
Hari ini Daniel mengadakan rapat bulanan seperti biaanya dan dia ingin mengetahui keuntungan perusahan bulan ini. Apa kah meningkat atau menurun, dia mengadakan pengumuman bahwa rapat nya hari ini padahal dalam jawal mereka dua hari lagi.
Vania tidak panik karena dia susah menyiapakan semua nya, seperti biasa dia yang akan menjelaskan laporan di divisi mereka. Vania sudah bersiap-siap, kali ini yang ikut adalah Lauren dan Tomi masih harus membuat beberapa dokumen.
Mereka berdua mengikuti Pak Lion dari belakang untuk menuju ruangan rapat, mereka duduk ditempat bisanya. Ternyata sudah banyak karyawan lain nya juga, Vania sedikit gugup hari ini entah apa yang dia pikirkan.
"Semangat Van, kamu pasti bisa. Aku yakin itu!" ucap Lauren yang duduk disamping Vania.
"Aku sangat gugup, tangan ku dingin " Vania memegang tangan Lauren.
"Tarik nafas aja, santai" Lauren mengelus pundak Vania dan Vania pun menganggukan kepalanya.
Setelah semua nya hadir, tidak lama kemudian Daniel masuk bersama dengan Zandi dan Iren yang berada dibelakang mereka.
"Pak Jordan apa semua nya sudah kumpul?" tanya Daniel saat duduk dikursi paling depat dan dia mentap kepada semua orang.
"Sudah Pak, rapatnya bisa dimulai" jawab Pak Jordan sambil menganggukan kepalanya.
"Baiklah ayo kita mulai, saya mau laopran dari bagian marketing dulu. Bagaimana penjualan kita bulan ini?" tanya Daniel mentap Pak Jordan.
"Ini laporanya ya Pak, Akbar yang akan menjelaskan secara detail" jawab Pak Jordan.
Akbar pun menjelaskan semuanya dengan lancar, Daniel tidak memuji atau pun menyela penjelasan yang diberikan oleh Akbar. Semua orang melihat bingung karena sepertinya Bos mereka sedang tidak mood, setelah selesai Akbar pun duduk kembali di kursinya.
Selanjutnya adalah bagian keuangan, Vania semamin gugup dan berusaha tenang. Tatapan Daniel sangat mengrikan, dia terus menatap Vania dengan muka datar nya.
"Bagian keuangan maju kedepan" ucap Daniel dan Vania pun maju kedepan.
"Baiklah Pak" jawab Vania mengambil laptopnya dan memasangkan nya dengan kabel layar di depan.
Vania mulai menjelaskan semuanya, pertama nya semua berjalan dengan lancar tapi setelah pertengahan Vania berhenti karena Daniel menyelah nya.
"Saya akan menyampaikan laporan keuangan bulan ini, keuntungan kita meningkat sebanyak 20 % dari pada bulan lalu karena penjualan kita meningkat" jelas Vania dan semua nya pun tepuk tangan.
"Sesuai dengan hasilnya saat ini, kemungkinan kita bisa membangun satu Mall lagi sesuai dengan rencana. Pembangunan bisa langsung di laksanakan karena modal dan keuntungan sudah lebih dari cukup" sambung Vania dan semua pun menganggukan kepalanya.
"Saya juga sudah membuat dan mengumpulkan data keuangan cabang, total nya seratus juta. Bisa di lihat didepan data nya, peningkatannya cukup pesat" ucap Vania menujukan cuplikan laporan mereka.
"Tunggu...!!" sambung Daniel dan semua nya pun terdiam.
"Iya ada apa Pak? apa ada yang ingin baoak tanyakan?" tanya Vania lembut.
"Kata kamu semua keuntungan seratus juta tapi dalam laporan yang saya pegang lebih seratu juta, ini jumlahnya seratu sepuluh juta. Apa kamu tidak bisa menghitung?" Daniel marah melemparkan laporan itu.
"Apa kamu juga mengirimkan laporan ini ke kantor cabang?" tanya Daniel dan Vania yang sudah takut pun hanya bisa menganggukan kepalanya.
"Siapa yang menyuruhnya mengerjakan ini?" bentak Daniel dan semua pun hanya terdiam.
"Maaf Pak, saya kurang teliti menjumlahkanya. Nanti akan saya perbaiki lagi" jawab Vania sambil menundukan kepalanya, air mata nya sudah terbendung hampir saja menetes.
