
Setelah makan siang Vania kembali lagi keruangan CEO untuk minta tanda tangan berkas tadi, beruntung dia memberikan alasan kalau Pak CEO sedang makan siang dan tidak bisa diganggu. Beruntung Pak Lion percaya dan Vania sedikit lega, tapi saat ini dia takut karena Daniel pasti akan memarahinya.
Vania berjalan pelan dan dia sangat bahagia melihat Iren duduk disana, dia bisa meminta bantuan pada Iren pikirnya.
"Permisi Mbak..." sapa Vania sopan pada Iren.
"Iya ada apa ya?" tanya Iren sambil melihat Vania.
"Saya Vania dari divisi keuangan, saya mau minta tolong Mbak untuk minta tanda tangan Pak Daniel" ucap Vania sambil menyerahkan map yang dia pegang.
"Masuk saja, Pak Daniel ada di dalam" jawab Iren yang menyuruh Vania masuk.
"Tapi Mbak..." jawabnya takut sambil melirik pintu masuk ruangan CEO.
"Tidak apa-apa, masuk saja" sambung Zandi yang duduk disebelah Iren.
Dengan lesu akhrinya Vania masuk kedalam sana, dia sudah menyiapkan mental kalau nanti Pak Daniel akan marah pada nya. Sungguh sial dia hari ini, mana harus berhadapan dengan Pak Daniel lagi.
Tok
Tok
Tok
"Permisi Pak...!" ucap Vania sedikit keras agar Daniel mendengarnya.
"Masuk...!" jawab nya singkat dan Vania menarik napasnya lalu masuk kedalam.
Dia melihat Daniel sedang sibuk dengan laptopnya dan menatap nya saja sudah membuat Vania takut, saat Vania berbicara. Daniel langsung melihat kearahnya dan dia bertanya ada keperluan apa Vania datang keruangan nya.
"Permisi Pak..." ucap Vania dan Daniel pun melihat kearahnya.
"Oh kamu lagi, ada apa kamu kesini?" tanya Daniel santai dan membuat Vania sedikit legah.
"Saya Vania dari divisi keuangan, saya mau minta tanda tangan untuk laporan akutansi Pak" jawab Vania sambil melihat Daniel yang juga menatapnya.
"Sini..." jawabnya dan Vania pun mendekat lalu meletakan laporan itu dimeja Daniel.
Daniel pun membukanya dan membacanya sekilas lalu dia menanda tangani nya, setelah itu dia menegur Vania karena Vania tidak sopan masuk begitu saja tadi.
"Ini sudah saya tanda tangani" ucapnya memberikan laporan itu kembali pada Vania.
"Terima kasih Pak, kalau begitu saya permisi dulu" jawab Vania setelah mengambil map nya dan ingin pergi dari sana.
"Tunggu...!" ucapnya dan Vania pun menghentikan langkahnya lalu memutar tubuhnya lagi menghadap Daniel.
"Lain kali kamu harus mengetuk pintu dulu kalau masuk kesini, jika saya tidak menjawabnya artinya kamu tidak boleh masuk. Mengerti !" ucap Daniel dan Vania langsung menganggukan kepalanya.
"Kamu beruntung Vania karena dia tidak marah-marah, syukurlah' ucap Vania dalam hatinya.
"Sana kembali lah keruangan kamu" ucap Daniel lagi dan Vania pun langsung pergi dari sana.
"Baik Pak, permisi" Vania buru-buru keluar dari sana.
Setelah Vania keluar, Daniel memanggil Zandi untuk masuk kedalam ruanganya. Tujuan nya agar Zandi bisa mencari tahu tentang Vania, sepertinya Daniel tertarik denganya.
"Hey Bro...!!" panggil Daniel dari balik pintu dan hanya kepala nya saja yang kelihatan.
Zandi serta Iren pun langsung melihat kearah Daniel, Daniel mengisyaratkan tanganya agar Zandi masuk kedalam ruanganya.
"Sana masuk lah, Pak Daniel memanggil kamu" ucap Iren dan Zandi pun buru-buru masuk.
Sedangkan Daniel sudah kembali duduk dikursinya, dia tersenyum saat Zandi masuk. Ada apa lagi pikit Zandi, senyum nya sangat mencurigakan.
"Ada apa Bos? apa Bos perlu bantuan?" tanya Zandi yang sudah berdiri didepan Daniel.
"Iya aku perlu bantuan, cari tau tentang gadis tadi" jawabnya sambil tersenyum penuh arti.
