
Besoknya Vania benar-benar pindah ke ruangan Daniel, Lauren membantu Vania untuk memindahkan barang-barangnya. Setelah Vania memindahkan semua barangnya, Lauren kembali bekerja dan Vania duduk meja nya dan mulai mengerjakan tugas nya.
Sesekali Vania memandangi Daniel yang dari tadi diam saja, bahkan dia tidak menyapa Vania sama sekali. Daniel tau kalau Vania memperhatikanya dan dia pun langsung menegurnya, Vania pun langsung mengarahkan pandangan nya ke depan.
"Pantas saja kamu tidak fokus mengerjakan tugas kamu, kalau sambil memperhatikan orang. Apa diruangan kamu juga memperhatikan karyawan cowok disana?" tanya Daniel sinis.
"Maaf Pak, saya tidak bermaksud untuk menatap Bapak. Tadi baner-benar tidak sengaja dan saya juga tidak pernah memperhatikan karyawan cowok yang ada divisi saya" Vania membela dirinya.
"Baiklah aku percaya, tolong buatkan aku kopi. Sekarang!!" ucapnya penuh penekanan.
"Baiklah Pak, saya permisi dulu" Vania pun pergi dari sana.
Saat Vania keluar dari sana, Zandi dan Iren menatap nya. Vania hanya menundukan kepala nya. Jujur saja dia sangat malu, apa yang dipikirkan mereka berdua tentang Vania.
Vania pun sampai di pantry, dia membuatkan kopi sesuai dengan takaran yang sering dia buat. Daniel juga tidak mengatakan apa-apa tadi, setelah itu dia kembali lagi keruangan dan memberikan kopi nya.
Daniel terlihat sibuk mengerjakan laporan, beberapa berkas yang harus dia periksa juga. Vania memberanikan diri untuk bicara dan meletakan kopinya diatas meja.
"Permisi Pak ini kopi nya" ucap Vania meletakan kopi itu diatas meja.
"Iya terima kasih" jawabnya dingin dan Vania pun berjalan kembali ke meja nya.
Belum sempat Vania duduk, Daniel sudah berteriak pada nya. Dengan sabar Vania berjalan lagi menghampiri meja Daniel, bekerja dengan Daniel harus sangat sabar dan Vania heran kenapa Zandi sangat betah.
"Kenapa kopi nya sangat masih? kamu mau bikin saya diabetes ya" tanyanya marah.
"Gula nya cuma satu sendok Pak, saya sering bikin kopi takaran nya juga seperti itu" jawab Vania sambil menundukan kepalanya.
"Buang kopi ini, sepertinya aku mau minum Boba saja. Belikan aku Xixa Boba yang ada di seberang jalan dekat Bank B" ucapnya sambil mengeluarkan uang seratus ribu.
Vania pun mengambilnya dan tidak lupa juga dia mengambil kopi yang ada didepan Daniel, tapi sebelum pergi dia bertanya pada Daniel agar tidak salah lagi.
"Maaf Pak, mau rasa apa ya? saya takut salah lagi" tanya Vania sebelum pergi.
"Rasa coklat, kalau masih ada sisah uang nya kamu beli dua" jawabnya dan Vania pun menganggukan kepalanya.
Sekali lagi Vania lewat di depan Zandi dan Iren, tapi kali ini Iren bertanya kemana Vania pergi. Vania pun mengatakan jika dia akan pergi membeli minuman Boba karena Daniel menyuruh nya.
"Mau kemana lagi kamu Van?" tanya Iren saat Vania lewat.
"Vania mau beli minuman Boba didepan, Pak Daniel yang menyuruh. Apa Mbak mau titip juga?" tanya Vania dan sekalian saja pikirnya jika mereka berdua mau.
"Nggak Van, ya udah sana pergi. Nanti kelamaan kamu kena marah" jawab Iren dan Vania pun menganggukan kepalanya lalu pergi dari sana.
"Apa menurut kamu mereka beruda sangat aneh?" tanya Iren pada Zandi yang duduk di sebelah nya.
"Apa nya yang aneh? Daniel memang begitu. Kamu juga bukan anak yang baru masuk, jadi jangan pura-pura tidak tau" jawab Zandi santai sambil fokus dengan labtopnya.
