Married With The Perfect Boss

Married With The Perfect Boss
Episode 43. Ayo Kita Menikah



Daniel memegang tangan Vania dan dia mengajak Vania untuk duduk di sampingnya. Mama nya juga baru ingat jika wanita yang ada di samping Daniel ini adalah wanita yang mengantar kue waktu itu, itu membuat dia tambah kesal bisa-bisanya kasta rendah seperti dia mendekati Daniel.


Mereka terlihat kesal dan melotot kearah Daniel, Papa nya minta penjelan semua ini karena Daniel. Pertuangan mereka di undur, bahkan orang tuanya sudah minta maaf berkali-kali pada orang tua Sirena pagi tadi. Sirena juga memaksa ikut menjemput Daniel, tapi mereka tidak mengizinkan mengingat Sirena masih syok dan terus menangis.


"Bukan kah kamu tukang antar kue itu?" tanya Mama Daniel kesal.


"Mama kenal dengan dia?" tanya Joy sambil menatap Mama nya.


"Tentu saja, dia adalah gadis yang pekerjaanya hanya mengantar roti dan bisa-bisanya kamu dekatin anak saya. Sejak kapan kamu dekat dengan Daniel?" Mama Daniel bertanya sambil membentak Vania.


"Tunggu saya jelaskan dulu Tante, saya dan Daniel tidak punya hubungan apa-apa. Saya memang bekerja di kantor Daniel tapi hubungan kami hanya sebatas atasan dan bawahan, untuk masalah mengatar kue itu karena Mama saya pemilik toko kue yang sering Tante beli dan saya sama sekali tidak mendekati anak Tante!" sahut Vania yang melihat tatapan semua orang pada nya.


"Jadi ini apa maksud nya? kami tidak mengerti. Ada yang bisa menjelaskan" tanya Papa Daniel mentap tajam pada Vania.


"Lagian kamu harus sadar siapa kamu dan siapa Daniel, apa kamu pikir kamu cocok dengan anak saya?" sambungnya sambil merendahkan Vania.


"Daniel mencintai Vania dan kami akan menikah, walaupun Papa dan Mama tidak setuju. Aku akan tetap menikahi nya" ucap Daniel sambil memegang tangan Vania dan Vania berusaha melepaskan tangan Daniel.


"Cinta apa nya Daniel, kamu pikir hidup ini cuma makan cinta" Mama benar-benar emosi.


"Sabar Ma, kita dengar penjelasan mereka dulu" Joy mengelus pundak Mama nya.


"Ayo kita menikah" ucap Daniel lagi sambil mentap Vania, dia sangat serius dengan ucapanya.


"Aku nggak mau nikah sama kamu!!" sambung Vania dan mereka disana menatap heran pada Vania.


"Kenapa? bukan kah kamu minta aku tanggung jawab. Aku akan tanggung jawab sekarang, lagian ada orang tua ku juga disini" Daniel meyakinkan Vania.


"Kita tidak melakukan apa-apa, kamu juga tidak perlu tanggung jawab" ucap Vania.


"Bagus jika kamu tau diri, jangan dekati anak saya lagi. Kaluar juga dari kantor, kamu bisa cari perusahan lain" jawab Mama setelah mendengar perkataan Vania.


"Iya maaf Om dan Tante ini hanya salah paham, saya tidak akan menikahi Daniel dan memang kami tidak punya hubungan apa-apa" jelas Vania agar orang tua Daniel percaya.


"Jangan keras kepala Vania, kita sudah beberapa kali tidur bersama. Mungkin saja kamu bisa hamil saat ini!" sambung Daniel, Mama yang mendengar itu langsung menutup mulutnya tak percaya.


"Apa kamu sudah gila!!" bantak Papa sambil memijat kepalanya.


"Apa Mama tak salah dengar? dia bilang hamil?" tanya Mama yang terus mengelus dadanya.


"Dasar anak tidak tau diri, Papa menguliahkan kamu agar kamu pintar dan menjadi orang yang berguna. Sekarang kamu tambah bodoh!! " Papa meleparkan gelas yang ada di atas meja.


"Ayo kita pulang Ma, suruh orang tua kamu datang kerumah kami" sambung Papa Vania yang takut pun hanya mendukan kepala nya.


"Ayo Joy, biarkan Zandi yang mengurus anak bodoh ini. Aku juga nggak punya waktu mengurus masalah ini, dia pikir aku tidak punya pekerjaan lain" ucap Papa dan Joy pun membantu Mama berdiri.


Mereka bertiga pergi dari sana, sudah ada supir yang menunggu mereka. Mungkin mereka akan langsung pulang kerumah, Daniel benar-benar membuat mereka kecewa.


