Married With The Perfect Boss

Married With The Perfect Boss
Episode 27. Dasar Pembohong



Beberapa hari ini Vania sedikit menjaga jarak dengan Daniel, dia tidak mau dengan pertemanan mereka membuat Daniel salah paham. Jujur saja Vania tidak nyaman dengan semua itu, banyak hal membuatnya khawatir sampai saat ini dia belum bisa melupakan semua nya.


Vania saat ini sedang bersiap-siap untuk nonton konsel bersama dengan Tomi, dia juga tidak berencana mengajak Tomi tapi Lauren yang mengatakan nya tadi. Vania juga merasa tidak enak dan akhirnya mereka pergi menonton berdua lagi, untuk kesekian kali nya mereka jalan berdua.


Beberapa menit kemudian Vania sudah siap dan turun kebawah karena Tomi sudah sampai dirumah nya, benar saja saat ini dia sedang duduk dengan Mama dan Papa yang juga akan pergi dinner berdua.


"Sayang kenapa lama banget? Tomi udah nunggu dari tadi" ucap Mama saat Vania menghampiri mereka.


"Maaf lama ya Tom, biasa lah tadi aku dandan dulu biar kamu nggak malu bawak aku" canda Vania sambil tersenyum.


"Tidak apa-apa santai saja, apa kita pergi sekarang?" tanya nya sambil melihat penampilan Vania yang memang cantik, dia menggunakan dress bunga selutut dengan gardigan senada.


"Iya ayo kita pergi sekarang, takutnya nanti ngantri masuk nya lama" jawab Vania sambil mengganggukan kepala nya.


"Kami pergi dulu Om, tante dan semoga diner nya menyenangkan" ucap Tomi sambil berpamitan dengan kedua orang tua Vania.


"Iya terima kasih Tomi, hati-hati di jalan ya. Jangan pulang terlalu malam" jawab Mama sambil tersenyum.


"Tentu saja tante, saya akan memastikan putri tante akan aman dan pulang dengan selamat" sambung Tomi.


Setelah itu mereka berdua pergi menggunakan mobilnya Tomi, Vania terlihat bersemangat karena kata nya ada artis yang Vania idola kan disana. Dia akan minta foto berdua kalau ada kesempatan nanti dan kebetulan Tomi juga menyukainya.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup padat, beruntung tidak macet jadi mereka bisa datang tepat waktu. Tapi ternyata sudah banyak orang yang mengantri masuk kedalam gedung, Vania dan Tomi juga ikut mengantri masuk.


"Wah banyak sekali yang nonton, udah penuh aja jalan masuk" ucap Vania saat mereka masih di parkiran.


"Aku juga nggak nyangka akan serame ini, ayo kita masuk nanti tambah panjang" jawab Tomi dan Vania pun menganggukan kepalanya.


Mereka berdua berjalan bersama, Tomi ingin sekali menggandeng tangan Vania tapi segan karena dia bukan siapa-siapa.


"Tolong ya Mas jangan dorong-dorong" ucap Vania pada laki-laki yang ada dibelakangnya.


"Maaf mbak nggak segaja" jawabnya.


"Kamu nggak papa?" tanya Tomi sambil melihat kearah belakang.


"Iya aku nggak papa" jawab Vania sambil menganggukan kepalanya.


"Kamu depan aku aja, sini" Tomi menarik tangan Vania dan menyuruhnya untuk berada didepanya, Vania yang melihat sekeliling mereka yang semakin rame pun langsung berdiri didepan Tomi.


"Lepasin tangan kamu" tunjuk Vania pada tangan Tomi yang terus menggenggam nya.


"Ntar kamu ilang, biar aku pegangin" jawab Tomi sambil mengelus kepala Vania.


"Aku bukan anak kecil lagi" jawab Vania sambil cemberut.


" Tapi kamu terlihat kecil disini, lihat orang disini tinggi-tinggi. Kalau kamu hilang nanti Mama kamu marahin aku" bisik Tomi membuat Vania tertawa kecil.


"Baiklah terima kasih Tuan, aku akan menurut saja kalau begitu" jawab Vania lagi.


Setelah memgantri cukup panjang mereka berdu akhirnya masuk kedalam, karena kursi nya Vip jadi mereka duduk agak depan. Tidak lama mereka duduk, acaranya pun dimulai.


"Acaranya keren banget, apa setelah ini ada Sirena juga?" tanya Vania pada Tomi.


