Married With The Perfect Boss

Married With The Perfect Boss
Episode 26. Makan Siang Bareng



Tadi pagi Vania sudah mengirimkan pesan pada Daniel kalau dia akan membawakan bekal untuk makan siang nanti, jadi Daniel tidak perlu makan diluar. Mendapat pesan dari Vania membuat Daniel sangat senang, bahkan sesekali dia tersenyum sendiri dan membuat Zandi ngeri.


Saat jam isitarahat tiba, Lauren mengajak Vania untuk makan bersama. Tapi Vania menolak karena katanya dia bawak bekal dan akan makan nanti disini, Vania menyuruh Lauren dan Tomi pergi duluan ke kantin.


"Ayo Van, kita ke kantin. Kamu mau ikut juga kan Tom?" tanya Lauren sambil melirik Tomi.


"Iya aku akan ikut kalian" jawab Tomi sambil membereskan meja kerjanya.


"Aduh kayak nya aku nggak ikut deh, soal nya aku bawah bekal. Aku akan selesai kan proposal ini, kalian duluan saja kekantin" ucap Vania mencari alasan dengan membuka proposal yang dia kerjakan tadi.


"Nanti juga bisa dikerjakan lagi Van, ayo makan dulu. Bawah aja bekal nya ke kantin" sambung Tomi memaksa Vania untuk ikut bersama mereka.


"Nggak papa Tom, kalian duluan aja. Kalau sempat nanti aku nyusul" jawab Vania lagi.


"Baiklah, biarkan Vania selesaikan tugasnya. Ayo kita duluan, nanti kamu nyusul ya kalau udah selesai" sahut Lauren yang sudah berdiri dan ingin pergi.


"Tentu saja aku akan menyusul" jawab Vania sambil menganggukan kepalanya.


"Hemm kami duluan ya" ucap Tomi sebelum pergi dan Vania hanya tersenyum kecil.


Setelah mereka pergi, Vania juga ikut pergi dari sana. Dia berjalan santai menuju lift untuk pergi keruangan Daniel, sambil membawah bekal yang dia masak tadi pagi.


Didepan sana masih terlihat Iren dan Zandi duduk, sambil membereskan meja mereka. Mungkin mereka juga akan makan siang pikir Vania dan tidak lupa juga Vania menyapa mereka, Zandi menatap tajam pada Vania.


"Selamat siang Pak Zandi dan Mbak Iren" sapa Vania yang berjalan di depan mereka.


"Eh Vania, mau kemana? ke ruangan Pak Daniel ya?" tanya Iren sambil melihat bekal yang di bawah oleh Vania.


"Iya Mbak, saya mau memberikan ini pada Pak Daniel. Dia yang menyuruh saya memesanya" jawab Vania karena tidak tau mau jawab apa.


"Begitu ya, masuk saja. Pak Daniel ada didalam" sambung Iren dan Zandi pun hanya menatap Vania tanpa berbicara.


Vania masuk ke dalam dan dia menyapa Daniel yang sedang duduk dikursinya, sepertinya masih banyak dokumen yang dia kerjakan.


"Selamat siang Pak, saya bawah bekal buat Bapak" ucap Vania sambil meletkan bekalnya diatas meja.


"Kamu udah disini, ayo buka kita makan bersama" jawabnya lalu berdiri dan mengambil bekal itu.


Daniel pun duduk disopa, dia meletakan bekal yang dibawah Vania tadi diatas meja. Sedangkan Vania hanya berdiri disana, sebenarnya dia bawah bekal satu lagi dan akan menyusul Lauren makan di kantin.


"Bapak makan saja, saya akan makan ke kantin" jawab Vania ingin pergi dari sana.


"Tunggu...!! siapa yang menyuruh kamu pergi dan untuk siapa bekal yang ada ditangan kamu?" tanya Daniel dengan serius.


"Oh ini bekal saya Pak, tadi teman saya ngajak makan di kantin dan saya bawah bekal saya sekalian biar nggak balik lagi ke ruangan" jelas Vania dan Daniel kira itu untuk laki-laki yang dekat dengan nya waktu itu.


"Tidak ada makan ke kantin!! cepat duduk disini. Aku juga tidak mau makan sendirian" sambung Daniel yang terlihat kesal.


"Baiklah aku akan makan bersama Bapak disini" jawab Vania yang akhirnya duduk di sebelah Daniel.


Vania membuka makanan Daniel dan makanan dia, tapi yang paling menyebalkan lagi Daniel tidak suka udang yang dia masukan kedalam capcay dan Vania lah yang harus memisahkanya.


