
Besoknya Vania benar-benar ingin menghindari bertemu dengan CEO nya karena dia sangat malu, seharunya bukan dia yang malu tapi Pak CEO karena ketahuan sedang bercumbu di jam kerja. Tapi tetap saja Vania tidak ingin masuk kesana lagi, saat Pak Lion menyuruh Vania mengantar berkas Vania langsung menyuruh Tomi.
Saat ini dia sedang mengerjakan beberapa tugas yang diberikan Bu Ririn pada nya, Lauren membantunya karena kebetulan dia tidak ada kerjaan karena tugas nya sudah selesai dari tadi.
"Sini ada yang perlu aku bantu?" tanya Lauren sambil mendekatkan kursinya.
"Untung kamu mau bantu, ini baca biar aku yang mengetiknya. Sangat lama jika aku yang membaca nya juga" Vania memberikan buku laporan pada Lauren.
"Hemm....aku tau anak kesayangan Pak Lion ini selalu sibuk" Ejek Lauren yang membuat Vania sedikit kesal.
"Siapa juga anak kesayangan Pak Lion, malahan kamu tu yang diliatin tiap hari. Aku rasa Pak Lion suka sama kamu " bisik Vania membuat Lauren marah dan memukul lengan Vania.
"Awww...sakit banget, kecil-kecil tega kuli" ucap Vania sambil mengelus lengan nya.
"Makanya kalau ngomong jangan sembarangan, mana ada Pak Lion suka sama aku. Mungkin dia juga susah punya istri" jawab Lauren sambil membuka laporan yang diberikan Vania tadi.
"Pak Lion belum menikah, dia masih jomloh" Jawab Vania yang membuat Lauren terkejut.
"Benarkah?" tanya Lauren sangat bersemangat.
"Iya Lau, kemari aku bertanya pada nya. Tunggu dulu jangan-jangan kamu suka ya sama Pak..." belum selesia Vania bicara, Lauren sudah menutup mulut Vania menggunakan tangan nya.
"Jangan kencang-kencang" marah Lauren.
"Jadi benar apa kata ku?" tanya Vania dan Lauren menganggukan kepalanya.
"Wah kamu hutang penjelasan sama aku ni, tapi tunggu dulu apa kamu menyukainya dari pertama wawancara kemarin?" sambung Vania lagi penasaran.
"Tidak, aku sudah suka sama dia semenjak pertema kali masuk kempus" jawab Lauren sambil tersenyum.
"Kami dulu satu kampus, Pak Lion adalah senior ku dulu" bisik Lauren lagi dan Vania pun membulatkan mata nya tak percaya.
"Wah kok bisa kebetulan banget loh ketemu dia lagi" jawab Vania.
"Sebenarnya aku tau dia kerja disini karena Om ku, dia pernah kerumah Om Jordan waktu itu. Jadi aku tanya-tanya dan banar saja dia juga kerja disini" jawab Lauren sambil tersenyum.
"Jangan bilang kamu masuk kesini karena Pak Jordan yang membuat kamu lulus?" tanya Vania lagi sambil menggelengkan kepalanya.
"Kok kamu bisa tau" jawab Lauren spontan.
" Jadi tebakan aku benar? wah pantas saja kamu langsung tersenyum saat keluar dari ruang wawancara waktu itu, ternyata kamu punya dekingan yang kuat" ucap Vania lagi.
"Iya lah apa guna nya punya Om, kalau tidak dimanfaatkan. Apa benar Pak Lion jomloh? bukanya dia sudah menikah dua tahun yang lalu?" tanya Lauren penasaran.
"Ya dia sendiri yang bilang, saat itu aku bertanya apa bapak punya istri dan dia jawab tidak karena dia saat ini masih jomloh. Aku nggak tau kalau dia udah nikah apa belum, lebih baik kamu cari tau sendiri" jawab Vania yang fokus kembali dengan laptopnya.
"Jadi begitu ya, berarti kamu dekat dengan Pak Lion sampai-sampai dia cerita sama kamu kalau dia jomloh. Aku iri sama kamu" ucap Lauren.
