
Berbeda dengan Sirena yang saat ini sedang duduk termenung di kamarnya, dia memandang beberapa bodyguard yang di kirim oleh Daniel untuk menjaga rumah Sirena dan orang tuanya. Dia takut nanti Sirena mengacaukan pernikahan, sebelum pernikahan Daniel sudah menyuruh anak buah Zanda untuk terus mengikuti kemana pun Sirena pergi.
Orang tua Sirena juga yang kecewa dengan keluarga Haris, bagaimana mereka mempermainkan keluarga nya. Dengan mudah mereka mengatakan mengakhiri perjodohan ini, padahal Sirena sudah benar-benar menyukai Daniel.
"Sayang kamu lagi ngapain? Makan dulu yuk atau mau Mama bawakan kesini makananya" tanya Mama Sirena yang melihat putrinya duduk di depan sana.
"Aku sedang tidak lapar Ma! Kapan mereka pergi dari rumah kita?" Tanya Sirena sambil menatap Mama nya.
"Mama juga tidak tau sayang, kita juga tidak bisa berbuat apa-apa. Kamu tau sendiri keluarga Prayoga sangat berkuasa, sepertinya kamu harus melupakan Daniel" Mama mengelus pundak Sirena.
"Bagaimana bisa begitu, bukan kah Tante Sandra sendiri yang akan merencanakan pernikahan kami. Tapi apa yang dia lakukan pada kita Ma? Kita di buang seperti sampah" Sirena sangat marah.
"Mama tau sayang, bukan hanya kamu yang marah tapi Mama dan Papa juga. Bagaimana kalau kamu merebut Daniel dari perempuan itu?" Mama memberikan ide.
"Bagaimana cara nya Ma? Mama tau sendiri Daniel sama sekali tidak menyukai aku. Apa lagi dia tau aku ini mantan pacar Angga, sial sekali hidup ku. Coba dari dulu aku mengejar Daniel" Sirena terlihat sangat menyesal.
"Kita akan pikirkan cara nya nanti, sekarang ayo makan. Jangan menyiksa diri dengan hal bodoh seperti ini" jawab Mama dan Sirena pun menganggukan kepalanya.
"Mama benar, tunggu saja aku akan menghacurkan wanita itu" sahut Sirena menggepalkan tanganya.
Saat Tante Sandra mengatakan ingin menjodohkan mereka, Sirena sudah sangat antusias sekali. Dia sudah mengagumi Daniel dari dulu, semenjak mereka kumpul bersama dengan Angga dan mantan pacar Daniel yaitu Dona.
Sayang hubungan mereka kandas karena Angga mengatakan akan menikahi Dona, pada saat itu Angga tau kalau Dona adalah perempuan baik-baik dan layak di jadikan istri berbeda dengan Sirena. Sirena memang cantik, selain itu dia juga wanita karir yang sukses tapi sayang dia tidak bisa menjaga kesucianya. Pada awalnya Angga bisa menerima itu, tapi akhirnya Angga tau Sirena sering menjajahkan tubuhnya pada sutradara atau pun CEO agensinya.
.
.
Sedangkan Daniel dan Vania baru saja mengantar kakaknya ke bendara, mereka akan kembali ke Jerman hari ini. Mama dan Papa tidak bisa mengatar karena ada acara dengan teman-temanya, hal ini sudah bisa karena mereka sering mengadakan acara khusus sosialita.
Daniel membuka pintu mobilnya dan menyuruh Vania turun, hari ini terakhir mereka libur karena besok sudah mulai berkerja. Lagian masih banyak yang harus Vania bereskan, bajunya saja masih di dalam koper. Mertuanya sengaja tidak menyuruh pembantu untuk membantu Vania membereskan semua itu, tapi Vania tidak mengambil hati dan bersikap cuek saja.
"Kira-kira kita mau ngapai ya hari ini? Besok sudah mulai kerja" ucap Daniel sambil berjalan menuju kamar mereka.
"Tentu saja banyak yang harus kita kerjakan Pak Daniel, semua barang ku masih berantakan. Belum lagi aku harus mengosongkan lemarin untuk menaruh baju ku!" Kesal Vania saat Daniel bertanya apa yang akan mereka lakukan setelah ini.
"Suruh saja Mbok Nim atau Nunung, lebih baik kita lanjutkan sesuatu yang tertunda" Daniel menatap Vania dengan tatapan penuh arti.
"Mana berani aku minta tolong pada mereka, bisa-bisa Mama kamu mengomeli aku nanti. Tentu saja memberskan barang adalah hal yang tertunda dari kemarin, lebih baik kamu bantu aku" jawab Vania santai sambil menarik tangan Daniel.
"Tapi bukan itu maksud ku sayang" keluh Daniel.
