Married With The Perfect Boss

Married With The Perfect Boss
Episode 25. Memasak



Pagi-pagi sekali Vania sudah didapur, Mama yang baru bangun tidur pun terkejut saat melihat Vania sudah ada didapur. Lebih mengejutkan lagi dia sedang sibuk memasak, ini adalah pemandangan baru dan sejak kapan putrinya itu suka memasak.


Mama menyapa Vania, Vania pun sedikit terkejut. Setelah mengetahui Mama nya yang memanggilnya, dia pun tersenyum.


"Sayang..!!" ucap Mama dan Vania pun menoleh.


"Mama sudah bangun?" tanya Vania sambil tersenyum.


"Iya Mama mau ambil air putih, kamu ngapain di dapur pagi-pagi begini?" sambung Mama sambil mendekat kearah Vania.


"Vania sedang memasak untuk bekal, nanti Vania akan bawah bekal ke kampus. Kata teman Vania, lebih baik masak sendiri dirumah dan lebih sehat" jawab Vania sambil tersenyum.


"Iya Mama tau, tapi sejak kapan kamu suka masak. Kamu bisa suruh Mama masak banyak kalau mau bawah bekal!" jelas Mama membuat Vania bingung harus menjawab apa karena dia memasak untuk Daniel.


"Hanya ingin memasak saja Ma, mulai saat ini Vania akan belajar memasak sama Mama" jawab nya lagi sambil memotong sayuran.


"Baiklah Mama akan ajari kamu nanti, kamu mau masak apa sekarang?" tanya Mama sambil melihat Vania yang memotong banyak sayurun.


"Vania akan membuat capcay dan ikan goreng serta sambal bawang" jawab Vania dan memang dia bisa memasak tapi karena dia malas jadi hanya sesekali dia membantu Mama nya.


"Kelihatanya enak, sekalian masak agak banyak buat sarapan. Papa pasti mau coba" ucap Mama sambil mengelus bahu Vania.


"Siap Ma, nanti Vania akan masak yang banyak. Oh iya apa Papa mau di bawakan bekal juga?" tanya Vania lagi.


"Mama rasa tidak usah sayang, biasanya Papa sering makan bersama dengan teman-teman nya. Cukup masak untuk sarapan dan bekal kamu saja" sambung Mama dan Vania menganggukan kepalanya.


"Kalau begitu Mama kembali ke kamar dulu" ucap Mama setelah memgambil air minum nya.


Tinggal lah Vania sendiri disana, dia sangat bersemangat memasak. Bahkan dia masih menggunakan piama tidur nya, entah lah apa yang dia rasakan saat ini. Tapi dia sangat senang karena akan makan bersama dengan Daniel, ternyata Daniel adalah laki-laki yang baik dan cukup menyenangkan.


Beberapa menit kemudian dia sudah menyelesaikan masakanya, dia menyusun nya rapi kedalam paper bag. Lalu setelah itu dia pergi ke kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap.


.


.


Saat ini mereka sedang sarapa bersama, Papa terlihat mengedipkan mata nya pada Mama. Dia melihat Vania terlihat tersenyum dari tadi, apa yang membuat putrinya itu sangat bahagia.


Tentu saja Vania bahagia karena saat ini dia mendapat pesan dari Lauren dan foto dua tiket konsel, itu dia berikan cuma-cuma karena Lauren akan pergi keacara pertunangan sepupu jauhnya. Tapi tiketnya sudah lama di pesan dan Vania juga tidak tau dengan siapa dia akan nonton nanti.


"Kamu terlihat sangat senang sekali?" tanya Papa sambil memandang Vania.


"Tidak ada, apa aku kelihatan senang Pa?" Vania balik bertanya sambil tersenyum.


"Iya tentu saja terlihat sangat jelas di wajah kamu kalau kamu senang" jawab Papa sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku baru dapat tiket konser gratis dari teman kantor ku, dia tidak bisa datang karena ada acara jadi dia memberikanya pada ku. Apa Papa tau berapa tiket Vip nya?" ucap Vania sangat bahagia.


