
Vania sedang berjalan memasuki kantin bersama dengan Lauren, kali ini Tomi tidak ikut dengan mereka karena Pak Lion mengajaknya makan di luar. Saat masuk kedalam kantin Vania terkejut karena Akbar memanggilnya, sebenarnya dia kurang nyaman dengan sikap Akbar yang menurutnya agak berlebihan.
"Lihat dia memanggil kamu" bisik Lauren di telinga Vania.
"Aku sebenarnya malas makan disini, apa lagi kalau ketemu dia" jawab Vania sambil tersenyum paksa.
"Kalian makan lah bersama, aku akan bergabung dengan teman baru ku" sambung Lauren sambil menunjuk kearah Rani, dia adalah anak divisi pemasaran.
"Hey...Tunggu!!" jawab Vania sambil melihat Lauren sudah jalan duluan meninggalkanya.
Dengan terpaksa Vania menghampiri Akbar yang terus melambaikan tanganya pada Vania, setelah itu Vania duduk didepan Arkbar.
"Untung saja aku baru makan, kamu mau pesan apa?" tanya Akbar saat Vania sudah duduk didepan nya.
"Aku akan pesan sendiri Akbar" Vania pun memanggil salah satu penjul makanan disana lalu memesan makananya.
Vania makin tidak nyaman saat Akbar terus saja memandangnya, hal ini membuat dia risih.
"Jangan liat aku seperti itu" ucap Vania sambil memandang Akbar.
"Kamu sangat cantik, makanya aku nggak bosan mandangin wajah kamu" jawab Akbar dengan senyumnya, dalam hati Vania dasar buaya.
"Kamu ada-ada saja, oh iya kenapa kamu makan sendirian mana teman kamu?" tanya Vania mengalihkan pembicaraan.
"Teman-teman ku makan diluar, aku sengaja makan disini karena mau ketemu kamu. Kenapa kamu jarang sekali balas pesan aku, padahal aku nunggu loh?" tanya nya membuat Vania terdiam sejenak.
"Maaf aku agak sibuk akhir-akhir ini, memang nya ada apa Akbar?" Alasan Vania padahal dia memang malas.
"Aku mau ngajak kamu jalan kapan-kapan, nunggu kamu bisa saja. Jangan sampai aku ganggu jadwal kamu" jawab Akbar karena kemarin dia sempat mengajak Vania jalan tapi Vania harus membantu Mama nya di toko kue.
"Oh iya maaf sekali kemarin aku membantu Mama ku" ucap Kayla merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, santai saja. Kamu minta maaf terus dari tadi, aku tau kamu sibuk" jawab Akbar sambil tersenyum.
Tidak lama kemudian makanan Vania pun datang, Akbar juga menunggu Vania untuk melanjutkan makan nya. Tapi belum sempat Vania memasukan nasi ke mulutnya, Iren memanggilnya.
"Maaf mengganggu waktu kamu Vania, tapi bisa kah kamu ikut aku sebentar" ucap Iren dan Vania yang mendengar itu pun langsung berdiri.
"Ada apa Mbak?" tanya Vania dan Iren pun berbisik padanya.
Setelah mendengar ucapan Iren kalau Daniel mencarinya, dengan terpaksa dia meninggalkan makananya. Tapi terlebih dahulu dia berpamitan dengan Akbar yang tentu saja terlihat kesal, belum juga dia mulai untuk mendekati Vania tapi ada-ada saja halangan nya.
"Aku duluan ya Bar, ada urusan penting. Tolong bayar nasi aku ya" ucap Vania sambil meninggalkan uang 50 ribu diatas meja.
"Tunggu Van, biar aku saja yang bayar" teriak Akbar dan Vania pun sudah hilang dari sana, Akbar hanya bisa menghembuskan nafasnya.
"Bisakah aku duduk disini, meja yang lain sudah penuh?" tanya seorang wanita.
"Oh iya silahkan saja, kebetulan teman saya sudah duluan" jawab Akbar tanpa melihat wanita yang ada didepanya.
"Aku Aza...." Aza memperkenalkan diri nya, dia memang keluar terakhir karena Pak Lion menyuruhnya untuk mengerjakan beberapa laporan dari kantor cabang.
"Oh iya aku Akbar" jawabnya santai dan tidak tertarik lagi memperpanjang obrolan mereka.
"Apa kamu pacarnya Vania?" tanya Aza sambil memperhatikan Akbar yang melanjutkan makanya.
