Married With The Perfect Boss

Married With The Perfect Boss
Episode 14. Wah Benar-bebar Kacaw



Hari ini adalah hari senin, semua nya tanpak bersemangat tapi tidak dengan Daniel karena dia marah-marah dari tadi. Zandi dan Iren yang menjadi sasaranya, Iren menyuruh Zandi untuk menenagkan Daniel karena dia lelah sudah mengulang laporanya lima kali.


"Ayo lah Zan, bujuk Pak Daniel. Aku sangat lelah" Iren melemparkan laporanya diatas meja.


"Aku harus bagaimana? dari tadi pagi aku juga selalu di marahin sama dia" jawab Zandi.


"Apa menurut kamu dia punya maslah, cepat tanya masalah nya" sambung Iren lagi lalu duduk di samping Zandi.


"Iya tidak biasanya dia seperti ini, aku akan masuk dulu" jawab Zandi lalu pergi masuk kedalam rungan Daniel.


"Ada apa dengan Pak Daniel hari ini, apa dia putus cinta. Tapi tidak mungkin pasti wanita lah yang patah hati karena dia" ucap Iren sambil menggelengkan kepalanya.


Zandi masuk kedalam dan melihat Daniel yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya, kelihatan sekali dari mukanya kalau saat ini dia sangat kesal.


"Permisi Bos, boleh aku bertanya?" tanya Zandi yang sudah berdiri didepan Daniel.


"Hemmm" jawab Daniel singkat, seperti tidak punya semangat.


"Kenapa Bos marah-marah terus hari ini? apa Bos punya masalah?" tanya Zandi sambil menarik kursi lalu duduk didepan meja Daniel.


" Sudah lah aku malas membahas ini" jawabnya lagi.


"Kenapa? bukan nya seharusnya bos senang karena kemarin berhasil mengantar Vania pulang" sambung Zandi sangat serius.


"Berhasil apa nya! semua nya kacaw gara-gara Laras sialan itu" jawab Daniel sambil memandang Zandi yang duduk didepan nya.


"Maksud Bos, kalian bertemu didepan kantor dan Vania akhirnya tidak mau ikut begitu?" tanya Zandi kagi penasaran.


"Bukan begitu, kemarin bahkan aku sudah berhasil mengantar dia pulang. Vania dan aku makan malam bersama" jawab Daniel sambil membanyangkan kejadian kemarin.


"Itu adalah kemajuan yang bagus, lalu kenapa Bos kesal?" sambung Zandi lagi.


"Tunggu dulu aku belum selesai bicara, kamu tau setelah kami makan di kafe. Tiba-tiba Laras datang dan menjambak rambut Vania, tidak hanya itu dia menampar Vania beberapa kali hingga kaca mata Vania jatuh, ini baru pertama kalinya harga diri ku jatuh dihapaan wanita" Daniel menundukan kepalanya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Wah benar-benar kacaw, aku tidak yakin Vania masih mau dekat dengan Bos. Cara pendekatan kalian sangat tragis" jawab Zandi sambil menggelengkan kepalanya.


"Kenapa kamu bicara seperti itu, seharunya kamu pikirkan cara agar Vania memaafkan aku" sahut Daniel menatap Zandi dengan kesal.


"Apa Bos sudah minta maaf secara langsung?" tanya Zandi dan Daniel pun menggelangkan kepalanya.


"Sebaiknya Bos minta maaf secara langsung dan mengganti kaca mata nya yang pecah, itu akan memperbaiki hubungan kalian" Zandi memberikan saran pada Daniel.


"Benar juga yang kamu katakan, tapi dimana kami harus bertemu. Masa cuma beli kaca mata?" tanya Daniel bingung.


"Ya disini saja Bos, Bos bisa memangilnya kesini dan memberikan nya secara langsung" jawab Zandi.


"Tumben kamu pintar, sekarang kamu pergila beli kaca matanya dan beli bunga. Tunggu beli makanan juga untuk kami makan siang nanti, kalau kamu kerepotan ajak Iren" ucap Daniel yang mulai bersemangat.


"Tapi Bos..." jawab Zandi.


"Apa lagi? Oh uang ya. Ini Atm nya kamu beli apa saja yang bagus selain bunga, tanya pada Iren jika kamu tidak mengerti" sambung Daniel memberikan Atm nya pada Zandi.


"Bukan itu Bos, aku tidak tau jenis kaca mata apa yang di pakai oleh Vania" jawab Zandi dan Daniel pun membuka lacinya lalu memberikan kaca mata yang rusak itu pada Zandi.


"Ini...Kamu harus beli sama dengan ini" Ucap Daniel dan Zandi pun mengambil Atm serta kaca matanya.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu Bos" Zandi pun pergi dari sana.


Daniel berharap rencananya kali ini akan berhasil, lihat saja dia akan memberi Laras pelajaran. Daniel masih ingat jelas kata-kata Vania sebelum pergi kemarin malam, dia menyuruh Daniel mengurus pacarnya. Bahkan dia tidak mau diantar pulang lagi dan pulang menunggunakan taksi, sungguh keadaa yang kacaw sekali.


