Monster Eyes Are My Beautiful Eyes

Monster Eyes Are My Beautiful Eyes
32.Dilema



Vivian gusar memandangi rak-rak pakaiannya yang berjejer rapi,helaan napasnya terasa terbebani.Hari ini ia harus mengepakkan barang-barangnya karena pria tersebut terus menghantui pikirannya.


"Jika besok kamu belum berniat untuk tinggal bersama dengan ku,jangan harap kamu akan bisa menolak jika aku akan menculikmu secara paksa dan tentunya dengan hukuman yang lebih berat juga",ancam Hanz saat malam itu.


Vivian bergidik merinding memikirkannya namun tetap saja hatinya selalu goyah dengan wajah tampan dan mata indah itu.


Tok...tok...tok...


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Vivian.


"Masuk,pintu tidak dikunci",ucap Vivian sembari merapikan pakaian yang ia pilih.


"Hhmm,sibuk sekali anak bunda???",goda bu Ambar.


"Beneran nih anak bunda mau pindahan ke rumah calon suami,apa tidak kecepatan...bunda jadi khawatir".


Vivian menghentikan aksinya,dengan napas berat ia pun merangkul lengan ibunya yang empuk.


"Akhir-akhir ini Hanz sibuk,bu.Jadi,aku harus membantunya sedikit dirumahnya",ucap Vivian beralasan.


"Tapi,tenang saja bu,Vivian bisa jaga diri dan tidak melewati batas".



"Ibu percaya padamu karena kamu sudah dewasa dan memiliki kehidupan sendiri.Apapun yang kamu lakukan,ibu akan selalu berdoa yang terbaik untuk mu".


Vivian memeluk ibunya dengan sayang walaupun dengan sangat berat jika ia harus meninggalkan ibunya sendiri.Namun,perjanjian tetap lah perjanjian,jadi ia harus menjalani itu semua.


Dengan senyum kehangatan,bu Ambar membalas pelukkan putrinya.Anak pertama yang selalu ia banggakan.


"Apa Hanz akan menjemput mu???",tanya bu Ambar.


"Aku rasa tidak,bu.Sebab dia sibuk dengan pekerjaannya.Vivian akan kerumahnya setelah Vivian pulang kerja nanti",ucap Vivian sembari melanjutkan kembali mengepak barang-barang yang ia bawa nanti.


"Oohh..ya sudah.Kamu lanjut lagi beberesnya tapi ingat jangan lupa waktu... nanti terlambat masuk kerja",peringatan ibu Ambar saat ia meninggalkan anaknya itu sendirian di dalam kamar.


"Ok,bu".


****Perusahaan StyLe****


Dihalaman kantor yang mulai ramai,Vivian mencoba menghentikan langkahnya sejenak.Ia merapikan bajunya yang sedikit berantakan,namun seseorang menyentuh bahunya.Sontak saja membuat Vivian terkejut


"Woy ngapain jongkok-jongkok disini",tegur Karina iseng saat berpapasan dengan Vivian.


"Lagi senam..",balas Vivian tak kalah iseng.


"Oh,kirain mau berenang hahaha.....",tawa Karina membahana.


Dan tentu saja Vivian ikut tertawa.


"Ngomong-ngomong bagaimana kabar si pria idamanmu,Vi??Sekali-kali ajak donk kemari....",goda Karina.


"Siapa???",jawab Vivian balas bertanya.


"Lah,balik bertanya...itu-tu pria tampan yang belum kamu ceritakan padaku,CEO Hanz dan adiknya itu.Gimana rasanya menginap dirumah mereka...??Kamu sudah janji mau cerita padaku.Kita kan seminggu tidak pernah ngumpul,sudah begitu akhir-akhir ini kita sibuk.Apalagi Direktur baru kita Clarissa cerewet abis,eh ngomong-ngomong kamu ada ketemu dengan Sam,cowok yang kamu suka dulu...???",cerocos Karina panjang lebar tanpa memberi jeda Vivian untuk sedikit berbicara.


"Ya ampun Karin,pertanyaannya banyak banget seperti rel kereta api saja,panjangnya minta ampun...",jawab Vivian gemes sembari mencubit pipi sahabatnya itu.