"Aku rasa begitu, saat aku baca list artis nya disana juga ada nama Sirena. Apa kamu mau minta tanda tanganya nanti?" tanya Tomi dan Vania langsung mengangguk cepat.


"Baiklah nanti aku akan temani kamu jika dia ada, akan aku usahan biar kamu dapat tanda tangan nya" sambung Tomi meyakinkan Vania.


Sepanjang acara Vania sangat senang, apa lagi saat Sirena tampil. Selain bisa akting dia juga pandai menyanyi dan memainkan beberapa alat musik, semua bisa dan itu lah membuat Vania kagum pada nya.


"Van sepetinya acaranya udah mau selesai, tapi rame banget kayaknya aku nggak yakin bisa minta tanda tangan Sirena" ucap Tomi yang melihat sekeliling mereka, saat ini artis lain sudah turun dari panggung.


"Iya aku pikir juga begitu Tom, bagaimana kita bisa kedepan sana. Sedangkan yang lain sudah berkerung disana" jawab Vania sambil melihat orang yang ada disana.


"Apa kamu tidak marah?" tanya Tomi sambil kearah Vania.


"Bagaimana kalau kita lihat sesi foto mereka di depan, siapa tau kamu bisa lihat Sirena dari dekat?" tanya Tomi memberikan ide untuk melihat kedepan.


"Baiklah ayo kita lihat kedepan saja" mereka berdua pun meninggalkan ruangan dan pergi keluar untuk melihat para artis sedang berfoto dan di wawancara oleh wartawan.


Lama mereka menunggu disana, beberpa penyanyi dan artis sudah lewat. Setelah menunggu akhirnya giliran Sirena yang berjalan di depan, banyak juga wartawan yang menunggu mereka.


Tapi Vania dan Tomi sangat terkejut karena dia menggadeng seorang laki-laki yang sangat mereka kenal, siapa lagi kalau bukan Pak CEO mereka.


"Bukan kah itu Pak Daniel, gila keren banget dia. Apa mereka pacaran?" tanya Tomi yang memperhatkan mereka, walaupun agak jauh tapi dia masih bisa mengenali Daniel.


"Dasar pembohong" ucap Vania sambil melihat kearah Daniel.


"Kamu bicara apa Van?" tanya Tomi yang tidak terlalu mendengar apa yang Vania ucapkan karena suaranya sangat pelan.


"Nggak ada Tom, iya aku juga nggak nyangka. Mungkin mereka pacaran, siapa yang nggak mau sama Pak Daniel dia kan pengusaha kaya raya" jawab Vania sambil tersenyum kecil.


"Kamu banar Van, apa daya kita hanya rakyat jelata ini" ucap Tomi sambil tertawa kecil.


"Ayo kita pulang Tom, Sirena nya juga sudah lewat" Vania menarik tangan Tomi untuk pergi dari sana.


"Baiklah, tapi apa kamu makan malam dulu. Aku belum makan tadi, lapar banget ni" ajak Tomi yang menang belum makan malam karena dia buru-buru menjemput Vania tadi.


"Baiklah ayo kita makan malam dulu sebelum pulang" jawab Vania sambil menganggukan kepalanya.


"Kamu mau makan apa?" tanya Tomi lagi sambil mereka berjalan ke parkiran.


"Apa aja, terserah kamu" jawab Vania yang ikut dengan Tomi, sebenarnya dia juga belum terlalu lapar.


"Ayo lah hidup jangan terlalu pasrah Van, entar aku ajak kamu makan batu mau?" canda Tomi lagi.


Tanpa terasa mereka sudah berada didepan mobil, perdebatan tentang masalah makan apa juga belum selesai. Cewek memang suka gitu pas ditanya mau makan apa, pasti jawabnya terserah.


"Nggak makan batu juga dong Tom, sepertinya barbeque enak. Kita ke kafe R aja nggak jauh dari sini" saran Vania dan tentu saja Tomi setuju.


"Nah gini dong, hidup jangan pasrah benget. Harus ada kemauan juga" Tomi mengelus kepala Vania sebelum membuka pintu mobil.


"Aku berasa bocil karena kamu terus mengelus kepala ku" kesal Vania sambil masuk kedalam mobil.


"Iya karena kamu memang imut" jawab Tomi sambil tersenyum lalu menutup pintu mobilnya.


Tomi pun masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya pergi dari sana, sejauh ini dia sangat nyaman dengan Vania. Menurut nya Vania adalah wanita yang baik dan menyenangkan, dia tidak mau terburu-buru dan membuat hubungan mereka berantakan nantinya.


.


.


Bersambung...