"Kamu pikir ini masalah sepele? Dalam bisnis uang sepuluh juta sangat lah berarti" ucapnya penuh penekanan.
"Lion bulan depan saya nggak mau dia yang menjelaskan laporan lagi, cari karyawan yang labih mampu" Daniel bicara pada Lion.
"Saya pikir rapat hari ini sampai disini, cek kembali laporan kalian. Baru setelah benar kita rapatkan lagi" jelas Daniel.
"Baik Pak, kami semua minta maaf karena belum bekerja maksimal" jawab Pak Jordan sambil menundukan kepalanya.
"Saya tidak perlu kata maaf, tapi pembuktian. Kerjakan semua nya dengan benar, kenapa divisi keuangan selalu saja melakukan kesalahan?" sambung Daniel lagi lalu keluar dari sana.
Ketika Daniel sudah keluar, Vania terlihat menghapus air matanya. Belum lagi karyawan berbisik, bisa saja Vania di pecat karena karyawan sebelumnya juga melakukan kesalahan.
"Kamu nggak papa?" tanya Lauren yang menghampiri Vania yang masih berdiri didepan.
Sedangkan karyawan lain juga sudah banyak keluar dari ruang rapat, termasuk Pak Lion yang terlihat sangat kecewa. Vania sangat merasa bersalah, padahal dia sudah menghitung nya berulang kali tapi nama nya juga manusia pasti pernah melakukan kesalahan.
"Ini hapus air mata kamu" Akbar memberikan sapu tangan pada Vania.
"Terima kasih" jawab Vania sambil menghapus air matanya.
"Jangan menangis, kesalahan kecil dalam bekerja itu biasa. Lagian uang nya juga belum di trasfer dengan kantor cabang, kamu bisa memperbaikinya" Akbar memberikan semangat pada Vania.
Akbar penepuk pundak Vania dan Lauren tersenyum kecil melihat perhatian Akbar pada Vania, setelah itu mereka bertiga juga keluar dari sana.
Akbar kembali keruangan nya dan begitu juga dengan Vania serta Lauren, Vania sangat takut jika dia memang di pecat. Dia tau tidak mudah untuk mencari pekerjaan baru dan menyesuaikan diri di tempat baru.
Vania duduk di kursinya kembali, setelah itu Pak Lion menghampirnya. Dia mengatakan Vania sebaiknya mengerjakan pekerjaan lain, laporan ini akan dia serahkan pada Tomi. Vania sadar diri kalau dia salah, jadi dia menerima semua itu.
"Saya sedikit kecewa sama kamu, tapi karena ini pertama kali nya kamu melakukan kesalahan jadi saya memakluminya. Sebaiknya laporan bulan ini serahkan pada Tomi saja" ucap Pak Lion dan semua orang yang ada di sana melihat kearah mereka.
"Baik Pak, nanti saya akan kasih laporan sama Tomi. Sekali lagi saya minta maaf telah membuat bapak malu" Vania menundukan kepalanya.
"Tidak apa-apa, kerjakan tugas lain. Kalian kembali lah bekerja" sambung Pak Lion melihat kearah mereka semua.
Setelah itu Pak Lion pergi dan Tomi pun mendekat, dia bertanya apa yang terjadi sebenarnya dan kenapa dia yang membuat laporan bukan kah itu tugas Vania.
"Apa yang terjadi? kenapa Pak Lion bilang begitu?" tanya Tomi penasaran dan yang lain juga ikut menguping.
"Tadi Vania melakukan kesalah karena data keuangannya tidak sama dengan laporan, Pak Daniel marah basar dan rapat dihentikan" jawab Lauren karena Vania hanya diam saja.
"Benarkah? kenapa bisa. Aku yakin kamu sangat teliti Van" tanya Tomi tak percaya.
"Aku juga tidak tau, mungkin lagi nggak fokus kemarin" jawab Vania terlihat lesu.
"Kamu tenang saja, biar aku perbaiki nanti. Tidak usah sedih" ucap Tomi lagi dan Vania pun menganggukan kepalanya.
Tomi berusaha menghibur Vania, tapi tetap saja Vania sedih. Ini pertama kali nya dia kena marah dan di bentak seperti tadi, nama nya juga manusia pikirnya pasti punya kesalahan.
.
.
Bersambung...