Married With The Perfect Boss

Married With The Perfect Boss
Episode 19. Seperti Penguntit



Hari ini adalah hari minggu, seperti bisanya Daniel menikmati pagi dengan mengopi sambil memandang kota dari jendela apartemen nya. Dia minggu ini tidak pulang kerumah karena malas dengan ocehan Mama nya, disini dia lebih santai dan tenang.


Ketenangannya terganggu saat ponselnya berbunyi, dengan kesal Daniel berdiri dan mengambil ponselnya yang berada di atas meja dekat sopa.


"Abdi? ada apa dia menghubungi aku? awas saja kalau tidak penting" ucap Daniel sebelum mengangkat panggilanya.


"Hallo Abdi, ada apa?" tanya Daniel.


"Hallo Bos, saat ini dia sedang berada di taman M dan kebetulan dia sendiri. Bos bisa mengambil kesempatan ini untuk mendekatinya" jawab Abdi memberitahu Daniel.


"Maksud kamu Vania sedang ada di taman M?" tanya Daniel memastikan.


"Iya Bos saat ini dia sedang joging, cepat lah datang kesini" ucapnya lagi.


"Baiklah aku akan datang kesana, pastikan dia belum pulang" perintah Daniel pada Abdi.


Setelah itu Daniel siap-siap memakai baju olahraga dan tidak lupa dia memakai topinya, dia bergegas pergi ketaman M hanya untuk bertemu dengan Vania di hari minggu.


Beberapa menit perjalanan akhrinya dia sampai, Abdi menjemput Daniel. Setelah Abdi menunjukan dimana Vania berada, Daniel menyuruh Abdi untuk pulang.


"Itu Non Vania ada disana Bos" tunjuk Abdi pada Vania yang sedang berlari kecil.


"Baiklah, terima kasih Abdi. Oh iya kamu boleh pulang sekarang, jangan kasih tau Zandi kalau aku menyuruh kamu" jawabnya sambil menepuk pundak Abdi.


"Baik Bos, kalau begitu saya permisi dulu" jawabnya lalu pergi dari sana.


Daniel pura-pura berlari dan sengaja mendekati Vania, Vania belum menyadari kalau Daniel dari tadi ada dibelakangnya. Vania terlihat berbeda saat ini, bahkan tambah cantik karena dia mengikat rambutnya satu dan memakai topi berwarna pink yang menurut Daniel sangat imut.


"Hey apa kw tidak lelah Nona" sapa Daniel yang berlari di samping Vania.


Vania yang terkejut saat melihat wajah Daniel pun langsung berhenti dan hampir saja terjatuh, untuk saja Daniel menahan tangan nya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Daniel sambil memperhatikan kaki Vania.


"Aku tidak apa-apa Pak, kenapa bapak ada disini?" tanya Vania terkejut.


"Ini kan tempat umum dan aku juga sering joging disini, kebetulan sekali aku melihat kamu. Jadi aku menyapa kamu karena kita sudah bertemu disini" jawab Daniel bohong.


"Dia seperti penguntit yang ada dimana-mana' ucap Vania dalam hatinya.


"Iya kebetulan sekali ya Pak, tapi sepertinya aku sudah selesai. Aku pamit duluan ya Pak, silahkan lanjutkan joging nya" jawab Vania lalu ingin pergi dari sana.


"Tunggu, kenapa kamu terlihat menghindari aku" kesal Daniel sambil menahan tangan Vania dan Vania melepaskan tangan Daniel.


"Saya tidak menghindari bapak, malahan aku bersikap wajar dan menghormati bapak sebagai atasan saya" jawab Vania lalu menundukan kepala nya sebagai tanda hormat.


"Kenapa begitu? lagian saya tidak minta kamu menghormati saya sebagai atas" ucap Daniel sambil memandang wajah Vania yang putih bersih tanpa make up.


"Maksud bapak?" tanya Vania bingung.


"Maksud ku kita bisa menjadi teman, Ah bukan. Mau kah kamu berteman dengan ku?" tanya Daniel jadi salah tingkah.


"Teman? apa bapak tidak punya teman lagi sampai mengajak saya berteman?" Vania balik bertanya karena Daniel sangat aneh.


"Yah begitu lah, kamu bisa anggap aku tidak punya teman" jawab Daniel sambil memutar otaknya untuk berpikir.


"Mau aku ceritakan kisah ku agar kamu percaya?" sambung Daniel pura-pura sedih.


"Aku tidak punya waktu untuk berteman karena dari kecil aku selalu belajar dan saat ini aku sibuk bekerja, satu-satu teman ku hanya Zandi. Kamu tau Zandi kan, dia asisten ku" Vania pun manganggukan kepalanya tanda dia sudah mengerti penjelasan Daniel.


"Sungguh kasian sekali, baiklah ayo berteman" jawab Vania sambil menganggukan kepalanya.


"Mau ku tunjukan bagaimana punya teman sesungguhnya?" tanya nya sambil tersenyum dan mengulur tanganya di depan Daniel.