"Memang nya berapa? sampai kamu sebahagia itu. Papa kira kamu senang karena akan membawakan bekal makanan untuk seseorang" jawab Papa sambil tersenyum kecil.


"Apa sih Pa, Vania masak untuk di makan sendiri" jawab Vania bohong.


"Jadi berapa harga tiketnya? siapa yang konser sayang. Apa Mama boleh ikut" sahut Mama.


"Baik sekali teman kamu, jangan-jangan dia ada mau nya. Kamu harus hati-hati atau jangan-jangan dia suka sama kamu" tebak Papa lagi.


"Hahaha mana ada Pa, dia perempuan nama nya Lauren. Nanti aku akan kenalkan dia sama kalian" jawab Vania sambil tertawa.


"Iya ajak dia kapan-kapan main ke toko, Mama akan berikan kue gratis" jawab Mama lagi.


"Jadi apa boleh Mama ikut sama kamu?" sambung Mama bertanya pada Vania.


"Tentu saja Ma, Vania juga tidak punya teman untuk pergi" Vania menganggukan kepalanya.


"Nggak, Mama nggak boleh pergi. Itu hanya untuk orang mudah saja, ingat umur. Lebih baik Mama pergi kencan dengan Papa malam minggu, bagaimana?" tanya nya pada Mama.


"Emm benarkah? baiklah Mama setuju" jawabnya sambil tersenyum.


"Kamu ajak saja Tomi sayang atau teman kamu satu lagi yang di toko kue kemarin" sambung Mama memberikan saran.


"Daniel nama nya" jawab Vania santai.


"Baiklah aku tidak akan mengajak Mama, berkenca lah malam minggu. Aku tidak akan mengganggu kalian, semoga setelah itu aku akan punya adik" ucap Vania sambil mengedipkan matanya.


"Apa kamu setuju punya adik lagi?" tanya Papa yang sangat bersemangat.


"Tentu saja, bukan kah menggemaskan jika ada seorang bayi mungil disini" jawab Vania sambil tertawa kecil.


"Jangan dengarkan Papa kamu, ingat umur. Mama lebih memilih cepat punya cucu sekarang" jawabnya sambil menghela nafas.


Vania seketika terdiam dan dia mencerna ucapan Mama nya, Mama nya memberi kode agar dia cepat menikah dan cepat punya anak.


"Maaf kan aku...." jawab Vania lirih.


"Hahaha...jangan bahas bayi lagi. Ayo lanjutkan makan nya" sambung Papa mengalihkan pembicaraan.


"Aku sudah selesai, Mama dan Papa lanjutkan sarapannya. Aku pergi dulu" jawab Vania lalu pergi dari sana dan tidak lupa dia membawa bekal nya.


"Gara-gara Mama, lihat Vania pergi tanpa menyelesaikan sarapannya" sambung Papa sambil melihat Vania berjalan menjauh dari sana.


"Mama juga tidak tau akan mengatakan itu, kata-kata itu keluar begitu saja. Kita harus bagaimana?" tanya Mama sambil menatap Papa dengan serius.


"Memang belum saat nya membicarakan tetang mencari pengganti Brayen karena ini juga belum genap satu tahun Ma, kita harus bersabar dan lebih hati-hati lagi kalau bicara dengan Vania" jelas Papa dan Mama juga mengerti situasinya saat ini.


"Baiklah lain kali Mama akan hati-hati, Mama ambil tas dulu dan mau langsung pergi ke toko" jawab Mama dengan lesu dia berdiri dan berjslsn kearah kamar.


Papa pun juga ikut menghentikan sarapannya, dia membereskan semua makanan yang ada di meja makan. Lalu meletakan piring kotornya, sepertinya mereka perlu seseorang untuk menjaga rumah dan membantu istrinya bersih-bersih.


.


.


Bersambung...