Married With The Perfect Boss

Married With The Perfect Boss
Episode 40. Masa Lalu Vania



Kemarin Daniel benar-benar menginap di rumah Zandi, setelah dia bercerita dengan Zandi tentang masalah nya. Zandi mala menyetujui orang tuanya, dia memang anak Papa nya banget. Setiap keputusan Papa, Zandi pasti selalu menurutinya.


Dia menyuruh Daniel untuk menjalani semua itu dan dia bilang mungkin Sirena sudah berubah, tidak ada salah nya untuk mencoba. Daniel berpikir keras sambil duduk di kursi kerja nya, banyak yang dia pikirkan.


Dia juga berusaha melupakan Vania dan perasaanya tapi percuma, semakin Daniel ingin melupakannya tapi perasaanya mejadi lebih besar. Rasa rindu nya juga semakin mengebu-gebu karena tidak bertemu dengan Vania beberapa hari ini, dari kejadian itu mereka juga tidak saling mengirim pesan.


"Sudah waktunya makan siang, apa aku ke toko kue Mama nya saja ya? Setidaknya aku bisa tanya sesuatu tentang Vania pada Mama nya" ucap Daniel melepasakan jas nya dan hanya menggunkan kemeja putih.


"Siapa tau aku menemukan petujuk" sambung nya mengambil ponsel dan dompetnya.


Daniel keluar dari ruanganya dan dia berhenti didepan meja Zandi dan Iren, dia juga pamit untuk makan siang di luar sendirian. Zandi menawarkan untuk menemani Daniel tapi Daniel tidak mau dan ingin pergi sendiri, dia juga tidak mau mengajak Zandi karena dia mata-mata Papa nya.


"Bos mau kemana?" tanya Zandi yang langsung berdiri.


"Aku akan makan siang di luar, kamu nggak perlu ikut. Aku akan makan sendirian" jawab Daniel jika Zandi tidak perlu ikut dengan nya.


"Tapi Bos..." ucap Zandi lagi ingin menyusul.


"Sudah aku bilang jangan ikut, Iren jaga dia. Aku mau makan siang sendirian, jangan buat mood ku tambah buruk" sambung Daniel dan Iren pun mencegah tangan Zandi agar tidak mengikuti Daniel.


"Sudah lah, biarkan Bos pergi. Siapa tau dia mau menemui pacarnya" sahut Iren dan Zandi pun kembali duduk di meja nya sambil membereskan berkas yang ada di atas meja nya.


"Mau makan kekantin?" tanya Irena dan Zandi hanya menganggukan kepalanya.


"Kalau orang bertanya itu jawab dong" kesal Iren sambil menatap Zandi.


"Iya aku akan makan kekantin sekarang, apa kamu mau ikut?" Zandi balik bertanya pada Iren.


"Nah gitu dong, jangan diam aja. Ayo kita pergi sekarang" Iren pun berdiri dan di ikuti Zandi yang berjalan di belakang Iren.


Tanpa Iren sadari Zandi sering sekali memperhatikan Iren diam-diam, walaupun sikapnya cuek tapi dia sangat mengagumi Iren. Zandi sengaja mencueki Iren agar dia tidak gugup, Zandi juga sadar mana mau Iren pada nya. Dia hanya anak orang biasa, sedangkan Iren anak orang berada mungkin pacarnya juga orang berada.


.


.


Di tempat lain Daniel sudah memarkirkan mobilnya di depan toko kue Mama nya Vania, dengan santai Daniel masuk kedalam. Dia disambut oleh seorang pelayan cewek, Daniel pun bertanya apa Mama nya Vania ada disini.


Daniel duduk disalah satu meja paling depan, toko nya cukup ramai dengan orang-orang. Walaupun hari ini bukan hari libur dan semua orang sibuk bekerja, mungkin karena rasa kue nya memang enak jadi banyak pelanggan yang datang.


"Permisi Mas, mau pesan apa?" tanya nya sambil memperlihatkan menu mereka pada Daniel.


"Saya mau kue ini dan minumanya jus jeruk tanpa gula ya" jawab Daniel menunjuk pada menu itu.


"Baiklah, ditunggu pesananya ya Mas" sambung nya sambil tersenyum pada Daniel.


"Tunggu..." ucap Daniel dan dia pun berbalik lagi menghadap kearah Daniel.


"Iya Mas, apa ada tambahan?" tanya lagi.