"Aawww...sakit tahu",keluh Karina mengusap pipi mulusnya yang kini telah ternoda.


"Itu hukuman yang pantas untuk mu karena telah mengirim vidio yang menyeramkan waktu itu.Soal Clarissa dan Sam,aku tidak mau ambil pusing,itukan hanya masa lalu...",ucap Vivian sedikit kesal perihal Karina mengunkit masa lalunya.


"Hahaha...ya deh,aku minta maaf...".


Dengan wajah memelas Karina memohon maaf kepada Vivian sembari mengatubkan kedua tangannya.


Walaupun Vivian bukan tipe orang yang mudah emosian,ia pun memaafkan sahabatnya yang cerewet tersebut.


"Ya,ya aku maafin".


Karin yang mendengar permintaan maafnya yang dikabulkanpun lalu mengandeng lengan sahabatnya itu.


"Agh, bagaimana kalau kamu menginap dirumah ku hari ini,terus cerita semuanya..lama kita berdua tidak kumpul-kumpul lagi",pinta Karina setelah mengusulkan idenya itu.


"Sepertinya untuk hari ini aku tidak bisa Karin",ucap Vivian dengan sedikit menyesal.


"Kenapa???",tanya Karina penasaran.


"Emm,aku akan menginap dirumah seseorang...".


Karina menghentikan langkahnya,"Tunggu sebentar??!!Menginap dirumah siapa??Seingatku,kamu tidak memiliki keluarga lain dan teman dekat cuman aku.Hhmmm,jangan-jangan menginap dirumah pria ya???CEO Hanz kah????",tebak Karina.


Vivian yang ikut terhenti hanya menyemukan wajahnya,warna merah dipipinya tidak bisa menutupi perasaannya.Entah kenapa sahabatnya itu selalu saja bisa menebak dengan benar.Tanpa menjawab Vivian lalu mengabaikan sahabatnya itu.


"Astaga,Vivi.Jadi itu beneran...kalian berdua sudah berkencan??",tanya Karina dan lagi-lagi ia semakin penasaran dengan sikap temannya itu.


Vivian tidak menjawab namum ia mengankat tangannya dan memperlihatkan jari-jarinya.


Karina terperangah saat menyadari maksud dari gerak tangan Vivian.Langkah kakinya ia percepat dengan segera agar dapat menyusul langkah Vivian yang telah meninggalkannya.


"Astaga dasar wanita licik,ternyata bukan hanya berkencan ya tapi juga sudah dilamar...",protes Karina namun tentu saja ia sangat bahagia karena Vivian mendapatkan pria idaman yang begitu ideal.


Kedua insan tersebut melenggangkan kakinya menyusuri bangunan yang menjadi rumah kedua mereka.Pèrasaan bahagia memberikan aura yang cerah,secerah persahabatan yang begitu hangat.


"Vivian...",sapa seseorang yang membuyarkan lamunannya.


"Agh,hai,Sam...",balas Vivian.


"Sudah mau pulangkah???",tanya Sam dengan senyum manisnya.


"Emm,ia...",balas Vivian sembari mengamati area disekitar dengan was-was.


"Mau jemput Clarissa ya,Sam???",tanya Vivian basa-basi.Ia khawatir jika ada yang memergoki mereka berdua berbicara dan berpikir yang bukan-bukan.Dan beruntungnya suasana terlihat lenggang.


"Ia..tapi aku rasa dia masih sibuk",ucap Sam.


"Maukah dirimu menemaniku ngobrol sebentar,ada beberapa hal yang ingin ku tanyakan padamu??",pintanya.


"Bagaimana kalau kita kecafe diseberang itu",tunjuk Sam mencoba mengajak Vivian ketempat yang lebih nyaman.


"Maaf,disini saja...Apa yang ingin kamu tanyakan,tanyakan saja sekarang",balas Vivian menolak secara halus ajakan Sam.


"Baiklah,maaf jika aku mengajakmu tiba-tiba.Apakah kamu baik-baik saja bekerja disini??",tanya Sam khawatir.