"Gadis yang barusan masuk kesini tadi, sepertinya aku tertarik denganya" jawab Daniel sambil memainkan pena ditanganya.
"Sudah Bos, jangan main-main. Bukan kah Bos masih pacaran dengan Laras?" Zandi benar-benar malas kalau harus mengurus masalah percintaan Daniel.
"Siapa yang main-main, aku hanya penasaran saja dan ini tidak ada hubungannya sama Laras. Cepat cari tahu, aku mau laporannya besok" jawab Daniel dengan muka dinginya.
"Hemm...Baiklah!" Zandi pergi dengan lesu.
Saat keluar dari sana, Iren langsung bertanya pada Zandi karena terlihat sekali muka nya diketuk karena kesal, Zandi menghambuskan napas dalam lalu duduk kembali dikursinya.
"Kenapa muka kamu diketuk seperti itu? apa Pak Daniel menyuruh kamu yang aneh-aneh lagi?" tanya Iren yang bisa menebak apa yang terjadi, karena dia sangat mengenal Bos nya itu.
"Iya begitu lah, tapi kali ini aku harus mencari informasi tentang gadis tadi. Daniel benar-benar tidak waras!" kesal Zandi sambil mengeluarkan ponselnya.
"Wah emang dasar playboy cap buaya banget Pak Daniel, terus loh mau ngapain?" tanya Iren lagi.
"Mau nghubungi anak buah gue lah, aku malas bergerak. Oh Iya apa Bu Lalita ada dibawah?" Zandi balik bertanya pada Iren.
"Kayaknya ada deh, tadi pagi aku melihatnya bawah" jawab Iren.
"Baiklah aku akan ke bawah dulu, kabari aku jika dia memanggil lagi" ucap Zandi dan Iren menganggukan kepalanya.
Zandi pun pergi dari sana dan menaiki lift untuk turun kebawah menuju ruang HRD, Bu Lalita adalah ketua HRD dan Zandi yakin dia masih menyimpan berkas gadis yang di maksud oleh Daniel tadi.
Benar saja Bu Lalita sedang duduk, spertinya dia sedang mengerjakan beberapa laporan. Dia tersenyum saat melihat Zandi datang.
"Permisi Bu Lalita, maaf mengganggu waktunya" ucap Zandi saat masuk kesana dan kemudian dia duduk didepan Bu Lalita.
"Iya ada apa Zandi? tumben sekali kamu kesini?" tanya nya sambil melihat Zandi.
"Saya mau datang anak yang baru masuk kemarin, apa boleh saya lihat datanya?" Zandi balik bertanya pada Bu Lalita.
"Masih kok, mau semuanya atau divisi apa?" tanya nya lagi.
"Aku lupa tadi dia dari divisi apa, tunggu Bu aku tanya Iren dulu" Bu Lalita pun menganggukan kepalanya.
Zandi pun menelpon Iren dan Iren mengatakan wanita tadi bernama Vania dari divisi keuangan, Zandi pun langsung mengatakannya pada Bu Lalita.
"Saya mau cari yang divisi keuangan saja Bu, mana berkasnya?" tanya Zandi lagi.
"Duduk saja disini, biarkan Adi yang mencarinya" jawab Bu Lalita dan Zandi pun menganggukan kepalanya.
"Adi...Di...!!" panggil Bu Lalita dan Adi yang beradi di luar pun langsung masuk.
"Ada apa Bu?" tanya nya.
"Cari berkas anak divisi keuangan yang baru masuk kemarin didalam lemarin" jawabnya.
"Iya Bu" Adi pun pergi dan mencari berkasnya dilemarin yang ada diruangan Bu Lalita.
Tidak butuh waktu lama Adi pun menemukanya, Zandi pun langsung mengambilnya lalu pergi dari sana.
"Ini berkasnya Pak" ucap Andi memberikan beberapa berkas pada nya.
"Baiklah terima kasih, saya permisi dulu Bu" jawab Zandi lalu pergi dari sana.
Zandi kembali keruangan dan membaca semua isi biodata Vania, setelah itu dia berniat menghubungi anak buah nya untuk mencari tahu tentang Vania serta alamat rumah nya.
Apa istimewanya wanita ini pikir Zandi sambil melihat berkas yang dia pegang, lumayan cantik tapi mantan-mantan Daniel yang kemarin bahkan lebih cantik dari ini pikir Zandi dalam hati nya.
.
.
Bersambung...