"Tidak ada, tapi apa boleh saya bertemu dengan pemilik toko ini?" Daniel bertanya sambil sedikir ragu.


"Maksud Mas, Bu Serlita ya?" tanya lagi memastikan.


"Iya saya ingin bertemu dengan Bu Serlita, apa dia ada?" Sambung Daniel.


"Saya Daniel, temanya Vania anak dari Bu Serlita. Bilang saja begitu" jawab Daniel dan dia pun menganggukan kepalanya.


"Terima kasih sebelumnya" ucap Daniel sebelum dia pergi dari sana.


Daniel menunggu dengan cemas, sebenarnya dia tidak berani bertanya tentang Vania pada Mama nya. Apa lagi nanti jika Mama nya bertanya siapa dia, Daniel bingung haru menjawab apa.


Tidak lama kemudian makanan nya datang dan Mama Vania sendiri yang mengantarnya, dia langsung tersenyum saat melihat Daniel disana.


"Maaf kamu nunggu lama ya?" ucapnya sambil meletakan minuman dan kue nya di atas meja.


"Tidak juga Tente, terima kasih kue nya terlihat sangat enak" jawab Daniel yang mendekatkan kue nya lalu memakan nya.


"Ada apa kata nya kamu mau bicara sama Tente?" tanya Tante Serlita sambil menatap Daniel yang duduk didepan nya.


"Emm iya, tapi Daniel bingung mau bicara dari mana" jawab Daniel sambil menggaruk kepalanya.


"Tente tau pasti penting, kamu juga tau Vania belum pulang. Apa ini berhubung dengan Vania?" tebak Tante Serlita.


"Iya Tente semua ini tentang Vania, maaf jika Daniel lancang. Tapi bisakah Tente menceritakan tentang Vania? Apa Vania punya pacar Tante?" tanya Daniel menatap Tente Sarlita sekilas lalu langsung menundukan kepalanya.


"Hahaha...jadi kamu jauh-jauh kesini karena ingin bertanya tentang Vania?" Tente Serlita tertawa sambil menutup mulutnya.


"Jujur saja Tante saya sangat menyukai Vania, tapi Vania selalu menolak saya. Saat saya tanya apa dia punya pacar, dia bilang tidak ada. Saya bingung dan ingin tau semua tentang Vania, kalau memang dia sudah punya pacar saya akan mundur Tente" jawab Daniel terlihat serius sambil menundukan kepalanya.


"Apa yang ingin kamu ketahui Daniel?" tanya Tante Serlita tiba-tiba serius.


"Apa yang dikatakan Vania benar, dia memang tidak punya pacar" sambungnya lagi.


"Tapi dia bilang mencintai laki-laki lain, apa laki-laki itu juga bekerja di kantor kami?" tanya Daniel lagi.


"Tante rasa bukan, dia belum bisa membuka hati nya untuk saat ini karena Tente rasa dia belum bisa melupakan tunanganya" jawab Tente Serlita terlibat sedih.


"Vania sudah bertunangan?" tanya Daniel yang terlihat sangat kecewa.


"Apa kamu benar-benar menyukai Vania?" Tante Serlita mala balik bertanya pada Daniel.


"Tentu saja Tante, kalau tidak mana mau saya datang kesini untuk menemui Tente. Saya sudah membuang semua urat malu saya untuk menemui Tante karena saya juga bingun harus bagaimana lagi" jawab Daniel yang sangat lesu dan tak berdaya.


"Jika kamu memang mencintainya, kamu juga harus menerima masa lalu Vania" sambung Tante Serlita.


"Masa lalu Vania?" tanya Daniel sambil berpikir ada apa dengan masa lalu Vania.


"Iya masa lalu Vania, tapi Tante tidak bisa menjelaskan semua sama kamu. Tente pikir sebaiknya Vania sendiri yang menceritakan semua sama kamu, kalau dia memang sudah nyaman dengan kamu. Tente yakin dia akan menceritakan semua nya" jawab Tante Serlita, sepertinya dia tidak mau bicara banyak dan menyuruh Daniel untuk menanyakan jawabanya langsung pada Vania.


"Hanya itu yang bisa Tante kasih tau sama kamu, silahkan nikmati kue nya. Tante kembali ke belakang dulu" ucap Tante Serlita meninggalkan Daniel sendirian yang masih terdiam disana.


.


.


Bersambung...