.


.


Sebelum makan siang, Iren memanggil Vania. Semua orang yang ada diruangan itu pun terkejut. Kemarin Pak CEO dan sekarang yang datang adalah sekertarisnya, belum lagi yang dia cari adalah Vania. Iren masuk dan tersenyum kepada Vania, lalu dia mengatakan kalau ingin bicara sebentar pada nya.


"Selamat siang juga Bu Iren, ada apa Bu? tumben datang kesini?" tanya Bu Ririn yang duduk tidak jauh dari pintu masuk.


"Saya kesini hanya ingin bertemu dengan Vania" jawabnya.


"Saya....?" tanya Vania bingung sambil memunjuk dirinya sendiri.


"Iya kamu, apa boleh kita bicara sembentar?" tanya nya pada Vania.


"Tentu saja Bu Iren" jawab Vania yang sudah berdiri lalu menghampiri Iren.


"Ayo ikut saya, pinjam Vania nya Bu Ririn" ucap Iren sebelum pergi sambil mengandeng tangan Vania.


"Apa Vania punya masalah dengan Bu iren Lauren?" tanya Bu Ririn sambil menatap tajam pada Lauren.


"Saya nggak tau Bu, tapi Vania tidak punya masalah apa pun dengan Bu Iren" jawab Lauren yakin.


"Benarkah? kamu tidak bohong kan. Lagian kamu yang paling dekat dengan Vania disini" sambung Bu Ririn.


"Saya nggak bohong Bu, benaren kok Vania nggak ada masalah dengan siapa pun" jawab Lauren lagi.


"Ya sudah lah, kembali lah bekerja. Yang lain juga" ucap Bu Ririn kembali duduk di kursinya.


Sedangkan Vania sangat terkejut karena Iren menyuruhnya masuk kedalam ruangan Daniel, dia sangat berharap tidak mempunyai masalah lagi setelah kejadian memalukan kemarin.


"Masuk lah Vania, Pak Daniel sedang menunggu kamu" ucap Iren karena saat ini mereka berdiri didepan pintu ruangan Daniel.


"Tapi ada apa Bu? saya tidak melakukan kesalahan atau ada urusan sama Pak Daniel" jawab Vania yang tidak mau.


"Kamu memang tidak ada salah tapi Pak Daniel ingin bertemu dengan kamu, masuk lah" Iren membukakan pintu dan terpaksa lah Vania masuk.


Setelah itu Iren menutup pintu nya kembali lalu duduk di kursinya, sedangkan Zandi masih berada di tempatnya sedang mengerjakan tugas yang diberikan Daniel.


Didalam sana Vania melihat Daniel sedang duduk, dia memberanikan diri menyapa Daniel. Padahal dalam hatinya sangat marah karena kejadian kemarin membuatnya sangat malu, dia juga tidak punya salah apa-apa.


"Permisi Pak, ada apa bapak memanggil saya?" tanya Vania dan Daniel yang mendengar itu langsung melihat kearah Vania.


"Kamu sudah datang, duduk lah dulu disana. Aku menyimpan folder ini dulu" jawabnya masih sibuk dengan laptopnya.


Vania pun duduk disopa, dia melihat banyak makanan dan ada juga buket bunga disana. Mungkin ini untuk pacarnya, pikir Vania dalam hatinya karena dia tidak curiga sama sekali.


"Aku mau minta maaf atas kejadian kemarin malam, itu sungguh diluar dugaan ku" ucap Daniel sambil berjalan kearah sopa dan duduk disamping Vania.


"Tidak apa-apa Pak, Bapak cuma mau mengatakan ini saja? kalau tidak ada yang lain lagi saya akan kembali kerungan saya" jawab Vania karena dalam hatinya pasti sebentar lagi cewek Daniel datang dan dia tidak mau terjebat dalam situasi mengerikan seperti kemarin.


"Hey jangan terlalu terburu-buru, duduk kembali" Daniel menarik tangan Vania untuk duduk kembali dan Vania pun terpaksa duduk kembali.


"Ini ada kembalikan kaca mata kamu yang rusak" Daniel memberikan paper bag kecil pada Vania.


"Terima kasih Pak, tapi bapak tidak perlu repot-repot karena saya masih punya kaca mata yang lain" tujuk Vania pada kaca matanya.


"Tidak apa-apa, sebagai ungkapan maaf saya, saya mau ngajak kamu makan siang. Ayo makan siang bersama" jawabnya sambil menujuk makanan diatas meja.


"Maaf saya tidak bisa Pak, saya sudah janji dengan teman saya untuk makan di kantin. Kalau begitu saya pamit dulu Pak" ucap Vania berjalan kearah pintu.


Daniel terlihat cukup kesal, belum sempat dia memberikan bunga nya. Vania sudah pergi duluan, bahkan dia juga menolak makan siang besama. Sia-sia saja dia menyiapkan ini semua dan akhirnya dia menyuruh Iren dan Zandi masuk, mereka bertiga makan siang bersama dan tidak lupa dia juga memberikan buket bunganya pada Iren.


.


.


Bersambung...