Dia harus membalas semua email yang masuk, Daniel mana sempat melakukanya. Iren pun mengerti dengan ucapan Zandi, kalau di pikir-pikir dari dulu Daniel memang sudah aneh.
"Iya aku paham apa kata kamu, tapi aku kasihan pada Vania. Seharusnya itu kan tugas kamu" ucap Iren sambil menatap Zandi.
"Ya mau gimana lagi itu mau nya Daniel, aku juga sudah bilang kemarin" Zandi terlihat cuek saja.
"Hemmm" jawab Iren karena Zandi cuek sekali.
.
.
"Apa dia sengaja?' tanya Vania sambil menatap Daniel.
"Kamu sudah kembali, mana Boba nya" ucap Daniel dan Vania pun memberikan Boba nya pada Daniel serta uang kembalinya juga.
"Terima kasih" jawab Daniel dan Vania pun kembali duduk di meja nya.
Dia melirik Daniel yang sedang minum, jahat sekali pikir Vania. Mana dia sangat harus, belum lagi Boba coklat adalah kesukaan nya. Daniel pun tersenyum sambil melirik kearah Vania, dia tau jika Vania pasti mau juga.
"Kenapa kamu mentap aku seperti itu, apa kamu mau?" tanya Daniel sambil memegang gelas Boba nya.
"Nggak Pak, saya tadi cuma melihat kearah jendela" jawab Vania bohong dan Daniel pun berusaha menahan senyum nya.
"Oh begitu ya, kenapa sangat enak sekali minum Boba panas-panas begini" ucap Daniel sengaja memancing Vania.
"Menyebalkan sekali, dia pasti sengaja!' ucap Vania dalam hatinya.
"Sini kamu, bawah pena dan buku. Tarik juga kursi kamu" Daniel menggerakan tunjuknya.
Vania pun mengambil buku dan Vena nya, dia juga menarik kursi. Vania berdiri didepan Daniel, dia tidak tau apa lagi yang akan Daniel suruh.
"Jangan bardiri di situ, cepat tarik kuris kamu kesamping sini" ucap Daniel dan Vania pun menurutinya.
"Apa apa Pak? apa ada yang bisa saya kerjakan?" tanya Vania setelah duduk disamping Daniel.
"Ini adalah data keuangan dan pemasukan salah satu Mall di Bandung, aku akan mengajari kamu bagaimana cari membuat laporan dan menghitung nya dengan benar" jawab Daniel memberikan beberapa lembar kertas.
"Perhatikan jangan pikirkan kemana-mana" ucap Daniel lagi.
"Iya Pak saya akan fokus, jadi bagaimana cara nya?" tanya Vania karena dia menang semangat jika belajar, apa lagi ini sangat bermanfaat.
"Kamu harus menghitung pemasukan perminggu, baru minggu berikut nya. Jika kamu menghitung nya sekaligus, mungkin ada yang terlewatkan. Sebenarnya ini mudah karena kamu belum terbiasa saja" ucap Daniel dengan sabar dia mengajari Vania.
"Apa kamu paham?" tanya Daniel setelah dia mencontohkan nya pada Vania.
"Ternyata ini lebih mudah dan nggak mungkin salah" jawab Vania menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
"Baiklah jika kamu mengerti kerjakan data minggu berikutnya" ucap Daniel sambil membuka lembar satu nya.
"Aku pastikan kali ini tidak akan salah" jawabnya sangat percaya.
"Oh iya apa yang disuruh Lion, apa kamu sudah mengerjakan nya?" tanya Daniel lagi.
"Sudah Pak, tadi cuma disuruh merekap laporan dan mengirim email" jawab Vania, karena dia juga sudah mengerjakan separuh dirumah dan mengirim email nya tadi sebelum membuat kopi.
"Bagus kerjakan itu, nanti aku akan mengeceknya" ucap Daniel yang kembali fokus pada laptop nya.
Vania membuat laporan itu, sedangkan Daniel mengejakan laporan lainya. Sebenarnya ini adalah cara Daniel untuk dekat dengan Vania, jika bukan dengan menyuruh nya seperti ini. Vania akan selalu menghindar, Daniel tau kalau ini bukan obesi tapi dia benar-benar menyukai Vania.
.
.
Bersambung...