Married With The Perfect Boss

Married With The Perfect Boss
Episode 46. Hari Pernikahan



Satu minggu kemudian, saat ini Daniel dan Vania sedang melangsungkan pernikahan sederhana disebuah hotel milik Papa Daniel. Sesuai denga keinginan Vania, tamu undangan hanya keluarga dekat mereka. Bahkan orang kantor pun tidak ada yang di undang, Daniel sama sekali tidak keberatan karena yang ada dalam pikiranya hanya lah menikah dengan Vania.


Vania tidak punya pilihan lain, selain menikah dengan Daniel. Pernikahan ini menguntungkan kedua belah pihak, Vania bisa membuat orang tuanga bahagia karena dia bisa bangkit dari kesedihannya dan menikah dengan Daniel. Sedangkan Daniel bisa bebas dari Sirena, sekaligus menikahi Vania karena Vania adalah wanita yang dia suka.


Saat ini Vania sedang berjalan di altar bergandengan tangan dengan Papanya, Daniel terlihat berdiri di depan menunggu kedatangan Vania. Daniel terpesona melihat Vania sangat cantik dengan ganun putih serta mahkota yang melekat di tubuhnya, dia tidak percaya akan menikahi Vania hari ini.


Setelah sampai di depan Daniel, Papa menyerahkan tangan Vania kepada Daniel. Jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, Papa Anto sangat senang Vania putri satu-satunya menikah dan dia yakin Daniel bisa membahagiakan putrinya walaupun mereka menikah karena terpaksa.


"Papa serahkan Vania dengan kamu Daniel, tolong jaga dia baik-baik karena Vania putri Papa satu-satunya" Papa memberikan tangan Vania dan Daniel pun langsung menggenggam tangan Vania.


"Tentu saja Pa, saya berjanji akan membahagiakan Vania selamanya" Daniel menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


Setelah itu Papa turun dari sana dan duduk di dekat istrinya, mereka melihat pemberkatan Vania dan Daniel. Mama Serlita tak kuasa menahan air matanya melihat Vania menikah hari ini, sempat terpikir di benaknya Vania tidak akan mau menikah dengan siapa pun setelah kepergian Baryen.


Pendeta pun memulai acara pemberkatanya, dia berdiri di depan Daniel dan Vania. Walaupun pernikahan ini terpaksa Vania sangat gugup, tanganya sangat dingin dan Daniel bisa merasakan itu.


"Apa kalian berdua sudah siap?" Tanya pendeta itu pada Vania dan Daniel.


"Iya kami siap" jawab Daniel mantap, tapi Vania hanya diam saja hingga Daniel menyadarkan lamunan Vania dengan menggenggam tangan Vania.


"Sayang..." panggil Daniel sambil mengeratkan tanganya dan Vania pun terkejut saat Daniel memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Iy...Iya saya siap" jawab Vania sadar dari lamunanya.


Pendeta pun meminta mereka mengucapkan janji pernikahan, tentu saja Daniel sangat bersemangat. Dia mengucapkan janji pernikahan dengan lantang, berbeda dengan Vania yang terlihat murung dari tadi.


"Saya Daniel Prayoga berjaji akan mencintai istri saya Vania Zervita dengan sepenuh hati saya, dalam keadaan suka maupun duka. Dalam keadaan sakit atau pun susah" ucap Daniel sambil tersenyum dan terus memandangi wajah Vania yang sangat cantik.


"Saya Vania Zelvita berjanji akan mencintai suami saya Daniel Prayoga dalam keadaan suka maupun duka, dalam keadaan sehat ataupun susah" sambung Vania dan semua yang hadir pun terlihat terharu melihat pemberkatan mereka.


"Kalian sudah resmi menjadi pasangan suami istri, silahkan di cium istri anda Tuan" sambung pendeta itu lalu menjauh dari mereka.


Setelah itu Daniel mengucapkan sumpahnya, begitu juga dengan Vania. Kini mereka sudah resmi menjadi suami istri, setelah itu Zandi berteriak agar Daniel mencium istrinya.


"Cium....Cium...!!" Teriak Zandi sambil bertepuk tangan.