"Tentu saja" jawab Daniel sambil mengulurkan tanganya.


Vania menggenggam tangan Daniel dan mengajaknya berlari kearah taman, disana banyak makanan dan minuman serta mainan anak-anak yang dijual disana.


"Senyumnya sangat manis' ucap Daniel didalam hatinya saat melihat Vania tersenyum disampingnya.


"Kenapa kita membeli ini, bukan kah ini makanan anak-anak dan tidak baik setelah olaraga makan manis" bisik Daniel.


"Tidak apa-apa ini adalah tanda perteman kita, kali ini biar aku yang traktir" jawab Vania sambil tersenyum.


"Ah begitu rupanya, baiklah terima kasih teman" Daniel menganggukan kepala nya sambil tersenyum tipis.


Mereka duduk disebuh bangku panjang yang ada ditaman, Vania terlihat senang sekali memakan permen kapas itu.


"Apa ini enak?" tanya nya tidak yakin sambil melihat permen yang ada di tanganya.


" Iya ini sangat enak, buka mulut kamu" ucap Vania menyuruh Daniel membuka mulutnya.


"Bagaimana rasanya?" tanya Vania setelah memasukan permen itu ke mulut Daniel.


"Tidak terlalu buruk, tapi aku mau minum tunggu disini" Daniel berdiri lalu sedikit berlari menjauh dari sana dan Vania memandangi Daniel sampai tidak kelihatan lagi.


"Ternyata kehidupan Pak Daniel cukup menyedihkan juga ya, bahkan dia tidak punya teman. Kasihan sekali, memang benar kata orang tidak ada kehidupan yang sempurna" ucap Vania sambil menggelengkan kepalanya.


Tidak lama kemudian Daniel membawa dua botol air mineral, dia memberikan satu untuk Vania.


" Ini untuk kamu, kamu pasti haus kan" ucap Daniel sambil memberikan satu botol air mineral nya pada Vania.


"Terima kasih teman" jawab Vania sambil mengambil botol itu lalu meminumnya.


Daniel duduk sambil tanganya dia letakan kebelakang, terlihat dia sangat menikmati udara segar disana. Vania memandangi Daniel dengan serius, tanpa sadar dia mengatakan Daniel tampan dalam hatinya.


"Kenapa kamu memandangi aku seperti itu, sku tau aku memang tampan" jawabnya percaya diri sambil melihat kearah Vania.


"Tidak ada, hanya saja aku tidak percaya bisa berteman dengan kamu" jawab Vania jujur.


"Memang nya kenapa? aku bukan orang jahat atau preman yang perlu kamu takuti" ucap Daniel lagi.


"Iya itu memang benar, tapi kamu itu CEO. Bahkan di kantor banyak sekali yang ingin dekat dengan kamu, setiap hari mereka selalu membicarakan kamu" jawab Vania sambil menatap Daniel.


"Benarkah? apa kamu juga termasuk orang yang mengagumi aku?" tanya Daniel sambil megedipkan matanya.


"Tentu saja, siapa yang tidak kagum dengan bapak. Bapak tampan, kaya dan hidup bapak juga sempurna" jawab Vania jujur dan Daniel ingin tertawa mendengarnya.


"Baiklah, kalau begitu apa kamu mau jadi pacar ku?" tanya nya dan Vania mendengar itu langsung berbalik arah membelakangi Daniel.


"Aku hanya bercanda" sambung Daniel lagi sambil menarik bahu Vania agar dia kembali duduk menghadap Daniel.


"Hey kamu marah beneran? aku hanya bercanda" ucap Daniel panik karena Vania tidak mau menghadap kearah nya.


Vania berbalik dengan menjulurkan lidah nya dan matanya tertutup, serta kedua telapak tangan nya dia letakan disamping wajahnya. Melihat itu Daniel langsung tertawa, Vania terlihat sangat lucu.


"Kamu barusan tertawa?" tanya Vania saat melihat Daniel baru berhenti tertawa.


"Iya kenapa? aku manusia tentu saja aku bisa tertawa" jawab Daniel.


"Kamu sangat lucu" Daniel mengelus kepala Vania dan membuat Vania salah tingkah.


"Sebaiknya kita pulang atau kamu masih mau disini, aku duluan soalnya sebantar lagi Mama ku mau minta antar ke super market" sambung Vania.


"Baiklah ayo pulang, rumah kamu tidak jauh dari sini kan. Ayo aku antar pulang" ajak Daniel.


"Tidak usah, aku bawah sepeda" tunjuknya pada sepada yang berada di ujung taman.


"Sampai ketemu lagi" sambung Vania lalu pergi dari sana.


Daniel memperhatikan Vania sampai dia tidak kelihatan lagi, baru lah dia pulang dari sana. Pertemuan kali ini cukup baik, walaupun hanya menajdi teman pikir Daniel dalam hatinya. Beruntung sekali Vania percaya begitu saja kalau dia tidak punya teman dan menurut Daniel, Vania adalah gadis yang polos.


.


.


Bersambung...