
Hari ini Daniel benar-benar tidak bicara pada Vania satu kata pun, dia hanya memberikan pekerjaan pada Zandi. Vania tau dia juga hanya bisa diam, situasi ini cukup rumit juga. Kenapa juga Daniel suka pada nya pikir Vania dalam hati nya, sesekali dia melirik kearah Daniel yang muka nya masih datar dan dingin seperti tadi pagi.
Beberapa menit kemudian Pak Bima datang bersama dengan Zandi, setelah mereka masuk Vania pun di panggil oleh Zandi. Ada apa ini pikir Vania, perasaan nya tidak enak.
"Vania sini..." panggil Zandi, Vania pun berdiri dan menghampiri mereka berdua yang sedang berdiri didepan meja Daniel.
"Ada apa ya Pak?" tanya Vania bingung.
"Jelaskan pada mereka" suruh Daniel dengan muka datarnya, dia juga mengeluarkan dua amplop dari laci meja nya.
"Kalian berdua akan menecek kantor cabang selama 2 bulan di kota B, saya yakin kalian tidak akan membuat kita malu disana nanti. Bekerja lah yang baik, selalin itu satu minggu kalian harus mengawasi proyek pembangunan hotel disana" jelas Zandi membuat Vania terkejut, kenapa harus dia pikir Vania.
"Ini adalah surat perintah nya, kalian tidak perlu khawatir soal tempat tinggal disana. Pihak perusahan sudah menyiapakan rumah dinas, kalian akan pergi besok" sambung Daniel membuat semuanya jelas.
"Tapi Pak kenapa mendadak sekali?" tanya Vania yang tidak terima karena dia baru tau satu hari sebelum pemberangkatan.
"Iya sebenarnya yang pergi adalah Pak Lion, tapi dia tidak bisa karena orang tua nya sedang sakit" jawab Daniel dan Vania hanya bisa menahan emosi nya.
"Kamu tenang saja Vania, Pak Bima akan membantu kamu disana karena dia sudah berpengalaman" sambung Zandi seolah-olah membantu Daniel.
"Iya Vania kamu tenang saja, saya akan membantu kamu. Sekalian belajar juga, kamu belum pernah dinas keluar kota kan?" tanya Pak Bima sambil tersenyum.
"Baiklah Pak saya akan melakukan yang terbaik" jawab Vania penuh penekanan.
"Bagus, sekarang kamu boleh ikut Pak Bima untuk memperlajari berkas dan tugas kalian besok" ucap Daniel masih dengan nada dingin nya.
"Kalau begitu saya permisi dulu Pak" jawab mereka bedua.
Vania mengambil buku dan pinselnya, lalu dia keluar mengikuti Pak Bima. Vania sangat kesal saat tau jika dinas di luar ini sudah di rencanakan satu bulan yang lalu, Pak Bima bilang memang dia yang akan pergi dengan Pak Lion tapi karena Mama nya sedang dirawat dirumah sakit jadi dia tidak bisa.
Awalnya Tomi yang akan menggantikan nya tapi Pak Bima juga terkejut saat Pak Daniel bilang Vania saja yang menggantikan Pak Lion, sudah jelas sekali Daniel sengaja melakukanya.
Sedangkan di ruangan Daniel, Zandi sedang menatap Daniel sambil mengelengkan kepalanya. Lagi-lagi dia mencampurkan urusan pribadi nya dengan pekerjaan, mau bagaimana lagi Zandi juga tidak bisa mencegah dia untuk tidak melakukanya.
"Sekarang apa lagi?" tanya Zandi sambil menatap Daniel yang memijat kepala nya.
"Aku gagal lagi, dia menolak aku untuk kesekian kali nya" jawab Daniel sangat lesu.
"Tapi kamu tidak harus mengirim nya ke kota B juga kali, ini tidak ada kaitanya dengan masalah percintaan kalian" ucap Zandi berusaha protes dengan keputusan Daniel.
"Mungkin dengan tidak melihat dia aku bisa melupakan perasaan ku" sambung Daniel.
"Dasar kekanak-kanakan, entah lah aku juga bingung harus bicara apa lagi" Zandi memutuskan untuk pergi dari sana.