"Jangan panggil aku sayang, ingat kalau di kantor besok jangan sok akrab dan bersikap lah biasa saja!" Vania memperingatkan Daniel untuk ke sekian kalinya.
"Kenapa kamu suka sekali marah, tidak seperti Vania yang aku kenal. Tapi kamu cantik tanpa menggunakan kaca mata tembal kamu itu, jujur saja itu sangat menggangu. Mata ku jadi sakit" jawab Daniel sambil membuka pintu kamar mereka.
"Kamu sedang mengejek ku ya?" Vania terlihat marah.
"Salah lagi kan" Daniel menghembuskan nafasnya.
"Menyingkir lah, aku mau ambil koper ku" Vania mendorong dada Daniel.
"Ayo lah sayang, nanti saja beres-beresnya. Lebih baik kita lanjutkan sesuatu yang tertunda kemarin" Daniel memajukan mukanya hingga hidung mereka menelpel.
"Bukan kah kamu sudah janji tidak akan menyentuh aku sampai kita saling menyayangi?" Tanya Vania yang saat ini sangat gugup, bahkan mukanya sudah memerah.
"Aku mencintai kamu, lalu apa lagi yang kamu takutkan?" Daniel balik bertanya pada Vania.
"Tapi..." Daniel langsung membungkam mulut Vania dengan bibirnya, dia sudah menahanya dari kemarin. Bahkan beberapa kali dia harus main sendiri di kamar mandi, hal itu membuat dia sangat tersiksa.
Daniel menarik pinggang Vania agar lebih dekat, kini tubuhnya sudah menempel sempurna dengan Daniel. Tidak hanya itu Daniel juga menarik tekuk leher Vania dan memperdalam ciumanya, Vania berusaha melepaskan ciuman mereka tapi percuma karena Daniel sangat kuat.
"Emmhh..." lenguhan Vania saat Daniel melepaskan ciumanya dan turun kelehernya, Daniel mengecupnya bahkan menggigit lehernya.
"Le..pas...Daniel..aku.." Vania terus mengigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan *******.
"Keluarkan saja sayang, aku suka mendengarnya. Terus sebut nama ku" ucap Daniel sambil mengelus kepala Vania.
Setelah itu Daniel kembali menyatukan bibir mereka, Vania berusaha menyadarkan dirinya. Saa Daniel mulai membuka kancing bajunya, repleks Vania lang sung menendang junior Daniel. Daniel langsung melepaskan ciumanya, dia berteriak kesakitan sambil mengelus juniornya dari balik celana.
"Awww.... Vania kau ingin membunuh suami mu!!" Teriak Daniel sambil mengelus juniornya.
"Maaf aku nggak sengaja, aku refleks tadi. Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Vania sambil mengelus pundak suaminya.
"Baik apa nya, kamu baru saja melukai juniorku. Bagaimana kalau dia tidak mau berfungsi lagi, kamu mau tanggung jawab?" Daniel terlihat kesal.
"Maaf aku benar-benar tidak sengaja, ayo berbaring dulu" Vania memapah Daniel untuk berbaring diatas kasur.
Vania merasa bersalah dia mengelus pundak Daniel, Daniel juga terlihat manja sekali. Dia sengaja meletakan kepala nya di atas paha Vania, bukan Vania tidak mau tapi memikirkan realitanya. Bagaimana nasipnya nanti, jika dia saja tidak tau akan berakhir seperti apa pernikahan terpaksa. Bagaimana jika dia hamil dan Daniel menemukan wanita lain yang dia cintai, bukan kah Daniel seorang playboy. Mudah baginya untuk melupakan Vania, sedangkan Vania kalau sudah jatuh cinta maka dia akan sulit lepas bahkan rela mengorbankan nyawanya karena sifat nekad nya.
Vania ingin mengubur dalam-dalam perasaanya, dia akan menemani Daniel sampai menemukan pendamping yang tepat. Begitu juga dengan nya, dia berharap akan bertemu dengan laki-laki sebaik Brayen nantinya.
"Kenapa dia diam saja?" Tanya Vania sambil menundukan benar saja Daniel sudah teridur.
Dari tadi Vania terus mengelus kepalanya, mungkin karena itu lah Daniel tertidur, setelah itu Vania meletakan kepala Daniel diatas bantal dan menyelimutinya. Dia sudah seperti mengurus bayi besar, Vania baru tau kalau aslinya Daniel sangat manja.
"Lebih baik aku bereskan baju sekarang, sebelum Mama pulang. Bisa-bisa dia akan mengomel terus!" Sambung Vania beranjak dari sana.
Baru lah setelah itu Vania membereskan pakaianya, beruntung dia bukan anak manja dan sudah terbisa melakukan pekerjaan rumah tapi dia tidak mau menyombongkan itu pada Mama mertuanya.
.
.
Bersambung...