Married With The Perfect Boss

Married With The Perfect Boss
Episode 22. Sangat Aneh



Daniel sampai dirumah nya karena dari tadi Mama selalu mengirim pesan menyuruh dia pulang, Daniel masuk ke dalam rumah dan melihat kedua orang tuanya sedang duduk diruang santai.


Melihat Daniel yang baru datang Mama langsung memanggil nya, Daniel pun berjalan kearah mereka dan duduk di sopa samping Mama nya.


"Akhirnya kamu pulang juga? ayo duduk disini" ucap Mama sambil mengisyaratkan tanganya.


"Iya Ma, ada apa Mama menyuruh ku pulang. Aku mohon berhenti lah mengirimi aku pesan" jawab Daniel terlihat kesal.


"Apa ini?" tunjuk Mama sambil melihat paper bag yang dibawah oleh Daniel tadi.


"Oh itu kue, aku membelinya karena enak" jawab Daniel santai.


"Benarkah? sejak kapan kamu suka makan kue?" tanya Mama curiga dan tidak percaya karena Daniel terlihat sangat aneh.


"Sejak kemarin, aku suka karena rasanya menang enak Ma. Ini berbeda dengan kue-kue lain nya" jawab Daniel lagi.


"Apa kamu sakit sayang, sini Mama periksa?" ucap Mama sambil meletakan tangan nya di kening Daniel.


"Apa sih Ma? aku nggak papa kok" Daniel menyingkirkan tangan Mama nya.


"Tunggu...!!" Mama mengendus-ndus baju Daniel.


"Kenapa kamu bau keringat? habis ngapain kamu" Mama langsung melotot pada Daniel.


"Nggak habis ngapa-ngapain kok Ma, mungkin karena udah panas jadi aku agak berkeringat" jawab Daniel sambil mengipas-ngipaskan tangan nya.


"Sudah lah berhenti lah mengendus putra mu seperti itu, dari mana kamu? kenapa tidak datang ke lapangan golf?" tanya Papa yang terlihat santai, padaha Daniel tau Papa nya marah.


"Aku ada urusan sedikit dengan Zandi, lain kali aku akan menemani Papa beramain golf" jawab Daniel berusaha tenang.


"Kamu berbohong lagi, Zandi yang menemani Papa main golf dari pagi sampai siang tadi. Jadi Zandi mana yang kamu temui?" Papa menatap tajam pada Daniel.


"Jangan bilang kamu berkencan dengan gadis aneh lagi, dasar anak nakal !!" Mama memukul kepala Daniel dengan majala yang ada di atas meja.


"Ahwww...sakit Ma" ucap Daniel dan Papa pun berteriak berhenti, baru lah Mama menghentikan nya.


"Hentikan...!!" bentak Papa, Daniel dan Mama duduk kembali ke tempatnya.


"Jawab Papa, dari mana kamu? jangan sampai tingkah laku kamu yang liar ini membuat keluarga kita malu. Ingat baik-baik kamu itu anak dari Haris Ambrason Prayoga" ucap Papa penuh penekanan.


"Daniel dari bertemu dengan calon pacar Daniel Pa, kapan-kapan aku akan kenalkan dia sama kalian" jawab Daniel memberanikan diri menjawab Papa nya.


"Tapi sayang nya kami tidak menantikan itu, sudah cukup kamu bermain-main selama ini. Minggu depan kita akan makan malam dengan keluarga besar Sirena, kamu hanya boleh melirik dia dan perlakukan dia dengan baik" ucap Papa lalu pergi dari sana.


"Tapi Pa...!!" Belum selesai Daniel bicara, Papa pergi tanpa mau mendengarkan penjelasan nya.


"Sudah Mama bilang kamu harus menurut sayang, jangan bikin Papa marah. Kenapa kamu membatalkan pertemuan kamu dengan Sirena?" tanya Mama sambil menatap Daniel.


"Karena Daniel nggak suka sama dia Ma" jawab Daniel yang sangat kesal.


"Dengarkan Mama, Sirena itu adalah anak yang baik. Sampai saat ini tidak ada berita miring tetang dia dan yang pasti Mama serta Papa sudah mengenal baik keluarga mereka" Mama memegang tangan Daniel.


"Iya Daniel mengerti Ma" jawab Daniel terpaksa.