.
.
Setelah pulang kerja Vania langsung membicarkaan ini pada Mama dan Papa nya, orang tua nya juga terkejut karena ini sangat memdadak. Mama membantu Vania untuk berkemas, malam itu juga mereka menyiapkan peralatan yang akan Vania bawah.
"Kenapa mendadak sekali sayang?" tanya Mama lagi.
"Vania terpaksa Ma karena atasan Vania juga berhalangan jadi Vania yang harus menggantikannya, sekalian juga mencari pengalaman" jawab Vania menjelaskan pada Mama nya.
"Tapi 2 bulan itu lama sayang, Papa nggak tau kamu akan betaj atau tidak disana. Bagaimana dengan tempat tinggal kamu nanti?" tanya Papa yang duduk di kursi kerja Vania.
"Papa dan Mama tenang saja, semua nya sudah di siapakan disana. Vania cuma tinggal pergi kesana, perusahan yang mengurus semua nya" jawab Vania dan Papa pun berusaha mengerti, walaupun dia tidak rela kalau Vania pergi.
"Tapi Mama masih kesal kenapa harus kamu, bukan kah banyak teman-temanya senior kamu" Oceh Mama yang masih belum terima.
"Jadi itu artinya Vania adalah orang terpilih Ma, kenapa Mama kesal. Disana Vania juga bisa menenagkan diri dengan jalan-jalan, sudah lama Vania nggak pergi" jawab Vania.
"Benar juga, Papa setuju kamu harus menenagkan diri disana. Bukan kah kota B banyak wisata nya?" Papa langsung menganggukan kepala nya.
"Iya juga, kalau nggak kerja kayak gini. Kapan sempat pergi ke kita B" jawab Mama yang ikut mengiyakan perkataan mereka.
Beberapa menit kemudian semua nya sudah beres, Vania pun disuruh istirahat karena besok mau pergi pagi-pagi. Mama dan Papa keluar dari kamar, lalu menutup pintu nya.
Drett...Dret...
"Hallo Van, kamu lagi apa?" tanya Tomi saat Vania mengangkat panggilanya.
"Hallo Tom, aku lagi berbaring mau istirahat. Ada apa memang nya?" Vania balik bertanya pada Tomi.
"Tidak ada hanya ingin menelpon kamu saja, hati-hati di jalan besok ya. Andai saja yang pergi sama kamu itu aku, bukan Pak Bima. Kita bisa jalan-jalan dan main kerumah ku" jawab Tomi kesal karena yang pergi bersama Vania adalah Pak Bima.
"Benar juga, rumah kamu kan ada disana. Pasti menyengakan jalan-jalan bareng" ucap Vania.
"Belum takdir kali ya, oh iya jangan lupa hubungi Mama ku nanti. Kamu bisa jalan-jalan bersama dengan dia, jangan salah walaupun sudah berumur. Mama sangat semangat kalau mau berwisata" sambung Tomi, menyuruh Vania untuk menghubungi Mama nya.
"Iya Tom, aku akan menghubungi Mama kamu setelah sampai disana nanti" jawab Vania da tidak salah nya juga karena Mama Tomi juga sangat baik.
"Aku cuma mau bilang itu saja, cepat lah tidur" ucap Tomi mengakhiri panggilanya.
"Selamat malam Vania" sambungnya lagi sebelum menantikan telponya.
"Iya selamat malam juga Tom" jawab Vania sambil tersenyum.
Tomi memang terlihat bedah dan dia juga sangat baik, Vania takut kedekatan mereka membuat Tomi salah paham. Semua nya dapat rusak karena perasaan cinta, jujur saja Vania lebih nyaman saat mereka bersahabat seperti sekarang.
Tidak lama kemudian Lauren juga mengirimkan pesan pada Vania, Lauren memberikan semangat dan mengucapkan hati-hati dijalan. Tidak lupa dia juga minta oleh-oleh pada Vania, Vania hanya bisa mengelengkan kepalanya. Dia aja belum pergi tapi Lauren sudah minta oleh-oleh saja, setelah cukup banyak saling mengirim pesan pada Lauren lalu Vania pun tertidur.
.
.
Bersambung...