Tinggalah mereka bertiga disana, sedangkan karyawan lainya tidak berani mendekat mereka langsung disuruh kembali ke kamar mereka masing-masing.


"Kamu jahat sekali!! apa yang kamu katakan tadi" Vania marah sambil memukul dada Daniel.


"Aku serus menikah dengan ku Vania, aku sangat yakin dengan keputusan ku. Jujur saja aku juga tidak kepikiran sampai memohan kamu untuk menikahi dengan ku, jadi apa kamu mau?" tanya nya sambil memegang tangan Vania.


"Kenapa? kenapa harus aku. Aku nggak mau sama kamu, dengarkan aku. Aku tidak mencintai kamu, kita tidak bisa menikah!" Vania mulai menetaskan air matanya.


"Aku tidak peduli, aku mencintai kamu dan itu sudah cukup untuk menyakinkan aku menikahi kamu" jawab Daniel dan Vania pun langsung menangis kencang sambil menghentakan kakinya kelantai karena kesal sekaligus emosi.


"Berhenti lah menangis, aku tidak akan menyakiti kamu" ucap Daniel agar Vania berhenti.


"Kenapa nasip ku sial sekali bertemu dengan kamu!!" Vania menatap Daniel dengan kesal.


"Pokoknya aku nggak mau menikah, kamu harus menjelaskan semua sama Mama dan Papa kamu. Mulai hari ini aku berhenti bekerja dan jangan ganggu aku lagi" Vania menghapus air mata lalu ingin pergi dari sana tapi Daniel menahan tanganya.


"Apa kamu benar-benar menolak ku? apa karena kamu mencintai Tomi?" tanya Daniel sambil menatap Vania yang membelakanginya.


"Lepaskan!!" Vania berusahan melepaskan tangan Daniel.


"Aku tidak akan melepaskan nya sampai kamu menjawab pertanyaan ku" Saat ini Daniel berkata dengan dingin membuat Vania takut.


"Tidak penting siapa yang aku cintai dan itu juga bukan urusan kamu" jawab Vania sambil menatap Daniel yang berdiri di depan nya.


"Setidaknya beri aku alasan agar aku bisa melepaskan kamu" sambung Daniel lagi.


"Kamu benar-benar keras kepala!" Vania menghembus napas dalamnya.


"Baiklah aku akan mengatakan alasanya, dengarkan baik-baik. Kamu itu adalah laki-laki keras kepala dan kamu sendiri juga tidak tau apa arti pernikahan sesungguhnya, aku juga tidak yakin kamu bisa membahagiakan istri kamu. Bahkan aku juga tidak tau sudah berapa banyak wanita yang kamu cumbu di dunia ini, satu lagi aku tidak menyukai laki-laki seperti kamu" jelas Vania melepaskan tangan Daniel.


"Jangan mempersulit hidup orang lain hanya karena keinginan kamu" ucap Vania sebelum pergi dari sana.


Vania pun pergi dari sana, Daniel hanya mematung dan mencerna semua ucapan Vania tadi. Segitu hina nya dia di mata Vania, dia pikir Vania akan setuju dan siapa yang tidak mau menikah dengan seorang Daniel karena dia punya segalanya.


Zandi pun masuk dan melihat Daniel masih berdiri disana, dia masih terbengong. Harga dirinya benar-benar di cabik-cabik oleh Vania, sudah sekian kalinya dia di tolak.


"Apa yang terjadi? kenapa dia menangis?" tanya Zandi yang baru masuk.


"Sepertinya ini benar-benar beakhir, dia membenci aku" jawab Daniel sambil tersenyum kecil mengingat semua ucapan Vania tadi.


"Aku di tolak lagi" sambungnya lalu duduk kembalu di sopa.


"Sudah aku bilang, jangan main-main. Cukup turuti Papa dan Mama kamu, mereka juga ingin yang terbaik untuk kamu" ucap Zandi duduk disebelah Daniel.


"Tau apa kamu! Siapa yang kamu bilang terbaik. Apa Sirena? kamu tidak tau saja kalau dia itu seorang pel*cur" bantak Daniel dan Zandi pun langsung terdiam.


"Kenapa kamu terkejut?" tanya nya terlihat kesal.


"Aku akan pergi! jangan ikuti aku dan kembali lah duluan" sambung Daniel pergi dari sana.


Zandi juga merasa bersalah karena ini juga salah dia, seharunya dia mengikuti kata Daniel dan semua ini tidak akan terjadi. Namun dia juga tidak tau kalau Sirena wanita seperti itu, kalau tau sejak dulu dia akan mendukung Daniel sepenuhnya.


.


.


Bersambung...