"Ini baru anak Mama, oh iya menginap lah hari ini. Mama akan masakan makanan kesukaan kamu" Mama membujuk Daniel.


"Iya Daniel akan menginap disini, kalau gitu Daniel mau keatas dulu. Udah gerah mau mandi" jawab Daniel ingin pergi dari sana.


"Baiklah, mandi lah sana. Oh iya apa Mama boleh makan kue nya?" tanya Mama sebelum Daniel pergi.


"Mbok Nim, tolong ambilkan piring!!" teriak Mama sambil membukan paper bag tadi.


"Wah kelihatanya sangat enak, tunggu..!! apa ini dari wanita yang ditemui Alfin" pikir Mama sambil memandangi kue itu.


"Tapi tidak apa lah, kan cuma makan satu" sambungnya sambil tersenyum.


"Ini piring nya Nyonya" ucap Mbok Nim memberikan piring yang dia bawah.


"Duduk disini dan coba ini" Mama memberikan satu kue pada Mbok Nim.


"Tapi Nyonya..." jawabnya merasa tidak enak.


"Sudah makan saja" jawab Mama dan Mbok Nim pun memakanya.


"Bagaimana rasanya?" tanya nya sambil melihat Mbok Nim yang mengunyah kue nya.


"Rasanya sangat enak Nyonya, ini berbeda dari yang sering Nyonya beli" jawab Mbok Nim, Mama pun ikut memakanya dan benar saja rasanya memang enak.


"Emmm, ternyata memang enak. Jangan buang bungkus nya Mbok, siapa tau kita mau pesan lagi" jawab Mama dan Mbok Nim menganggukan kepalanya.


Mereka berdua menikmati makanan itu, tentu saja Mama sudah menyisahkan dua kue untuk Daniel. Bisa-bisa putra nya itu akan mengamuk jika habis nanti, Mama memang baik dengan semua orang yang bekerja dirumah ini. Tapi dia paling sayang dengan Mbok Nima, karena Mbok Nim yang menemani Mama dari pertema menikah sampai sudah setua sekarang.


.


.


Sedangkan dia kamar Daniel terlihat sudah mandi dan mengganti pakaianya, dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Jujur saja karena dia kelelahan, bekerja menjadi pegawai toko kue cukup menguras tenaga.


Daniel mencoba memejamkan matanya, tapi dia terkejut karena ponselnya berbunyi. Dengan malas dia mengangkat panggilanya, ternyata dari Lion.


"Hallo, ada apa?" tanya Daniel dengan nada ketus.


"Hey santai Bro, loh habis negapain kayak kesal begitu?" tanya Lion karena Daniel sangat ketus.


"Biasa lah habis dimarahi sama bokap gue" jawab Daniel lagi.


"Oh pantesan nggak bersahabat banget, ikut kita yuk nanti malam pesta-pesta di Bar. Banyak cewek cantik juga" ucap Lion membujuk Daniel untuk ikut.


"Nggak deh, aku lagi capek hari ini. Lain kali saja, salam saja dengan yang lain" jawab Daniel yang menolak ajakan Lion.


"Ayo lah Bro, biasanya loh yang paling semangat saat ada cewek cantiknya" ucap Lion, karena memang Daniel lah yang paling semangat. Jiwa playboy serta jurus maut meluluhkan wanita sangat melekat pada dirinya.


"Aku benar-benar nggak mood Bro, kalian saja lah yang pergi. Jika tidak ada lagi aku tutup dulu" jawab Daniel ingin mengakhiri percakapan mereka.


"Baiklah, tapi lain kali kamu harus ikut" ucap Lion dan panggilan pun berakhir.


Setelah itu dia melihat ponselnya dan mengirimkan pesan pada Vania, bair pun Daniel tidak tau apa akan di balas atau tidak. Kebiasaan Vania saat orang mengirimkan pesana dan dia bisa membalasnya besok pagi, hal ini yang membuat dia unik karena berbeda dengan wanita lain nya.


"Sedang apa dia sekarang ya?" tanya Alfin sambil meletakan ponselnya dia samping.


"Aku sepertinya sudah gila karena memikirkan Vania setiap saat" sambung Daniel sambil tersenyum dan salah tingkah.


.


.


Bersambung...