Vania yang mendengar itu pun langsung menggelangkan kepalanya agar Daniel tidak menciumnya, tapi percuma secepat kilat suaminya itu sudah menarik pinggangnya dan mencium bibir Vania dengan lembut.


"Cupp..." Cukup lama Daniel mengecup bibir Vania, baru lah setelah itu dia melepaskanya karena mendengar sorakan dan tepuk tangan para tamu undangan.


"Apa yang kamu lakukan aku malu" bisik Vania sambil melotot pada Daniel.


"Kenapa harus malu? Ah istri ku sangat manis dan imut" jawab Daniel dan Vania hanya bisa menghembuskan nafasnya.


"Ada yang lupa cincin pernikahanya belum!!" Teriak Jio dari bawah.


Jiene dan Albert kecil berjalan ke depan membawah cincin pernikahan Daniel, Jiene adalah istri dari Jio dan dia sangat senang karena Daniel menikah. Banyak gosip yang beredar bawah adiknya  iparnya itu adalah seorang playboy sejati setelah di tinggal menikah pacarnya, dia turut bahagia melihat Daniel dan Vania.


"Selamat ya, tolong sabar dengan Daniel ya Vania. Dia memang terkadang sedikit menyebalkan" canda Jiene sambil mengucapkan selamat pada mereka berdua.


"Terima kasih kakak ipar, tapi tanang saja aku tidak akan membuat istri ku marah karena aku selalu bersikap lembut denganya. Iya kan sayang?" Daniel tersenyum dengan Vania.


"Iya kakak ipar, maaf belum sempat menyapa kakak" sahut Vania.


"Iya tidak apa-apa masih banyak waktu untuk saling mengenal Vania, Albert ayo berikan kotak cincinya pada Om Daniel" ucap Jiene pada putranya.


"Kamu sangat mengenaskan jagoan Om" Daniel gemes sambil mencium pipi gembul keponakan nya.


Setelah itu Daniel menurunkan Albert dari gendongan, mereka berdua turun dari sana. Daniel memasangkan cincinya pada Vania, begitu juga dengan Vania.


Acara pun masih berlanjut, Daniel mengenalkan Vania dengan anggota keluarganya. Dengan sedikit canggung Vania berusaha ramah, dia juga menyapa sepupu-sepupu Daniel. Keluarga Daniel berasal dari keluarga yang kaya semua, bahkan Vania merasa kecil dan tidak pantas.


Belum lagi Vania harus menghadapi kedua mertuanya yang sudah jelas sekali tidak menyukainya, entah apa yang akan terjadi pada pernikahan mereka selanjutnya.


.


.


Hotel Seruni Xx


Acara berlangsung sampai malam hari, pukul 11 malam mereka baru bisa istirahat di hotel. Daniel sengaja memilih hotel ini karena ini adalah hotel milik keluarganya, mereka berjalan bersama menuju kamar. Banyak anggota keluarga yang menginap disini termasuk kedua orang tua mereka, bedanya Daniel dan Vania menginap di kamar yang memang sudah di siapkan untuk pengantin.


"Sini aku bantu, kamu terlihat seperti siput. Sangat lambat!" Ucap Daniel berbalik menghampiri istirnya yang berjalan di belakangan.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Vania saat Daniel sudah menggendong tubuhnya.


"Membantu kamu, aku tau kamu lelah" jawab Daniel dan Vania terpaksa menurut saja karena memang tubuhnya sangat lelah.


Setelah sampai di depan pintu kamar, Vania membuka pintu nya. Daniel masih tetap menggendong Vania sampai kedalam, Daniel meletakan Vania dia atas kasur dengan pelan.


"Terima kasih" ucap Vania menurunkan egonya.


"Sama-sama istriku" jawab Daniel sambil mengelus kepala Vania.


"Kamu istirahat lah dulu, aku akan mandi duluan" sambung Daniel berjalan ke arah pintu kamar mandi, sedangkan Vania hanya diam tanpa menjawab ucapan Daniel.


Setelah Daniel masuk kedalam kamar mandi, Vania pun berjalan kearah meja rias. Dia membersihkan make up nya, badanya terasa lengket dan berkeringat. Hari ini Vania merasa sangat lelah apa lagi harus bersikap baik pada semua anggota keluarga Daniel, apa lagi tatapan Mama mertuanya yang sangat tidak suka pada nya.


