Married With The Perfect Boss

Married With The Perfect Boss
Episode 31. Terlalu Berharap



Saat ini mereka dalam perjalanan pulang kembali ke perusahan karena mobil Vania masih tertinggal disana, tapi dalam perjalanan Vania sadar ini bukan jalan ke perusahan.


Dengan panik Vania bertanya pada Daniel, Daniel melajukan mobilnya kencang sampai mereka berhenti di sebuah jalanan gelap dan membuat Vania semakin takut.


"Ini bukan jalan kearah perusahan kita mau kemana?" tanya Vania panik.


"Diam dan ikut saja" jawab Daniel dingin.


Tidak lama kemudian Daniel menghentikan mobilnya, dia sana cukup sepi. Vania tentu saja takut, dia belum pernah melihat Daniel semarah ini.


"Kenapa berhenti disini?" tanya Vania takut.


"Seharusnya aku yang tanya sama kamu, kenapa kamu nggak balas pesan aku? tiap aku telpon kamu selalu saja menolaknya nya. Kamu lagi menghindari aku ya? " tanya Daniel emosi sambil mendekatkan wajahnya ke arah Vania.


"Kenapa bapak marah?" Vania berusaha menjauhkan muka nya.


"Menurut kamu kenapa aku marah?" teriak Daniel menuat Vania semakin takut.


"Aku pikir sikap bapak sangat berlebihan, aku juga tidak punya hutang dengan bapak jadi jangan memaksa aku seperti tadi" jawab Vania takut.


"Berhentilah memanggil aku bapak, aku tidak suka di panggil begitu" ucapnya mulai mereda dan sudah bicara agak lembut.


"Kenapa bukan kah memang serusnya begitu? ini sudah dua kali aku berada di tengah-tengah bapak dan pacar bapak. Aku tidak mau lagi ikut campur urusan kalian dan aku juga merasa tidak punya hutang apa pun" oceh Vania karena dia kesal Daniel selalu saja bersikap sesuka hatinya.


"Tentu saja kamu punya hutang, hutang penjelasan kenapa kamu menghindari aku?" tanya nya lagi sambil menatap Vania tajam.


"Aku pikit tidak ada alasan kamu menghubungi aku, kita hanya berteman dan itu pun terjadi dalam wanitu singkat. Kita bukan siapa-siapa dan aku pikir kita tidak seakrab itu untuk saling memberikan kabar setiap hari" jelas Vania membuat Daniel kecewa dan dia terdiam sejenak.


"Kamu benar-benar tidak mengganggap aku siapa-siapa? " jawab Daniel tersenyum penuh arti.


"Iya kita cuma atasan dan bawahan, saya sangat menghormati Bapak sebagai atasan saya itu saja" ucap Vania lagi berusaha membuat Daniel mengerti.


"Berarti aku yang terlalu berharap, maaf kan aku membuat kamu tidak nyaman" ucap Daniel lalu melajukan mobilnya pergi dari sana.


"Ayo aku antar kembali ke perusahan" sambunya dengan dingin, Vania saja tidak berani melihat muka nya.


Benar saja Daniel mengatar Vania kembali kekantor, setelah Vania turun dari mobil Daniel langsung melajukan mobilnya pergi dari sana. Dilihat dari muka nya Vania menebak Daniel pasti sangat marah, bahkan dia tidak bicara satu kata pun. Vania jadi merasa bersalah apa dia sudah sangat keterlaluan pikiranya dalam hati.


"Apa aku sangat keterlaluan, kenapa juga dia semarah itu?" tanya Vania sambil membuka pintu mobilnya.


"Mbak belum pulang? saya pikir mobilnya memang sengaja ditinggal" tanya satpam yanh sedang berjaga disana.


"Saya tadi pergi dengan teman Pak, jadi mobil nya saya tinggal disini. Kalau begitu saya pulang dulu Pak" jawab Vania sopan dan satpam itu pun menganggukan kepalanya.


Vania pun masuk kedalam mobil lalu dia melajukan mobilnya pergi dari perusahan, Vania langsung pulang kerumah karena takut Mama nya marah. Padahal dia sudah janji untuk membantu Mama nya di toko, tapi untung lah dia sudah mengirim pesan pada Mama nya.


