Married With The Perfect Boss

Married With The Perfect Boss
Episode 47. Seperti Istana



Pagi yang cerah, matahari bersinar terang menembus jendela kaca di kamar hotel. Membuat Vania terbangun dan mengerjapkan matanya karena silau, dia merasakan berat di perutnya dan ternyata tangan Daniel memeluknya erat.


Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya karena masih mengantuk, Vania berusahan melepaskan pelukan Daniel. Karena pergerkaan Vania akhirnya Daniel terbangun dari tidurnya, bukanya melepaskan Vania tapi dia malah memperat pelukanya dan meletakan kepalanya di leher Vania.


"Lepaskan tangan kamu, bisa-bisa aku mati karena kesusahan bernapas!" kesal Vania sambil membalikan badanya menghadap Daniel.


"Jangan berteriak pagi-bagi begini sayang, jaga ucapan kamu. Aku belum mau jadi duda keren" jawab Daniel asal dan masih memejamkan matanya.


Tidak lama kemudian ponsel Daniel berbunyi, Daniel pun meraba nakas dengan tangan kirinya. Dia menjawab telpon itu dengan malas, siapa yang menganggunya pagi-pagi begini karena dia masih mau bermesraan dengan istrinya.


"Halo, siapa ini? Kenapa menganggu ku pagi-pagi buta" kesal Daniel saat mengangkat telponya, Vania hanya diam saja dan mendengarkan percakapan Daniel.


"Dasar anak nakal!! Ini Papa cepat bangun, kamu bilang ini masih pagi. Sekarang sudah pukul 11 siang" teriak Papa sangat emosi.


"Cepat turun kebawah, kami sudah mau pulang kerumah!!" Sambung Papa lalu mematikan panggilanya.


Daniel yang mendengar itu langsung terduduk, begitu juga dengan Vania yang terkejut karena Daniel langsung duduk.


"Ada apa?" Tanya Vania penasaran.


"Papa menunggu kita pulang, ayo mandi bersama biar cepat" Daniel menarik tangan Vania turun dari kasur.


"Nggak, kamu aja duluan. Ingat jangan macam-macam sama aku!" Vania kembali memperingati Daniel.


"Ahh baik lah, cepat bereskan koper kita. Aku akan mandi duluan" jawab Daniel pasrah dan akhirnya dia pergi kekamar mandi sendiri.


"Kenapa terburu-buru bukan kah ini masih pagi?" Tanya Vania lalu mengambil ponselnya dan betapa terkejutnya dia saat melihat jam di ponselnya.


"Apa? Jam 11 siang" Vania memekik karena terkejut, bisa-bisanya di sangat nyaman tidur di pelukan Daniel.


Satu jam kemudian mereka baru selesai, Daniel buru-buru turun kebawah menuju restoran hotel. Mungkin saja semua keluarga sedang makan siang saat ini, mengingat kedua pengantin baru itu melewatkan sarapan.


Semua menatap kearah Daniel dan Vania, tentu saja Vania sangat malu sehingga bersembunyi di balik Daniel. Sedangkan kedua orang Vania sudah pulang duluan, dia sempat mengirimkan pesan tadi. Alasanya tentu saja karena besanya tidak menyambut mereka dengan baik, jadi lebih baik menghindar dulu dari pada mencari masalah dengan mereka.


"Akhirnya pengantin baru keluar juga dari kamar!" Ledek Jio sambil menatap Daniel.


"Sudah lah Mas, seperti Mas tidak pernah menjadi pengantin baru saja. Jangan menggoda mereka" sahut Jiene yang memang pasih berbahasa indonesia karena Oma nya orang Indo asli.


"Duduk dan makan siang dulu, baru kita pulang kerumah" perintah Mama Sandra menatap menantunya.


Daniel pun meletakan koper mereka, lalu menarik tangan Vania agar duduk di sampingnya. Mereka makan dengan diam, Vania juga merasa canggung dengan situasi ini. Tidak ada yang Vania kenel sebelumnya kecuali Daniel, itu pun hanya di kantor jadi dia tidak tau bagaimana sikap semua orang yang ada di hadapannya.