"Apa ini udang, aku tidak suka udang. Tolong pilihkan sayurnya saja" ucap Daniel menyerahkan sayur capcay itu pada Vania.


"Kenapa apa kamu alergi? padahal udang sangat enak" jawab Vania sambil mengambil capcay nya.


"Tidak, hanya kurang suka saja" jawab Daniel dan mencoba ikan nya.


"Masakan kamu enak juga, kamu suka masak ya?" sambung Daniel setelah mencicipi masakan Vania.


"Tidak terlalu suka tapi aku bisa lah kalau cuma masak sayur" jawab Vania sambil memilih udang.


"Besok-besok aku tidak akan memasak untuk kamu lagi, ternyata kamu pemilih juga" sambung Vania sambil meletakan capcay yang dia pilih tadi.


"Jangan banyak bicara cepat makan" sambung Vania sambil memasukan nasi kedalam mulut Daniel.


"Ternyata tidak buruk juga makan sambil disuapi" jawab Daniel setelah menelan makanan nya.


"Ini makan sendiri" Vania memberikan sendoknya ketangan Daniel.


"Baiklah aku akan makan sendiri, ternyata kamu ini cukup cerewet juga ya" ucap Daniel sambil melihat Vania yang mulai makan.


"Ngomong-ngomong apa kamu punya pacar?" tanya Daniel dan Vania yang masih makan pun tersedak.


Buru-buru Daniel menepuk punggung Vania dan memberikanya air minum, Vania pun langsung minum.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Daniel yang terlihat khawatir.


"Hemm, aku baik-baik saja. Habisnya pertanyaan Bapak membuat aku terkejut" jawab Vania sambil menepuk dada nya.


"Aku hanya penasaran saja, apa kamu punya pacar?" tanya Daniel sekali lagi.


"Memangnya kenapa kalau aku punya pacar?" Vania balik bertanya pada Daniel.


"Aku serus, jawab lah dengan benar" Daniel terlihat memaksa.


"Aku tidak punya pacar" jawab Vania dan Daniel pun terlihat sangat senang.


"Benarkah? bagus lah kalau begitu" ucap Daniel sambil tersenyum tipis.


"Kenapa? apa Bapak mau mengejek ku?" tanya Vania sambil menatap Daniel.


"Siapa bilang aku mengejek kamu, kan sudah aku bilang aku hanya bertanya" jelas Daniel dan membuat Vania langsung menghela nafas nya.


"Sekarang aku tanya sama Bapak, apa Bapak punya pacar?" Vania balik bertanya pada Daniel.


"Belum, tapi aku lagi berusaha memperjuangkan nya" jawab Daniel dengan bangga.


" Aku salah bertanya seperti itu sama Bapak, Bapak kan playboy dan aku yakin setelah wanita bernama Laras itu masih banyak wanita lain juga kan?" Vania menggelengkan kepalanya.


"Siapa bilang, Laras itu pacar terkahir ku dan aku belum pacaran lagi setelah putus dengan nya kemarin" jelas Daniel agar Vania tidak salah paham.


"Benarkah, apa Bapak tidak bisa move on?" sambung Vania sambil bercanda.


"Tentu saja aku sudah move on, aku gampang melupakan wanita" jawab Daniel berbohong padahal dia jadi playboy kerena sulit melupakan mantan pacarnya.


"Aku mengerti, tampang kayak Bapak ini tidak bisa dipercaya. Suka mempermainkan wanita dan pandai berkata manis" ucap Vania.


"Tau dari mana kamu, aku suka mempermainkan wanita? apa mau coba pacaran dengan ku?" tanya nya lagi sambil mendekatkan wajahnya dengan Vania.


"Candaan bapak nggak lucu dan jauhkan wajah bapak" jawab Vania berusaha menjauh, bahkan dia meletakan bekalnya diatas meja karena takut tumpah.


"Kamu selalu saja menganggap aku bercanda, padahal aku serius" ucap Daniel sambil menundukan kepalanya.


"Sudah lah Pak, jangan bahas ini. Lebih baik kita makan saja" jawab Vania yang terlihat salah tingkah.


Vania tidak mau membahas soal masalah pribadi di kantor, menurutnya mereka harus profesional dalam bekerja. Dia juga tidak tertarik dengan godaan Daniel yang menurutnya sepertinya playboy, mungkin Daniel juga melakukan ini pada setiap wanita yang dekat denganya pikir Vania dalam hatinya.


.


.


Bersambung...