Married With The Perfect Boss

Married With The Perfect Boss
Episode 39. Rencana Pertunangan



Dua hari kemudian keluarga Daniel dan Sirena mengadakan pertemuan keluarga dirumah Sirena, mereka juga mempercepat pertunangan Daniel dan Sirena minggu depan.


Daniel yang tidak tau apa-apa hanya bisa diam dan menatap kedua orang tuanya, dia terlihat kesal karena Papa dan Mama nya sama sekali tidak memberitahu Daniel soal ini.


Saat ini mereka berenam sedang duduk di meja makan dirumah Sirena, mereka menyambut keluarga Daniel dengan sangat baik.


"Bagaimana kelajutan rencana kita Gung?" tanya Papa Daniel sambil menatap Papa nya Sirena yang duduk di depan nya.


"Aku setuju-setuju saja dengan rencana kamu kemarin, sebaiknya kita beritahu mereka dulu" jawab Agung sambil menganggukan kepala nya.


"Rencana apa?" tanya Daniel penasaran dari tadi hanya mengaduk makananya.


"Rencana pertunangan kalian sayang, kami sudah merencanakan ini dari jauh-juah hari. Bahkan Mama dan Tante Sanda sudah menyiapkan semua nya, kalian berdua tinggal terima beres saja" Mama tersenyum sambil mengelus pundak Daniel yang duduk disamping nya.


"Kapan? Kenapa Mama nggak memberitahu Daniel" tanya Daniel yang awalnya terdiam sejenak lalu bertanya pada Mama nya.


"Kami mau memberikan kejutan sama kalian, kita tau kalau kalian sama-sama sibuk makanya kami menyiapkan semuanya" jawab Mama menjelaskan semuanya pada Daniel.


"Iya nak Daniel, rencanaya kita adakan pesta pertunangannya di hotel Z minggu depan" sambung Tante Sanda.


"Apa kamu juga sudah tau?" tanya Daniel kecewa sambil menatap Sirena.


"Nggak kok, aku juga baru tau saat ini" jawab Sirena sambil menggelengkan kepalanya.


"Tidak perlu khawatir kita akan mengurus semua nya, Mama sangat senang sebentar lagi Mama akan punya menantu" ucapnya tersenyum pada Sirena.


"Paling kalian cuma harus cari cincin pertunangan besok, setelah itu semuanya selesai" Mama terlihat sangat bahagia.


"Apa benar Mama sebahagia itu?' tanya Daniel dalam hati nya.


"Iya Tente itu ide yang bagus, besok Sirena akan melungkan waktu pergi bersama Daniel" jawab Sirena sangat lembut.


"Iya sayang, kamu juga harus meluangkan waktu buat Sirena jangan kerja terus" sahut Mama.


"Iya Ma" jawab Daniel pasrah, pandanganya kosong.


"Sudah ayo lanutkan lagi makan nya" sambung Tante Sanda.


"Apa kamu yang masak semua ini Jeng?" tanya Mama pada Tante Sanda.


"Iya tapi di bantu sama di Mbok juga, bagaimana rasa nya. Apa enak?" Dia balik bertanya pada Mama.


"Iya semua nya sangat enak, kamu dari dulu memang pandai memasak" puji Mama sambil mencicipi beberapa makanan yang ada didepan nya.


"Terima kasih jeng, kamu terlalu memuji" jawab Tente Sanda malu.


"Iya ini memang enak, andai saja istri saya juga bisa masak seenak ini" sindir Papa Haris.


"Papa menyindir Mama ya? baiklah nanti Mama akan les sama jeng Sanda" jawab Mama sedikit bercanda.


"Sudah lah jangan berdebat disini, lanjutkan dirumah saja. Jangan bikin malu" sahut Daniel dingin.


"Santai saja nak Daniel, bukan kah kita akan menjadi keluarga. Anggap sapa seperti rumah sendiri" sambung Om Agung.


"Tu dengarin calon mertua kamu, jadi santai saja Daniel. Jangan terlalu serius" Mama bicara pada Daniel.


"Iya terima kasih Om" jawab Daniel merasa tidak enak.


Setelah acara makan malam, lalu mereka mengobrol di ruang tamu. Obrolan mereka yang membuat Daniel merasa muak karena membahas pertunangan mereka, hanya dia yang tidak bersemangat.


.


.