"Apa kamu mau tambah lagi sayang?" Tanya Daniel yang melihat Vania mengaduk-aduk makanannya.


"Tidak usah, aku sudah kenyang" jawab Vania sambil tersenyum kecil.


"Kemana Zandi? Aku tidak melihatnya dari tadi" tanya Daniel sambil memperhatikan sekelilingnya.


"Tentu saja Zandi ada di kantor, dia mengurus pekerjaan kamu. Kamu di beri cuti tiga hari, begitu juga dengan istri kamu" sahut Papa Haris sambil menantap mereka berdua.


"Tidak ada cuti bulan madu kah? aku juga ingin menikmati waktu bersama dengan istri ku" sambung Daniel meminta waktu untuk libur.


"Cuti bulan madu! Bukan kan kalian sudah sering bulan madu. Apa lagi kemarin di kota B juga begitu" jawab Mama Sandra terlihat senis.


"Mama dan Papa sudah putuskan kalian berdua tinggal bersama dengan kami, tidak boleh tinggal di aparteman atau pun rumah baru" jelas Mama membuat Vania dan Daniel terkejut karena rencanaya mereka berdua akan tinggal di aparteman agar lebih leluasa.


"Tidak ada penolakan!!" Mama langsung mengarahkan tujuknya sebelum Daniel berbicara.


"Bukan kah itu bagus, Vania bisa dekat dengan Mama dan saling mengenal lebih jauh" sambung Jiene mencairkan suasana.


"Benar sekali sayang, lagian kasiahan juga Mama dan Papa akan kesepian hanya tinggal berdua. Besok kami akan kembali ke Jerman karena sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaan ku" jawab Jio dan Daniel pun hanya menganggukan kepalanya.


"Bukan kah kita sudah berjanji?" Bisik Vania sambil mendekatkan wajahnya.


"Nanti akan aku pikirkan lagi, lebih baik ikuti saja kata mereka" jawab Daniel sambil tersenyum dan mengelus tangan istrinya.


Setelah makan siang, mereka memutuskan untuk pulang kerumah orang tua Daniel. Ini adalah pertama kalianya Vania datang sebagai seorang menantu dari keluarga prayoga, selama persiapan pernikahan kemarin mereka hanya bertemu di butik dan ke salon satu kali, apa lagi Mama mertuanya selalu mendiaminya.


.


.


Sebelum turun dari mobil, Vania bertanya bukan kah sebelumnya rumah Daniel bukan disini. Dia ingat pada saat mengantarkan kue kemarin, berapa banyak rumah yang mereka miliki tanya Vania dalam hatinya.


"Tunggu! Ini bukan rumah kamu? Kenapa kita turun disini?" Tanya Vania bingung dan Daniel pun langsung tersenyum.


"Oh itu kemarin rumah lama Papa dan Mama, saat ini mereka sudah tinggal di rumah baru. Mungkin baru beberapa minggu, ayo kita turun" ajak Daniel.


Daniel pun turun dari mobil, lalu membukakan pintu mobilnya agar Vania turun. Mereka sengaja menggunakan mobil Daniel, sedangkan Mama dan Papa nya serta kakak Daniel menggunakan mobil khusus dengan sopir mereka.


"Rumahnya sangat bagus, seperti istana" ucap Vania sambil memperhatikan rumah itu dari luar.


"Ayo masuk kedalam, aku jamin kamu akan terkejut melihatnya" jawab Daniel sambil sedikit tertawa.


"Kamu mengejek aku?" Tanya Vania kesal sambil melotot ke arah Daniel.


"Berhenti lah melototi aku, seharunya kamu bersikap manis pada suami mu ini. Aku tidak mengejek kamu, lagian kamu seharunya beruntung. Banyak orang yang mau berada di posisi kamu, kamu harus bangga" jelas Daniel sangat percaya diri.