"Ia,aku baik-baik saja seperti biasanya,memangnya ada masalah apa??",tanya Vivian balik bertanya.


"Aku hanya khawatir jika Clarissa akan menyakitimu".


Vivian yang mendengar penuturan Sam pun tertawa ringan.


"Tenang saja,aku tidak selemah itu untuk disakiti.Dan tentunya,apa hubungan ku dengan Clarissa sehingga kamu berpikir begitu??Bagiku sesuatu yang menyakitkan dimasa lalu,kini sudah aku lupakan".


"Bagaimana kalau aku tidak bisa melupakan???",tanya Sam membuat Vivian sedikit terkejut.


"Aku tidak bisa melupakan kalau aku selalu mencintai mu...".


Vivian terpaku,mulutnya tersekat tanpa mampu mengeluarkan sepatah katapun.


Hatinya dilema,karena pria yang ada dihadapannya ini telah dan pernah singgah dihatinya dan kehidupannya dulu.


"Kamu tahu,bagiku posisi mu tidak akan tergantikan dengan wanita manapun.


Hanya saja,aku tidak cukup mampu untuk mempertahankan itu semua",sesal Sam.


"Sudah lah,Sam...sekarang ada Clarissa,cobalah kamu menerima dia dengan setulus hati,pilihan keluarga mu mungkin yang terbaik untuk masa depan mu.


Dan berhenti untuk mengharapkan ku lagi,karena aku sudah memiliki tunangan".


"Apakah Hanz???",tanya Sam ragu.


"Benar,dia adalah tunanganku",jawab Vivian yakin walaupun sejujurnya pertunangan dirinya hanya sekedar berdasarkan surat perjanjian diatas kertas.


"Apakah tidak ada kesempatan untuk ku???",tanya Sam memastikan.


"Hahaha,maaf Sam..aku tidak mungkin menyakiti perasaan orang yang aku cintai",jawab Vivian jujur agar Sam mau mengerti keadaannya.


Dengan perasaan kecewa Sam hanya menghela napas,"Baik lah,jika begitu bolehkah kita tetap menjadi teman?",tanya Sam.


"Mmm,tentu..kita bisa menjadi teman",balas Vivian dengan menyunggingkan senyumannya.


"Ok,selamat jadi teman".


Sam menyodorkan tangannya,dengan ketenangan ia juga menebarkan senyuman palsu miliknya.Tentu saja Vivian tidak dapat menolak jabatan tangan tersebut.


"Hmm,teman..",balas Vivian.


Keduanya pun melanjutkan pembicaraan,pembicaraan ringan layaknya teman yang lama tidak berjumpa.Namun bagi Sam,pembicaraan tersebut adalah awal baginya untuk dapat lebih dekat kembali,kembali untuk menjalani sebuah hubungan.


***********


Disatu sisi,Hanz tampak gelisah karena terus memikirkan Vivian.Oleh karena itu,


sepulang dari tempat bekerja,Hanz mencoba untuk menemui Vivian.Karena ia ingin secepatnya menemui wanita tersebut dan tentu saja tujuannya adalah untuk menjemputnya.



Namun setibanya,pemandangan yang menganjal dihatinya memberikan kejutan yang lain.Kini aura Hanz berubah seketika.


Hanz menghela napas,wajahnya sedikit kesal karena saat berada didepan kantor tempat Vivian bekerja ia mendapati pemandangan yang tidak biasa.Seseorang sedang mengusik wanitanya.Dan pria itu adalah pria yang berada dipesta tempo hari.


"Apa yang dilakukan pria tersebut???Dan apa yang dibicarakan mereka???",gerutu Hanz dalam kesendirian.


Seketika perasaannya tidak menentu,segala pertanyaan terbesit dipikirannya.Hanz berusaha menepis pikiran negatifnya.Tanpa mengulur waktu,ia pun membuka pintu mobilnya lalu menghampiri Vivian.


"Ehhhmmm..."


Suara deheman Hanz,menyadarkan kedua insan tersebut.Tentu saja Vivian sangat terkejut mendapati Hanz menemuinya.Apalagi kini ia bersama orang lain.


"Hanz..."