Hari semakin malam, Daniel dan orang tuanya berpamitan untuk pulang kerumah. Sirena terlihat sangat bahagia dan dia tidak berhenti tersenyum dari tadi, dia mengantar Daniel dan orang tua nya sampai kedepan rumah.


"Iya terima kasih sayang" jawab Mama sebelum masuk kedalam mobil.


Daniel hanya diam tanpa membalas perkataan Sirena, dia masuk kedalam mobil lalu melajukan mobilnya meninggalkan rumah Sirena.


Dalam perjalanan Daniel sangat marah pada Mama dan Papa nya karena mereka membuat keputusan sepihak tanpa membicarkanya dulu pada Daniel, yang akan menjalin ini semua adalah Daniel jadi dia tidak terima dengan semua ini.


"Kenapa Papa dan Mama langsung setuju-setuju saja, bahkan sudah mempersiapkan semuanya. Bukan kah ini terlalu cepat?" tanya Daniel sambil menatap orang tua nya yang duduk di kursi belakang.


"Papa sudah tau kalau bertanya pada kamu percuma saja, kamu tidak akan setuju" jawab Papa santai.


"Iya aku memang tidak setuju karena aku tidak mencintai Sirena!!" bentak Daniel emosi.


"Terus kamu mencintai siapa?" sambung Mama yang juga marah pada Daniel.


"Apa wanita itu Dona, matan pacar kamu yang sudah menikah itu? cepat lah sadar Daniel di sudah punya suami" ucap Mama lagi.


"Bukan Dona, Mama harus tau jika aku sudah melupakan dia dari dulu. Ini tidak ada hubungannya dengan dia" jawab Daniel menjelaskan jika semua nya bukan karena mantan pacarnya.


"Tapi kenapa selama ini kamu tidak pernah menjalin hubungan serius dengan wanita lain? bearti kamu belum melupakan dia" Mama semakin kesal dan menyilangkan tanganya.


"Sudah Daniel katakan, Daniel..." belum sempat Daniel menjawab, Papa sudah memotong ucapnya.


"Stop hentikan!! jangan berdebat lagi karena keputusannya sudah bulat. Terima atau tidak terima kamu harus melakukan nya" sahut Papa dan mereka berdua pun langsung terdiam.


Setelah itu Daniel hanya diam, dia menurunkan orang tua nya di depan rumah. Baru lah setelah itu dia pergi dari sana, memang kebiasaan Daniel jarang pulang kerumah.


"Apa kamu nggak tidur di rumah?" tanya Mam sebelum turun dari mobil.


"Aku akan pulang ke apartemen, lagian aku masih ada urusan" jawab Daniel dingin.


Mama tidak menjawab lagi dan langsung turun, Daniel pun pergi dari sana. Dia menuju rumah Zandi, Daniel ingin menenangkan diri sambil bercerita pada Zandi tentang masalah nya.


Dalam perjalanan Daniel menghubungi Zandi, benar saja Zandi ada dirumah.


"Hallo Bro, kamu dimana?" tanya Daniel saat Zandi mengangkat panggilanya.


"Hallo Bos, aku dirumah ada apa?" Zandi balik bertanya pada Daniel.


"Bagus sekali, aku akan kerumah kamu sekarang" jawab Daniel.


"Iya datang saja kebetulan orang tua ku pulang kampung aku jadi ada teman kalau kamu datang kesini" ucap Zandi yang terlihat senang saat Daniel bilang akan datang.


"Sekalian aku juga mau cerita dan bantu aku mencari solusi" sambung Daniel lagi terlihat lesu.


"Aneh sekali, apa kamu punya masalah?" tanya Zandi penasaran.


"Apa kamu baik-baik saja? jangan-jangan kamu mabuk?" tebak Zandi karena Daniel terlihat aneh.


"Aku nggak sedang mabuk, sudah dulu aku lagi menyetir" jawab Daniel mengakhiri panggilanya.


"Iya hati-hati ya" ucap Zandi.


Daniel pun mematikan panggilanya dan meletakan kembali ponselnya, dia bingun harus melakukan apa karena sulit sekali menentang keputusan Papa nya. Selama ini Daniel selalu menyetujui keinginan Papa nya, tapi untuk masalah istri ini dia nggak bisa menerima begitu saja.


Apa lagi Daniel tau jelas masa lalu Sirena yang akan menjadi istrinya, walaupun dia bukan laki-laki baik tapi dia ingin menikahi yang dia cintai.


.


.


Bersambung...