"Apa kamu kenal Vania juga?" Akbar balik bertanya karena dia tidak mau memberitahu orang asing yang baru saja dia kenal.
"Tentu saja aku kenal, Vania satu divisi dengan aku" jawab Aza percaya diri.
Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi, Akbar cepat-cepat makan dan pergi duluan. Aza yang terlihat kesal dengan Akbar yang pergi begitu saja, sepertinya dia sedikit tertarik dengan Akbar.
.
.
Sedangkan Vania sudah berlari terbirit-birit keruangan Daniel, Iren bilang ini sangat penting. Iren menyuruh Vania masuk kedalam dan setelah itu dia pergi makan siang di luar bersama dengan Zandi, mereka terlihat sangat dekat walaupun Iren sudah punya tunangan.
Vania masuk dan melihat Daniel sedang duduk di sopa sambil memainkan ponselnya, dia tersenyum saat melihat Vania datang.
"Kamu sudah datang, ayo duduk sini" ucapnya sambil menepuk sopa disamping nya.
"Apa apa kamu memanggil aku? kata Mbak Iren sangat penting" tanya Vania sambil merapikan kaca matanya.
"Aku hanya ingin makan siang bersama saja, ayo duduk disini" ucap Daniel lagi sama sekali tidak merasa bersalah.
"Apa? Sangat konyol sekali. Bahkan aku meninggalkan makan siang ku di kantin" kesal Vania yang masih berdiri disana.
"Aku malas makan sendirian makan nya aku ajak kamu, bukan kah kita teman" Daniel menarik tangan Vania dan menyuruhnya duduk.
"Kenapa tidak ajak Pak Zandi atau Mbak Iren saja, sangat metepotkan" jawab Vania dengan nada kesal.
"Mereka ingin makan diluar berdua, aku tidak punya alsan untuk menyuruh mereka makan disini. Cepat makan aku tau kamu lapar dan ini ayam goreng kesukaan kamu" Daniel memberikan nasi ayam pada Vania.
"Dari mana kamu tau aku suka makan ayam goreng?" tanya Vania sambil menerima makanan yang diberikan oleh Daniel.
"Hanya menebak saja, bisanya wanita memang suka ayam goreng kan" jawabnya berusaha membuat alasan.
"Tidak dapat dipercaya, baiklah aku akan makan saja karena aku sangat lapar" ucap Vania memulai makan dan Daniel tersenyum sambil memandang Vania yang duduk disampingnya.
"Oh iya kenapa kamu nggak balas pesan aku kemarin?" tanya Daniel sambil mengambil makanan nya yang juga sama dengan Vania.
"Aku sibuk dan tidak melihat ponsel ku, jangan berbicara terus kalau makan" jawab Vania agar Daniel tidak bertanya lagi.
Mereka pun makan bersama dan sesekali Daniel melirik Vania yang makan dengan santai, dia sama sekali tidak canggung seperti awal-awal mereka dekat dulu.
Setelah makan Vania membereskan sisa makanan mereka, ini adalah balasan terima kasih karena Daniel sudah memberikan nya makanan gratis.
"Terima kasih atas makanan nya, aku akan kembali ke ruangan ku dulu" ucap Vania sambil menundukan kepalanya pada Daniel yang sudah duduk di kursinya.
"Iya sama-sama, tapi lain kali kamu yang bawah makanan untuk ku. Ingat tidak..." belum selesai Daniel menyelesaikan ucapanya Vania sudah memotongnya.
"Tidak ada yang gratis di dunia ini, iya aku sudah tau. Besok aku akan bawakan bekal untuk kamu, kalau begitu aku pergi dulu" sahut Daniel dan itu sama sekali tidak membuat Vania terkejut.
"Sudah bisa di tebak, tidak mungkin bapak baik sekali tanpa ada imbalan apa pun" ucap Vania sambil menghembuskan nafas dalam.
Daniel langsung mengerakan tangan nya dan mengatakan yes, sepertinya cara nya kali ini tidak akan sia-sia. Zandi dan Iren yang sudah kembali dari tadi, mereka mendengar jelas Daniel berteriak hanya bisa menggelengkan kepala.
Sebenarnya yang paling sering direpotkan disini adalah Zandi dan Iren, tapi apa boleh buat semuanya demi Bos mereka. Semua keinginan Daniel harus mereka turuti jika tidak dia akan marah sepanjang hari, bukan hanya omelanya yang menyakitkan tapi juga pekerjaan mereka yang bertambah banyak.
.
.
Bersambung...