"Beruntung apa nya? Jika bukan karena kamu memaksa ku. Aku tidak akan mau" jawab Vania sambil cemberut.


"Apa kalian akan tetap berdiri di sana?" Teriak Jio melihat mereka berdua yang masih berdiri di depan sana.


"Iya kak kami masuk" jawab Daniel sambil menggandeng tangan Vania sambil berjalan kearah pintu, tidak lupa Daniel menyuruh Pak Joko membawah koper mereka.


Saat masuk kedalam rumah itu, benar saja apa yang di katakan oleh Daniel. Vania tak percaya karena rumah nya memang sangat mewah, mereka semua duduk berkumpul di ruang santai sedangkan Albert sibuk bermain dengan Mbok Nim dan Nunung.


"Kamu harus tau aturan dirumah ini, jangan sampai kamu memperlakukan keluarga kami" ucap Mama Sandra, ucapnya sangat pedas sehingga membuat Vania sedikit kesal karena dia belum pernah di perlakukan seperti ini.


"Walaupun kamu kerja kantoran, kamu harus bisa masak atau pun mengerjakan pekerjaan rumah. Apa kamu bisa memasak?" Tanya Mama Sandra pada Vania.


"Saya bisa sedikit-sedikit Ma, belum terlalu mahir" jawab Vania ragu.


"Sudah lah Ma, nanti Vania akan belajar sendiri" sahut Daniel yang tidak suka dengan cara Mama nya bicara pada Vania.


"Sudah lah jangan berdebat masalah sepele seperti ini, dulu Jiene juga begitu. Buktinya sekarang dia sangat pintar mengurus rumah, Mama tenang saja tidak perlu khawatir" sambung Jio pada Mama nya.


"Aunty cantik...?" Tanya Jiene saat Albert mendekat kepada mereka.


"Maaf Non, tadi Den Albert ingin kesini" sambung Nunung yang berlari mengejar Albert.


"Tidak apa-apa, kamu boleh kembali ke belakang" jawab Jiene dan Nunung pun pergi dari sana.


"Kenapa sayang? Kamu mau sama Aunty Vania" tanya Jiene dan Albert pun langsung menganggukan kepalanya.


"Lucunya, sini sama Aunty" Albert pun berlari dan Vania pun langsung menggendongnya.


"Sepertinya kalian sudah cocok punya bayi, iya kan sayang" melihat interaksi antara Vania, Daniel dan Albert.


"Benarkah? Sepertinya aku harus lebih bekerja keras" Daniel menatap Vania penuh arti.


"Sudah lah Mama pingin istirahat, ayo Papa ikut Mama. Kaki Mama pegal-pegal ni" seketika Haris menurut saja pada istrinya, Vania terkejut kelihatannya Papa mertuanya itu galak dan pemarah tapi takut sama istri.


"Iya Ma, Papa susul Mama kalian dulu. Jangan sampai dia ngambek, bisa habis Papa" sambung Papa lalu berdiri dari duduk nya, dia mengikuti Mama dari belakang.


"Jangan bilang Mama mau buat adik buat kami, jangan saingan sama Daniel Ma. Kasihan dia!" Teriak Jio pada Mama nya.


"Tutup mulut kamu Jio!" Teriak Mama membanting pintu kencang.


"Tapi Papa setuju dengan ide Jio Ma" sahut Papa sambil mengacungkan jempolnya pada Jio.


"Ada-ada aja, memang seperti ini keluarga kami Vania. Kakak yakin kamu pasti akan betah, walaupun Mama Sandra terlihat galak tapi dia sangat penyayang. Begitu juga dengan Papa Haris, dia terlihat galak tapi aslinya lucu dan kocak" ucap Jiene memberikan semangat pada Vania.


"Iya terima kasih kak Jiene, aku beruntung punya kakak ipar yang baik" Vania sedikit terharun setidaknya ada orang yang memihaknya dirumah ini.


.


.


Bersambung...