.


.


"Kamu dari mana sayang kenapa baru pulang?" tanya Mama dan Vania pun duduk disamping Mama nya.


"Vania habis jalan sama teman, dia ngajak banget nggak enak kalau menolak. Maaf ya Ma Vania nggak jadi bantuin Mama di toko, apa hari ini toko rame?" tanya Vania tidak enak.


"Iya lumayan rame, Mama pikir apa sebaiknya kita tambah pegawai lagi ya?" sambung Mama memberikan pendapatnya.


"Papa setuju, sebaiknya kamu tambah pegawai aja biar nggak kerepotan" sahut Papa sangat setuju.


"Baiklah nanti Mama akan cari pegawai, Mama rasa dua cukup" jawab Mama menganggukan kepalanya.


"Tunggu kamu pergi dengan teman kamu cewek atau cowok, itu pasti bukan Tomi karena kamu pasti bilang?" tanya Mama penasaran.


"Yang ngajak Vania jalan itu emang bukan Tomi Ma tapi Daniel yang waktu itu bantu kita di toko" jawab Vania tidak bersemangat.


"Tapi Papa lebih setuju kamu dekat dengan sih Daniel itu dari pada Tomi, soalnya Tomi anak nya lembut banget" sambung Papa sambil menggelengkan kepalanya.


"Apa sih Papa, siapa juga yang membuat pilihan disini" kesal Mama sambil menatap suami nya.


"Mama benar dan tidak dua-duanya, Mama tau aku sangat pusing dengan mereka. Tomi selalu saja membuat aku menghubungi Mama nya setelah pertemuan kami waktu itu, satu lagi Daniel. Dia adalah laki-laki yang menyebalkan karena memanfaatkan aku untuk memutuskan pacar-pacarnya" Vania menghembuskan nafasnya.


"Kenapa kamu tidak bersemangat, Mama pikir Tomi serius deh sama kamu. Buktinya saja dia mau kamu dekat dengan Mama nya, Mama jadi nggak suka sama sih Daniel ternyata playboy ya" jawab Mama memberikan pendapatnya pada Vania.


"Jangan salah-salah laki-laki playboy itu kalau udah punya istri pasti setia, bisa saja yang diam-diam itu banyak ulah. Papa masih setuju kamu dengan Daniel" Papa masih tetap dengan pendiriannya.


"Siapa yang akan pacaran, kalau pendapat Vania nggak dua-duanya. Sudah lah Vania ke kamar dulu mau mandi" jawab Vania ingin pergi dari sana.


"Ingat Daniel saja sayang, dia lebih keren..!!" teriak Papa saat Vania sudah mulai menaiki tangga.


"Jangan dengarkan Papa kamu, Tomi saja. Mama suka sama dia, udah dia aja" jawab Mama dan Vania hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Kalau bicara tentang laki-laki, Mama dan Papa nya sangat semangat karena Vania tau mereka ingin Vania hidup seperti orang lain. Dia tidak bersalah dan kenapa juga Vania yang harus menanggung kesalahan yang tidak dia lakukan


Vania merebahkan tubuhnya diatas kasur, dia memikirkan perkataan Daniel yang bilang kalau dia terlalu berharap. Apa Daniel benar-benar suka pada nya pikir Vania tapi rasanya tidak mungkin, Daniel adalah CEO perusahan dari keluarga kaya raya mana mungkin dia mau dengan karyawan biasa seperti diri nya.


"Kenapa aku jadi memikirkan perkataan nya?" tanya Vania sambil megusap muka nya.


"Mana mungkin juga dia suka sama aku, jangan menghalu Vania. Ingat siapa diri kamu dan kamu juga tau kalau dia itu playboy. Bahkan tidak terhitung lagi berapa banyak wanita yang dia cium" Vania menggelengkan kepalanya.


"Sebaiknya aku mandi dulu, agar kepala ku dingin" sambung Vania lalu berdiri dan berjalan ke kamar mandi.


Vania mengambil baju mandi nya di delam lemari dan pergi berjalan ke kamar mandi, dia bisa sakit kepala jika terus memikirkan Daniel dengan sikapanya yang tidak masuk akal dan membuat Vania tak bisa mempercayai semua ucapnya.


.


.


Bersambung....