panggilnya,namun sama sekali tidak ada jawaban.


Seseorang tampak terbaring tidak berdaya,ya..tentunya itu adalah si pria dingin,Hanz Alexandro.


Vivian mendekati tubuh pria tersebut,wajahnya terlihat lelah.


"Sepertinya dia sedang tidur pulas,apalagi obat yang ia minum pasti mempengaruhi tidurnya",batin Vivian.


Vivian menyentuh kening pria tersebut dengan perlahan-lahan agar Hanz tidak terganggu tidurnya.Sebelum ia tidak terlalu jauh mengusik waktu istirahat Hanz,Vivian mencoba mengecek suhu tubuh pria tersebut sebelum pergi.


"Suhu badannya normal,agh...jika diperhatikan,wajahnya begitu manis jika dipandang",lagi-lagi batinnya berguman.


Dengan hati-hati Vivian menyelimuti Hanz kemudian secara pelan ia beranjak meninggalkan pria tersebut.Namun tanpa diduga seseorang menarik tangannya.


Vivian terjerembab didalam sebuah pelukkan dan itu terasa nyaman baginya,spontan wajahnya pun tersipu malu.


"Aku merindukan mu...",ucap pria itu lirih.