"Hemmm sangat melahkan, apa aku bisa lepas dari Daniel nantinya?" Tanya Vania sambil menatap dirinya di pantulan cermin.


Vania sudah menghapus make up nya dan ingin melepaskaan gaunya nya, tapi dia agak kesulitan karena retsleting nya cukup pajang sampai ke bawah. Beruntung Daniel sudah keluar dari kamar mandi, dia hanya menggunkan handuk saja membuat Vania malu karena ini pertama kalinya dia sedekat dengan laki-laki.


"Kenapa kamu menatap ku? Apa kamu sudah terpesona karena suami kamu ini memang tampan" ucap Daniel sambil menggoda Vania.


"Siapa juga yang menatap kamu, cepat pakai baju kamu. Ingat perjanjian kita!" Jawab Vania acuh, padahal dia sangat gugup saat ini.


"Benarkah? Tapi tidak ada dalam perjanjian seperti itu. Apa kamu kesusahan membuka baju mu, mau aku bantu?" Tawar Daniel sambil mendekat kearah Vania.


"Tidak perlu aku bisa buka sendiri, jangan mendekat" bantak Vania tapi Daniel tidak menghiraukanya sampai Vania sudah terbojok menyentuh pinggir meja rias.


"Menjauh lah!" ucap Vania lagi tapi Daniel terus mendekatkan wajahnya.


"Hahaha kamu sangat lucu, jangan bilang kamu mau di cium lagi?" Tanya Daniel saat Vania sudah memejamkan matanya.


"Dasar menyebalkan!!" Kesal Vania dan Daniel hanya tertawa melihat tingkah Vania yang menurutnya sangat menggemaskan.


"Tunggu mau kemana?" Tanya Daniel saat melihat Vania sudah berjalan kearah kamar mandi.


"Tentu saja mau mandi, mau apa lagi?" Jawab Vania sambil menatap Daniel yang masih berdiri disana.


"Tetap disana" Daniel pun bejalan kearah Vania dan menarik risleting gaun Vania.


"Jangan menyentuh ku" Bantak Vania saat tangan Daniel sudah berada di punggungnya.


"Siapa juga yang mau menyentuh kamu, aku cuma mau membantu membuka resleting baju kamu. Otak kamu kayaknya mesum banget, mau aku sentuh sekarang?" Tanya Daniel sambil mengelus pundak Vania dengan bagian baju belakangannya sudah terbuka.


"Menyebalkan!!" Teriak Vania sambil berlari terbirit-birit menuju kamar mandi.


"Hahaha...Dengar Vania tidak baik mengumpat suami seperti itu, sudah berapa kali kamu bilang menyebalkan hari ini" ucap Daniel.


Beberapa menit kemudian Vania sudah selesai mandi, sampai satu jam dia didalam kamar mandi. Daniel sambil lelah menunggunya dan memilih untuk tidur duluan, padahal Vania sengaja karena dia malas berdebat dengan Daniel dan takut Daniel akan menyentuhnya.


Cekleekk.....


Suara pintu kamar mandi terbukan, Vania keluar hanya dengan menggunakan handuk saja. Daniel yang terbangun saat istrinya keluar dari kamar mandi tadi pura-pura tertidur, sambil sesekali mengintip istrinya.


"Sial! Tubuhnya sangat mulus sekali" ucap Daniel dalam hatinya.


"Tahan Daniel, kamu pasti akan merasakanya. Cukup bersabar sampai kamu menaklukan istri mu" sambung Daniel sambil tersenyum kecil.


Tanpa Vania sadari Daniel melihat semua yang dia lakukan, setelah mengganti pakaianya dengan baju tidur. Vania dengan ragu naik keatas tempat tidur, dia melihat wajah Daniel yang tidur dengan damai dan tentu saja terlihat tampan. Setelah itu Vania pun ikut tertidur, tidak lupa dia meletakan guling di tengah mereka.


Tidak ada malam pernikahan seperti pengantin pada umumnya, bahkan bunga-bunga yang ada di atas tempat tidur sudah Berantakan dibawah. Mungkin Daniel yang membuangnya, sepasang pengantin baru itu hanya tertidur pulas karena lelah.


.


.


Bersambung...