"Sudah lah jangan bahas ini lagi, ayo kerja cepat buka halaman 5. Aku belum menyelesaikan hitungannya tadi" sahut Vania dan Lauren pun menghembuskan nafas dalamnya.
"Baiklah halama 5" jawabnya sambil membuka laporan itu.
Mereka berdua mulai mengerjakan laporanya, sampai hampir jam istirahat tiba baru lah mereka selesai. Saat Vania menyerahkan laporanya pada Bu Ririn, Bu Ririn malah menyuruh Vania mengcopynya lalu diberikan pada Pak Jordan kepada divisi pemasaran.
"Terima kasih Vania, Oh iya maaf merepotkan sekalian lagi. Tolong antar keruangan Pak Jordan ya, sekalian kamu copy dulu" Bu Ririn memberikan kembali laporanya.
"Apa boleh saya tau dimana ruangan Pak Jordan Bu?" tanya Vania karena dia belum pernah kesana.
"Ruanganya ada di lantai sepuluh, satu lantai dengan ruangan Pak CEO" jawab Bu Ririn.
"Baiklah Bu, kalau begitu saya permisi dulu" ucap Vania lalu pergi dari sana.
Vania pergi mengcopy laporanya lalu naik lift menuju lantai atas, saat ini tidak ada orang yang bersama nya di lift. Setelah sampai dilantai sepuluh pintu lift pun terbuka, saat Vania ingin keluar dia terkejut karena ada Daniel dan Zandi sedang berdiri disana.
"Apa kamu tidak mau keluar?" tanya Daniel saat melihat Vania diam saja sambil membuaktkan mata nya.
"Ah...iya saya mau keluar, permisi Pak" jawab Vania sambil menundukan kepalanya.
Setelah keluar Vania sedikit berlari menuju ruangan Pak Jordan, Daniel tersenyum memperhatikan Vania yang berlari menjauh dari mereka. Danel dan Zandi pun masuk kedalam lift, mereka turun kebawah karena ingin makan siang diluar.
"Apa kamu tidak melihatnya Zan, dia sangat lucu" ucap Daniel saat mereka masih di dalam lift.
"Lucu apa nya? aku pikir dia takut sama kamu dan kelihatannya dia juga menghindar" jawab Zandi jujur dan Daniel yang mendengar itu langsung melotot tajam pada Zandi.
"Jangan melotot seperti itu, aku hanya bicara jujur" sahut Zandi sambil menatap Daniel.
"Benarkah? apa dia menghindari ku. Perasaan semua wanita bahkan ingin menemui aku, bukan kah aku tampan?" tanya sambil mengeluarkan ponselnya dari saku celana lalu dia berkaca.
"Aku masih tampan seperti biasa" sambungnya mengagumi dirinya sendiri.
"Berhentilah memuji dirimu sendiri Bos, lagian tidak semua wanita suka laki-laki tampan" jawab Zandi lagi.
"Memang nya kenapa?" tanya Daniel penasaran.
"Karena ada juga wanita yang suka pada laki-laki biasa karena itu membuat dia nyaman" jawab Zandi.
"Seperti kamu sangat paham masalah perempuan, pacaran saja tidak pernah. Lebih baik kamu cari pacar sana, biar pikiran kamu juga terbuka. Biar pola pikir kamu nggak kayak zaman Old" ucap Daniel.
"Iya-iya Bos memang selalu benar" jawab Zandi pasrah karena Daniel tidak mau mengalah.
"Oh iya apa kamu sudah mencari tau tentang wanita tadi?" sambung Daniel lagi.
"Sudah Bos, bahkan berkasnya sudah saya letakan diatas meja pagi tadi" jawab Zandi.
"Bagus nanti aku akan baca, kamu tidak bilang kalau kamu sudah meletakan nya disana" ucap Daniel lagi dan Zandi hanya diam saja.
Zandi hanya bisa pasrah karena Bos nya ini tidak akan mau mengalah, giliran tentang masalah perempuan saja nomor satu.
Kadang kasian juga dengan Mama nya Daniel yang menyuruhnya menikah dan punya anak, Daniel bahkan tidak berencana menikah apa lagi punya anak.
.
.
Bersambung...